
"A-aku juga mencintaimu Edward..." ungkap Rona. Edward menitikkan rasa bahagia lalu merogoh sesuatu dari dalam saku jas. Dia membuka kotak kecil yang berisikan cincin emas putih bertabur berlian, berkilauan seperti bintang di langit malam ini.
"Maukah kamu menikah denganku?"
Rona terpegun mendengar pertanyaan dari Edward yang begitu tiba-tiba. Kemudian menutup mulutnya yang menganga. Dia mengerjap-ngerjapkan kelopak mata lalu menatap langit dan menatap lautan. Melipat bibirnya, menahan airmata yang ingin mengurai.
Pikirannya berkelana, mengingat semua yang sudah terlewati. Dia masih ragu, namun bukan karena ragu pada diri sendiri. Tetapi ragu akan kesungguhan cinta Edward. Pria yang selalu berubah-ubah sikap dan pendiriannya.
Melihat kediaman wanitanya, asa di dalam dada runtuh. Rasa percaya dirinya sirna, tapi dia bisa apa. Dia sadar diri kalau dia bukan laki-laki yang baik. Laki-laki yang selalu gamang dan kerap kali menyakiti. Namun itu semua hanya karena dia berusaha melawan sinyalir aneh yang menerobos dinding keangkuhan dan keteguhan akan janji yang terucap. Tapi ketika Tuhan yang menganugerahkan rasa cinta, sekuat apapun batu karang, akan luluh oleh ombak.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Edward untuk kedua kali. Keringat dingin mulai menitik dari balik pelipis, gambaran dari ketegangan yang menggelora.
Rona menggigit bibirnya dan mengatuk-ngatukkan kaki ke atas pasir, sesekali menyapu bibir seraya menatap sekilas ke atas langit. Hatinya diselimuti kebimbangan, namun ketika suara orang-orang yang dikenalnya berteriak lantang, secercah keyakinan datang.
"Ayo Rona, terima...!" teriak Claire dengan kedua tangan mengerucut di depan mulut.
"Ayo Rona, aku mendukungmu..." timpal Nath tak kalah lantang.
Kedua sahabatnya memberi dukungan, tinggal hatinya yang harus diyakinkan.
"Ka- kalian juga ada di sini?" tanya Rona terbata-bata karena rasa haru.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Claire dengan mengangkat pundak.
"Ayo terima...!" pekik Claire dan Nath bersamaan. Tidak jauh dari mereka, Feliks berdiri dengan bibir yang masih mengatup, membiaskan binar mata yang tercucuk patah hati.
"Ayo Bos, keluarkan rayuan mautmu!" teriak Feliks yang membuat semua tergelak, tak terkecuali Rona. Sedangkan Edward masih saja berlutut tanpa ekspresi.
"Aku digantung ini..." rengek Edward dengan raut memelas. Rona tersimpul lalu tertawa renyah, melihat wajah lelakinya yang seperti anak remaja baru jatuh cinta.
"Sebelum aku menjawab, aku punya satu permintaan," ujar Rona menggigit tipis bibirnya.
"Apa itu?" tanya Edward yang kakinya mulai terasa kebas.
"Kenalkan aku dengan Ezio ya?" pinta Rona. "Karena, hati Daddy-nya sudah aku dapatkan, tinggal hati anaknya!"
Edward mengulum senyuman di wajah cerianya sembari menganggukkan kepala. "Jadi?"
"Ya ... tentu saja aku ingin menikah denganmu, Edward!"
__ADS_1
"Woho...!" Edward berteriak seraya berdiri dan mengangkat kedua tangannya meluapkan apa yang bersarang di dalam hati.
Pria yang tengah berbahagia, dia mengitarkan tubuhnya. Kini manik mata menangkap kebahagiaan yang tengah menunggu. Dia menggapai lalu mengangkat tubuh kekasihnya kemudian berputar-putar dengan kencang seraya berteriak. Terdengar gelak tawa dan riuh renyah dari bibir keduanya.
Perlahan, Edward melungsurkan tubuh Rona dengan dada yang masih memburu. Dia menghembuskan napas dengan kencang untuk meredakan ketegangan.
"Terimakasih karena telah menerimaku...."
Edward mengeluarkan benda kecil yang berbentuk lingkaran dengan jemarinya yang bergetar. Lalu menyematkan benda itu ke dalam jari manis kekasihnya. Semua orang yang hadir turut bersorak sorai terlebih pada saat Edward mengangkat lengan Rona lalu mengecup punggung tangannya, sangat manis terbawa perasaan.
"I love you, Rona." Edward menyematkan anak rambut dengan mata tak lepas dari bibir bak buah cherry. Tangannya membelai wajah Rona lalu mengusap benda tipis merah muda. Dia merindukannya sangat.
Edward mencondongkan wajahnya, merapatkan kening lalu mendengarkan debaran. Bibirnya menempel merasakan aroma napas yang selalu menjadi candu membuatnya rindu. Bibirnya memagut lalu menghisap madu, mengubah ciuman lembut menjadi French kiss yang penuh gairah.
Suara saliva berkecipak, dengan desahann yang tertahan. Mereka menikmati ciuman panas di antara angin pantai.
"Woy... lanjut di kamarlah, aku kan jadi kepingin!" teriak Feliks. Namun teriakannya terpotong karena Claire membekap mulutnya.
"Apa kamu tidak bisa diam hah? Mengacaukan saja!" protes Claire.
"Ya gimana dia tidak kepanasan, di dalam hatinya meletup-letup lahar panas!" sahut Nath bernada sindiran.
Feliks hendak menyerang Nath, namun Claire menahannya lalu menarik kedua laki-laki itu untuk menjauh dari dua pasangan yang sedang dalam gelombang asmara.
Edward menuntun tangan Rona untuk kembali ke tempat semula, kini di atas meja tidak hanya ada lilin dan taburan bunga, namun beberapa menu makanan yang Rona sukai.
Malam ini harus menjadi malam yang paling romantis dan berkesan, Edward menarik kursi untuk Rona lalu mendaratkan tubuhnya berhadap-hadapan. Seorang waiter menuangkan minuman ke dalam gelas namun Rona menolaknya halus. "Terimakasih, tapi maaf aku tidak minum."
Edward terkekeh, "Itu hanya juice, sayang...."
"Juice?" Rona menyicip minuman lalu pringas-pringis. Kemudian dia menatap semua hidangan kesukaanya dengan kedua alis tertaut.
"Dari mana kamu tahu semua makanan kesukaanku?" tanya Rona. Lidahnya terus menyapu dengan borborygmi yang bergemuruh.
"Aku tahu apapun tentangmu," tandas Edward yang menyuapi mulut Rona dengan pai daging.
"Tapi, hari ulang tahunku?"
Edward menaruh garpu ke atas piring dan menekan rasa malunya. "Itu ulah Feliks, dia mengerjaiku!"
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu, apa dia mengungkapkannya?"
Edward menggeleng. "Aku tahu semua tentang dia, aku juga tahu kalau dia menaruh hati."
"Ya?" sahut Rona.
"Nanti lagi kita bahas, malam ini khusus untuk kita berdua." Edward menjulurkan tangannya lalu menggengam jemari Rona sembari menatap dalam membuat gadisnya terpesona.
"Ayo a lagi..." Edward menyorongkan makanan hingga habis tak berbisa. Terakhir dia membersihkan bibir Rona menggunakan sapu tangan. Sapu tangan itu tidak akan dia cuci sampai kapanpun, karena cap bibir mungil tercetak di atasnya.
Huaciw... huaciw... (Suara bersin)
"Ka- kamu kedinginan ya sayang?" Edward beranjak lalu melepas jas yang selalu melekat di tubuhnya. Dia menghampiri Rona dan menyelimuti tubuh ringkihnya.
"Masuk yuk..." ajak Edward dengan menunjuk cottage di depannya.
Rona mengangguk sementara Edward dia membantu kekasihnya berdiri lalu merangkul dan membawanya ke tempat beristirahat malam ini.
_____
Cottage yang berdiri di pinggir pantai dibangun dengan hasil memeras keringat. Bukan dari penghasilannya sebagai Direktur utama Rumah Sakit maupun dosen apalagi uang pemberian ayahnya, tapi dari penghasilannya mendirikan cafe kecil-kecilan yang kini merebak di beberapa kota. Meski besar di keluarga yang kaya raya, Edward tidak dididik dengan kemewahan dan dia sendiri tidak terbiasa berfoya-foya. Hanya setelah Marissa meninggal dunia, dia kehilangan arah hidupnya.
"Jadi bagaimana ini, kamarnya hanya tiga?" tanya Nath menatap Edward.
"Kamu di kamar yang itu," ucap Edward pada Claire. "Dan kalian berdua pasangan sejoli, tidur di kamar dekat dapur."
"Terus kalian?" tanya mereka serempak.
"Aku akan tidur satu kamar dan satu ranjang dengan Rona." Edward menarik bahu Rona dengan dekapannya.
"A-aku tidur bersama Claire saja ya..." tolak Rona.
Edward mengacungkan telunjuk dan digerakkan ke kiri ke kanan. "Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu."
Saliva ditenggak dengan kasar diiringi mata mengerjap cepat. Wajah Rona pias, dan Edward menyeringai.
...*********...
...Nah lo, Edward mau ngapain ya?...
__ADS_1
...Maaf kalau misal banyak adegan dewasa sebelum halal, karena latar novel ini ceritanya di luar negeri yang memang melakukan hal seperti itu, bukan hal tabu. Berbeda dengan negara tercinta, meski kita tahu sama tahu pergaulan anak-anak jaman sekarang tidak seketat jaman dulu....
...Terimakasih pembaca semua untuk segala bentuk dukungannya. Lope-lope sekebon, setambak dan selautan yang dalam......