Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Lamb Tagine with Brocoli


__ADS_3

"Dasar otak mesum!"


Claire mengulurkan tangannya ke arah Feliks yang terduduk di atas lantai. Feliks tersenyum dan meraih uluran tangan Claire lalu berdiri.


Cup!!! Feliks mencuri satu kecupan lalu berlari dari hadapan gadisnya. Mata Claire membelalak karena untuk kedua kalinya Feliks menyentuh bibirnya. Claire meraba benda tipis berwarna merah muda itu, lalu tersimpul senyuman.


"Kenapa senyam-senyum Claire, apa kamu mulai menyukai ciumanku?" teriak Feliks yang memperhatikan dari arah laundry room. Claire menutup mukanya menyembunyikan rasa malu.


"Claire mana bajumu, sini aku cucikan?!" teriak Feliks yang menyalakan mesin cuci.


Claire mendekati Feliks seraya menyodorkan pakaiannya. "I- ini."


Feliks tersenyum lalu memasukkan kain kotor untuk dia cuci. Claire berdiri dengan kepala menunduk, sesekali menyelipkan anak rambut ke belakang cuping telinga. Feliks sangat menikmati tingkah Claire kalau sedang salah tingkah.


Feliks memasangkan earphone sembari menunggu mesin cuci bekerja. Bibirnya bergerak-gerak mengikuti alunan syair lagu. Claire memperhatikan bibir merah Feliks, berkali-kali dia menelan saliva. Berkali-kali dia menyapu bibirnya menggunakan lidah.


Ntah ada angin apa, Claire tiba-tiba merapatkan wajahnya. Lalu mengecup pipi lelakinya. Feliks mematung, tangannya melepas earphone dari dalam telinga. Dia memutar kepala, menyatukan sepasang tatapan kemudian menyentuh pipinya yang dikecup oleh Claire.


Claire bergeming, kakinya mendadak kaku. Saat Feliks mencondongkan wajah ke arahnya seolah menantikan sapuan hangat di atas bibirnya. Feliks yang seakan mendapat angin segar, dia menyelipkan jemari ke dalam rambut Claire lalu menarik tengkuk gadisnya.


Kelopak mata Claire perlahan mengatup. Tanpa rasa ragu sedikit pun Feliks menyatukan bibirnya dengan bibir Claire. Mencumbu lembut dengan penuh perasaan. Claire membalas cumbuan lalu membuka mulutnya memberi ruang Feliks untuk menyusuri setiap inci dinding hangat. Membelit lalu menyesap lidah. Dengan suara napas pendek dan air liur berdecakan, keduanya mulai terbuai kenikmatan.


Claire mendorong tubuh Feliks. "A- aku kebelet pipis, maaf!" Claire berlari ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu dengan kencang. Dia mengusap-usap dadanya yang berdetak tidak karuan.


"Astaga...bodoh kamu Claire, bodoh!!" rutuknya sembari memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Kamu benar-benar bodoh, Claire. Sangat bodoh!!! Bisa-bisanya kamu membiarkan Feliks mencium bibirmu buat ketiga kalinya. Ingat Claire, Feliks tidak pernah menyatakan perasaannya!"


Claire membuang napas lalu mencuci mukanya. Dia menatap wajahnya dari balik cermin. Ibu jarinya menyapu bibir yang masih menghangat. "Apa kamu mencintaku, Feliks?"


Dirasa suasana hatinya sudah lebih tenang, Claire keluar dari kamar mandi. Namun dia tidak mendapati Feliks di laundry room. Yang terlihat hanya pakaiannya yang menggantung di atas hanger. "Kemana Si asisten gila?"


Claire mengendap-endap, alisnya bertautan mencari keberadan Feliks. Dan terlihat laki-laki itu tengah mengiris bawang bombay di dapur. "Eh ternyata kamu di sini! Kamu sedang apa?"

__ADS_1


"Aku mau membuat spaghetty, kamu bisa membantuku mengiris bawang?"


"Me- mengiris bawang? Bi- bisa!" jawab Claire terbata-bata namun pasti. Dia menggaruk kepalanya lalu merajuk pelan. "Ini bagaimana?" gumamnya.


Claire memotong bawang secara asal, membuat kepingan-kepingannya berloncatan. Feliks yang melihatnya seketika terpingkal seraya memegangi perutnya. Claire merengut, bibirnya mengerucut.


"Ya ampun Claire... kamu ini perempuan atau bukan sih?" sarkas Feliks. "Sini aku ajari kamu mengiris!" Feliks merapatkan tubuhnya ke punggung Claire lalu menggenggam tangan Claire yang tengah memegang Pisau. Feliks menggerak-gerakkan tangannya mengajari Claire memotong sayuran.


"Nah, seperti itu sayang...."


Claire memutar kepalanya ke arah Feliks lalu mengukir senyum. Sebutan sayang dari mulut Feliks, menggetarkan hatinya.


...***...


Amarah Edward belumlah reda. Hatinya menyimpan kekesalan yang teramat sangat. Rahasia yang dia simpan seorang diri, semakin menyesakkan dada. Betapa banyak penderitaan yang sudah dia lewati selama ini semenjak kepergian ibunya untuk selamanya.


"Diminum sayang cokelat panasnya. Aku jamin mood kamu akan lebih baik." Rona menyodorkan secangkir minuman dan Edward langsung menyesapnya.


"Terimakasih sayang... ini enak sekali. Kamu yang meraciknya?" tanya Edward menghirup aroma yang menenangkan.


Edward menarik tangan Rona lalu mengecupnya. Dia melumatt jari Rona satu persatu. Kebiasaan barunya ketika masalah mengurung pikirannya.


"Ini map apa sayang?" Tanpa meminta izin, Rona membuka map plastik di atas meja begitu saja. Matanya menangkap adegan tidak senonoh dalam bentuk gambar.


"Ini Nath? Dan Ini Mom?"


Edward menarik kasar map itu dari atas meja lalu menyembunyikannya. "Kenapa kamu membuka barang milikku tanpa permisi, Rona?"


"Jawab, Edward. Itu Nath kan? Nath dan Mom terlibat affair?" Kepala Rona menggeleng tidak percaya, tangannya mengatup mulut yang terbuka lebar.


"Iya, Amber bermain api dengan sahabatmu! Bukan hanya itu, dia juga menguras uang milik ibu tiriku!" Edward menaruh kembali map yang dia sembunyikan ke atas meja. "Tapi masih aku rahasiakan, karena Papa pasti akan terguncang. Aku mengkhawatirkan kondisinya."


"Map ini berisi semua berkas dan barang bukti kejahatan Amber. Aku bertahun-tahun menyelidiki tentang kematian ibuku, dan perlahan menemukan titik terang!"

__ADS_1


Edward memutar tubuhnya lalu menggenggam tangan Rona. "Sayang... berjanjilah padaku!"


"Berjanji apa?" sahut Rona.


"Berjanjilah, untuk selalu berhati-hati dan waspada di manapun kamu berada. Amber wanita yang licik. Dia akan melakukan apapun demi keinginannya tercapai!"


"Iya sayang, aku janji! Aku bukan wanita lemah, kan?" Rona merangkul pundak suaminya.


Edward mengecup kening Rona. "Kamu wanita yang hebat!"


...***...


Dedaunan bertaburan mengawali datangnya musim gugur. Udara terasa lebih dingin, membuat tubuh yang lemah ingin terus bersembunyi di balik selimut.


"Sayang... ayo bangun, sudah jam 10. Tumben sekali kamu bermalas-malasan seperti ini!" Edward mengecup puncak kepala Rona lalu menarik selimut yang menutupi tubuhnya, tapi Rona menahannya.


"Aku masih ingin tidur sayang...." rengek Rona memejamkan matanya kembali.


"Ayo bangun... kasihan Ezio ingin bermain dengan Mommynya." Edward kembali menarik selimut, namun Rona bergeming.


"Kamu pucat sekali sayang, apa kamu sakit?" Edward menempelkan punggung tangan ke atas kening istrinya.


"Aku tidak sakit sayang, hanya sedikit pusing saja," ungkap Rona yang merasakan tidak enak di badannya.


Edward beranjak dari hadapan Rona seraya memangku Ezio keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana, Edward. Kamu marah?" teriak Rona yang tidak mendapat jawaban. Air mata menitik begitu saja. Sikap Edward sangat mengiris hatinya.


"Baru juga satu hari bermalas-malasan, kamu sudah marah. Apalagi kalau setiap hari!"


Rona kembali tertidur sembari terisak, pundaknya naik turun dengan air mata yang mulai mengering. Edward masuk ke dalam kamar dan membawa nampan di tangannya.


"Sayang... ayo sarapan. Aku sudah buatkan lamb tagine with brocoli and bread, spesial untuk kamu!" Edward menepuk-nepuk bahu Rona, berusaha untuk membangunkannya.

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih untuk semua dukungan teman-teman. Semoga novelnya masih bisa dinikmati ceritanya ya meski ilham kabur-kaburan terus 🙈🙏...


__ADS_2