Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Leona Siuman


__ADS_3

...Di antara bentangan cakrawala biru, terlukis hamparan indah yang seakan tiada ujungnya. Saling beradu alunan nada, mengiringi tiap-tiap bait kehidupan. Adakah usai yang tak bertepi, bila jingga selalu mengikis biru. Meski menggantikan keindahan dengan keindahan....


...(Senja Merona)...


...*****...


Koridor Rumah Sakit mulai sunyi. Lampu temaram mulai dinyalakan. Gemerisik dedaunan tertiup angin mengantarkan rasa gundah gulana menunggu kabar yang tidak kunjung tiba. Satu jam bukanlah waktu yang sebentar bila dinanti setiap detiknya. Semakin ditunggu, waktu seakan semakin menjauh. Semakin dinanti, jam berputar begitu lambat.


Di samping pintu ruang ICU, seorang pria semakin gusar. Dia menyandarkan punggungnya ke atas dinding dengan sebelah kaki yang diketuk-ketukan ke atas lantai.


"Ini kenapa lama sekali, apa mereka semua terlelap di dalam ruangan?" Roland mencari celah untuk bisa melihat kondisi istrinya. Dia berjinjit, nampak kini keadaan Leona yang lemah dengan pipa napas endotrakeal terpasang di dalam mulutnya. Belum lagi jarum yang tersemat di atas punggung tangan kiri tersambung dengan selang tranfusi darah. Terdengar samar-samar suara monitor yang memperlihatkan denyut jantung istrinya naik turun.


Roland meruncingkan kelopak mata, ingin melihat apa yang tengah dokter dan perawat lakukan pada Leona, namun punggung seseorang yang mengenakan pakaian medis menghalangi pandangannya.


"Ish, geser dong. Aku penasaran ingin tahu kondisi istriku!" Roland berbicara sendiri. Dahinya bertautan saat menyadari kata yang terucap dari mulutnya. "Istriku? Haish... menggelikan!"


Konsentrasinya dialihkan kembali pada tubuh ringkih yang terbaring tidak bergerak. Salah seorang perawat menyuntikan cairan ke dalam lengan Leona. Dan wanita di sampingnya membisikkan sesuatu pada perawat tersebut lalu melepas sarung tangan medis kemudian berjalan ke arah pintu yang tertutup.


Roland berbegas menyambut seorang wanita yang menarik handle pintu. "Bagaimana istri saya, Dok?"


Dokter tersebut melepas maskernya. "Istri anda baik-baik saja. Kondisinya sudah stabil, saat ini belum sadarkan diri karena efek obat bius yang kami berikan."


"La- lalu bayi di perutnya?" tanya Roland. Dia menggenggam lengan dokter tersebut dengan raut wajah penuh harap.


"Janinnya juga baik-baik saja. Ibu dan bayinya sama-sama kuat dan memiliki semangat yang tinggi untuk bertahan hidup," jawabnya lalu menepuk tangan Roland.


"Sa- saya bisa melihat kondisi istri saya?" Ekpresi sumringah Roland membuat dokter di hadapannya tersenyum.


"Lima belas menit lagi pasien akan dipindahkan dan anda bisa menemuinya di ruangan perawatan." Dokter meninggalkan pria di depannya yang terpaku karena perasaan yang mengharu biru.


Setengah jam kemudian,


Leona mengerjapkan matanya, perlahan membuka kelopak mata yang mengatup rapat. Dia menatap langit-langit kamar dan menghirup aroma khas Rumah Sakit. Leona merasakan tengah diperhatikan seseorang, dia pun menoleh. Leona tidak bisa menutupi riak wajah terkejutnya saat melihat Roland yang duduk di samping ranjangnya. Pria itu tersenyum hangat. Senyuman yang telah lama hilang dari paras suaminya.


"Kenapa Kakak ada di sini? Leona tidak butuh Kak Roland! Leona tidak butuh siapa-siapa!" Leona memalingkan wajahnya, menyembunyikan bola mata yang mulai berair.


"Benarkah kamu tidak butuh siapa-siapa? Tidak butuh Kak Rolandmu yang dulu sering menggendong dan membelikanmu permen kapas kalau kamu sedang bersedih?" cecar Roland dalam satu tarikan napas. Dia menggenggam tangan Leona. Leona tersentak.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku Kak!" Leona menarik tangannya, Roland lekas mengecupnya. "Apa sih?!" Leona mendelik.


"Pa- papaku bagaimana Kak? Papa baik-baik saja kan?" Leona menarik tubuhnya sekaligus, melupakan kondisinya sendiri. Dia meringis karena jahitan di atas luka ikut tertarik.


Roland berdiri lalu menarik lembut tubuh Leona ke dalam pelukannya. "Papamu sedang dioperasi, ada gumpalan darah di kepalanya. Edward dan Rona menunggu di depan ruang operasi."


"Papa... Leona ingin bertemu papa Kak. Antarkan Leona pada papa. Leona tidak bisa berdiam diri seperti ini!" Leona menangis sejadi-jadinya, Roland memencet tombol Nurse Call. "Kumohon antarkan Leona Kak!" Leona meraung-raung, tangan kanannya berusaha menarik jarum infusan. Untung saja seorang perawat dengan bersigera datang lalu menyuntikan obat penenang ke dalam cairan infus.


"Le- o- na... sayang pa- pa..." racaunya terputus-putus, sebelum dia tertidur karena efek obat yang diberikan oleh perawat.


"Terimakasih, Sus..." ucap Roland ramah. Dia menarik kepala ke bawah dan dibalas dengan anggukan. Ruangan yang semula gaduh, kembali ke keadaan semula, sepi.


...***...


"Sabar sayang... kendalikan dirimu. Kalau kamu bersikap seperti ini, kasihan papa. Papa sedang berjuang antara hidup dan mati. Berikan semangat dan kata-kata positif. Meski telinga tidak bisa mendengarnya namun mata batin papa merasakan apa yang kamu katakan!" Rona mengusap punggung lelakinya dengan rasa iba. Lelaki yang biasa dia lihat dengan kegagahannya bisa duduk meringkuk selayaknya seorang anak kehilangan induk.


Edward mengangguk pelan, dia mengocek kedua matanya yang lembab karena air mata. Kegusaran terpecahkan oleh suara getar ponsel di dalam kantong celana.


Edward


Hm... apa?


Roland


Edward


Syukurlah


(Edward mengusap wajahnya, kemelut sedikit terkikis)


Lalu bagaimana keadaan adikku sekarang?


Roland


Dia tadi histeris karena tahu papanya sedang dioperasi. Sekarang adikmu tertidur, perawat memberinya obat penenang


Edward

__ADS_1


Jaga adikku baik-baik


Roland


Imbalannya apa?


Edward


Kamu bisa makan malam dengan istriku


Roland


(Terkekeh) Aku pegang perkataanmu!


Rona yang mendengar selorohan suaminya sontak saja tercengang dan berbicara dengan nada tinggi. "Apa-apaan kamu Edward? Kamu menjadikanku sebagai imbalan?"


Edward menggeser posisi duduknya dan memiringkan kedua kakinya. "Tenang sayang... aku tidak bersungguh-sungguh. Lagi pula Roland tidak akan menagih perkataanku!" Edward menjimpit dagu istrinya. Rona memalingkan muka.


"Hey... percayalah padaku!" pinta Edward yang menarik pipi istrinya. Rona menyunggingkan senyuman terpaksa.


"Bagaimana aku bisa percaya, kalau selama ini Roland sering mengganggu dan menggodaku! Kamu dan Roland bagai pinang dibelah dua. Sama-sama mengesalkan, dan di otak kalian berdua hanya ada sek-s dan sek-s!" Rona menunjuk pelipis kanannya.


Edward terkekeh, "Tapi itu yang kamu suka dariku kan, sayang...?" Edward membelai wajah Rona, menatap netra yang mampu membuat hatinya lebih tenang.


"Aku ingin membeli kopi, kamu mau?" Edward melepas tangannya dari pipi Rona, lalu beranjak berdiri.


"Aku sedang tidak ingin minum kopi. Belikan saja susu cokelat panas," pinta Rona yang menarik kepalanya ke atas karena Edward tengah berdiri di depannya.


"Ada yang lain?" tanya Edward lagi.


"Em... 2 porsi sandwich. Berikan satu untuk adik ipar kesayanganmu!" Rona menarik sebelah alisnya ke atas.


"Baiklah... tunggu sebentar sayang." Edward membalikkan badan. Baru saja dia melangkah, tubuhnya menegang karena berpapasan dengan seseorang yang memancing emosinya.


...*****...


...Apa kabar semuanya? Semoga selalu dalam kedaan sehat dan bahagia ya......

__ADS_1


...Terimakasih untuk semua dukungannya pada novel Dokter Rona. Semoga novel ini bisa terus menemani hari-hari teman-teman semua....


__ADS_2