Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Welcome Home


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu pertama di bulan November. Sinar matahari terasa semakin terik. Karena sebentar lagi musim semi akan bergulir menuju musim panas. Di mana waktu yang sangat dinantikan untuk liburan panjang dan menikmati panorama indah bentangan birunya pantai.


Di sebuah mansion super mewah, semua orang kini tengah disibukkan dengan menghias ruangan seindah mungkin. Ruangan yang semula didominasi warna putih tulang, kini berganti menjadi merah muda. Semua penghuni mansion menyiapkan itu semua, untuk menyambut kepulangan putri keluarga Liam, beserta malaikat kecilnya.


Seorang anak laki-laki berlarian ke sana-ke mari lantaran dia begitu bahagia. Menantikan kehadiran sang adik di tengah-tengah keluarga.


"Ezio sayang, hati-hati Nak. Lukamu belum sembuh total..." teriak Rona khawatir karena Ezio seakan melupakan kondisinya yang belum pulih seratus persen. "Suster Ola... tolong bantu saya memberi tahu Ezio," pekik Rona dari atas tangga. Dia menuruni undakan lantai tersebut seraya berjalan tertatih-tatih.


"Aroma-aroma keibuan semakin kental ya..." sindir Feliks yang turut membantu menyiapkan segala kebutuhan.


"Maksudmu apa, asisten gila?" balas Rona ketus. Dia mendelik lalu berdiri di samping suaminya.


"Ya seperti barusan itu tuh!" ledek Feliks dengan raut tengil. "Seperti seekor macan yang mengaum. Auuum..." ledeknya lagi.


Rona berdecak kesal lantas melemparkan bantal kursi ke arah asisten suaminya. "Cepat nikah sana, biar tidak terus-terusan nyinyir! Kalau sahabatku tidak kamu nikahi juga, mau aku jodohkan dengan saudara kembarku!"


"Saudara kembar?" Edward dan Feliks bertanya secara bersamaan. Karena keduanya sama-sama baru mengetahui kalau Rona memiliki saudara kembar.


"I-iya... saudara kembarku, memangnya kenapa?" tanya Rona melongo.


"Kamu tidak pernah memberi tahuku, sayang." Edward tidak kalah melongo. Karena dia pun turut terkejut mengenai fakta yang baru didengarnya baru saja.


"Kamu juga tidak pernah bertanya, kan?" balas Rona membalikkan perkataan suaminya.

__ADS_1


"Kamu sangat menggemaskan ya sayang... ingin rasanya aku melahapmu tiada ampun," sahut Edward dengan suara yang ditahan.


"Edward, sayang... lupa ya kalau di sini ada Papa dan juga Mama?" tegur Maria geleng-geleng kepala akan kelakuan putra sambungnya. Edward tidak merespons gurauan Maria. Karena hati kecilnya belum bisa berdamai dengan dirinya.


"Memangnya kenapa sayang...? Kita jangan kalah dong sama yang muda-muda." Richard mengecup pipi Maria di hadapan semua orang, sang pejantan tangguh meradang.


"Oke baik... aku hanya dianggap sebuah patung, tanpa nyawa dan juga tidak berhati!" sungut Feliks sembari memasangkan balon berwarna putih dan merah muda.


"Maka dari itu... cepat nikah sana! Biar tidak merasa kepanasan terus," imbuh Rona sembari pura-pura mencium suaminya. "Mmuah... mmuah...."


Feliks melirik, wajahnya nampak garang dan sangar. "Awas saja, akan aku adukan bagaimana sikapmu itu pada kekasihku!"


"Dih merajuk," cibir Rona mencebikkan bibir bawahnya.


"Leona sudah pulang, ayo kemasi ini semua!" titah Rona panik. Dia merapikan barang-barang yang tergeletak dan menyimpannya di tempat yang tak terlihat. Kini suasana mansion begitu indah dan meriah.


Seorang ibu muda menghentikan laju langkah sembari melingkarkan tangan di lengan suaminya, menatap ke sekeliling dengan binar mata yang sempurna. Dia tidak menyangka kalau keluarga tercinta, akan menyambut kedatangannya dengan kejutan yang amat manis dan berkesan.


"Waw... ini benar-benar indah!" puji Leona sembari berjalan dengan kepala berputar kian kemari. Matanya berkaca-kaca saat semua orang menyambut dirinya dengan kedua tangan terbuka bersiap untuk mendekap tubuh yang dirindukan.


Orang yang pertama kali Leona peluk, adalah pria yang menjadi cinta pertamanya. Bak anak kecil, Leona merengek di dalam tubuh hangat sang ayah. "Leona rindu Papa... Leona pikir, Leona tidak akan lagi bertemu Papa."


"Hus! Jangan bicara seperti itu, Papa tidak suka!" tegur Richard karena perkataan putrinya membuat dia getir.

__ADS_1


"Iya Pa... maafkan Leona," jawab wanita muda itu melepaskan dekapannya. Dia beralih merentangkan tangan ke arah laki-laki yang menjadi cinta keduanya.


"Welcome home my little sister." Edward lebih dulu merengkuh sang adik dan menghujaninya dengan kecupan kasih sayang. "Aku sangat bahagia, kamu sudah kembali ke rumah..." ungkap Edward terisak.


"Terimakasih ya Kak ... terimakasih karena sudah menjadi kakak terbaik untuk Leona," ucapnya tulus. "Tolong maafkan mom, maafkan semua kesalahan dan dosa yang telah mom perbuat. Pada Kakak, pada mama Lesham, pada Kak Rona juga pada Ezio."


"Iya adikku yang manja... aku sudah memaafkan mom. Karena bagaimanapun, dia tetap seorang ibu yang harus kita hormati," jawab Edward tak ingin adiknya bersedih.


Leona lanjut memeluk Rona kemudian merangkum tubuh Maria. Tangisnya pecah dalam sentuhan lembut seorang ibu yang selama ini tidak dia dapatkan. "Leona, sangat... berharap, Mama bisa menerima dan menyayanginya Leona seperti putri Mama sendiri."


"Tentu saja sayang, Mama akan menyayangimu dengan segenap hati," sahut Maria menarik wajah Leona lantas memberi kecupan di atas kening dan juga dikedua pipi.


Momen melepas kerinduan, terputus oleh suara tangisan sang bidadari kecil yang tengah terbaring di atas kereta bayi. Leona bergegas mengangkat tubuh mungil itu perlahan. Dia membawa putrinya ke atas sofa untuk diberikan ASI.


"Haus ya Nak?" Leona mengajak Alodie berbicara. "Mau minum Asi ya?" tawar Rona pada putrinya. Dia membuka satu per satu kancing dress lalu menyusui Alodie tanpa menghiraukan orang-orang di sekitar. Dia tidak menyadari bahwa ada pria lajang tengah berdiri sembari menatap penuh damba ke arahnya. Berkali-kali pemuda itu menelan saliva, hingga sebuah cubitan panas mendarat di atas pinggang.


"Bagus... bukannya berpaling, ini malah melototi dada milik adik iparku!" tegur Rona memergoki Feliks tengah memandangi Leona sampai-sampai matanya tidak berkedip.


Semua tatapan sontak mengerling ke arah Feliks, terutama Roland. Pria itu menarik kasar lengan Feliks dan menyeretnya ke ruang tamu. Lantaran dia tidak terima, tubuh sang istri dinikmati oleh laki-laki selain dirinya. "Kamu diam di sini! Sebelum dipanggil, jangan berani masuk ke ruang utama! Sekali lagi kamu ketahuan menatap bagian tubuh istriku, akan kucongkel kedua matamu itu!!"


Feliks mengangguk lemah. Namun, otaknya melayang tidak tahu ke mana. Di dalam pikirannya saat ini hanya bayangan aset yang begitu indah. Aset wanita tanpa terhalang selembar benang pun. "Aku harus cepat-cepat menikah kalau begini caranya. Tidak mungkin setiap malam, memuaskan diri dengan tangan dan sabun. Ah... ini sungguh menyiksaku!!!"


...*****...

__ADS_1


...Selamat malam teman pembaca semua. Semoga selalu dalam lindungan-Nya dan diberikan kesehatan....


__ADS_2