
Sahabat itu bagai kepompong, kadang kepo kadang rempong. Eh, bukan-bukan... bukan begitu. Persahabatan diibaratkan kepompong yang akan menjadi kupu-kupu. Persahabatan yang terjalin dan dipupuk dengan kejujuran, rasa percaya dan juga saling mendukung akan mengisi hari-hari kita menjadi lebih indah dan bermakna.
Sahabat bagaikan kepompong yang semula tidak tahu apa-apa tentang kita berubah menjadi tahu segalanya. Memperhatikan dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Sahabat selalu ada di setiap apa pun kondisi kita, suka maupun duka. Ketika senang ataupun susah. Tidak akan meninggalkan kita disaat terpuruk. Dan tidak akan merasa iri hati pada saat kita terbang tinggi. Berjalan bersama, bergandengan tangan. Se-iya dan sekata.
Claire membuka suara, dia sangat penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi pada sahabatnya itu. Rona yang dia tahu adalah wanita tangguh tapi bisa seterpuruk ini. Dia yakin ada hal besar yang sudah menimpanya.
"Jadi, jelaskan sekarang. Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Claire yang menatap Rona.
Nath menyenggol lengan Claire dan mengedip-ngedipkan mata. Dia berbicara tanpa suara ke arah sahabatnya itu. Rona yang tahu keduanya saling memberi isyarat pun akhirnya angkat bicara.
"Tidak apa-apa Nath. Kondisiku sudah lebih baik. Kalian sahabat yang paling aku percaya. Dan aku tidak mau menyimpan rahasia apa pun pada kalian."
Rona menatap sahabatnya secara bergantian. Dia menguatkan hati dan menyiapkan kalimat yang akan dia lontarkan. Karena dia yakin apa yang akan dia katakan, pasti membuat mereka terkejut dan ikut terpukul.
"Kalau kamu belum siap cerita sama kita, tidak apa-apa kok," ujar Nath yang merangkul pundak Rona. Dan Rona tersenyum tipis.
"Iya Ron, kapan pun itu kami akan siap mendengar ceritamu. Yang penting sekarang apa pun masalah yang sedang kamu hadapi, kamu harus tetap bertahan dan terus berjuang!" seru Claire dengan semangat berapi-api.
Melihat perhatian sahabat-sahabatnya, membuat hati Rona terenyuh. Matanya mengembun dan dia kembali merangkul dua tubuh dalam satu dekapan.
"Aku sayang kalian ... berjanjilah apa pun yang aku ceritakan sekarang ini, kalian jangan meninggalkanku." Rona melepas pelukannya dan mengacungkan jari kelingking sambil bertanya, "Janji?"
Nath dan Claire sama-sama menunjukan jari kelingking dan serentak menjawab, "Janji."
Rona menghela napas dan mulai menarik kepalanya tegak lurus. Dia sudah meyakinkan dirinya untuk berbagi lara yang dia dapati dengan orang-orang yang sangat dia percaya.
"Jadi waktu malam tahun baru aku ke apartemennya Roy."
"Terus?" potong Claire yang sudah tidak sabar.
"Ssssttt... dengarkan dulu Rona bicara, jangan dulu memotong!" tegur Nath pada Claire.
Rona kembali menceritakan apa yang telah terjadi kepada sahabatnya. "Aku memergokinya sedang bercinta dengan Jessy!"
"Jessy... Jessy musuh kamu dari jaman kuliah?" tanya Claire kembali memotong pembicaraan.
__ADS_1
Rona mengangguk lemah. "Setelah itu pikiranku kacau, aku datang ke klub malam. Terus mabuk berat."
Kali ini tidak ada yang menyela perkataan Rona, semua menatapnya dengan perasaan tegang. Pikiran-pikiran buruk pun mulai bermunculan di dalam otak-otak yang tengah menelaah cerita demi cerita.
"A- aku bertemu seorang laki-laki mungkin usianya berpaut 7 tahun denganku."
Rona menghela napas dan menelan saliva dengan perlahan. "Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa. Yang aku ingat hanya bertemu pria itu di taman, dan aku dalam kondisi mabuk berat."
"Pagi hari ketika aku terbangun, tubuhku tidak tertutup sehelai pakaian pun. Dan–"
"Dan apa Rona?" sela Claire yang sudah bisa membayangkan hal apa yang terjadi.
"Dan aku merasakan pedih di bagian kewanitaanku. A- aku melihat bekas darah yang mengering."
"Setelah itu saat aku ingin membersihan tubuh yang kotor ini, aku tidak sengaja menubruk tubuh pria yang meniduriku. Di- dia kembali melakukan itu padaku. Dan pria itu adalah pria yang sama, yang aku temui di taman!" lirih Rona bersamaan dengan pecahnya tangisan yang sedari tadi dia tahan.
"Laki-laki brengsekk itu menganggap aku wanita murahan, wanita malam...!" Rona meraung sambil menelungkup tubuhnya dengan kedua tangan.
Claire dan Nath yang mendengar cerita sahabatnya, sangat terpukul disertai amarah yang membuncah, terlebih Nath. Jiwa kelelakiannya muncul, ingin rasanya dia menghabisi laki-laki kurang ajar itu sekarang juga. Bisa-bisanya dia memperlakukan seorang wanita dengan tidak hormat.
"A- aku juga tidak tahu Nath. Aku bertemu dengannya baru pertama kali. Aku tidak tahu dia siapa," terang Rona yang masih tersedu.
Claire menatap iba ke arah Rona bersamaan rasa sakit yang menyembilu hati. Tidak sampai hati dia membayangkan kalau dia berada di posisi Rona. Mungkin dia tidak akan sekuat sahabatnya, bisa jadi saat itu juga lebih memilih mengakhiri hidup.
"Sabar Rona, kita akan selalu ada untukmu...!" ujar Claire menggenggam jemari Rona.
"Terimakasih, Claire. Kalian memang sahabat terbaikku...."
Ketiga sahabat, kembali saling merangkul dengan isakan yang bersahutan. Bahkan Nath yang terkenal seorang "buaya darat" pun ikut meneteskan airmata. Meski dia seorang playboy, namun tidak pernah menodai kekasihnya kecuali mereka yang meminta sendiri.
"Kamu masih ingat wajah orang itu?" tanya Nath.
"Masih sangat ingat!" jawab Rona dengan nada kebencian.
"Baiklah, besok ikut aku bertemu dengan sepupuku. Dia seorang anggota kepolisian. Kita bisa meminta bantuannya untuk membuat sketsa wajah laki-laki bajingan itu dari ciri-ciri yang kamu sebutkan," terang Nath semangat.
__ADS_1
"Awas saja, aku pasti akan menemukanmu! Dan akan aku pastikan untuk membuatmu bersujud di kaki sahabatku. Kamu menabuh genderang pada orang yang salah!"
.
.
"Bos, yakin mau ke Klinik Kecantikan?" tanya Feliks memastikan.
"Memangnya kenapa?" geram Edward menatap ke arah spion di mana Feliks sedang menatap ke arahnya.
"Apa tidak sebaiknya ke Rumah Sakit saja, mengobati luka di kepala? Nanti bisa-bisa infeksi itu Bos!"
Edward menyentuh kepalanya yang terluka lalu meringis karena rasa perih. Dia sampai lupa dengan keadaannya saat ini, gara-gara si asisten yang membahas kerutan di wajah. Dia seolah ingin menolak lupa bahwa umurnya kini sudah menginjak 33 tahun dan memiliki satu anak laki-laki. Namun merasa jiwanya selalu muda karena terlalu sering mencicipi daun muda.
"Ke Klinik saja, biar sekalian Dokter Leona mengobati lukaku," titah Edward yang dibalas dengan anggukan.
Sepanjang perjalanan Edward terus saja memikirkan satu nama yang mulai menyeruak ke relung hati. Meski dia tepis dengan kata-kata hinaan yang terlontar. Namun, getaran aneh bisa dia rasakan saat dia bersitatap dengan wanita itu.
"Matanya, ah... kenapa mirip sekali dengan mata milik Marissa?"
"Siapa sebenarnya dia?"
.
.
...***...
...Suka nggak sama ceritanya? Semoga suka ya .......
...Untuk memberikan Author semangat jangan lupa untuk meninggalkan Favorite, Like, Comment, Vote dan Rate 5 Bintang....
...Terimakasih...
...Jum'ah Berkah...
__ADS_1