Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Rona Disergap


__ADS_3

Sekuat apapun melawan hati, perasaan itu perlahan akan merasuki diri yang lemah. Sekeras apapun menahan dorongan cinta yang mencoba menerobos, sedikit demi sedikit ia menggerogoti segumpal darah yang ditutup rapat-rapat.


Pengalaman hidup yang dialami meninggalkan sepenggal kisah tak utuh. Kisah yang ingin disempurnakan, namun jiwa terlalu takut memulai cerita baru. Lalu menutup diri dari hadirnya seseorang di dalam kehidupan yang kaku dan hampa.


Semua bermula dari rasa khawatir beranjak menjadi rasa takut kehilangan. Namun akal pikiran menampik bahwa sesungguhnya cinta itu begitu jelas di depan mata. Hanya terhalang ego dan kerasnya hati.


"Di mana kamu, Rona...?" batin Edward. Pria yang dikejar rasa bersalah mencari gadisnya ke setiap sudut, namun dia tidak menemukan wanita yang dia cari.


"Apa jangan-jangan dia kabur?" terka Edward.


"Ah tidak mungkin, aku merasa dia masih berada di sekitar sini!"


Edward terus mencari Rona dengan diselingi bertanya pada orang-orang di sekitarnya, namun nihil. Semua menggelengkan kepala, menjawab tidak tahu.


"Kamu mencari siapa Edward?" tanya Amber yang melihat putranya kebingungan.


"Aku mencari kekasihku Mom. Dia hilang..." lirih Edward.


"Mungkin dia pergi sama laki-laki lain. Biarkan saja, lagipula kamu kan sudah punya Arabella," ujar Amber.


"Dia calon istriku Mom!" protes Edward.


"Cantik saja tidak cukup Edward! Calon istri pewaris utama keluarga Liam harus jelas asal usulnya, bukan gadis kampungan seperti itu," cerca Amber.


"Dia seorang Dokter, bukan gadis kampungan ataupun wanita tidak jelas asal usulnya!" geram Edward.


"Terserahlah, Mommi tidak peduli!" Amber berlalu dari hadapan putranya dan kembali berbincang dengan teman-teman sosialitanya. Sedangkan Richard yang dari tadi hanya diam, kini memberi dukungan.


"Sabar ya Nak. Daddy akan selalu mendukungmu!" ujar Richard sembari menepuk pundak Edward lalu menyusul sang istri tercinta.


.


.

__ADS_1


Di dalam sebuah kamar presidential suite, seorang laki-laki menatap jalangg tubuh wanita yang terlentang di atas ranjang. Dia menunggu gadis itu sadarkan diri lalu berniat untuk menggagahinya.


Saliva demi saliva dia teguk kasar karena tergiur pemandangan indah di depannya. Ingin rasanya saat ini juga menikmati tubuh sang mantan kekasih, namun dia ingin melakukannya dalam keadaan sadar. Akan lebih menantang pikirnya ketika menodai gadis itu dengan kasar dan penuh paksaan.


"Ah, aku siram saja wajahnya biar cepat siuman!" gumam Roy yang sudah tidak sabar ingin segera melampiaskan gelora dalam dirinya.


Dia membawa air dingin dari wastafel dan menyiramkannya ke arah Rona. Gadis itu gelagapan lalu tersadar. Tubuhnya basah kuyup menambah kesan seksi dan sensual.


"Roy, kenapa aku ada di sini?" teriak Rona yang langsung turun dari ranjang. Dia menggigil selain karena pakaiannya basah juga AC di kamar itu sangat kencang. Dia berusaha menghangatkan tubuh menggunakan kedua lengannya, namun sia-sia.


Roy mulai melucuti kancing kemeja, lalu melepas pakaiannya berusaha menggoyahkan konsentrasi Rona dengan tubuh atletisnya. Namun yang ada, gadis itu merasa muak dan jijik, mengingat tubuh itu yang pernah menempel dengan tubuh milik Jessi, selingkuhan Roy.


"Kemarilah sayang, kita bersenang-senang. Jangan munafik jadi perempuan! Aku tahu kamu pasti sudah tidak perawan. Jelaslah berpacaran dengan seorang duda, tidak akan mungkin sekedar pegangan tangan seperti kita dulu!" gertak Roy yang melompat ke atas ranjang. Dan membuat Rona berteriak histeris karena terkejut.


"Kamu sudah terlalu banyak bicara Roy!" jerit Rona.


"Hahaha... kamu tidak menyergah perkataanku. Itu artinya kamu memang sudah tidak suci lagi!" Roy terus menekan mental Rona dan memperlemah kekuatan hatinya. Dengan seperti itu akan lebih mudah mengendalikan gadis yang ingin dia gauli.


"Pergi...!" usir Rona. Dia melempar apapun yang ada di hadapannya namun Roy tak bergeming. Laki-laki itu terus mendekati Rona dan membuatnya terpojok.


Dalam keadaan seperti ini Rona berharap Tuhan mengirimkannya malaikat penolong. Dia tidak ingin dinodai untuk kedua kalinya oleh orang yang berbeda. Cukup Edward yang menjajah harga dirinya, jangan sampai Roy berhasil berbuat yang sama.


Roy mulai melancarkan aksinya, dia menciumi leher Rona dengan tangan meremass gundukan. Dia benar-benar seperti orang yang kesetanan.


"Ayo sayang jangan ditahan, mendesahh lah. Aku akan membuatmu hamil anakku lalu kita akan menikah!" ujar Roy.


"Ah, aku tidak sudi!" Rona menekuk lututnya lalu dia hentakkan dengan keras ke arah benda keras milik Roy, membuat pria itu berteriak karena menahan rasa ngilu dan rasa sakit.


Merasa ada kesempatan, Rona menyerang kembali bagian yang membuat Roy kelimpungan. Dia mempraktekan jurus kuda ngamuk yang pernah diajarkan Claire, dan dia berhasil. Tubuh Roy roboh dengan memegangi barang berharganya.


"Yess, makan tuh! Masih untung tidak aku tendang terus!" seru Rona.


Rona berusaha kabur dari kamar mewah itu dan berhasil membuka pintu, namun Roy menarik rambutnya. "Mau kemana hah...?" bentak Roy.

__ADS_1


Meski rasa sakit masih dirasakan Roy di area pangkal paha, namun dia tidak ingin mangsanya lepas begitu saja. Di sisa tenaga yang dia miliki, dia berusaha melemahkan pertahan Rona. Namun lagi-lagi gagal, Rona berhasil lolos dan menjauh dari pria mesum yang sudah hilang akal.


Sedangkan Edward, dia baru teringat kalau telah memasang alat penyadap di ponsel Rona. Kecemasan membuat otaknya tidak berfungsi untuk sejenak.


"Ah, tolol. Kenapa aku bisa lupa?!" Edward membuka ponselnya dan terlihat sebuah titik berwarna hijau berkedip-kedip di dalam salahsatu ruangan.


"Kenapa aku tidak ingat akan ancaman Roy? Ini pasti kerjaan anak ingusan itu!"


"Sial, aku yakin gadis itu dalam keadaan bahaya!"


____


"Pergi...!!!" usir Rona.


"Tolo...ng. Tolong aku...!"


Roy menyeringai dan menatap jengah pada Rona karena terus saja melawan. Nafsuunya semakin naik ke ubun-ubun, keinginan untuk meniduri mantan kekasih semakin kuat. Dia tidak ingin apa yang telah dia usahakan, gagal karena perlawanan dari seekor semut merah.


"Ayolah Rona, aku hanya ingin kamu menikah denganku. Kita akan hidup bahagia bertiga. Aku, kamu dan Jessi. Dia sedang hamil anakku, apa kamu tidak tertarik?"


"Cuihhhh...!" cibir Rona. "Di otakmu hanya ada sek-s dan sek- s. Tidak ada cinta tulus ataupun sekedar kasihsayang!"


"A...h banyak bicara kamu!" sentak Roy. Laki-laki itu menyergap tubuh Rona dan mengikat kedua pergelangan tangan menggunakan dasinya. Roy menyentuh bibir Rona dengan bibirnya. Dia memagut benda kenyal itu dengan rakus lalu Rona membuka mulutnya. Roy tersenyum menang.


Pria yang tengah mencumbu Rona, berpikir bahwa gadis itu telah berhasil dia dapatkan. Namun pikirannya salah besar, saat lidahnya akan berkelana di dalam mulut Rona, gadis itu menutup mulut lalu menggigit lidah milik Roy hingga terluka parah. Darah segar menetes ke dalam mulut Rona.


Kini keadaan berbalik, yang tersenyum menang adalah Rona. Sementara Roy harus mengaduh akan rasa sakit yang teramat.


"Rasakan itu!" cerca Rona


...********...


...Terimakasih yang telah berkenan membaca novelku. Jangan lupa untuk memberikan favorite, like, comment, Vote, gift dan rate 5 bintang....

__ADS_1


...I Love You Guys.....


__ADS_2