Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Mual dan Muntah


__ADS_3

"Sayang... ayo sarapan. Aku sudah buatkan lamb tagine with brocoli and bread, spesial untuk kamu!" Edward menepuk-nepuk bahu Rona, berusaha untuk membangunkannya.


Rona menggeliat lalu membalikkan tubuhnya. Dia memencet hidungnya seraya mengibas-ngibaskan tangan kanan. "Kamu bawa apa, kok bau sekali?"


"Aku membawa makanan kesukaanmu!" Edward meraih nampan dari atas nakas lalu memindahkannya ke atas paha.


Rona menutup mulutnya, dia merasakan mual ingin muntah. "Jauhkan itu dariku, Edward! Baunya sangat tidak sedap!"


Edward mengendus makanan yang dia pegang. "Ini wangi butter sayang, apanya yang bau sih?"


"Itu bau sekali Edward, buang saja!" titah Rona.


"Ini aku yang masak, masa disuruh buang?" sahut Edward kecewa.


"Ya sudah, kamu saja yang makan!" sentak Rona yang kemudian membalikkan lagi badannya. Dia memeluk guling mengacuhkan Edward yang tengah merajuk.


Akhirnya makanan yang dia siapkan untuk Rona, disantap tak bersisa. Edward merasakan tidak nyaman di perutnya. Dia bergegas ke kamar mandi lalu menumpahkan semua isi perutnya.


"Kamu kenapa Edward?" Rona yang mendengar suaminya muntah-muntah, langsung beranjak melihat keadaan lelakinya.


"Ah... tidak tahu sayang. Tiba-tiba perutku serasa diaduk-aduk!" Belum selesai Edward berbicara, dia kembali memuntahkan makanan dari dalam perutnya. Tapi yang keluar hanya cairan bening. Rona memijat tengkuk Edward diselingi mengusap punggungnya.


Edward membersihkan mulutnya lalu membasuh muka. Saat ini wajahnya tidak kalah pucat. Rona memapah tubuh suaminya yang lemah ke atas ranjang. Edward duduk di pinggir kasur, Rona mengangkat kedua kaki suaminya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Edward.


"Sebentar, aku ambil peralatan dokterku dulu ya...."


Edward mengangguk pelan, Rona membuka laci lalu mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah untuk memeriksa kondisi kesehatan suaminya. "Detak jantung normal, tekanan darah 110/90. Bagian ini sakit?" tanya Rona menekan perut bagian atas.


Edward menggeleng. "Aku cuman tiba-tiba mual saja sehabis makan. Perutku rasanya seperti dipelintir," aku Edward yang menurunkan kakinya dari ranjang lalu berlari ke arah kamar mandi. Untuk kesekian kalinya dia muntah-muntah, dan yang keluar dari tenggorokannya hanya cairan bening.


"Ka- kamu masih mual sayang?" Rona mengurut leher Edward sembari membalur punggungnya menggunakan minyak angin. Edward mengangguk lemah, tubuhnya bergemetar.


"Aku lemas sekali sayang... aku ingin tidur." Edward yang sudah tidak kuat berdiri tegak, dia melingkarkan lengannya ke leher Rona. Rona berjalan sempoyongan menahan beban tubuh Edward yang semakin berat.


"Tidur ya sayang...," Rona menutupi tubuh Edward dengan selimut. "Nanti setelah bangun tidur, kamu mau disiapkan makanan apa?"

__ADS_1


"Aku ingin makanan yang pedas dan asam."


Rona mengernyitkan keningnya mendengar permintaan suaminya yang tak lazim. "Bukannya kamu tidak suka makanan pedas?"


Edward mendelik manja. "Pokoknya buatkan aku masakan yang pedas! Nanti pas aku bangun tidur harus sudah matang!"


Rona menggaruk-garuk kepala, harusnya dia yang dimanja oleh Edward, yang terjadi malah sebaliknya. "Iya-iya, kamu kok jadi bawel seperti Feliks?!"


...***...


"Edward...."


"Rona...."


"Mom kalian sudah pulang nih..." teriak Richard dari lantai bawah.


"Apa sih Pa, manggil Kak Rona segala. Kan ada aku anaknya!" protes Leona yang tidak suka Richard selalu perhatian pada Kakak iparnya itu.


Rona yang mendengar namanya disebut, dia cepat-cepat keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Kepalanya terasa pening, hampir saja terjatuh. Namun Roland berhasil menahan tubuh Rona.


Roland tidak mengindahkan teriakan Leona. Dia kembali merangkul Rona, namun Rona menepis tangan Roland. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!"


Rona melewati Roland yang berdiri mematung dan menghampiri Amber. "Mom, mau makan apa biar Rona siapkan?!"


Amber mendelik sinis. "Cih, sengaja ya mencari perhatian Roland dengan bersikap baik pada mertuamu ini? Padahal jauh di dalam hati, menyimpan kebusukan!"


Rona menggeleng kepalanya. "Tidak ada sedikit pun niat untuk mencari perhatian atau menggoda suami orang. Karena suamiku lebih segalanya dari pria ini!" Rona menoleh ke arah Roland dengan mata yang meruncing. Dia memilih meninggalkan perdebatan tiada guna, dan menghampiri Ezio yang sedang bermain dengan susternya.


"Kamu semakin hari semakin sombong saja Rona! Merasa di atas angin, karena semua laki-laki menyukai dan mengejar-ngejarmu?" tanya Leona sinis. Rona tidak menggubris cemoohan Leona, baginya perkataan gadis labil seperti Leona hanya sebagai angin lalu. Tidak ada gunanya didengar apalagi ditanggapi.


"Gara-gara perempuan itu, perutku jadi mual!" Leona berlekas-lekas menuju kamar mandi. Dia mengalami morning sick yang belum usai di trimester pertama.


Richard mengikuti kemana menantunya pergi, meninggalkan Amber dan Richard yang masih tidak beranjak dari tempatnya.


...***...

__ADS_1


Rona tersenyum bahagia melihat Ezio yang tertawa lepas dengan pengasuh barunya. Bukan dia tidak ingin mengurus Ezio. Namun dia berencana untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Lelah rasanya hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa melakukan kegiatan yang berarti.


"Mommy..." panggil Ezio yang menyadari keberadaan ibunya. Ezio berlari kencang, Rona merentangkan kedua tangannya.


"Pelan-pelan sayang... jalan kaki saja. Hati-hati lantai licin!"


Ezio yang tidak mendengarkan peringatan ibunya, terjatuh lalu terjungkal ke atas lantai. Anak itu menangis, karena lututnya terluka.


"Ezio...!" pekik Rona berlari menghampiri anak lelakinya yang menangis. "Mana yang sakit, sayang?"


"Lutut Ezio sakit, Mommy..." raung Ezio memegangi kakinya yang terluka.


"Sini Mommy tiup yang sakitnya." Rona menarik lembut kaki Ezio lalu menghembuskan napas sembari mengipas-ngipaskan tangan di atas luka baret. "Masih sakit, sayang?"


Ezio menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Jemarinya mengucek mata yang sembab karena tangisan. "Sudah tidak sakit Mommy, Ezio kan anak hebat. Ezio anak kuat!"


"Good joob my son." Rona mengusap kepala Ezio dan Ezio tersenyum. Dia bangkit lalu berlarian kembali.


"Mengurus anak satu saja tidak becus! Pantas kamu sampai saat ini belum hamil juga, wanita mandul!" cibir Amber yang membuat emosi Rona melonjak.


"Lebih terhormat menjadi wanita mandul, dari pada menjadi wanita jalangg seperti anda Nyonya Amber. Memiliki suami tapi bermain-main dengan bocah ingusan!" balas Rona tidak kalah tajam.


"Apa katamu?" Amber mengacungkan jari telunjuk, hendak memaki menantunya. Namun suara dehaman dari balik punggungnya, mengunci mulutnya seketika.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya sangat penting dan sengit?" Rona yang tidak menyadari keberadaan Richard di dekatnya langsung tertegun.


"Em... tidak ada kok Pa, Mom hanya menanyakan soal aku sudah hamil atau belum..." kilah Rona pada Richard. Richard mengangguk cepat meski dalam hatinya menyimpan kepedihan. Karena dia mendengar dengan jelas perkataan yang dilontarkan menantunya. Namun dia harus mencari bukti dengan tangannya sendiri.


...*****...


...Rona hamil tidak ya...?...


...Maafkan terlambat Up, isi kepala sedang tersendat 🙏😁...


...Terimakasih untuk semuanya dan selamat malam....

__ADS_1


__ADS_2