Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pregnant???


__ADS_3

Cicitan burung di pagi hari tergantikan gemuruh ombak. Sinar matahari mulai meninggi. Namun, seorang pria masih dalam buaian mimpi. Dia mulai terbangun dengan tangan mencari keberadaan seseorang. Meraba-raba ke atas ranjang, tetapi tangannya tidak menjangkau siapa pun.


"Rona?" panggil Edward seraya membuka kelopak mata yang menyipit. Tapi wanita yang dia cari sudah tidak ada di sampingnya.


"Kemana dia sepagi ini?"


Edward turun dari atas ranjang dengan bertelanjang dada mencari kekasihnya, terdengar suara bising dari arah dapur. Terlihat Rona nampak serius dengan pisau di tangan.


"Rupanya kamu di sini..." ucap Edward yang melingkarkan lengannya ke pinggang Rona. Lalu mengecup ceruk leher dan turun ke pundak yang terbuka. Rona menahan gairah dengan menggigit bibir dan terus mengiris bawang bombay di atas cutting board.


"Jangan menggodaku nanti tanganku, aw...," Jemari Rona teriris karena perlakuan Edward membuatnya tidak fokus. Edward menarik lengan Rona lalu menyesap darah segar dan melumatt jari yang terluka.


"Hati-hati..." ujar Edward dengan suara parau. Tanpa permisi, Edward merangkum wajah Rona kemudian memberikan morning kiss. Rona menaruh pisau ke atas kitchen set lalu menarik kepala kekasihnya untuk memperdalam cumbuan.


Edward mengangkat tubuh Rona ke atas meja tanpa melepaskan ciuman. Rona membelai tubuh atletis Edward, Edward semakin terangsangg.


"Kamu sekarang nakal, sayang..." ucap Edward. Suaranya semakin berat karena menahan gejolak.


"Na- nakal kenapa?" tanya Rona yang tidak sadar.


"Ini!" jawab Edward menunjuk punggung tangan Rona menggunakan mata, Rona gelagapan langsung menarik tangannya. Namun, Edward sigap menahan.


"Jangan dilepaskan ... aku suka, lagi pula ini semua sekarang milikmu." Edward menggenggam tangan Rona lalu mengarahkan pada perut kotak-kotaknya, Rona menelan saliva dengan mata yang tak berhenti berkedip.


"Kamu sudah siap?" tanya Edward. "Sepertinya menyenangkan kita melakukannya di sini." Edward hendak menyingkapkan pakaian Rona, akan tetapi suara teriakan menggagalkan aksinya.


"O my God ... apa tidak ada hal lain di otak kalian selain sek-s dan sek-s?" protes Claire sembari berkacak pinggang.


Edward mendekati gadis yang berteriak hingga membuat kepalanya membentur tembok. Edward tersenyum licik lalu berkata dengan sinis. "Sekali saja kamu merasakannya, kamu akan ketagihan Claire. Silakan coba saja, dengan Nath atau asisten gilaku. Mereka akan senang hati menerima ajakanmu."


Claire merekatkan pergelangan tangan lalu menghentakkan kaki dan berlalu pergi. Sedangkan dari wajah Edward terukir raut kepuasan.

__ADS_1


"Jangan begitu ... Claire sahabatku. Kalau kamu menyakitinya, itu sama saja dengan menyakitiku." Rona memeluk Edward dari belakang lalu menyandarkan kepala ke atas punggung kekasihnya. Tidak berselang lama terdengar bunyi kerucuk dari perut Rona dan Edward menarik tipis sudut bibir.


"Kamu sudah lapar ya?" Edward membalikkan tubuh sembari bertanya pada gadisnya. Rona mengangguk lalu memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Baiklah, sekarang tugasku yang menyiapkan sarapan karena jarimu terluka. Tunggu saja di ruang makan, aku akan membuatkan yang spesial untukmu." Edward mendorong punggung Rona lalu menyuruhnya duduk manis di atas kursi. Terlihat di depan tivi, Claire duduk dengan wajah yang ditekuk. Perkataan Edward tadi, pasti sangat melukai hatinya karena dia bukan wanita yang terbiasa tidur dengan sembarang laki-laki.


"Aku biarkan saja dulu, menunggu suasana hatinya membaik...."


...***...


Setelah lima belas menit, sarapan sudah siap untuk dihidangkan. Wajah-wajah kelaparan menghampiri aroma makanan. Menyapa perut mereka yang mendadak terasa keroncongan.


"Wuih... Rona ini yang masak?" tanya Feliks sembari menyomot tempura udang. Namun, Edward menepuk tangannya.


"Wash your hands first!" tegur Edward.


"Iya-iya aku lupa..." seloroh Feliks sembari beranjak ke arah wastafel.


"Ini enak sekali, aku tidak menyangka kamu pandai mengolah makanan," ujar Nath yang begitu antusias melahap makanannya.


"Aku punya beberapa cafe, usahaku di bidang kuliner. Sedikit banyak aku harus menguasai bisnis yang aku kembangkan," jawab Edward percaya diri. Suasana kembali hening. Namun, hanya sekejap. Karena semua dibuat panik oleh Rona yang mengeluh mual-mual. Dia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan semua makanan yang sudah dia makan.


"Sayang...," Edward memijat tengkuk Rona lalu mengusap-usap punggungnya. Rona terus saja mengeluarkan isi perutnya hingga tak bersisa. Edward menarik tisu kemudian mengusap bibir Rona. Dia nampak khawatir karena wajah Rona menjadi pasi.


"Claire?" panggil Feliks.


"Apa?" sahut Claire malas.


"Apa kamu tidak curiga dengan sahabatmu?" tanya Feliks berbisik-bisik. Claire mengerutkan kening karena tidak mengerti apa maksud dari perkataan laki-laki di sampingnya.


"Maksudmu apa sih asisten gila? Bicara yang jelas!" sentak Claire. Feliks mencondongkan wajahnya, seketika dua pasang mata sahabat Rona membulat sempurna karena selorohan Feliks yang menurut mereka masuk akal. "Aku curiga Rona hamil!"

__ADS_1


Semua saling beradu pandang, menatap silih berganti. Lalu beralih ke arah Rona yang masih muntah-muntah dengan Edward yang terus berdiri mendukungnya.


"Itu artinya aku akan menjadi uncle Nath."


"Aku akan menjadi aunty Claire...."


"Dan aku sudah benar-benar kehilangan harapan," lirih Feliks menatap pilu.


Nath merangkul pundak Feliks dan memberinya sokongan. "Sabar Bro, move on yuk ... masih banyak perempuan di luaran sana. Kita masih muda, nikmati saja hidup dengan bersenang-senang. Asal ada uang, semua akan datang!"


"Apa maksudmu?" tanya Feliks yang otaknya mendadak beku.


"Nanti aku kenalkan dengan mainan-mainanku, uh... mereka ganas-ganas di atas ranjang!" jawab Nath bersemangat. Claire yang tidak senang mendengar perkataan sahabatnya, dia melempar sendok lalu pergi dari hadapan laki-laki mesum dan masuk ke dalam kamar.


Feliks mendongak-dongakkan kepala sebagai isyarat bertanya pada Nath. Namun, Nath mengangkat bahunya sembari menggelengkan kepala dengan cepat.


...***...


"Kamu pucat sekali sayang...," Edward mendekap tubuh Rona seraya menuntun tangannya.


"Aku tiba-tiba pusing dan mual Edward, padahal pagi ini ingin bermain air di pantai sama kamu..." ungkap Rona sembari berjalan dengan lemah. Edward yang tidak tega melihat Rona, dia mengangkat tubuh sang kekasih lalu membawanya ke dalam kamar. Nath memperhatikan Rona dengan iba sedangkan dalam dada Feliks cemburu bergemuruh.


Edward membaringkan Rona ke atas ranjang lalu menutupi tubuh dengan selimut. Dia duduk di samping Rona seraya menggenggam jemari kekasihnya itu.


"Aku teringat Marissa dulu waktu dia mengandung Ezio, sama seperti ini. Apa kamu juga tengah hamil anakku?" terka Edward di dalam hati. "Aku berharap Tuhan mengabulkan keinginanku, mengikat kita dengan keturunan. Aku akan menikahimu dengan segera, tidak ingin menunggu lama...."


"Apa yang kamu pikirkan, Edward?" tanya Rona yang menangkap kekhawatiran sekaligus kebahagiaan di mata lelakinya.


"Tidak ada ... aku hanya mencemaskanmu," kilah Edward. Dia mengecup jemari Rona lalu meletakkannya di atas pipi.


...*********...

__ADS_1


...Maafkan terlambat Up, hari ini sedikit sibuk di real life dan Ilham sedang tidak bersahabat. Terimakasih untuk yang masih setia meninggu, lup you pul......


__ADS_2