
"Sini duduk." Edward menepuk-nepuk pahanya. Rona menuruti perintah suaminya, lalu duduk di atas pangkuan lalu mengalungkan lengan ke leher Edward.
Edward menyatukan tatapan, tangannya membelai mesra wajah yang kini selalu dia lihat ketika bangun tidur.
"Apa kamu akan mentolerir sebuah pengkhianatan?" Edward melepas lengan Rona dari lehernya, menggenggam kemudian mengecupnya.
"Aku benci akan pengkhianatan, aku benci pengkhianat. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" Rona menelisik ke dalam pupil mata yang membesar. Dia melepaskan tangan dari genggaman Edward lalu menyilangkannya di depan dada.
Edward terkekeh, "Kamu kalau lagi ketus begini, semakin menggemaskan!" Edward mencuri ciuman sekilas.
"Cepat katakan ada apa? Jangan mengalihkan pembicaraan!" Rona memalingkan wajahnya.
"Hm... iya-iya sayang." Edward mencubit kedua pipi Rona. "Aku pernah berjanji akan menceritakan kenapa bisa terlambat datang di hari pernikahan kita, kan?"
Rona mengangguk. "Ceritakanlah! Aku benar-benar ingin tahu alasanmu!"
Edward mengatur napas, dia melingkarkan lengannya ke pinggang Sang istri. "Malam itu ... sepulang mengantarkanmu ke apartemen, ada satu mobil yang membuntutiku. Lalu terjadi aksi kejar-kejaran karena mereka mencoba meluncurkan peluru ke arah ban mobil. Aku menambah kecepatan, ternyata dari arah kanan ada truk melaju kencang. Mobilku terdorong kencang dan masuk ke jurang."
Rona menutupi mulutnya dengan telapak tangan. "Lalu bagaimana kamu bisa selamat?"
Edward meneguk kopi yang dibuat Rona. "Saat mobil menabrak pembatas jalan, aku meloncat. Mobil berguling-guling dan aku berhasil selamat. Meskipun bagian tubuhku menghantam batang pohon yang tajam," tutur Edward dalam satu tarikan napas.
"Ya Tuhan... beruntung kamu selamat sayang." Rona merangkum wajah lelakinya. "Tapi kamu sudah tahu siapa pelakunya?"
"Sudah ... orang di balik kecelakaan dan orang di balik kebakaran cafe adalah orang yang sama," ungkap Edward dengan suara yang dalam, seperti menyimpan sebuah beban.
"Lebih baik kamu laporkan segera orang itu, dia sudah mengancam nyawa dan menghancurkan bisnismu!" Rona memberi saran.
"Kalau kamu tahu siapa orang itu, apa masih bisa berbicara seperti ini, Rona?" batin Edward.
"Jangan terlalu dipikirkan, lebih baik kita tidur sekarang." Edward mengacak-acak pucuk kepala istrinya. Rona mengangguk dan Edward mengangkat tubuh wanitanya menuju kamar tidur.
...***...
Pengkhianatan yang dilakukan orang terdekat akan menyisakan kepedihan yang teramat sangat. Tetap tersimpan rapat meski terkubur begitu dalam di lubuk sanubari. Lukanya akan selalu bersemai, tidak pernah hilang.
"Sayang... ayo bangun, terus mandi. Hari ini kamu ada jadwal mengajar, kan?" Rona membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya. Edward menggeliat dan menarik tubuh Rona ke dalam pelukan.
"Mandi bareng ya..." desah Edward dengan suara serak khas bangun tidur.
Rona menggelengkan kepala. "Aku harus menyiapkan sarapan untuk kita semua." Rona melepaskan tangan Edward. Namun, tubuhnya tiba-tiba melayang karena Edward memangkunya.
__ADS_1
"Edward lepaskan aku!!!" Rona menggoyang-goyangkan kakinya. Edward bergeming, terus saja membawa istrinya ke dalam kamar mandi. Dan byurrr... Edward melempar Rona ke dalam bathtub.
"Edward...!" Rona berteriak kencang, tetapi suaminya hanya tertawa seraya melepas celana tidurnya lalu ikut masuk ke dalam bak mandi.
Edward memandangi istrinya dengan tatapan yang mendamba. Rambut yang basah, dada indah yang tercetak dari balik kain tipis yang kuyup, membuat jakun naik turun.
Edward langsung saja melumatt bibir Rona dengan tangan yang berputar di atas dada. Kemudian menyurukkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Tangannya menelusup ke dalam pakaian yang basah. Meremass dan menarik papilla yang mengeras dengan kasar. Rona mengerang seraya menyelipkan jemari ke sela-sela rambut Edward. Aktifitas mereka semakin panas, hingga suara seseorang membuyarkan gairah keduanya.
"Mom! A- ada apa?" Rona menutupi dadanya karena pakaiannya transparan.
"A- aku mencarimu. Tadi kamu bilang hanya sebentar, jadi aku menyusulmu. Tak tahunya sedang bercinta!"
"Ma- maaf Mom... Rona—"
"Tidak perlu meminta maaf sayang, yang seharusnya minta maaf adalah dia. Karena masuk ke dalam kamar tanpa permisi!" potong Edward dengan suara beratnya.
Edward memagut bibir seraya memainkan dada istrinya di depan Amber. Amber yang kesal sekaligus merasa terangsang, dia menghentakkan kaki, lalu keluar dari kamar mandi.
"Lihat saja! Nanti malam aku akan mencari daun muda!"
...***...
Seperti seorang istri pada umumnya, Rona melayani Edward dengan sangat telaten. Dimulai dari menyiapkan pakaian kerja hingga memasangkan dasi. Meski terus saja Edward menggoda dengan mengecup bibir dan menggigit lehernya seperti seorang drakula.
Edward melirik arloji di tangan kirinya lalu menarik kedua alis ke atas. "Aku sudah hampir terlambat. Nanti kamu antarkan saja makan siang ke kampusku ya!"
"Ta- tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi. Aku tunggu di kampus." Edward mencium kening Rona lalu meraih tas kerja dari atas meja.
"Sini aku bawakan..." ujar Rona yang hendak menarik tas di tangan Edward.
Edward menarik mundur tasnya. "Tidak usah, biar aku saja. Kamu istriku bukan pelayanku!" Edward merangkul pundak Rona menuju pelataran.
...***...
Seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di depan bangunan megah ini, semua tatapan mengarah padanya. Orang-orang memicingkan mata tak ramah, terlebih saat ini statusnya sudah resmi sebagai istri Edward Liam. Pria yang menjadi rebutan para gadis muda yang haus akan belaian dan kasih sayang.
Kakinya melangkah diiringi suara pantulan sepatu. Menjadikannya pusat perhatian penghuni kampus benefit di negara ini. Decakan dan nyinyiran menyambut kedatangannya. Bibir-bibir bergincu tipis, menyeringai dan mengeluarkan cibiran karena rasa cemburu atau iri hati.
Akan tetapi, Rona tidak mau ambil pusing, dia menarik langkah menuju ruangan suaminya. Lagi-lagi dia harus dibuat jengkel karena saat dia membuka pintu, seorang wanita tengah duduk di atas meja dengan kancing kemeja yang terbuka.
__ADS_1
"Miranda, what are you doing here?" bentak Rona terkejut dengan kelakuan asisten dosen Edward.
"Nyo- Nyonya Edward...!" ucapnya tergagu.
"Ma- maaf aku—"
"Silakan kamu keluar dari ruangan suamiku! Atau kamu ingin saya pecat?" Rona mendekati Miranda lalu mengintimidasi dengan tatapan mautnya.
"I- iya saya keluar. Se- sekali lagi saya minta maaf." Miranda mengancingkan kemeja sambil berjalan lalu tidak sengaja berpapasan dengan pria idamannya. Dia menatap Edward dengan sudut mata, tetapi Edward mengacuhkannya.
Miranda membuka pintu kemudian menutupnya dengan kencang. Umpatan demi umpatan keluar dari bibir yang menginginkan kehangatan dari pria yang sudah beristri. Tidak tahu mengapa, hasratnya untuk mendapatkan Edward kembali semakin meninggi. Meski dia pernah berpikir untuk menyerah. Namun, kini malah tertantang.
Sementara di dalam ruangan, Rona membisu. Dia membuka lunch box menyiapkan makan siang untuk suaminya, lalu duduk dengan mulut yang merapat. Edward yang merasakan ada sesuatu yang tidak biasa, dia menggenggam tangan istrinya.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"
Rona menoleh ke arah Edward sepintas lalu kembali ke posisi semula. "Apa kamu tidak bisa memecat asisten sintingmu itu?"
"Siapa, Feliks?"
"Bukan... tuh wanita tidak punya malu!" cibir Rona.
"Oh, Miranda..." sahut Edward tertekan.
"Iya, dia. Aku khawatir dia bertingkah di luar batas. Aku wanita, paham betul kalo dia masih menginginkanmu!"
Edward meneguk salivanya. "Ta- tapi aku tidak mencintainya, Rona... jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Rona memutar kepala dan memiringkan wajahnya. "Apa kamu akan kuat terhadap godaan yang disuguhkan di depan mata? Wanita cantik dengan tubuh seksi dan dada yang bulat?"
"Tentu saja kuat, karena aku hanya mencintaimu sayang...."
"Kalau begitu, mulai saat ini pecat dia. Atau kamu yang berhenti dari kampus ini! Kucing mana yang akan menolak kalau setiap saat disuguhkan ikan segar!"
...*****...
...Maafkan terlambat Up ya, tadi pagi hingga siang fokus RL. Ini baru pulang, langsung tancap demi teman-teman semua......
...Ditunggu juga like dan commentnya, biar tambah semangat nih. hehehe......
...Tapi kalaupun tidak, dengan masih setia membaca karya Senja, Senja ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya....
__ADS_1
...Have a nice day all...