Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Hot Chocholate


__ADS_3

Rona hanya mengangguk lemah, kecelakaan kecil yang baru saja terjadi masih menyisakan keterkejutan juga ketakutan.


"Aku titip istriku, pastikan dia selamat tanpa kurang satu apa pun," ujar Edward pada sahabatnya. Brian mengacungkan ibu jari kemudian melajukan kembali kendaraannya meninggalkan Edward seorang diri.


Rona menyandarkan tubuhnya meredakan detak jantung yang masih memburu. Tangannya mengusap-usap perutnya dengan mulut yang bergerak-gerak tanpa suara.


"Anda tidak apa-apa Nyonya Liam?" Brian memperhatikan Rona dari kaca spion, lalu menepikan kendaraannya. "Apa perlu kita ke Rumah Sakit?" Brian menengokkan kepalanya ke arah Rona.


Rona menegakkan tubuhnya, menatap sayu ke arah Brian. "Saya tidak apa-apa, Tuan Brian. Saya hanya masih shock. Kalau tidak merepotkan, bisa belikan saya cokelat panas?" pinta Rona yang melihat kedai minuman di sampingnya.


"Tentu saja Nyonya, tolong tunggu sebentar." Brian mematikan mesin mobil, melepas seat belt lantas keluar dari kendaraannya. Dia berlari ke arah tempat yang dituju, bergerak secepat mungkin karena tidak ingin Rona menunggu lama.


Rona kembali terpejam seraya menunggu Brian. Matanya menutup rapat, Rona terlelap menggapai bayang-bayang mimpi indahnya.


"Nyonya Liam... Nyonya...," Brian memanggil wanita di hadapan mukanya. Rona terbangun lantas terkejut karena kini Brian berada tepat di depan wajahnya dengan jarak beberapa centi.


"Ma- maaf saya barusan tertidur." Rona menggeser tubuhnya memberikan celah. Brian yang sadar kalau jarak dirinya dengan Rona sangat dekat, turut menarik dadanya untuk menjauh.


"I- ini Nyonya, silakan." Brian menyodorkan paper cup yang berisi cokelat panas. Jemari Rona tidak sengaja nenyentuh tangan Brian, Brian tersipu.


"Ma- maaf, saya tidak sengaja." Rona menarik tangannya menjauh dengan minuman panas di tangannya. "Te- terimakasih minumannya. Berapa saya harus mengganti uangmu, Tuan Brian?" tanya Rona canggung.


"Sama-sama Nyonya." Brian memutar kunci, menyalakan mobil. "Kalau boleh, saya ingin Nyonya mengganti dengan hal lain," ucap Brian ambigu.


"Dengan hal lain, maksudnya?" Kedua alis bertautan, Rona tidak mengerti arah perkataan pemuda di depannya.


"Tolong jangan panggil saya dengan sebutan Tuan, saya risih mendengarnya. Cukup sebut namaku saja, Brian..." pintanya sambil memutar kemudi, melajukan kendaraannya.

__ADS_1


"Ah... baiklah, Brian." Rona mengiyakan permintaan pria yang duduk di depan kemudi. Dia ingin segera pulang, tidak mau berlama-lama berduaan dengan pria yang menatap ke arahnya dengan cara yang berbeda.


Raut wajah Brian bersinar seketika, sepanjang perjalanan dia terus saja mencuri pandang. Rona yang menyadari hal itu, mulai jengah. Dia ingin lekas sampai, namun kondisi jalanan yang dipenuhi salju membuatnya harus lebih ekstra sabar.


Rona tidak kehabisan akal, dia meraih buku dari dalam totte bag. Kemudian menutupi wajahnya, berpura-pura membaca buku. Brian terkekeh menyadari ada sesuatu yang ganjal.


"Rona... apa bisa membaca buku dengan posisi terbalik seperti itu?" sindir Brian atas kekonyolan wanita di belakangnya.


"Hah, apa?" tanya Rona yang belum menyadari kalau buku yang digenggamnya itu terbalik. Manik mata melihat ke arah benda yang dipegang, Rona lantas memutarnya sembari tertawa hambar.


"Ternyata selain cantik, kamu juga sangat menggemaskan Rona ... pantas saja Edward bisa tergila-gila padamu," seloroh Brian entengnya.


"Terimakasih... saya anggap itu pujian," sahut Rona berusaha mencairkan suasana. Meski dalam hatinya masih menyimpan rasa malu.


"Malah aku yang heran, kenapa kamu bisa bertekuk lutut pada pria seperti Edward. Karena tidak mudah memahami karakternya yang selalu berubah-ubah," imbuh Brian.


"Ma- maaf... bukan maksudku seperti itu. Aku ha—"


"Tolong fokus saja ... saya ingin secepatnya sampai dan dengan selamat. Badan saya sudah sangat lelah." Rona menghempaskan tubuhnya ke atas jok mobil, tidak ingin lagi berdebat.


Setelah menghabiskan waktu satu jam, akhirnya Rona sampai di depan bangunan mewah di mana orang memanggilnya mansion. Namun Rona lebih senang menyebutnya rumah.


"Terimakasih Brian atas tumpangannya. Maaf saya tidak bisa menawarimu untuk bertandang, karena Edward tidak ada di rumah." Rona keluar dari mobil lalu masuk ke dalam mansion tanpa menoleh sekali pun pada Brian.


Setelah terdengar deru mobil meninggalkan mansion, tubuh Rona berputar sesaat dan menghela napas. Dia mengetuk pintu, nampak kini ujian kesabaran tengah berdiri membeku.


"Roland, mana Fiona? Kenapa kamu yang membukakan pintu?" Rona cingak-cinguk mencari maid-nya, mengacuhkan pria di belakangnya.

__ADS_1


"Fiona sedang menyiapkan makan malam. Aku baru saja tiba, lalu terdengar suara ketukan. Eh, ternyata kamu Kakak ipar," ungkap Roland yang tidak ingin Rona salah paham padanya.


Rona mengangguk dia menarik langkah lebar menuju ruang makan, di mana sang pangeran kecil tengah duduk manis menanti kepulangan ibunya.


"Mommy... yeay... Mommy pulang." Ezio beranjak dari atas kursi, menyambut langkah ibunya. Rona menurunkan tubuhnya dengan kedua tangan direntangkan. "Terimakasih Mommy sudah menepati janji." Ezio memberikan beberapa kecupan pada wajah Rona lalu menyadari ada sosok yang tidak dia temui.


"Ezio mencari Daddy ya?" tanya Rona yang seolah mengerti apa isi kepala anaknya.


Ezio mengangguk, wajahnya yang ceria kini mendadak lesu. "Iya... Daddy mana Mommy? Kenapa Mommy tidak pulang bersama Daddy malah dengan Uncle Roland?"


Leona yang semula tak acuh, dia menarik wajahnya menatap ke arah Rona lalu beralih ke arah suaminya. Seketika rasa curiga menyeruak ke dalam relung hatinya.


"Mommy bertemu Uncle Roland di depan pintu rumah, sayang." Rona menatap Leona yang tengah menatap skeptis ke arahnya. "Kalau Daddy... sedang mengantarkan mobil ke bengkel. Tadi mobil Daddy kehabisan bensin, jadi mogok deh," kilah Rona pada putranya. Dia terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat seisi rumah khawatir akan kejadian yang menimpa Edward juga dirinya.


"Oh... begitu ya Mommy," sahut Ezio yang percaya begitu saja pada perkataan ibunya. "Ya sudah... Mommy pasti lapar, kan? Kita makan yuk, adik bayi juga pasti sudah kelaparan!" Ezio menuntun tangan Rona lalu menarik kursi makan untuk ibunya. Iris mata berkaca-kaca, Rona sangat terharu akan perhatian-perhatian Ezio terhadapnya.


"Terimakasih sayang... Ezio memang anak yang sangat baik," puji Rona pada putra sulungnya. "Ezio mau Mommy suapi?" tawar Rona dengan sendok di tangannya.


Ezio menggelengkan kepala, menolak penawaran yang diberikan Rona. "Ezio bisa makan sendiri, Mommy. Mommy makan saja, kasihan adik Ezio...."


Rona mengangguk lalu mengisi piring makannya dengan hidangan yang telah tersaji di atas meja. Bibirnya terpaksa memperlihatkan senyuman sedangkan hatinya menyimpan kekalutan dan kekhawatiran akan kondisi Edward di luar sana. Di mana semakin malam, salju turun bertambah tebal.


...*****...


...Terimakasih banyak atas dukungan teman-teman semuanya...🙏...


...Akhir-akhir ini isi kepala sering sekali tersendat, mohon maaf kalau alur cerita tidak semenarik yang teman-teman harapkan......

__ADS_1


...Selamat malam dan selamat beristirahat....


__ADS_2