
Seorang wanita muda, berdiri tegak di depan sebuah cermin yang berada di dalam kamar. Dia melihat penampilannya hari ini dengan dress selutut warna hitam dipadu padankan blazer pendek berwarna merah maroon. Sebuah bros cantik, dia sematkan di atas dada kiri. Rambut diikat sangat rapi, dia telah siap menghadapi hari ini.
"Kamu semakin memesona saja sayang," Edward memeluk tubuh sang istri dari arah punggung lanjut mengusap-usap perutnya. "Bagaimana aku tidak bertambah cinta." Edward memutar tubuh Rona lalu memagut bibir tipis yang baginya bagai secawan madu.
Pergulatan tadi malam sebetulnya belumlah cukup untuk melepas semua kerinduan. Akan tetapi pagi ini, mereka harus bangun lebih awal untuk menghadiri sidang yang melibatkan kedua nama mereka.
"Rasa-rasanya baru kemarin kita berada di sana. Dan hari ini kita akan menginjakkan kaki ke tempat yang sama." Rona mendesah kemudian mengalungkan lengan ke leher suaminya. "Kalau boleh dikatakan, aku lelah Edward. Sangat... lelah!" Rona menarik kepalanya ke bawah, mengingat semua masalah yang datang dan pergi tiada henti.
Edward mengangkat wajah Rona dan mengunci bola mata istrinya dengan tatapan dalamnya. "Selama kita hadapi semua bersama-sama, kita akan kuat. Setiap masalah akan selesai dengan cepat."
Edward mencumbu lembut bibir Rona. Tangannya merayap, mencari tempat yang nyaman untuknya berlabuh. Dia menarik zipper dress yang berada di depan. Sontak tangannya berkelana memberikan rangsangan-rangsangan kecil. Rona melenguh, percintaan tadi malam belum memuaskan keduanya.
"Sudah sayang... nanti kita terlambat," lirih Rona yang berganti erangan karena Edward tengah menghisap dadanya seperti seorang bayi. Rona mendongak dengan kedua tangan meremass rambut suaminya.
"Aku masih menginginkanmu." Edward mencecap aset milik istrinya secara bergantian. Miliknya kini mendesak dan menyesak di balik celana panjangnya.
Edward sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, bersiap untuk menancapkan tubuh inti ke dalam pusaran cinta milik sang istri. Akan tetapi suara ketukan berkali-kali membuatnya harus menelan bulat-bulat hasrat yang tertahan di kerongkongan.
"Ada apa Fiona?" Edward bertanya sangat ketus saat membuka pintu kamar. Ternyata maid-nya lah yang telah mengganggu imajinasinya.
"Ma-maaf Tuan kalau saya mengganggu. Itu ada Nona Natalie dan Tuan James menunggu di ruang tamu," jelas Fiona sembari menunjuk menggunakan jari-jarinya.
Edward mendengus sembari memilin keningnya yang tiba-tiba pening. "Tolong sampaikan pada Natalie, sepuluh menit lagi saya akan turun untuk menemuinya."
"Baik Tuan, saya permisi..." ucap Fiona berlalu dari hadapan majikannya.
__ADS_1
Edward yang melamun, dikagetkan oleh pelukan mesra sang istri yang melingkar di pinggangnya. "Ada apa sayang, kenapa wajahmu ditekuk begitu?"
"Tidak ada apa-apa, hanya—"
"Hanya apa sayang?" potong Rona.
"Tidak apa-apa. Hanya saja Natalie sudah menunggu kita di bawah. Kita harus bergegas dan terpaksa menunda pergumulan kita," ujar Edward kecewa.
Rona terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar pria mesum! Di otakmu hanya ada bercinta dan bercinta! Sudah ah... aku mau melihat kondisi Ezio lalu menemui Natalie."
"Aku nanti menyusul, mau ke kamar mandi dulu... olahraga lima jari," balas Edward lesu. Rona menahan tawa dan mengacuhkan Edward yang merajuk dengan terus berjalan ke arah kamar putranya.
...***...
Di tempat ini, di tempat yang sama. Tempat yang sebenarnya menyisakan trauma. Namun, takdir malah membawanya kembali ke tempat di mana kekuatan lahir dan batin dipertaruhkan. Berjuang antara kejahatan dan kekuasaan. Tapi keadilan akan selalu berdiri tegak di tempat yang seharusnya dia berdiri dan dihormati.
"Sudah siap sayang?" Edward mengenggam jemari sang istri. Dia memberi kekuatan pada Rona agar tidak gentar melawan kejahatan.
"Siap!" jawab Rona penuh keyakinan.
"Kamu bagaimana Natalie, sudah siap kan menjadi saksi?" tanya Edward pada sepupunya. Natalie akan menjadi saksi kunci akan semua kejahatan yang harus dipertanggung jawabkan oleh pria yang bernama Brian Cale.
Natalie menoleh ke arah James, pria di sampingnya itu mengangguk lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya. Sebagai bentuk dukungan dan juga kekuatan untuknya.
"A-aku siap... selama ada James di sisiku, aku akan hadapi semua ini," jawab Natalie tanpa melihat ke arah Edward. Karena kedua manik mata, tidak urung dari menatap lekat wajah suaminya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, mari kita masuk ke ruang persidangan. Sepertinya nama kita sudah dipanggil berulang-ulang kali," kata Edward seraya berjalan menuju ruangan dengan cat dinding berwarna cokelat muda.
Keempat orang yang menjadi pihak penggugat, memasuki ruang persidangan. Berpasang-pasang mata menyoroti mereka dengan pikiran-pikiran yang tidak bisa dipahami oleh kasat mata.
Mereka duduk dengan tenang, meski hati berdebar. Terlebih saat nama mereka satu per satu dipanggil. Lalu diberikan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang menjebak dan menyudutkan. Namun, barang bukti-barang bukti yang dihadirkan di persidangan, membuat pihak terdakwa tidak bisa berkutik apalagi membela diri.
Pekikan kekecewaan juga kebahagiaan saling bersahutan dan berlawanan. Ketika sang hakim membacakan keputusan dan memberi hukuman pada si terdakwa.
"Berdasarkan bukti-bukti dan pernyataan saksi-saksi. Dengan ini pengadilan memutuskan, bahwa saudara Brian Cale dijatuhkan hukuman penjara selama 25 tahun dan denda sebanyak 100 miliar dollar."
"Dan Nona Natalie terbebas dari semua tuduhan yang menyeret namanya ke dalam kasus penggelapan dan pencucian uang."
Edward memeluk erat tubuh sang istri. Begitu pun dengan James, dia mendekap Natalie turut bahagia. Karena istrinya itu selamat dari setiap tuduhan yang dilayangkan Brian terhadapnya.
Rona memutar tubuhnya dan merengkuh tubuh sepupu suaminya. "Terimakasih Natalie... terimakasih. Berkatmu, kita memenangkan kasus ini. Dan maafkan karena aku sudah berpikir kalau kamu bersekongkol dengan Brian."
"Tidak perlu berterimakasih dan meminta maaf kepadaku, Rona. Aku sangat menyayangi Edward. Tante Lesham menitipkan dia padaku, jadi aku tidak akan mungkin mengkhianatinya. Selama ini aku hanya berpura-pura membantu Brian, padahal aku mengumpulkan semua barang bukti itu," jelas Natalie mengingat apa yang dia lakukan, meski mengancam jiwanya sendiri.
"Maafkan anak Om, maafkan Brian..." ucap William menghampiri Edward dan juga Rona. "Om tidak menyangka kalau Brian akan berulah sejahat ini. Om merasa bersalah karena sudah merekomendasikan dia pada papamu." William sesenggukan merasa gagal menjadi seorang ayah.
"Jangan meminta maaf seperti ini Om William, Edward jadi tidak enak... Om teman baik papa, tapi Edward malah menjebloskan anak Om ke dalam penjara," sahut Edward penuh sesal.
Seperti biasa William menepuk-nepuk pundak Edward dan tersenyum hangat. Meski hatinya sebagai seorang ayah, tercabik-cabik. "Kejahatan Brian, bukan kejahatan biasa. Dia layak mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya."
William pergi meninggalkan ruang persidangan tanpa menoleh ataupun menemui putranya barang sedetik pun. Sementara Brian, dia hanya bisa menatap punggung sang ayah dengan sorotan kesedihan dan penyesalan. Menyesal karena telah membuat orang yang paling menyayanginya, kecewa.
__ADS_1
...*****...
...Terimakasih banyak untuk yang masih berkenan membaca novel ini, yang semakin lama authornya semakin galau 🙈...