Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Menikahlah denganku, Maria!


__ADS_3

Sepasang kaki melangkah menyusuri trotoar yang dipenuhi oleh gumpalan bunga salju. Langkah kecilnya membawa dia pada sebuah rumah yang selalu nampak sepi namun menenangkan.


Cukup lama dia berdiri di depan rumah tersebut, hingga tubuh yang mulai menggigil memaksanya untuk mengetuk pintu bangunan yang disinggahi. Dan munculah seorang wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengannya. Wanita tersebut tersenyum amat manis dan menyambut sangat hangat.


"Richard? Mari masuk," tawar wanita itu pada pria yang mengenakan payung berwarna hitam.


Richard menutup payung yang dia genggam lalu memasukkannya ke dalam tempat penyimpanan. Dia melepas mantel tebal dan menggantungkannya pada kaitan standing hanger yang terdapat di ruang tamu.


Richard mendaratkan panggulnya di dekat tungku api lantas menjulurkan telapak tangan untuk menghangatkan tubuh. Maria datang membawa minuman hangat kesukaan Richard. Richard mengulum senyuman, Maria menunduk malu.


"Minumlah Richard, selagi hangat." Maria menyimpan cangkir berisi Ginger Beer di atas meja lalu memutar badannya menuju dapur.


"Kamu mau ke mana Maria? Temani aku," pinta Richard menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya. Maria mengangguk pelan.


"Nanti aku temani ... sekarang biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu," ucap Maria meninggalkan Richard seorang diri untuk kembali ke dapur.


Maria mengeluarkan pavlova dari alat panggang, aromanya menguar menggelitik isi perut yang mendadak lapar. Dia menaruhnya di atas meja makan, bersiap untuk mengoleskan whipped cream dan menaburkan buah-buahan di atasnya sebagai topping.


Richard yang mengendus bau makanan lezat kesukaannya langsung beringsut dari tempat duduknya. Aroma makanan tersebut membawa dia ke sebuah ruangan yang bernuansakan warna putih pudar.


"Wanginya enak sekali, Maria," ucap Richard dari belakang punggung wanita yang tengah sibuk dengan makanannya. Richard semakin mendekatkan tubuhnya pada punggung Maria, lantas membungkukkan badan. "Kamu selalu tahu yang aku mau, Maria." Richard menempelkan kedua tangan di pinggiran meja menjadikan jaraknya dengan Maria hanya sebatas kulit.


Kepala Maria semakin tertunduk, menenggelamkan wajahnya yang merona karena sikap Richard kali ini sanggup membuatnya sangat salah tingkah.


"Ri- Richard... boleh mundur sedikit? A- aku ini kesulitan untuk bergerak," ungkap Maria dengan tangan yang didorong ke belakang.


Richard terkekeh lantas menarik tubuhnya menjauh dari Maria. Dia duduk di samping wanita yang berdiri seraya memperhatikan wanita itu dengan intens.


"Kamu cantik Maria, masih sangat cantik malah," puji Richard. Dia menatap Maria dengan menopang wajah menggunakan sebelah tangannya.

__ADS_1


"Aku sudah tua Richard, malu rasanya dipuji seperti itu." Maria menyorongkan dessert plate ke arah Richard dengan garpu kecil di sampingnya. "Ini untukmu ... tapi maaf kalau kurang manis, karena aku kurangi takaran gulanya." Maria duduk di atas kursi dengan posisi menghadap Richard.


"Pavlova ini manis, bahkan sangat manis. Karena aku mencicipinya sambil menatap wajahmu yang manis," goda Richard dengan tangan menjulur. Dia menarik anak rambut yang menghalangi wajah Maria lalu menatanya di belakang telinga.


"Kita seperti anak muda saja, Richard." Maria melengos, menutupi wajah yang bersemu merah. Dia mengambil garpu dari dalam cutlery holder, mengalihkan perasaan aneh dalam dirinya dengan potongan pavlova.


Atmosfer di dalam ruangan berubah dingin, karena keduanya terdiam dan memilih untuk sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya dentingan suara garpu yang saling berbicara, saling membalas kata.


Cukup lama mereka membisu, Richard akhirnya membuka suara terlebih dahulu. "Apa kamu tidak kesepian Maria tinggal di rumah ini seorang diri?"


Maria menoleh ke arah Richard lalu mendelik kesal. "Pertanyaan macam apa itu Richard? Kamu tahu pasti bagaimana rasanya hidup sebatang kara!"


"Kamu tidak ada keinginan untuk menikah lagi?" lanjut Richard dengan pertanyaan yang menyentuh perasaan halus Maria.


Maria mendengus kasar dan menyimpan garpu dengan kencang. "Umurku sudah tak lagi muda, Richard. Tidak terpikir olehku untuk menikah lagi. Lagi pula, siapa yang mau menikah dengan wanita tua sepertiku?"


"Aku," sahut Richard pendek. "Menikahlah denganku Maria. Kita hapus kesepian dan kesendirian dengan hidup bersama." Richard meraih tangan Maria lalu menggenggamnya.


"Berhenti menggodaku Richard, atau aku tidak akan membukakan pintu untukmu lagi!" ancam Maria sebal.


"Aku tidak sedang menggodamu, aku serius dengan ucapanku." Richard merekatkan genggamannya, mencari isi hati Maria yang tersirat dari balik netra matanya.


Maria menghela napas kemudian membalikkan badannya menghadap Richard. Dia menepuk-nepuk punggung tangan Richard dan menjawab dengan perkataan yang menggantung. "Beri aku waktu untuk berpikir, Richard. Aku harus mempertimbangkan segalanya dengan masak."


Richard mengangguk-anggukkan kepala lalu membelai lembut wajah Maria. "Aku akan menunggu. Menunggu sampai kamu bersedia menjadi pendamping hidupku, menemani masa-masa tuaku."


"Terimakasih Richard..." jawab Maria tersenyum kecut.


Richard menarik kepalanya ke bawah kemudian melepaskan genggaman tangannya. Dia menghabiskan pavlova yang dibuat khusus Maria, untuknya.

__ADS_1


...***...


Seorang sipir penjara wanita mengetuk-ngetuk teralis besi hingga menimbulkan suara nyaring dan gaduh, menggoyahkan tubuh seseorang tatkala merengkuh mimpi indahnya di tengah siang bolong dengan udara yang menusuk ke dalam tulang.


Seorang wanita tua menggeliat disertai mulut yang terbuka lebar, menguap. Dengan malas, dia turun dari atas ranjang lantas menyeret tubuhnya menggunakan panggul juga sebelah tangan.


Sebuah amplop cokelat disodorkan melalui celah-celah tiang besi. Amber meraih benda tersebut dengan kening mengkerut dan isi kepala yang dipenuhi tanda tanya.


"Apa ini Madam Lee?" tanya Amber pada sipir di hadapannya. Dia membolak-balikkan amplop tersebut mencari bagian untuk dia buka.


"Itu hasil pemeriksaan kesehatanmu seminggu yang lalu, Amber. Titipan dari dokter penjara." Setelah menjawab pertanyaan Amber, sipir penjara yang mendapat julukan Madam Lee berlalu begitu saja tanpa mau peduli mengenai apa isi dari amplop tersebut.


Amber menyeret tubuhnya kembali lalu duduk di atas dipan pendek. Dia menguatkan hatinya sebelum membuka benda berwarna cokelat di genggamannya. Tangannya bergetar mengeluarkan kertas yang berisikan tulisan dan kolom-kolom kecil.


Jemari yang mengeriput membuka perlahan kertas berwarna putih biru. Matanya memindai hasil pemeriksaan yang berisi kondisi kesehatannya. Tangannya semakin bergetar melihat kolom-kolom kecil yang diisi dengan beberapa tanda ceklis. Dia berteriak histeris, setelah membaca tulisan terakhir yang terdapat pada kotak besar. Tulisan yang mengatakan, kalau dia terdiagnosa positif mengidap penyakit HIV/AIDS


"Ah... ini tidak mungkin! Pasti hasil pemeriksaan ini salah!"


"Aku orang baik, mana mungkin Tuhan menghukumku dengan ujian yang sangat berat seperti ini?"


"Ini semua gara-gara Edward brengsekk, anak tiri sialan!!!"


Amber terus berteriak sembari mengacak-acak dan menjambak rambutnya sendiri. Dia tertawa cekikikan lantas menangis sejadi-jadinya. Hasil pemeriksaan kesehatan yang dia genggam, benar-benar mengguncang jiwanya. Rasa takut yang teramat menjalari isi pikirannya.


Amber turun dari atas dipan, mengeret tubuhnya menuju dinding yang kosong. Dia menetuk-netukkan kepalanya, hingga darah segar menetes dari balik luka karena hantaman benda keras. Mulutnya tidak berhenti meracau, dia mengeluarkan kalimat-kalimat kutukan dan umpatan pada orang-orang yang telah membuatnya menderita seperti sekarang.


...*****...


...Selamat berhari Minggu, berkumpul dengan kelurga atau dengan orang-orang tersayang. Tetap jaga kesehatan ya......

__ADS_1


...I Love You All...


__ADS_2