
...Ketika jingga jatuh hati pada langit, alam pun tersenyum. Awan gelap enggan untuk singgah. Sepotong demi sepotong senyuman, kian terpancar ketika semua menatap langit. Namun bila pada akhirnya langit berkhianat pada jingga, akankah kemilau senja merentang indah di balik mega?...
...*****...
Wanita yang tengah menikmati masa-masa di mana setiap hal mulai berubah. Menyandarkan pungungnya ke atas headboard. Matanya terbuka tipis, kedua tangan memeluk bantal.
Segala sesuatu tak lagi sama. Dimulai dari perubahan fisik dan juga suasana hati. Dia hanya bisa pasrah dengan kondisi tubuhnya yang lemah. Karena obat pereda rasa mual pun tiada guna.
"Kak, aku ke Kak Roland dulu ya," ujar Leona. Rona mengangguk lemah tanpa melihat ke arah wanita yang mengajaknya bicara.
Leona menghampiri suaminya yang masih berdiri di atas balkon lantas bertanya dengan suara berbisik-bisik. "Bagaimana Kak, kak Edward sudah dihubungi?"
Roland yang sedang menatap hamparan dedauan, membalikkan badannya kemudian menganggukkan kepala. "Sudah ... tapi dia tidak mengangkatnya. Bahkan aku sudah mencoba meneleponnya sampai seratus kali."
Leona berdiri di samping Roland dengan tangan mencengkeram kaca pagar. "Kak Roland dulu kan teman dekat kakakku, apa ada sisi lain kak Edward yang tidak Leona ketahui? Apa dulu kakakku sering bermain wanita?"
Roland menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang ditautkan ke pinggiran pagar. Wajahnya memandang lurus ke arah lukisan. "Kakakmu terkenal setia, tapi wanita yang mengejar-ngejar cintanya sangatlah banyak. Aku juga heran ... padahal aku tidak kalah tampan, tidak kalah keren. Tapi semua wanita terjerat pesonanya."
Leona terkekeh, "Dih Kak Roland terlalu percaya diri itu namanya."
"Memangnya aku tidak tampan ya, tidak menarik?" Roland mendekati istrinya lalu menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah. Leona salah tingkah, tertunduk malu.
Gelombang gairah tiba-tiba datang dan sulit untuk dibendung. Roland mengecup tipis pipi istrinya yang meremang. Bibirnya mencari benda kenyal yang mulai dia sukai, namun suara dehaman berat memutus aksinya.
"Ehm," deham Rona. "Lanjutkan sana di kamar kalian, balkon ini tempat khususku dan Edward memadu kasih!" seloroh Rona sambil cekikikan.
"Apa sih Kak?" tukas Leona malu-malu. "Eh iya, kenapa Kakak ke sini, apa perlu sesuatu?" Leona menghampiri Rona dan mendekap pundaknya.
__ADS_1
Rona menggeleng cepat. "Tidak kok. Cuman tadi aku tidak sengaja melihat singa lapar ingin menerkam mangsanya di kamarku!" Rona melirik ke arah Roland yang bersikap se-cool mungkin.
"Ya sudah sana, lanjutkan percintaan kalian. Aku ingin istirahat!" timpal Rona yang kembali ke atas ranjangnya. "Oh iya, titip pesan pada suster Ola ... aku titip Ezio. Kalau keadaanku membaik, aku akan mengurus Ezio lagi," tambahnya lagi.
"Siap Kak ... Kak Rona sekarang istirahat ya." Leona menarik kain lembut untuk menutupi tubuh kakak iparnya. "Kalau perlu apa-apa, telepon Leona saja," imbuh Leona.
Sepasang pengantin baru meninggalkan Rona dan kembali ke kamarnya untuk menunaikan kebutuhan biologisnya. Sementara di belahan bumi yang lain, seorang pria tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya. Dia meraup lembaran surai hitam, dengan dengusan napas kasar, frustasi.
Di hadapannya terlihat komputer yang menyala, cangkir kopi yang kosong. Botol minuman beralkohol tak berisi, juga berkas-berkas bertumpuk dan berserakan. Tidak ketinggalan patahan tembakau yang menumpuk di atas asbak. Handphone berdering berulang kali pun dia hiraukan. Dia seolah hidup dengan dunianya sendiri.
Seseorang masuk ke dalam ruangan membawakan secangkir kopi kemudian meletakkannya di atas meja. Dia berjalan ke arah punggung, lantas memijat lembut pundak pria tersebut yang nampak lelah dan kacau.
"Thankyou, Natalie." Edward memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dari wanita yang berdiri di belakangnya.
"Your welcome, Edward!" Natalie duduk di hadapan Edward dengan menyilangkan kaki. "Hari ini aku izin pulang lebih awal ya, suamiku kembali dari perjalanan bisnisnya."
Natalie mencondongkan wajahnya. "Sorry... lagi pula tinggal satu hari lagi, kan?"
Edward mengangguk ragu. "Iya... dan aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi istriku nanti setelah dia tahu kalau suaminya...."
"Jangan lupa perkenalkan aku pada istri cantikmu itu," potong Natalie. Dia berdiri lalu merapikan rok ketatnya. "Aku kembali ke ruanganku ya... kalau kamu butuh sesuatu, panggil aku."
Natalie keluar dari ruangan Edward lantas menutup pintu kembali. Dan Edward, dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan yang seakan tiada habisnya.
...***...
Di dalam sebuah hotel bintang lima dengan kelas kamar termewah, sepasang anak Adam tengah berbagi peluh. Setelah semalaman mereka menghabiskan waktu dengan making love, siang ini mereka melanjutkannya seperti tidak ada puasnya.
__ADS_1
"Roy... kenapa milikmu enak sekali?" Grace menggoyang-goyangkan panggulnya di atas kepemilikan lelakinya. "Aku jadi membayangkan kalau aku bermain denganmu juga hot daddyku. Akan seperti apa rasanya nanti!" racau Grace di tengah desahhan seksinya.
Pria yang tengah dia naiki hanya melenguh, tidak mampu berucap karena permainan gadisnya yang sudah sangat terampil. Grace mempercepat gerakan pinggulnya, naik turun di atas selangkangann lelakinya. Roy kewalahan dan mendapati puncak surga dunia dengan sangat mudah. Grace berdiri lalu melepaskan aset berharga Roy dari dalam tubuh intinya.
"Yah... kamu payah Roy. Padahal baru juga satu jam, tapi sudah kalah!" cibir Grace yang membuat teman affair-nya naik pitam. Roy menegakkan tubuhnya lalu menampar pipi Grace hingga gadis itu tersungkur. Tanpa rasa belas kasihan, Roy mencengkeram kuat leher Grace. Kedua kaki gadis itu bergerak-gerak dengan bola mata yang memutih.
Roy melepas jeratan di leher gadisnya kemudian memasukkan kembali miliknya yang sudah menegak, dengan kasar.
"Dasar gila kamu Roy!" umpat Grace tersengal-sengal.
Semakin dicibir, Roy semakin termotivasi. Dia memompa dinding rahim milik Grace dengan buas seraya menggigit leher gadisnya hingga meninggalkan bekas merah pekat. Dia juga menarik kasar lalu menyesap kuat benda kenyal yang berdiri menantang di atas payudara. Grace meringis namun sekaligus mendesahh.
Sementara itu, seorang wanita dengan perut yang membesar berjalan tergesa-gesa melewati pintu-pintu kamar yang tertutup, diikuti seorang manager hotel. Wajahnya penuh murka, tangannya mengepal erat. Dia sudah siap menghajar wanita yang sedang bersetubuh dengan calon suaminya.
PLAKKK!!!
Roy menampar bokong bulat lantas meremass gemas hingga meninggalkan bekas merah. Grace menjerit karena rasa perih bercampur dengan nafsuu yang semakin merangkak.
Pria yang sebentar lagi akan menikah, dia memompa tubuh wanitanya tanpa jeda. Dia ingin membuktikan bahwa dia pria yang perkasa dan hebat untuk urusan ranjang.
Gerakannya bertambah cepat dan semakin kuat, lenguhan dan erangan saling bertimpal karena rasa geli yang berubah menjadi rasa nikmat. Roy bersiap untuk menyambut sesuatu yang sudah mendesak di ujung kelelakiannya dan menumpahkannya di dalam rongga kewanitaan jalanggnya. Akan tetapi suara pintu kamar terbuka menggagalkan puncak birahinya.
"Jessi!"
...*****...
...Hufth karma datang dengan begitu cepat ternyata. Tidak perlu membalas perlakuan jahat orang lain, karena balasan itu akan datang dengan sendirinya....
__ADS_1
...Selamat berhari minggu dan berkumpul dengan keluarga ya......