
Suara gemericik air dari kamar mandi, terdengar bagai nyanyian yang seakan mengajaknya terbuai dalam fantasi liar sebuah pergumulan. Sekali lagi nalurinya sebagai seorang pria, bergejolak lantaran suara-suara yang yang tersiar dari balik pintu berwarna merah muda. Terlebih saat kekasihnya bersenandung merdu seiring dengan suara kecipak tangannya membelai setiap inci tubuh menggunakan cairan sabun.
Kerongkongan naik turun, napas memburu. Dia menempelkan tubuhnya di depan pintu dan menajamkan pendengaran dari suara wanitanya yang memicu hasrat kelelakiannya. Tubuh intinya seketika mengeras, darahnya turut berdesir. Dia menggoyang-goyangkan miliknya ke daun pintu dengan kedua mata terpejam, mengkhayalkan bila dia melepas keperjakaannya.
Cukup lama pria tersebut dalam posisi seperti itu, hingga dering ponsel milik kekasihnya menghenyakkan imajinasinya. "Huh, menganggu saja!"
Seolah tidak peduli, dia melanjutkan aksinya. Akan tetapi handphone milik wanitanya itu kembali berdering. Dia mendengus kesal dan menarik tubuh dari depan pintu, ke arah di mana benda pipih itu berbunyi. Terlihat tulisan di atas layar yang berkedap-kedip dengan nama kontak "Rona".
Feliks
Hai cantik!
Rona
Kok kamu yang mengangkat, Claire mana?
Feliks
Dia sedang mandi
Ada keperluan apa? Biar aku sampaikan nanti
Rona
Tolong berikan ponselnya pada Claire sekarang juga. Bilang saja, ada hal yang sangat penting!
Feliks
Oh oke-oke, wait!
Feliks menuruti perintah Rona dengan kembali ke arah di mana Claire berada. Lalu mengetuk pintu seraya memanggil nama kekasihnya. "Claire... ini ada telepon masuk Claire!"
"Simpan dulu saja, aku tanggung nih belum selesai," sahut Claire dari dalam bilik mandi.
"Tapi ini katanya sangat penting, dari Rona...!" balas Feliks lagi dengan tangan menggedor daun pintu.
Tidak berselang lama terdengar suara kenop pintu terbuka dan kepala Claire menyembul dari baliknya. Rambut yang basah, bahu mulusnya yang sedikit terekspos, menghentikan pikiran jernih Feliks untuk sesaat. Matanya tidak berkedip, saliva diteguk rakus.
"Feliks... mana ponselku? Feliks...!" pekik Claire karena lelakinya malah diam membisu.
"I- ini...," Feliks menyerahkan benda milik kekasihnya tersebut dengan posisi yang masih mematung.
Claire menempelkan benda yang disodorkan Feliks ke atas daun telinga. Meruak suara tangisan yang membuat isi pikirannya dihinggapi tanda tanya.
__ADS_1
Claire
Rona? Rona?
Rona
Claire...
Claire
Kenapa kamu menangis?
Rona
(Terisak)
Nath, Claire... Nath!
Claire
Nath, kenapa dengan dia?
Rona
(Terisak)
Claire
Rona
Nath meninggal, Claire
Dia tewas karena gantung diri!
Bagai terhunus oleh sebuah pedang, hati yang sempat berkarat kini terluka kembali. Terluka karena berita kematian sahabatnya lantaran bunuhh diri. Dan itu tidak berselang lama dari waktu kunjungannya tempo hari ke penjara. Wajah pucat semakin pucat, tubuh Claire bergetar. Benda di tangannya terlepas dari genggaman lalu menghantam lantai hingga terbelah.
"Claire... ada apa?" tanya Feliks terheran-heran akan ekspresi gadisnya. Dia memekik kaget saat tubuh kekasihnya terhuyung dengan mata yang terkatup. Namun, dia dengan sigap menahan tubuh Claire agar tidak tersungkur ke atas lantai.
"Claire... kamu kenapa Claire?" Feliks menepuk-nepuk pipi Claire. Namun, tidak ada jawaban. Dengan bersusah payah dia menjangkau kain handuk yang tergantung untuk menutupi tubuh Claire. Feliks lantas membawa gadis itu ke atas ranjang kemudian menyelimutinya.
Feliks mengedarkan penglihatannya, dia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyadarkan Claire dari pingsannya. Dan matanya menangkap botol berwarna biru berisikan cairan bening.
"Claire... bangun sayang." Feliks mendekatkan botol minyak angin ke arah hidung kekasihnya. Perlahan kelopak mata Claire mengerjap.
__ADS_1
Claire mulai siuman lalu beranjak dari tidurnya. Akan tetapi, dia tiba-tiba menangis membuat Feliks semakin kebingungan. "Ke- kenapa kamu menangis, Claire? Ada apa? Ceritakan padaku."
Claire menyeka air matanya dengan tubuh naik turun karena terisak. Suara merdunya pun kini berubah sengau. "Nath... Nath meninggal, Feliks!"
Feliks merengkuh bahu Claire dan menariknya ke dalam dekapan. Meski dia tahu pria yang tengah kekasihnya tangisi adalah laki-laki yang sempat dia cintai. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuknya merasa cemburu.
"Sabar Claire... mungkin sudah jalannya Nath seperti itu. Lagi pula semakin dia hidup lebih lama, akan semakin tersiksa oleh penyakitnya." Feliks mengecup kening Claire dan mengusap-usap pundaknya. "Sekarang kenakan pakaianmu, kita hadiri upacara pemakaman."
Tanpa menjawab apa pun lagi, Claire berjalan gontai menuju lemarinya. Dia menarik pakaian berwarna hitam yang menggantung kemudian menciumnya. Pakaian itu dibelikan Nath dulu, ketika mereka masih bersahabat dan sangat dekat.
...***...
Tanah basah yang di dalamnya bersemayam satu jasad, menjadi saksi biksu berakhirnya ikatan hubungan dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Isak tangis dan suara ratapan, mengantarkan dia pada tempat peristirahatannya.
Sungguh sangat menyedihkan di akhir sisa nyawanya. Resiko yang harus dia tanggung karena kehidupan malam yang gelap semasa hidupnya. Kini dia terbujur kaku menyambut hukuman demi hukuman dari Tuhan akan semua perbuatan yang dilakukannya.
Seorang wanita dengan air mata bercucuran merentangkan tangannya tatkala melihat wanita lain menangis sangat pilu. Mereka saling mendekap erat, jua berbagi kesedihan. Siapa pun yang melihatnya akan turut menitikkan air mata. Sahabat sejati, yang ikatannya tidak lekang dimakan usia.
"Aku tidak pernah menyangka kalau akhir hayat sahabat kita akan berakhir tragis seperti ini, Claire. Aku sangat menyayangi Nath, meski dia berkhianat." Rona merekatkan rengkuhannya dan menyandarkan kepala di atas pucuk kepala sahabatnya.
Isakan demi isakan menyertai kembalinya Nath ke dasar bumi. Hatinya pilu, dadanya sesak. "Meski dia sempat memperdaya, menipu dengan segala sikap manisnya. Namun, dia tetaplah sahabat terbaik. Aku menyayangimu, Nath. Sampai kapan pun...."
Ribuan helai kelopak bunga menghiasi pusara sebagai bentuk duka cita. Para pelayat dengan pakaian serba hitam, satu demi satu meninggalkan tempat persemayaman. Tidak ada sanak saudara, kerabat atau pun keluarga yang tetap tinggal di sana. Hanya dua sahabat yang masih terdiam lesu mengenggam tanah basah juga nisan dengan tulisan berwarna hitam.
"Damai di duniamu yang baru, Nath. Kebaikanmu akan selalu aku kenang." Rona mengusap-usap nisan berwarna putih, lantas berdiri kembali dengan tangan menopang pada tangan suaminya. Kondisi dia yang tengah berbadan dua, membuatnya tidak tahan berlama-lama duduk berjongkok.
"Kita pulang Claire... salju mulai turun kembali." Feliks merengkuh pundak kekasihnya. Namun, Claire tidak ingin beranjak. Dia membuka payung hitam untuk melindungi tubuh gadisnya dari butiran salju.
"Relakan Nath, Claire... dia sudah tenang sekarang, tidak kesakitan lagi," sahut Rona khawatir dengan kondisi psikis sahabatnya. "Ayo kita pulang... kasihan Feliks dia sepertinya kelelahan."
Claire menolehkan kepalanya dengan wajah yang mendongak. Kepalanya kembali menunduk disertai satu anggukan. "Tunggu sebentar lagi ya...."
Rona, Edward juga Feliks menunggu Claire dengan sabar. Mereka bertiga memahami bagaimana perasaan gadis itu saat ini. Gadis yang jiwanya tengah terpukul dan hatinya mengiba. Mereka membiarkan Claire untuk larut sejenak di dalam kesedihan.
...*****...
...Masih part berduka ya, setelah ini semoga ada pelangi selepas hujan......
...Senja ucapkan terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman sekalian. Tanpa support dan doa dari kawan-kawan semua, Senja tidak akan mungkin sampai sekarang ini....
...Terimakasih banyak, sekali lagi terimakasih....
...Khop khun khaa... 🙏...
__ADS_1