Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Siapa yang Menculik Rona?


__ADS_3

Sudah satu jam para penculik membawa Rona pergi ke tempat asing. Gadis itu masih terpejam karena efek obat yang diteteskan ke atas sapu tangan belum hilang. Matanya ditutup kain tipis dengan pergelangan tangan yang diikat ke depan, tubuhnya melandai dan dia dijaga oleh dua orang berbadan besar.


"Si bos pintar sekali ya milih istri, cantiknya...!" seloroh pria yang duduk di samping kanan Rona.


"Sudah gitu, body-nya bak gitar Spanyol..." timpal pria berkepala pelontos dengan meliuk-liukkan telapak tangan.


"Dadanya juga—"


"Kalian hati-hati bicara, mobil ini dipasang penyadap!" potong pria yang mengendalikan kemudi.


"Oke, Brother. Kami tutup mulut!"


Mobil melaju sangat pesat, menggilas aspal dan membelah jalanan. Seseorang tengah menunggu Rona dengan tidak sabar, ingin segera bertemu dengan gadis pujaannya.


yyy


Di mana?


xxx


Sebentar lagi Bos!


yyy


Kenapa lama sekali?


xxx


Maaf Bos tadi ban mobil bocor


yyy


Ya sudah, cepat!


xxx


Siap Bos!


Mobil bak melayang karena si pengemudi menambah kecepatan. Dia tidak ingin mengecewakan orang yang memberinya perintah. Dan dalam jarak waktu 15 menit, mobil sudah sampai di tujuan bersamaan dengan Rona yang mulai sadarkan diri.


"Kenapa ini gelap sekali?" Rona menggerak-gerakkan tubuh. Namun, kedua lengannya dicekal.

__ADS_1


"Kalian siapa hah, mau bawa saya ke mana?" jerit Rona yang berusaha melawan di tengah ketidak berdayaannya.


"Sudahlah Nona, jangan berontak. Kami akan membawamu ke surga dunia," jawab salah satu pria sekenanya.


Pikiran Rona sudah membayangkan sesuatu yang menyeramkan, dia mulai terisak dan mengharap belas kasih. "Tolong lepaskan saya, saya tidak kenal dengan kalian. Saya juga tidak punya musuh...."


Rona diseret dengan lembut, tidak ada sedikit pun dari mereka yang bersikap tidak sopan. "Bekerja samalah dengan kami Nona, kami tidak akan menyakitimu."


Namun Rona terus berteriak dan menjerit, dia berusaha memberontak. Namun, sia-sia. Rona menajamkan pendengaran, terdengar olehnya deburan ombak dengan angin pantai yang menusuk kulit.


"Ka-kalian mau mendorong saya ke laut?" tanya Rona panik. Tubuhnya menegang dengan jemari yang terasa dingin.


"Tidak Nona, pokoknya ikut saja dengan kami," jawab pria yang membawanya.


Rona akhirnya pasrah diseret ke tempat yang tidak dia kenali, dengan mata yang masih ditutup kain. Yang bisa dia dengar saat ini hanya suara hantaman banyu pada tumpukan batu karang.


"Kita sudah sampai Nona..." ucap salah seorang pria lalu menuntunnya untuk duduk di atas kursi dan melepas tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya.


Seseorang mengibaskan tangan, lalu orang-orang suruhannya mengangguk dan beranjak meninggalkan orang yang mereka panggil bos. Dia mendekati Rona dan berdiri di belakang gadisnya. Tubuh Rona bergetar karena dia merasakan hembusan hangat menyentuh tengkuknya.


"Ka-kamu siapa? Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Rona lantang.


Jemari dari tangan yang kokoh melepas penutup mata dengan lembut. Rona perlahan membuka mata dan kini dia terbelalak dengan apa yang dilihatnya.


"Maaf...."


Rona menyelingar, suara yang membisik di telinganya adalah suara lelaki yang sangat dia rindukan selama ini.


"E-Edward?"


"Iya sayang ini aku," jawab Edward.


Tubuh Rona bergetar hebat dan tangisan pecah seketika dari matanya. "Kamu jahat, Edward... kamu jahat!"


Edward semakin merekatkan pelukannya lalu memutar tubuh Rona, dia berlutut sembari menghapus airmata yang membayang di pelupuk mata. "Maaf...."


"Maaf dan maaf terus, aku muak!" teriak Rona diiringi raungan yang semakin terdengar pilu.


"Aku merindukanmu Rona, sangat... maaf aku mengejutkanmu dengan cara yang seperti ini. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya bersikap romantis," ungkap Edward mengecup punggung tangan Rona. Gadisnya masih terisak dengan airmata yang menetes ke atas jemari Edward.


"Hey...," Edward menyapu air mata yang menitik di pipi Rona, dia lalu berdiri dan membawa gadisnya ke dalam tubuh hangatnya. Rona kembali menumpahkan gejolak hati dalam dekapan sang kekasih.

__ADS_1


"Ikut aku!" ajak Edward menarik lembut tubuh Rona. Namun, gadis itu bergeming dari tempat duduknya. Edward menurunkan tubuhnya lalu menarik dagu Rona dan menatap manik mata yang begitu sendu.


"Ikut aku..." ajak Edward lagi. Rona terus saja berdiam diri. Namun, Edward yang sudah tidak sabar, dia mengangkat tubuh kekasihnya ala bridel style. Rona melingkarkan tangan ke leher Edward sembari menggerak-gerakkan kaki meminta untuk dilepaskan.


"Turunkan aku!" bentak Rona. Edward tersenyum dengan mata yang menatap hangat. Dia membawa Rona ke bibir pantai.


"Ka-kamu mau membawaku ke mana Edward?" tanya Rona ketakutan. "Ka-kamu mau membunuhku, menceburkan aku ke laut?"


Suara kekehan terdengar dari bibir Edward. Sedangkan Rona dia memasang raut cemberut dan hanya pasrah dalam dekapan Edward.


Edward menurunkan gadisnya di tengah lilin-lilin yang berbentuk love dengan taburan bunga edelweis di sekelilingnya. Rona mengeja tulisan yang dibentuk dari untaian kelopak mawar putih, membuat matanya sontak berkaca-kaca.


"Dok-ter Ro-na I love you...."


Rona membalikkan badan, nampak kini Edward tengah berlutut di hadapannya. Dia menarik lengan Rona dan mengecup lembut punggung tangan kekasihnya.


"Mungkin aku tidak seperti pria lain, caraku mencintai selalu salah. Aku sempat ragu, aku sempat bingung dengan perasaan ini. Tapi saat tiga minggu aku menjauh, aku begitu tersiksa. Aku sangat menderita, didera rasa rindu yang bagai sembilu...."


"Kini aku sadar, ruang hampa di hatiku telah terisi kembali. Diisi oleh wanita yang selalu aku sakiti. Berhari-hari aku meyakinkan diri, berusaha pergi. Namun, bayanganmu selalu mengitari hari-hari. Aku selalu berpikir bahwa semua ini salah, mencintaimu sebuah kesalahan. Tapi ternyata pikiranku yang salah, aku keliru. Mencintaimu membuka tabir mata dan hati yang sempat tertutup. Kamu memberi warna lain yang sempat berubah kelam. Rona, izinkan aku sekali ini menyatakan apa yang terukir di dalam hati...."


Rona menunggu dengan gusar, apa yang akan dikatakan Edward terhadapnya. Jantung berdebar sangat cepat bersahutan dengan deburan ombak di tengah pantai.


"A-apa yang mau kamu katakan Edward?" Rona mencari bola mata kekasihnya, dengan saliva yang tertahan di kerongkongan.


"Aku mencintaimu, Rona... izinkan aku mencintaimu...."


Rona terpingkal lalu tersedu, dia bimbang haruskah mempercayai perkataan pria yang selalu membuatnya kecewa, memberinya luka. Dalam hati berkata, bahwa dia memiliki rasa yang sama. Namun, bibirnya kelu untuk mencurahkan apa yang terbesit di dalam hati.


"Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu, Rona?" Kini Edward yang merasa gusar dan waswas, dia takut kalau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Rona menundukkan kepala sejenak lalu mendongak. Dia menatap netra cokelat pekat kemudian terpejam. Menarik napas dan menetralkan perasaan dengan menikmati alunan irama alam. Riak yang merdu, angin yang menyapu.


"A-aku juga mencintaimu Edward..." ungkap Rona. Edward menitikkan rasa bahagia lalu merogoh sesuatu dari dalam saku jas. Dia membuka kotak kecil yang berisikan cincin emas putih bertabur berlian, berkilauan seperti bintang di langit malam ini.


"Maukah kamu menikah denganku?"


...******...


...Yes or no?...


...Pilih yes atau no?...

__ADS_1


...Ditunggu komentarnya ya Kak......


...Terimakasih untuk semuanya yang selalu mendukung Senja, sekali lagi terimakasih......


__ADS_2