Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Dasar Tidak Becus!!!


__ADS_3

Di dalam kehidupan ini akan selalu ada yang merasa tidak senang dengan kebahagiaan yang kita raih. Iri dengki, rasa cemburu atau merasa tersaingi membuat nafsuu menguasai hati yang semakin hitam. Lalu menghalalkan segala cara untuk memuaskan ego dan ambisi sesaat.


Merintis satu usaha yang di mulai dari nol, dengan keringat sendiri, pikiran dan tenaga sendiri bukanlah hal yang mudah. Karena itu, di saat ada pihak yang berusaha menghancurkan dan merebut apa yang sudah dia bangun, membuat hatinya remuk redam.


"Apa yang terjadi Feliks?" tanya Edward seraya kepala berputar melihat ke sekeliling kantor yang berserakan.


"CCTV rahasia menangkap aktifitas mencurigakan dari dua orang dan saya yakin mereka penyusupnya," jawab Feliks memperlihatkan rekaman.


"Kenapa kantor kita bisa disisipi penyusup, bukannya pengamanan sangat ketat?" tekan Edward. Dia menarik rambutnya ke atas dengan mata memperhatikan gerak-gerik yang mencurigakan dari layar komputer.


"Ma- maaf saya tidak tahu, Bos!" sahut Feliks apa adanya.


"Dasar tidak becus!" Edward meninggalkan cap tangan di atas pipi Feliks. Sementara Feliks hanya bisa menundukkan kepala karena merasa bersalah.


"Baiklah sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan kita! Kerahkan anak buahmu selidiki sampai ke akar-akarnya, cari tahu siapa dalang di balik semua ini! Karena saya yakin kebakaran cafe adalah sabotase dan ada sangkut pautnya dengan hilangnya arsip-arsip berharga!" titah Edward. Dia meremass gelas kaca hingga membuatnya menjadi serpihan.


"Ba- baik Bos, siap laksanakan." Feliks menarik tubuhnya dari hadapan Edward dan mulai menghubungi anak buah untuk menyusun strategi.


Selepas kepergian Feliks, Edward mengitari kantor untuk mencari barang bukti. Dia meruncingkan penglihatan, lalu senyum misterius terbit dari sudut bibirnya.


"Kamu mengusik orang yang salah! Aku tidak sebodoh itu brengsekk. Aku ikuti permainanmu!


...***...


"Maaf, Nona... saya hanya ingin memberikan ini!" Dia menyerahkan kartu nama dan Rona mengeja nama yang tertulis di dalamnya. "Ro-land Broo-ks."


"Tolong disimpan, karena saya yakin suatu saat kamu akan membutuhkan dan mencariku!" ujar Roland percaya diri.


Rona mencabik-cabik kartu nama yang diberikan Roland lalu melemparnya ke arah wajah pria yang menatap nanar ke arahnya. Tanpa rasa bersalah, Rona pergi begitu saja dari hadapan pria tersebut.


"Semakin kamu menolakku, semakin aku tertantang untuk mendapatkanmu dokter Rona!"

__ADS_1


Roland memutar tubuh lalu berjalan berlawanan arah menuju flat yang baru dia huni hari ini. Dia semakin mendekat dan juga merapat pada gadis yang sudah mencuri perhatiannya.


Rona yang curiga dengan keberadaan Roland di apartemen ini, dia membelokkan kakinya ke arah pilar. Lalu mengintai, memperhatikan kemana pria itu melangkah pergi. Dia membuntuti dengan berjalan mengendap-endap. Hingga saat di ujung koridor, Rona melihat dia tengah berbicara dengan seorang pria yang tidak asing. Rona menajamkan pendengaran.


"Good job, ini bayaran buatmu seperti yang sudah saya janjikan!" Roland memberikan map cokelat dan pria di depannya langsung membuka map tersebut dengan mata menyala-menyala.


"Thankyou, mister... Kalau butuh bantuan jangan segan-segan menghubungi saya kembali."


Roland mengangguk dan meninggalkan pria yang tengah sibuk menghitung lembaran uang. Rona berjalan tanpa meninggalkan suara lalu melingkarkan satu tangannya di leher pria tersebut dengan kuat.


"Cepat katakan, apa yang sudah dia perintahkan!" Rona mengeratkan lengannya, membuat napas pria itu tersengal-sengal.


"Akan saya katakan tapi tolong lepaskan dulu, sa- ya su- lit berna- pas," ucapnya terputus-putus.


Rona melepaskan lengannya dari leher pria itu lalu mendorong kasar. "Cepat katakan!"


"Pri- pria tadi meminta saya untuk menghentikan lift seolah sedang terjadi kerusakan Nona," ungkapnya dengan bibir bergetar.


"Ma- maaf Nona, saya melakukan ini karena terpaksa. Saya sedang membutuhkan uang untuk berobat anak saya," kilah pria tersebut.


"Halah... alibi! Hal klasik yang selalu dijadikan alasan untuk berbuat kejahatan!" Rona melepaskan cengkeramannya lalu mendorong pria itu hingga terhuyung beberapa langkah.


"Pergi sana! Sebelum saya berubah pikiran untuk melaporkanmu pada pemilik apartemen!"


"Ja- jangan Nona. Sekali lagi saya minta maaf." Pria itu berjalan terseok-seok lalu menghilang dari jangkauan mata Rona.


Sedangkan Roland, dia memicingkan mata dengan bibir tersenyum tipis. "Waw... aku semakin dibuat penasaran. Perempuan yang unik."


...***...


Malam semakin temaram, tetapi Edward tidak sedikit pun memberi kabar. Gadis yang tengah menanti dengan gusar, dia berjalan-jalan berputar di depan ranjang bak setrika panas. Di tangannya, ponsel digenggam erat. Sesekali matanya melihat ke arah layar dan sesekali menempelkan benda pipih itu ke daun telinga. Namun, nomor seseorang yang dia hubungi, sedang berada di luar jangkauan.

__ADS_1


"Kemana kamu Edward?" Rona menatap jam dinding, jarum pendek menunjukkan angka satu.


Terdengar suara smart door lock terbuka, Rona berbinar dan berlari ke luar kamar. Tertangkap oleh kedua netranya pria yang dia nantikan. Wajahnya kusut dengan pakaian tak serapi biasanya.


"Hei... ayo duduk sini." Rona merangkul tubuh Edward dan memapahnya untuk duduk di atas sofa. Edward beberapa kali menghembuskan napas kasar. Sementara Rona, dia tidak bertanya apa pun dan memilih merenggangkan urat-urat syaraf tubuh sang kekasih dengan pijatan lembut. Edward memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan jemari halus pada tubuhnya.


Edward menarik tangan Rona yang berada di atas pundaknya lalu mengecupnya. "Terima kasih ya...."


Rona menganggukkan kepala lalu mengecup pipi Edward. "Apa kamu mau mandi air hangat, biar aku siapkan?!"


Edward menggelengkan kepala lalu membalikkan tubuhnya. "Aku lelah, aku ingin tidur...."


Edward berjalan ke arah kamar dan meninggalkan Rona yang menatap sendu. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dengan menaruh tangan di atas pelipis. Matanya tak bisa terpejam karena pikiran tengah berkecambuk. Saat jiwa tengah kosong, Edward dikejutkan oleh jemari seseorang di atas kaki.


"Ah, sayang... kamu calon istriku bukan pelayanku." Edward menarik tubuh lalu membuka sepatu dengan tangannya sendiri.


"Yuk tidur..." ajak Edward. Matanya sayu dengan rambut yang acak-acakan.


"Ganti baju dulu sayang, kemejamu bau rokok dan alkohol!" sindir Rona yang membuka lemari dan mencari pakaian untuk Edward.


"Terima kasih...," Edward melingkarkan tangan di pinggang Rona dan menautkan dagu di atas pundak kekasihnya. Rona memutar tubuh lalu melepas satu persatu kancing kemeja Edward. Tubuh Rona tenggelam di dalam dada karena Edward memeluknya.


"Biar aku saja yang membukanya," ucap Edward dengan suara yang berat. "Sentuhanmu selalu membuat darahku berdesir."


Rona menengadahkan kepala lalu menatap iris mata yang menghanyutkan. Dia berjinjit lalu memagut bibir kekasihnya dengan penuh perasaan. "Kalau kamu sedang ada masalah, aku siap menjadi pendengar setia."


...******...


...Terimakasih untuk semua dukungan teman-teman. Tanpa kalian Novel Dokter Rona and Hot Daddy tidak akan berjalan sejauh ini....


...Meski terseok-seok, tertatih-tatih ide dan jumlah pembaca yang bagai roller coaster. Tapi harus tetap semangat demi teman-teman semua....

__ADS_1


...Dan Alhamdulillah, satu minggu ini jumlah pembaca terus bertambah, meski hari ini mengalami penurunan. Tapi harus tetap optimis, besok lusa jumlah pembaca bertambah lagi dan semoga ada rezekinya novel ini mendapatkan rekomendasi (🤲)...


__ADS_2