Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Richard's Planning


__ADS_3

"Terimakasih, Feliks...."


Feliks berdiri lalu mengangguk. Dia kembali menarik lengan Claire dan memasukkan jemarinya ke dalam celah jari-jari Claire. Claire menoleh ke arah Feliks yang menatap ke depan, wajahnya nampak dingin dan datar.


"Huh... tahan Claire. Tahan... kamu tidak usah berpikir jauh. Pria di sampingmu, hanya menganggapmu teman. Oke!"


"Kamu sedang memikirkan apa, Claire?" Feliks tiba-tiba bertanya, akan tetapi pandangannya tetap lurus ke depan.


"Aku? Tidak memikirkan apa-apa," jawab Claire berbohong.


"Benarkah?" Pertanyaan Feliks membuat Claire semakin salah tingkah. "Tanganmu aku genggam seperti ini, masa iya kamu tidak berpikir apa-apa."


Claire menggaruk tipis kepalanya, baru kali ini dia dibuat mati kutu oleh seorang pria. Mulut bawelnya tertutup rapat, suara cempreng menghilang.


Feliks tertawa renyah. "Ternyata... Claire si gadis menyebalkan bisa juga dibuat kikuk olehku!" Feliks mencolek hidung Claire. Claire membalas dengan mencubit pinggang Feliks.


Feliks melepas genggamannya, dia menggelitik pinggang Claire membuat gadis itu terpingkal. "Feliks sudah... geli tahu!" rengek Claire manja.


"Tahu, makanya aku kelitikin lagi nih...!" Feliks kembali menggelitik pinggang Claire seraya tertawa dan Claire pada akhirnya turut tertawa. Namun, tawanya seketika berhenti saat lengan Feliks melingkar dari balik punggungnya. Claire hendak menarik lengan Feliks, tetapi suara serak menahannya.


"Please... sebentar saja biarkan aku seperti ini." Feliks menyandarkan kepala ke atas pundak Claire dengan tangan yang melingkar. "Aku lelah, Claire... aku butuh bahumu...."


Claire menelan kasar saliva. Ingin sekali dia menampar wajahnya sendiri, menyadarkan dia dari mimpi indah. Namun, mimpinya saat ini terlalu indah untuk diabaikan. Tangan Claire menyentuh wajah Feliks, lalu menepuk-nepuknya lembut. "Asisten gila ternyata kalau sedang merajuk, tingkah lakunya tidak jauh beda dengan anak kecil yang merengek ingin dibelikan permen."


Feliks yang mendengar selorohan Claire, hanya tergelak geli. Dia merekatkan pelukan dengan mata yang terkatup. "Aku memang gila. Aku memang seperti anak kecil. Jadi biarkan aku seperti ini, mendekap tubuh hangatmu untuk sesaat...."


"Aku mimpi apa ya semalam?" batin Claire di dalam hati.


...***...


"Mom... minumlah." Leona menyodorkan botol air mineral. Amber meraih lalu meneguknya. "Bagaimana Mom, sudah enakan?" Leona mengusap punggung Amber, sembari menunggu jawaban.


"Mom sudah baikan. Ayo kita pulang! Kita harus membicarakan ini semua dengan papa kalian." Amber menoleh ke arah Leona, lalu melirik ke arah Edward.

__ADS_1


"Apa yang mau Mom katakan sama papa?" Edward menelisik. Suaranya mengisyaratkan kekhawatiran.


"Semuanya. Karena Richard harus mengetahui perihal putrinya, segera!" jawab Amber sinis.


"Tapi Mom tahu sendiri kalau kondisi jantung papa tidak stabil!" protes Edward yang memikirkan kesehatan Richard.


"Aku tidak peduli! Yang aku pikirkan saat ini mencari laki-laki yang mau menikahi Leona dan bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Kalau tidak, terpaksa Mom akan mengasingkan Leona ke negara G demi menutupi aib keluarga!"


Edward menatap wajah adiknya, awan kelabu bersarang dan bergelayutan di bawah kelopak mata. Hatinya teriris merasakan kepedihan yang dirasakan Leona.


"Mom harusnya ingat, dulu papa menarik Mom dari kubangan hitam. Papa tidak memikirkan masalah aib karena hanya demi cinta. Harusnya kali ini Mom juga lebih memikirkan perasaan Leona ketimbang nama baik keluarga!"


"Sudahlah, Leona adalah putriku. Hidup dan matinya ada di tanganku!" Amber melipat jemarinya. "Ayo kita pulang, aku risih karena semua orang tengah memperhatikan pertikaian kita!"


Mansion keluarga Liam


Richard yang tengah gelisah, berjalan mondar-mandir di depan pelataran. Menunggu penghuni bangunan mewah ini kembali pulang. Setelah tahu kalau semua orang tengah pergi bersama, perasaannya mendadak tidak nyaman.


Lamunan Richard terpecah saat mendengar suara pagar otomatis terbuka. Dia mengangkat wajah, mengamati apa yang tengah terjadi.


Amber keluar dari mobil, dia menyeret kasar lengan Leona. Telinganya menuli dari suara mengiba dan mendesis dari bibir putrinya yang menahan rasa sakit.


Tubuh Leona dicampakkan, Richard sigap menahannya. "Kamu kenapa Nak? Kenapa Mommy-mu terlihat sangat murka?"


Leona tidak menjawab, dia hanya terisak. Richard mencari jawaban dari wajah-wajah di depannya. Namun, semua orang membisu. "Ada apa ini?"


"Kita bicara di dalam saja ya Pa..." sahut Edward yang memapah Richard dan juga Leona masuk ke dalam ruang keluarga. Semuanya menempati ruang kosong di balik meja.


Amber menatap satu per satu, tetapi tidak ada yang berani membuka suara. Dia mengungkapkan apa yang terjadi pada putrinya tanpa basa-basi. "Pa, anakmu hamil!"


"Benarkah?" Raut gembira tergurat di wajah Richard. "Akhirnya kamu akan menjadi seorang Daddy untuk kedua kalinya, Nak...."


Edward dan Rona bersitatap, lalu menelan ludah bersamaan. Karena Richard salah memahami perkataan Amber.

__ADS_1


"Bukan menantumu, Pa. Tapi putrimu!" tambah Amber memperjelas perkataannya.


"Iya... Rona kan, sudah menjadi putriku!" Richard seketika terdiam saat otaknya menelaah perkataan yang dilontarkan Amber.


Leona melihat kegusaran di wajah Richard. Wajah sumringah terganti lara. Tubuh ringkih putri keluarga Liam menyuruyuk dengan wajah yang menempel di atas punggung kaki sang ayah. "Maafkan Leona Pa... Leona tidak bisa menjadi putri kebanggaan Papa."


Richard terduduk lesu seraya memegangi dadanya yang terasa sesak. Dengan suara berat, dia berbicara pada Leona.


"Kenapa bisa? Papa tahu, kita tinggal di negara yang mana sek-s bukanlah hal tabu. Tapi bukankah Papa sering berpesan, agar kamu menjaga kehormatan diri dan keluarga?" Richard mengusap puncak kepala Leona yang masih bersimpuh di depan kakinya.


"Leona... diperkosa Pa." Leona tersedu dan Richard tertohok. Pria tua itu seolah merasakan sesuatu yang tajam tengah menukik jantungnya.


"Pa... kendalikan diri Papa." Rona mengusap punggung Richard, menenangkan perasaan mertuanya.


Pundak Richard bergemetar, air mata berderai dari balik kelopak mata yang mengerut karena terkikis usia. "Bangun Nak, bangun... sini peluk Papa. Kuat Nak, kamu harus kuat...!" Richard menarik tubuh putrinya lalu mendekap dengan erat. Tangis Leona tumpah tidak tertahan.


"Sudah, sudah. Terlalu banyak drama kalian ini! Bukan air mata buaya yang dibutuhkan, tapi calon suami buat Leona dan juga bayinya!" Amber merusak suasana haru dengan celoteh tajamnya.


Richard menarik napas lalu memanggil Edward mendekat. Dia membisikkan sesuatu, Edward nampak tercengang awalnya. Namun, mengangguk mengiyakan sesudahnya.


"Panggil anak itu kemari saat ini juga. Papa tidak mau menunggu besok atau lusa!" titah Richard yang membuat semua orang bertanya-tanya.


"Pa, apa yang sedang Papa rencanakan dengan Edward? Aku tidak mau ya Papa asal memutuskan segalanya begitu saja. Mengenai nasib putriku, aku yang paling berhak!"


...*****...


...Ting... tong... kira-kira apa yang dibisikkan Richard pada putranya ya?...


...Malam minggu adalah malam yang panjang, malam yang cocok ditemani Novel Dokter Rona and Hot Daddy. Hihihi......


...Terimakasih semua untuk setiap bentuk dukungannya....


...Selamat malam and have a nice dream......

__ADS_1


__ADS_2