Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Asmara yang Patah


__ADS_3

Amber terus saja nyerocos, tetapi Richard tidak mengindahkannya. Dia memilih merebahkan kepala untuk meredakan sakit di dalam dada.


Sementara itu, Rona melihat raut gusar tergurat di wajah suaminya. Rona yang cukup memahami hanya bisa mengelus pundak Edward, memberi dukungan semampunya. Karena bagaimanapun dia hanya orang luar yang merangsek masuk ke dalam keluarga yang ternyata penuh drama.


"Rona ikut aku..." pinta Edward menuntun tangan Rona membawanya ke taman belakang.


"Ada apa Edward?" Rona menunggu dengan perasaan was-was. "Apa ini ada hubungannya dengan permintaan papa?"


Edward mengangguk pelan. "Aku tahu Leona pasti akan menyukai laki-laki yang dipilihkan papa. Tapi aku tidak mau mengorbankan seseorang yang sudah mengabdi pada keluarga ini hanya demi ego kami."


Rona meletakkan kedua tangan di atas bahu Edward. "Menurutku coba dulu saja ikuti maunya papa, siapa tahu pria itu tidak merasa keberatan dan bisa menerima Leona!"


Edward menarik kepalanya ke bawah lalu mendekap tubuh istrinya. "Terima kasih sayang, kamu selalu mendukungku meski dalam keadaan apa pun."


...***...


Saat seperti ini dunia seakan berhenti berputar. Angin berhenti meniup. Dan hanya detak jantung yang berbicara.


"Jantungku berpacu lebih cepat, apa jantungmu merasakan hal yang sama?" Feliks memiringkan kepala di atas pundak Claire.


"Tidak, jantungku normal-normal saja." Lagi-lagi Claire berdusta.


"Benarkah, coba aku pegang!" Feliks mengangkat tangan ke arah dada Claire. Mata Claire membelalak melihat tangan Feliks perlahan merangkak ke atas dadanya. Claire memutar badan seraya memelintir tangan Feliks lalu menariknya ke belakang punggung.


"Dasar pria mesum!" cerca Claire di depan wajah Feliks. Feliks menyeringai kemudian mendekatkan wajahnya. Claire sontak memundurkan tubuh lalu melonggarkan cengkeraman tangan.


"Mau menggodaku, hm...?" Feliks menarik pinggang Claire. Dua pasang mata saling melempar tatap, bertukar napas. Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu, hingga tetesan air hujan memecah romantisme.


Claire mendongak, awan gelap semakin kelabu. Tangannya menengadah membiarkan rintik-rintik hujan jatuh ke atasnya.


"Claire ayo berteduh, hujan mulai lebat!" teriak Feliks yang menggandeng lengan Claire menuju tempat yang nyaman. Hujan pun turun dengan deras disertai angin kencang yang menusuk ke dalam pori-pori.


Claire menelungkup tubuhnya seraya mengusap-usap lengannya menahan rasa dingin. Namun, tiba-tiba tubuhnya menghangat karena sentuhan seseorang.


"Pakailah jaketku!" Feliks menautkan pakaiannya ke atas bahu Claire dengan tanpa melepaskan rengkuhan tangannya.


"Terima kasih Feliks, tapi nanti kamu kedinginan." Claire memutar kepala. Wajahnya bertemu dengan paras tampan tanpa jarak. Hangatnya napas menyapu sempurna di wajah bekunya.


Feliks memandangi wajah Claire dengan tatapan yang membuai. Bola mata bergerak dari arah mata lalu turun ke bibir tipis. Tangannya mengusap bibir yang mulai dingin, Feliks memiringkan kepala. Claire tidak berkutik, dia terbawa hanyut akan perasaan. Matanya terpejam, menunggu pria di hadapannya menyentuh bibirnya.


Ketika momen yang paling dinanti-nanti sejak lama sebentar lagi akan terjadi, suara getar ponsel merusak suasana.


"Aish... mengganggu saja!" rutuk Feliks yang merasa kesal. Terpaksa adegan yang paling ditunggu-tunggu, kembali ditunda.


Dia merogoh handphone dari saku celananya. Wajahnya samakin muram karena melihat nama si penelepon.


Feliks


Apa?

__ADS_1


Edward


Kenapa menjawab teleponku dengan ketus?


Feliks


Kau mengganggu momen indah, bos!


Edward


I don't care


Feliks


Ada apa, cepat katakan!


Edward


Papa mau bertemu, sekarang juga ditunggu di Mansion


Feliks


Sekarang bos?


Edward


Bukan, tapi tahun depan


Feliks


Si-siap bos, saya meluncur sekarang


Feliks bersungut-sungut memonyongkan bibir, Claire tertawa kecil memperhatikan tingkah absurd pria di sampingnya.


"Dasar asisten gila!" umpat Claire sembari terus tertawa. Feliks menggaruk kepala yang tidak gatal karena sadar akan kelakuannya sendiri.


"Huh... tidak jadi lagi, kan!" gerutu Feliks dongkol.


"Apanya yang tidak jadi lagi?" Claire tidak mengerti.


"Tidak jadi nyosor!" seloroh Feliks yang dibalas tonjokan di bahunya.


"Claire..." panggil Feliks.


"Apa?" sahut Claire.


"Ikut aku yuk!" ajak Feliks.


"Ke mana?" tanya Claire.

__ADS_1


"Ke hatiku..." jawab Feliks.


"Dih malah menggombal!" ledek Claire. Feliks hanya terbahak mendengar celotehan gadisnya.


"Ikut aku ke mansion keluarga Liam. Aku mendadak tidak enak hati. Temani aku ya!" Feliks menatap netra mata seraya menautkan jemarinya. Claire mengangguk tegas.


...***...


"Bagaimana Edward, sudah kamu hubungi anak itu?" tanya Richard yang melihat putranya keluar dari taman.


"Sudah Pa. Dia sedang dalam perjalanan," jawab Edward yang mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Rona turut duduk di samping suaminya berhadap-hadapan dengan Amber.


"Pa... jangan buat aku penasaran. Papa merencanakan apa dengan Edward? Kenapa aku tidak diberi tahu?" rengek Amber geregetan.


Sementara Leona, dia hanya terdiam dan terduduk pasrah. Dia sudah tidak memiliki gairah sebab segala impiannya pun telah musnah.


Fiona mendengar suara ketukan pintu, dia beranjak cepat untuk melihat siapa tamu yang datang. Dan yang datang adalah orang yang tengah ditunggu keluarga majikannya.


"Eh Tuan Feliks. Masuk saja Tuan, tuan Richard dan yang lainnya sudah menunggu di ruang keluarga." Fiona mempersilakan Feliks masuk, mengantarkannya pada orang-orang yang berwajah cemas.


Semua mata tertuju pada dua orang yang baru saja datang. Dan tatapan mereka teralih pada tangan Feliks yang menggenggam erat tangan perempuan yang datang bersamanya.


"Claire?" sapa Rona pada sahabatnya. Dia beranjak kemudian menghampiri Claire. "Ikut aku!" bisik Rona. Rona menarik tubuh Claire lalu mengajak gadis itu ke ruang makan. Meninggalkan keluarga suaminya untuk meleraikan masalah.


Feliks yang masih berdiri mematung, perasaannya semakin tidak nyaman. Matanya menatap ke semua orang secara bergantian. Dan berakhir di wajah Leona yang sembab.


"Feliks duduklah," titah Richard yang dibalas anggukan. Feliks memilih tempat duduk yang berseberangan dengan Richard. Dia menundukkan kepala dengan tangan yang digenggam erat.


Richard mengatur napas lalu menegakkan punggungnya. Memutar isi kepala mencari kalimat untuknya memulai pembicaraan.


"Apa kamu sudah memiliki kekasih?" Richard bertanya dengan hati-hati.


"Sudah Tuan," jawab Feliks singkat.


"Oh... apa perempuan yang datang bersamamu?" tanya Richard menelisik.


"Betul Tuan," sahut Feliks berbohong.


Richard mendengus pelan. "Akhiri hubungan kalian karena saya akan menjodohkan kamu dengan Leona!"


"Apa-apaan ini?" sela Amber yang tidak menerima keputusan suaminya. "Aku tidak sudi mempunyai menantu dari kalangan bawah! Lebih baik Leona aku asingkan ke negara lain, dari pada harus memaksanya menikah dengan pria yang tidak punya masa depan!"


"Diam Amber! Aku tidak menanyakan pendapatmu." Richard berbicara dengan nada naik dua oktaf. Amber mencebikkan bibirnya dengan mata yang mendelik.


...***...


...Huaaa... kira-kira bagaimana akhir kisah Feliks? Terus saksikan di novel Dokter Rona and Hot Daddy....


...Selamat hari minggu dan selamat berkumpul dengan orang-orang tersayang ya......

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya......


__ADS_2