Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Api Asmara


__ADS_3

Awal rasa cinta tidak selalu bermula dari sesuatu yang indah. Terkadang bersemi karena hal yang menyedihkan. Jangan terlalu membenci, bila tak ingin mencinta. Karena jarak antara benci dan cinta itu amatlah tipis. Setipis kabut, setipis sutra.


"Ayo tatapan terus, nanti jatuh cinta loh. Eh... apa malah sudah jatuh cinta?" ledek Leona. Kedua sejoli yang bersitatap langsung tersadar dan tersipu malu.


"Em... Kakakmu belum sarapan, dia harus minum obat," tukas Rona mengalihkan pembicaraan.


Leona menahan tawa sembari menarik tubuhnya. Dia melihat ke arah sang kakak dengan jemari yang dibentuk seperti sedang berciuman. Edward melotot sedangkan Leona tertawa tanpa suara. Membekap mulutnya menggunakan telapak tangan.


Di dalam kamar hanya tinggal Edward dan Rona, keduanya nampak sangat canggung dan rikuh. Tidak ada yang berani memulai percakapan. Mereka sibuk dengan isi hati masing-masing.


"Ini dia bubur cerealnya." Kedatangan Leona yang secara tiba-tiba mengagetkan keduanya.


"Kakak ipar, pagi ini aku ada jadwal praktek, aku titip Kak Edward ya," seloroh Leona sembari menyodorkan mangkuk ke tangan Rona.


"I- iya tidak apa-apa, kebetulan praktekku hari ini sore," jawab Rona sambil tangan menengadah. Dia memutar badannya dengan semangkuk bubur di genggaman.


Rona mulai menyuapi Edward dan laki-laki di hadapannya menerima suapan demi suapan dengan senang hati. Edward makan dengan lahap, sampai-sampai ada sisa bubur yang menempel di pinggiran bibir. Rona mencari tisu di atas nakas, tapi tidak menemukannya. Terpaksa dia menyapu sisa bubur menggunakan jemari.


Edward terkesiap saat jemari Rona menyentuh bibirnya, ada desiran yang mengetuk relung hati. Dia menggenggam jemari gadisnya lalu memberi kecupan lembut dengan mata yang menatap dalam.


Edward mendekatkan wajahnya bersamaan detak jantung yang semakin terpacu. Tatapannya tidak lepas memandang netra cokelat yang berbinar dengan bibir yang merapat dan menghangat.


Untuk pertama kalinya Rona menikmati ciuman dengan Edward. Dia menyambut setiap pagutan dan kecupan. Napasnya tersengal-sengal dengan lidah saling berbelit. Cumbuan semakin panas dan semakin liar.


"Kak... aku berangkat dulu ya...!" teriak Leona yang mengejutkan keduanya. Sepasang sejoli salah tingkah, sedangkan Leona terbelangah melihat dua manusia yang berlainan jenis tengah berbagi hasrat.


"Ma- maaf... aku sepertinya mengganggu kalian," lontar Leona sembari melengos tanpa bersalah.


Edward dan Rona tertawa kecil, meski tidak ada ungkapan cinta dari keduanya. Namun, sikap dan bahasa tubuh menjawab semuanya. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati. Sama-sama tidak ingin bergerak terlalu cepat, karena tidak ingin salah melangkah.


"Rona..." panggil Edward.


"Hm...?" jawab Rona.


"Sekali lagi ya...!" pinta Edward. Dia mendekati Rona dan membuat tubuh gadisnya terbaring di atas ranjang. Lengan Edward menarik lengan Rona ke atas kepala, lalu menyematkan jari-jari ke dalam jemari wanitanya. Dia menikmati bibir merah nan tipis untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Edward mengeratkan jemari, deru napas bertambah keras dan pagutan semakin bergairah. Tidak ada lagi batasan ego terlebih gengsi. Perasaan keduanya mengalir tanpa jeda, mengalun lembut dalam kecupan dan sesapan.


...***...


"Ayo bangun..." rengek Rona. Dengan suara manjanya, dia berhasil membuat Edward terus tersenyum.


"Aku harus menyiapkan makan siangmu, terus pergi ke Rumah Sakit," ungkap Rona yang tubuhnya masih terkungkung kedua tangan Edward.


"Kamu tidak perlu ke Rumah Sakit, temani aku di sini. Karena aku kan pemilik Rumah...."


"Pemilik hati kamu," sambung Edward.


Edward hampir saja keceplosan mengatakan kalau dia pemilik Rumah Sakit tempat Rona bekerja. Tidak tahu apa alasan Edward, dia tidak ingin Rona mengetahui fakta itu secepatnya.


"Aku harus ke Rumah Sakit, malaikat-malaikat kecilku pasti menunggu." Rona mengangkat tubuhnya dan Edward turut beranjak.


"Kamu istirahat saja, aku akan menyiapkan makan siang." Rona beringsut meninggalkan Edward menuju dapur. Lalu mencari bahan makanan yang bisa diolah.


Rona membuka laci kitchen set dan mendapati mie hokkien di dalamnya. Dia membuka lemari pendingin, ada beberapa sayuran dan sedikit udang yang tersimpan di dalam chiller.


Rona mulai berjibaku dengan bahan dan alat yang sudah disiapkan di atas meja. Dia mulai menghaluskan bawang putih, merendam mie hokkien, membersihkan udang dan mengocok telur.


Tangan lentiknya bergerak bak chef handal. Menumis, menggoreng dan memberi bumbu sesuai selera. Keringat membasahi pelipis dan tengkuk lehernya. Sesekali dia mengusap keringat menggunakan lengan baju.


"Kamu berkeringat Rona..." ujar Edward yang tiba-tiba muncul membawa sapu tangan di genggaman. Dia mengusap keringat di wajah dan leher Rona lalu menghembuskan napas ke arah tengkuk. Rona meremang karena sapuan napas Edward yang menyentuh salah satu bagian sensitifnya.


"Terima kasih ya, sudah bersusah payah membuatkan aku makan siang." Edward melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Rona lalu menautkan dagu ke atas pundak. Wajah gadisnya memerah lantaran baru kali ini dia diperlakukan begitu lembut oleh Edward.


"Em... sabar ya, sebentar lagi matang..." ucap Rona seraya menahan saliva.


Edward merekatkan pelukan lalu berbisik di telinga gadisnya. "Aku akan sabar kok. Sabar menunggumu yang memintanya sendiri."


"Maaf, ma- maksudnya apa?" tanya Rona terbata-bata.


"Aku tahu kamu mengerti maksudku...," Edward mengecup ceruk leher Rona dan menggigitnya sepintas. Namun suara bel pintu, menahan dirinya untuk bertindak lebih jauh.

__ADS_1


"A- ada tamu sepertinya," ujar Rona.


Edward mendengus seraya mengumpat kesal. "Ish... mengganggu saja!"


Laki-Laki yang tengah kesal, dia menarik langkah menuju pintu ruang utama. Sementara Rona mengusap dada sembari menghembuskan napasnya. "Ah... untung saja ada orang yang datang. Kalau tidak, aku benar-benar akan dibuat melendung sembilan bulan!"


"Hm... lagian aku bodoh juga, bisa-bisanya terperangkap pesona seorang duda!"


____


Edward berjalan dengan wajah kusut, muka ditekuk. Wajahnya semakin kusut saat membuka pintu dan mendapati seseorang yang membuat suasana hatinya langsung meringsut. Seorang wanita tak tahu malu, yang sudah ditolak mentah-mentah tapi masih terus saja mengejar-ngejar.


"Untuk apa kamu ke apartemenku?" tanya Edward ketus.


"Aku mau melihat keadaanmu," jawab Arabella yang menerobos masuk tanpa dipersilakan.


"Melihat keadaanku?" tanya Edward memastikan.


"Iya, kamu kemarin malam tertabrak mobil, kan?" tanya Arabella yang mendaratkan tubuhnya di atas sofa lalu menopangkan kakinya.


"Kamu tahu dari mana kalau aku tertabrak mobil?" sahut Edward yang berdiri bersidekap.


"Tentu saja dari adikmu, dia kan teman baikku," kelit Arabella. Wajahnya menegang dan bola mata bergerak ke kanan ke kiri.


"Kamu tidak sedang berbohong, kan?" Edward menyidik dengan mata menyipit.


"Aku bukan pembohong sepertimu!" Arabella berdiri dan mendekati Edward. Dia memeluk pria di hadapannya tanpa segan. Rona yang menyaksikan pemandangan menyakitkan di depannya, seketika layu setelah berkembang. Hati berbunga, menguncup seketika.


...*********...


...Sekali lagi terimakasih untuk yang sudah memberikan VOTE dan HADIAH. Semoga berkah dan tergantikan dengan yang lebih.....


...I love You all...


...Mampir di karya baru temanku juga yuk,...

__ADS_1



__ADS_2