Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Satu Kecupan


__ADS_3

"A- apa?" Claire semakin gugup.


"Mengecup bibirmu...."


Feliks memejamkan mata, mengarahkan bibirnya ke atas bibir Claire. Namun tangan lembut membekap mulut Feliks. Feliks membuka matanya.


"Asisten gila sepertinya otakmu kurang asupan!" cibir Claire melawan gejolak.


Feliks melepaskan tangan Claire lalu mengecup telapaknya. "Aku memang gila ... dan sekarang semakin gila." Feliks menjeda perkataannya, menelan saliva. "Dan sekarang aku butuh asupan satu kecupan dari bibir tipismu, Claire...."


Feliks menarik tengkuk Claire, mengecup bibir cherry. Satu kecupan tidak cukup untuknya. Lagi dan lagi dia menikmati benda lembut itu bagai sebuah candu. Mencumbu lalu melumatt, dia menginginkan lebih. Lidahnya berusaha menerobos, namun Claire mengatup mulutnya.


"Buka bibirmu..." pinta Feliks menyatukan keningnya.


Claire meredakan gemuruh yang meletup-letup di dalam dada. Otaknya berangsur pulih, mencerna apa yang telah dia lakukan lalu tertawa namun menitikkan air mata.


"Aku bukan siapa-siapamu, Feliks. Aku diinginkan hanya disaat kamu butuh, sungguh mengenaskan!" Claire membuka seat belt yang terpasang di tubuhnya lalu menarik handle. Dia keluar dari mobil dan memilih berjalan di tengah gelapnya malam.


Feliks menyalakan mobil dan membuntuti Claire, berkali-kali dia menyalakan klakson seraya memanggil nama Claire, namun gadis itu berjalan cepat tanpa sekali pun menoleh.


"Claire... maaf!" teriak Feliks dengan kepala yang menyembul.


"Claire... berhenti!! Klakson dibunyikan. "Claire... woy Claire!"


Claire terus melangkah tanpa mempedulikan Feliks yang terus saja berteriak. Namun lama-lama suara itu meremang bagai tertiup angin. Claire memutar kepala, nampak mobil Feliks sudah tertinggal jauh di belakang.


"Dih... segitu saja usahamu? Dasar Feliks payah!"


Malam bertambah larut, jalanan kota berangsur sepi dan hening. Hanya orang-orang yang menikmati dunia malam, yang berkeliaran menggenggam minuman keras ataupun menggandeng wanita sewaan.


Tiga pria yang tengah mabuk berat mengelilingi Claire, menghalangi celah untuknya bergerak. Mereka mengeluarkan kata-kata menjijikkan dan juga merendahkan.


"Hai... Nona manis. Kenapa berjalan sendirian? Apa kamu sengaja menggoda kami?" Si pemabuk mencolek dagu Claire. Claire yang mempunyai keahlian bela diri, dengan mudahnya melibas pria yang bertingkah kurang ajar. Dia menarik lengan pria tersebut lalu membantingnya dengan keras.

__ADS_1


"Sialan!!!" pekik dua pria yang lain. Mereka menghampiri Claire lalu mencengkeram kedua tangannya. Claire berusaha melepaskan diri, namun tenaga mereka berdua sangatlah kuat karena efek minuman keras.


"Lepaskan aku brengsek!" umpat Claire sembari mencari siasat. Para pemabuk tertawa melecehkan dengan tangan yang satunya siap meremass dada yang membusung. Namun aksi mereka terhenti oleh suara pria yang mendadak muncul dari arah yang minim penerangan.


"Lepaskan gadis itu! Kalau berani, sini lawan aku!" Feliks datang dengan gagah berani bak seorang pahlawan. Dia langsung memasang kuda-kuda dengan tangan diangkat dan jemari mengepal. Dia sudah siap untuk menghajar 3 pria di depannya.


Seorang pria menyeringai merenggangkan urat leher hingga bersuara lalu mendekati Feliks. Feliks langsung melayangkan beberapa kali pukulan, namun sekali pun tidak ada yang mengenai Si pemabuk. Pria di depannya terkekeh dan meninju wajah Feliks dalam satu kali pukulan. Feliks terjatuh dalam kondisi terlentang.


Claire mengusap kasar wajahnya, bibirnya bergumam, "Hiks... kamu payah dalam segala hal, Feliks!"


Para pemabuk tertawa meremehkan karena pria yang berlaga sok jagoan, terlengar di atas aspal. Sedangkan Claire, dia sudah bersiap melawan tiga pria sekaligus. Dia terlibat perkelahian, semua pria dihajarnya tanpa ampun. Claire selamat dan semua pria tersebut lari tunggang langgang.


Claire menatap jengkel ke arah Feliks. Dia berjongkok lalu dengan susah payah mengangkat tubuh laki-laki itu ke punggungnya.


"Astaga... kamu berat sekali Feliks!" keluh Claire yang membopong Feliks menggunakan punggungnya.


Claire berjalan terhuyung-huyung seraya menunggu taksi yang melintas. "Kenapa setiap bertemu denganmu, aku selalu sial?!"


...***...


"Besok malam Tante ... dan sesuai dengan keinginan Om Richard 3 hari lagi pernikahan aku dan Leona akan berlangsung meriah." Roland menjawab dengan lugas dan penuh percaya diri. Namun pandangannya sedari tadi tidak lepas dari wajah meneduhkan yang terus tersenyum ke arah suaminya.


Roland yang melihat Rona berjalan ke arah taman belakang, dia berpura-pura meminta izin untuk ke kamar mandi. Dia membuntuti Rona dan tepat di depan pintu toilet, Roland merentangkan tangan Rona menghalanginya.


"Hai Kakak ipar, kita berjumpa lagi. Dan bahkan nanti akan lebih sering bertemu." Roland mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan kurang ajar, Tuan!" berang Rona membulatkan mata.


"Aku adik iparmu, panggil saja aku Roland. Aku sangat senang saat bibir sensualmu itu menyebut namaku. Bagai suara desahann yang menggoda...!" Roland hendak menyentuh bibir Rona, Rona menggigit jarinya kencang.


"Agrhhh...!" Roland berteriak kesakitan. "Aku kira kamu burung merpati, tapi ternyata kucing liar! Tapi aku semakin suka." Roland meninggalkan Rona yang mematung begitu saja, tanpa rasa bersalah.


"Huh... cobaan apalagi ini Tuhan...!" Rona mengusap dadanya.

__ADS_1


Leona yang melihat Roland kembali dari toilet, dia beranjak lalu bergelayutan manja. Mengajak lelakinya duduk kembali membahas pernikahan mereka. Leona mengenal Roland sejak masa sekolah. Dulu Edward dan Roland adalah sahabat baik, hanya karena memperebutkan wanita yang sama hingga saat ini keduanya selalu bersitegang.


"Om, Tante ... Roland pamit pulang. Ini sudah jam 10 malam!" ujar Roland menatap arloji mahalnya.


"Tidur di sini saja, satu kamar dengan Leona. Sebentar lagi kan kalian akan menikah." Amber terkikik tidak punya malu.


Richard mendengus kasar. "Justru karena sebentar lagi anak kita akan menikah, buat dia lebih bersabar menunggu malam pengantin tiba. Jangan malah disuruh tidur berdua!"


"Ya sudah Om Richard, Tante Amber ... Roland pamit ya, besok malam kita bertemu lagi." Roland berdiri ditemani Leona yang tidak melepaskan rangkulannya. Gadis yang akan dipersunting Roland mengantarkan pria idamannya ke depan pintu rumah.


"Terimakasih ya Kak... kalau tidak ada Kak Roland, Leona tidak tahu nasib bayi ini akan seperti apa." Leona mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"Sama-sama sayang, dari dulu hingga saat ini Kakak selalu menyayangi Leona." Roland menautkan tangannya ke pipi Leona lalu memberi satu kecupan di bibir. "Kakak pulang ya...."


Leona tersipu seraya memegangi bibirnya sendiri. Satu kecupan dari laki-laki yang dulu pernah dia idamkan, bagai hadiah terindah di tengah cobaan hidup yang menimpanya.


...***...


"Edward..." panggil Rona yang tengah mengeringkan rambut di depan meja rias.


"Ya sayang..." sahut Edward dengan mata terpejam. Dia merebahkan tubuhnya menggunakan kedua lengan sebagai alas. Karena tidak ada lagi jawaban, Edward membuka mata dan melihat raut gelisah istrinya. Dia beranjak kemudian mendekat. Menarik hair dryer dari tangan istrinya.


"Biar aku saja," ucap Edward saat Rona mengangkat wajahnya. "Katakan, apa yang sedang kamu pikirkan...."


Rona menghela napas, biji mata berputar. Dia bingung harus memulainya dari mana. "Edward... kenapa aku merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Roland. Jujur saja aku tidak bisa berpikir positif mengenai pria itu!"


...***...


...Maaf ya terlambat Up, RL padat merayap hari ini. Mohon maaf juga komentar teman-teman yang belum sempat dibalas....


...Hari senin, kalau berkenan ditunggu votenya yah.. hehehe......


...Selamat beraktifitas untuk semua...

__ADS_1


__ADS_2