Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Bersenang-senang


__ADS_3

Salju turun perlahan seakan menandakan bahwa alam pun turut bersedih. Mengiringi pemakaman seorang terkasih menuju tempat peristirahatan yang abadi.


Empat jiwa akhirnya beranjak meninggalkan pusara seorang sahabat. Namun, langkah mereka terhenti karena suara panggilan seseorang yang terasa asing di indera pendengaran.


"Tunggu, Nona dan Tuan! Apa di antara kalian ada yang bernama Nona Leona Liam?" tanya seorang pria yang mengenakan mantel hitam. Dia mengeluarkan ID card, yang menyatakan bahwa dia adalah seorang pengacara.


Edward bersitatap dengan Rona karena nama yang disebutkan pria tersebut adalah nama adik mereka. "Di antara kami tidak ada yang bernama Leona Liam. Tapi kebetulan saya Kakaknya, Edward Liam."


Pria itu nampak berpikir sesaat kemudian memperlihatkan sebuah map. "Saya ingin bertemu dengan Nona Leona Liam, apa bisa?"


"Ada perlu apa anda dengan adik saya?" tanya Edward sembari memperhatikan gerak-gerik pria di depannya.


"Saya pengacara Tuan Nath Lucano. Ada yang ingin saya sampaikan kepada yang bersangkutan," jelas laki-laki tersebut.


Edward memindai dari pucuk kepala hingga ujung kaki. Namun, dia tidak menemukan hal yang mencurigakan pada pria paruh baya tersebut. "Anda membawa kendaraan sendiri?"


"Ba- bawa Tuan. Itu mobil saya," tunjuk pria asing itu pada sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang utama.


"Baiklah... kalau begitu ikuti mobil saya dari belakang," tandas Edward yang meyakini kalau pria yang berdiri di hadapannya tidak sedang berbohong.


Mansion keluarga Liam


Setelah melewati perjalanan selama satu jam, akhirnya Edward dan Rona tiba di tempat kediaman mereka. Edward keluar dari kendaraannya dan disusul oleh Rona. Mereka berjalan lebih dulu kemudian mempersilakan pengacara tersebut untuk masuk ke dalam bangunan super mewah.


"Silakan masuk, Tuan." Edward membukakan pintu lantas memanggil maid-nya menggunakan lonceng yang menempel di atas dinding. Tidak perlu menunggu lama Fiona datang menghampiri tuannya.


"Tuan muda memanggil saya?" tanya Fiona seraya membungkukkan badan.


"Iya Fiona. Tolong panggilkan adik saya secepatnya. Katakan, ada yang ingin bertemu dengannya," titah Edward pada Fiona. Edward menurunkan tubuhnya di atas sofa dengan Rona duduk di samping, mendampinginya. Sementara Fiona, dia pamit untuk memanggil Leona yang tengah berada di dalam kamar.


Lima menit kemudian, Leona berjalan tergesa-gesa karena perasaannya tiba-tiba tidak enak. Dia ditemani Roland menghadap orang yang ingin bertemu dengannya.


"Kak Edward, ini ada apa? Lalu pria ini siapa?" Kening Leona berkerut memastikan apa dia mengenali pria tersebut atau tidak. Namun, memorinya tidak mengingat apa pun.


"Duduklah..." titah Edward lembut. Leona menarik kursi kosong yang bertengger di depannya, kemudian duduk dengan pikiran yang melayang. Roland mendekat lalu berdiri di belakang Leona.


"Silakan Tuan pengacara, katakan apa yang ingin anda sampaikan pada adik saya." Edward langsung memberikan kesempatan untuk pria itu berbicara.

__ADS_1


Pengacara tersebut mengulurkan tangan ke arah Leona, Leona membalasnya singkat. "Perkenalkan nama saya Lucas. Dan saya adalah pengacara pribadi Tuan Nath Lucano."


Mendengar nama laki-laki yang pernah menyakitinya, jiwa Leona kembali terguncang. Tubuhnya turut bergetar karena rasa takut yang menyergap relung hati. Tragedi memilukan itu masih saja berputar-putar di dalam ingatannya.


"A-ada apa anda mencari saya, saya sepertinya tidak memiliki urusan dengan anda maupun client anda?!" sahut Leona garang.


Sang pengacara mengeluarkan selembar amplop putih lalu menyerahkannya pada Leona. "Saya ingin menyampaikan amanat dari client saya, Tuan Nath Lucano. Silakan dibaca dengan suara lantang, Nona...."


Leona duduk terpaku serta kedua manik mata menatap amplop yang tidak tahu isinya apa. Tangannya seakan mengeras dan kakinya ingin berlari sejauh mungkin.


"Client saya sudah meninggal Nona. Saya diberikan kepercayaan oleh yang bersangkutan untuk memberikan ini semua kepada anda," jelas si pengacara karena melihat Leona bergeming juga membisu.


"Su- sudah meninggal? Pria itu sudah meninggal?" Leona menatap ke arah pria asing lanjut ke arah Edward dan Rona yang berpakaian serba hitam. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Leona menatap datar ke arah Edward juga ke arah kakak iparnya.


"Kami tidak ingin kamu terkejut dengan berita kematian Nath yang mendadak," jawab Rona merasa bersalah. Dia tidak sanggup melihat ke arah adik iparnya itu dan memilih untuk menundukkan kepala.


"Silakan diambil Nona karena saya tidak bisa berlama-lama," potong si pengacara mengalihkan perhatian Leona.


Wanita muda itu mengangkat tubuhnya serta tangan menggapai benda yang dijulurkan kepadanya. Tangan Leona bergetar membuka amplop tersebut, dengan perlahan dia mengeluarkan isinya yang berupa selembar kertas berisikan sebuah pesan dan wasiat.


...Dear Leona,...


...Mungkin kamu akan terkejut setelah mendengar penyakit apa yang kuderita. Tapi diagnosa dokter mengatakan aku mengidap penyakit ini setelah aku menggaulimu. Karena itu, kamu tidak perlu khawatir....


...Tolong maafkan aku, maafkan atas kesalahan terbesarku. Mungkin aset yang aku berikan ini tidak sebanding dengan dosa terbesarku. Tapi ini adalah bentuk tanggung jawabku untuk anak di dalam kandunganmu....


...Aku mewasiatkan semua aset berhargaku, untuk anak kita kelak. Tolong pergunakan dengan sebaik mungkin....


...Selamat tinggal Leona, aku titip anakku....


Surat yang dibacakan Leona barusan terdengar begitu menyayat hati. Dia terisak, air mata berderai lara tanpa diminta. Dalam hatinya bergejolak antara sedih, marah dan rasa kehilangan. Karena bagaimanapun juga Nath adalah ayah biologis dari bayi yang dia kandung saat ini.


Roland mengusap-usap pundak Leona memberikan kekuatan. Bibirnya mengecup puncak kepala sang istri lantas memberi pelukan.


"Ada aku di sini, Leona. Semua akan baik-baik saja..." ucap Roland tulus.


"Terima kasih Kak..." sahut Leona. "Terima kasih sudah mau menerima Leona dan anak yang dikandung ini." Leona membelai perut besarnya. Melesat di dalam pikiran saat Nath merenggut kesuciannya. Dia kembali terisak meluapkan apa yang berkecamuk di dalam dada.

__ADS_1


...***...


"Kenapa selalu saja ada ujian yang mendera kehidupan kita, padahal baru juga merasakan kebahagiaan?!" keluh Rona kepada Edward yang tengah merapikan rambut basahnya.


"Kamu wangi sekali sayang." Edward menyesap aroma shampo yang menempel di kepala Rona, hasratnya tiba-tiba menyeruak.


Rona menggeram kesal, lalu memutar kepala dengan mata memicing. "Kebiasaan! Kalau aku sedang bicara hal yang serius, kamu menjawabnya tidak nyambung!"


"Aku mendengarnya sayang... tapi tidak ada salahnya kita bersenang-senang setelah melewati hari panjang untuk melupakan segala sesuatu yang menyedihkan," bisik Edward dengan bibir menempel pada daun telinga. Dia menyingkapkan kain handuk yang menutupi bahu mulus istrinya dan mulai memijat lembut untuk membangkitkan gairah.


Rona memutar-mutar tengkuk lehernya. Tubuhnya meremang, terlebih saat pijatan lembut dari tangan suaminya merayap ke atas aset berharganya.


"Milikmu semakin membesar saja sayang, seksi!" desahh Edward meremass lembut sesuatu yang kenyal dan kini semakin padat. "Aku ingin melahapnya setiap waktu, sebelum anak kita yang mengambil alih mainan kesukaanku." Edward memilin puncak yang menegang menggunakan ibu jari dan telunjuknya, lantas menariknya.


"Ah..." desahh Rona karena rangsangan yang diberikan suaminya.


"Aku menginginkanmu malam ini, sayang." Edward mengecup tengkuk leher, Rona menggeliat geli.


"Tapi aku lapar, Edward..." rengek Rona mengusap-usap perut buncitnya. "Anak kita yang lapar lebih tepatnya, bukan aku." Rona memperlihatkan puppy eyes-nya dengan bibir bawah dilipat. Edward mendengus pelan lalu berjongkok di depan istrinya.


"Anak Daddy mau makan apa?" Edward menempelkan telinganya di atas perut sang istri. Namun, tangan nakalnya tidak bisa diam. Dia melanjutkan aksinya yang sempat terputus. Meraup kedua aset yang menggantung lantas meremassnya.


"Mau makan nasi goreng buatan Daddy," sahut Rona berniat mengerjai suaminya.


Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kedua alisnya bertautan. "Nasi goreng? Makanan apalagi itu?"


"Kamu bisa melihat resepnya dari aplikasi yang ada di handphone-mu, Edward." Rona menyodorkan ponsel milik suaminya yang tergeletak di atas meja rias.


"Apa hadiahnya kalau nasi goreng buatanku enak?" Edward tersenyum licik, dia tidak akan memberikan sesuatu yang gratis begitu saja.


"Em... terserah kamu saja sayang," balas Rona yang tahu maksud arah pertanyaan suaminya.


"Benar ya, jangan tarik ucapanmu lagi." Edward memiringkan tubuhnya, lalu membisikkan sesuatu. "Aku ingin kita bermain tiga ronde. Ronde satu di atas ranjang, ronde dua di balkon dan ronde tiga di kamar mandi."


Rona hanya mengangguk pelan lantaran dia sudah menduganya. Kalau permintaan Edward tidak akan jauh dari pergumulan dan aktifitas ranjang.


...*****...

__ADS_1


...Hari ini ilham kabuuurrr lagi, maafkan ya semuanya kalau hambar ceritanya 🙈🙏...


__ADS_2