
Setiap orang memiliki rasa takutnya masing-masing. Takut akan pertemuan, perpisahan ataupun kehilangan. Seperti yang dialami wanita muda yang tengah berbadan dua, dia sangat takut akan kehilangan. Karena kehilangan telah membuat separuh jiwanya seakan tak lagi ia miliki.
"Ayo Ezio keluarlah..." gumam Rona yang menatap bangunan megah dari balik jendela mobil. "Mommy rindu kamu, Nak. Lihatlah, Mommy ada di sini...."
Edward mendesah pelan, dia tidak sampai hati melihat sang istri begitu menderita menahan rasa sesak di dada. "Kita turun saja dan temui Ezio ke dalam."
Rona menatap sendu. "Benarkah kita bisa melihat anak kita? Apa Roy akan mengizinkan?"
"Ya tentu saja bisa. Bangunan ini milik om Theo, bukan milik sepupuku yang gila itu!" Edward melepas sabuk pengaman yang menyilang di depan dada, lantas mengajak Rona untuk turun dari mobil. "Yuk! Kalau kita tidak mencobanya, kita tidak akan bisa bertemu Ezio."
Rona mengangguk dan mengikuti suaminya keluar dari mobil. Derap langkahnya terlihat antara ragu-ragu dengan rasa rindu menggebu. "Kamu yakin kita akan diperbolehkan masuk?"
"Kita coba dulu Rona." Edward memegang pagar teralis sambil mencari seseorang untuk membukakan gerbang yang tertutup rapat dan terkunci. Seorang pria bertubuh tinggi besar datang menghampiri lanjut bertanya dengan garang.
"Anda siapa dan ada kepentingan apa? Apa anda sudah memiliki janji dengan tuan Theo ataupun tuan muda Roy?" tanya pria tersebut.
"Saya keponakannya om Theo, Edward Liam dan ini istri saya. Biarkan kami masuk!" sahut Edward.
Pria yang terlihat seperti seorang body guard itu nampak mengingat sesuatu. Dia manggut-manggut dan tiba-tiba menggebrag pintu gerbang. "Pergi kalian dari sini! Sebelum saya menghajar kalian satu per satu!"
"Apa kamu bilang?!" Edward menarik kerah pria tersebut lalu menjerat lehernya. "Cepat buka pintu ini kalau kamu masih ingin selamat!" Edward mengeratkan cengkeramannya membuat pria berbadan tinggi besar itu tidak berkutik. Hingga body guard yang lain turut membantu dan menodongkan senjata api ke arah Edward.
"Lepaskan teman saya dan pergi dari sini! Atau perut wanita itu, saya pecahkan!"
Edward terpaksa melepaskan jeratannya dan mendorong kasar pria tersebut. Dia berjalan mundur seraya menarik lengan Rona untuk menjauh. Karena senjata api masih ditodongkan ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Ezio... ini Mommy datang, sayang! Ezio..." teriak Rona berharap dia bertemu dengan putranya meskipun hanya satu detik. "Ezio keluarlah... Mommy rindu!" pekik Rona dengan tubuh yang menjauh karena Edward terus menarik lengannya. Sebuah tembakan meluncur ke udara, Rona terhenyak dan semakin putus asa.
"Saya peringatkan sekali lagi untuk kalian pergi dari kediaman tuan Theo. Karena saya tidak main-main dengan ucapan saya!" ancam pria yang tidak diketahui namanya itu sembari menarik pelatuk untuk menakut-nakuti.
"Ayo sayang... kita pergi dari sini. Lain waktu kita bisa mencoba untuk datang kembali." Edward menggandeng tangan sang istri dan membawanya ke dalam mobil.
Sementara di dalam mansion, seorang anak laki-laki kembali menangis. Dia menatap kepergian sang ibu dari arah balkon. Ingin rasanya dia memanggil nama malaikat yang begitu menyayanginya. Namun, wanita muda yang berdiri di samping melarang dia untuk melakukan itu.
"Ezio mau bertemu dengan Mommy, Aunty!" rengek Ezio sedih.
"Iya sayang ... nanti Ezio pasti akan bertemu dengan Mommy, tapi tidak sekarang. Lihat Mommy ketakutan seperti itu. Memangnya Ezio tidak kasihan?" tunjuk Jessy saat sebuah peluru ditembakkan ke atas. "Aunty janji, Aunty akan mempertemukan Ezio dengan Mommy. Jadi bersabarlah anak manis." Jessy mengusap-usap kepala Ezio lantas mendekapnya.
"Sekarang kita masuk ya... nanti kalau uncle Roy melihat kita di sini, bisa-bisa Ezio dikurung lagi di kamar." Jessy mengajak Ezio untuk kembali ke kamarnya.
...***...
Di sebuah ruang kecil, sinar mentari berpadu indah dengan gaun pengantin berwarna putih. Warna yang bernilai sakral sebagai simbol kehidupan baru yang akan dijalani. Meninggalkan duka dan lara di masa lalu. Kehidupan yang bermula dari pembiasan segenap hati untuk menerima seseorang. Menerima segala kelebihan dan kekurangan menjadi sebuah kesempurnaan karena saling melengkapi dan saling mengisi.
"Cantik sekali kamu Nak..." puji Jourdy kepada keponakannya. "Andai saja Grace seperti dirimu, mungkin Paman akan memiliki kesempatan untuk melihat dia memakai gaun cantik ini dan bersanding di atas altar suci."
Seorang gadis yang sebentar lagi akan menanggalkan nama sang ayah dan menyematkan nama suaminya, membalikkan badan lalu memeluk tubuh ringkih sang paman. Dia membiarkan pria yang mulai renta itu untuk meluapkan apa yang bertengger di dalam hati, melalui tangisan dan dekapan hangat.
"Menangislah Paman... keluarkan semua yang membuat perasaan Paman sesak. Dengan menangis tidak membuat kita lemah atau menyedihkan." Claire mengusap-usap punggung yang bergetar karena isakan.
"Ini hari bahagiamu, Paman tidak seharusnya bersedih seperti ini," balas Jourdy menahan deraian air mata.
__ADS_1
"Jangan ditahan Paman ... menangislah! Agar hati Paman terasa lebih lega." Claire merekatkan pelukannya. Sedangkan Monic, dia hanya bisa menyaksikan keharuan di depan mata, tanpa bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
"Bahagialah selalu, Nak... bahagialah selalu!" Jourdy meletakkan telapak tangan di atas pucuk kepala memberikan doa. "Jangan pernah melupakan Paman dan Tantemu ini, meski nanti kamu sudah jauh lebih bahagia."
Claire terkekeh, "Gadis kecilmu ini tidak akan mungkin melupakan orang-orang yang sudah berjasa dan merawatnya sedari kecil. Paman dan Tante Monic, sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri. Selepas kepergian mama dan papa, hanya Paman dan Tante Monic, yang aku miliki."
Jourdy tersenyum lalu menyelipkan anak rambut ke samping cuping telinga. "Ayo Nak kita keluar... kasihan calon suamimu nanti khawatir karena mempelai wanitanya tidak juga menampakkan diri."
Jourdy meletakkan tangan di atas perut, Claire menautkan jemari ke dalam lengan sang paman. Senyumnya menghiasi paras yang cantik semakin terlihat cantik juga bersinar.
"Kamu melupakanku?" Seseorang menghadang lantas memeluk calon pengantin tanpa diminta. "Maaf aku terlambat datang Claire..." ucap seorang wanita yang dinantikan kehadirannya sejak tadi.
"Ah... akhirnya kamu muncul juga. Aku kira kamu tidak ingin menyaksikan hari bahagiaku, Rona!" Claire merengut karena sahabatnya baru saja datang. Sementara dia terus menunggu dengan gusar dan gelisah.
"Maafkan aku Claire, aku—"
"Tidak apa-apa, Rona. Aku mengerti." Claire menarik tangan Rona dan menggandenganya dengan rekat. "Jangan jauh-jauh dariku ya, aku benar-benar nervous!"
"Ah I see ... tanganmu dingin sekali Claire. Tapi tenang saja jangan dibawa cemas. Semuanya akan berjalan dengan apa yang kamu harapkan."
...*****...
...Terimakasih banyak untuk teman-teman yang masih setia dengan novel ini. Meski terbaca membosankan, sekali lagi mohon maaf belum bisa double Up 🙏🙏...
...Menjelang Bulan Ramadhan, saya haturkan mohon maaf sedalam-dalamnya, bila ada kesalahan yang disengaja maupun tidak....
__ADS_1
...Semoga ibadah kita diterima oleh Allah ta'ala 🙏...