
Semalam suntuk berbagi kehangatan, dilanjut pagi hari dengan aktifitas berbelit badan, wajar saja kondisi melemah karena kelelahan. Belum lagi kondisi hamil muda dengan sederet kegiatan, benar-benar menguras energi dan membuat tekanan darah turun.
"Kamu tidak apa-apa?" Suara tegas seseorang terdengar samar-samar sebelum Rona kehilangan kesadaran.
"Rona... Rona..." panggil seseorang dengan tangan menepuk-nepuk pipi wanita yang ada di pelukannya. Kepalanya berputar mencari bantuan, namun kondisi aula dalam keadaan sepi dan lengang karena semua tengah mencari makan siang.
Dia mengangkat tubuh wanita hamil itu ke atas kursi yang berjejer lalu mencari benda yang bisa digunakan untuk menopang kakinya. Dia masuk ke ruang direksi nampak bantal kecil tergeletak di atas kursi. Orang itu mengambil benda tersebut kemudian menaruhnya di bawah kaki untuk mengembalikan aliran darah ke otak.
Dia menempelkan jari telunjuk di atas leher kemudian menggenggam pergelangan tangan untuk mengecek denyut nadi. Seseorang tersebut mendengus lega karena tidak ada hal yang serius menimpa gadis di depannya.
Terlihat keringat membasahi pelipis, meski AC di dalam ruangan menyala kencang. Tangannya bergetar memegang kerah kemeja Rona seraya bergumam. "Ma- maafkan saya kalau saya tidak sopan." Dia melonggarkan pakaian Rona dengan membuka dua kancing kemeja teratas untuk memberian ruang bernapas yang lebih nyaman.
Sebagai seorang lelaki normal, melihat ceruk leher seorang wanita dengan kulit putih mulus, cukup membuat darahnya berdesir. Dia lekas-lekas membalikkan wajahnya tidak ingin berlama-lama menatap Rona.
Sudah 5 menit berlalu Rona belum siuman juga, sementara belum ada satu pun orang yang kembali ke ruangan. Dia mengibas-ngibaskan tangannya ke arah muka Rona dengan mulut yang meniup-niup.
Ada sedikit pergerakan di kelopak mata Rona, seseorang itu menatap lekat memperhatikan wanita di depannya. Rona akhirnya membuka mata yang menyipit dengan bibir meringis karena rasa sakit di kepalanya. Dia terkejut karena wajah seseorang tepat di depan wajahnya. Refleks sebuah tamparan melayang dengan kencang setelah dia melihat kancing kemeja yang terbuka.
"Kamu! Kamu mau apa?" Rona memegang kerah kemeja, menutupi tubuh atasnya yang sedikit terbuka. Orang yang dia tampar bersikap setenang mungkin.
"Maaf karena saya sudah lancang melepas kancing pakaian Nona. Tapi itu karena tadi, Nona tengah pingsan dan nampaknya kegerahan." Orang tersebut menjeda ucapannya, menelan saliva. "Mohon maaf sekali lagi," ucapnya seraya bangkit kemudian membungkukkan badan.
Edward yang baru saja kembali dari mencari makan siang, berjalan cepat lantas duduk di samping Rona dengan pandangan mengarah ke sahabatnya. "Apa ada yang mengganggumu sayang?"
Rona menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak Edward... aku barusan pingsan, dan sahabatmu yang menolongku."
"Pi- pingsan?" Edward memutar-mutar tubuh istrinya. "Ka- kamu ada yang terluka? Ada yang terasa sakit?" Edward meletakkan punggung tangan di atas kening, lalu menghela napas karna suhu badan Rona normal.
"Kondisi istrimu melemah, dia sedang hamil ya?" tanya seseorang yang tak lain adalah Brian. "Aku heran, apa yang sudah kamu lakukan sampai istrimu bisa kelelahan hingga pingsan seperti tadi?!" Tanpa menunggu respons dari sababatnya, Brian berlalu pergi dengan menyelipkan tangan ke dalam kantong celana.
Edward terbungkam, dia merasa bersalah karena sudah mengerjai istrinya tadi malam juga pagi hari. Padahal dia sendiri tahu aktifitas di Rumah Sakit hari ini akan sangat menyita waktu dan tenaga.
__ADS_1
"Aku lapar..." rengek Rona yang melihat Edward terdiam dengan bungkusan makanan di tangan.
"Bos, istrimu kelaparan itu Bos!" timpal Feliks yang berdiri seraya mengunyah makan siangnya.
Edward memutar badannya lantas menyelipkan anak rambut lalu meraup wajah Rona. "Muka kamu pucat sekali sayang, maafkan aku ya...."
Rona tersenyum manis dengan sinar mata yang jernih. "Aku maafkan, asal...."
"Asal apa?" sahut Edward.
"Asal suapi aku makan, boleh?" tanya Rona dengan senyum simpul.
"Tentu saja boleh." Edward mengusap pipi Rona, Rona mengecup telapak tangan suaminya.
Feliks yang memperhatikan kemesraan suami istri di depannya, sontak saja tersedak. Wajahnya merah padam, dia mencari air minum seraya mengetuk-ngetuk tengkuk dan seseorang menyodorkan sebotol minuman.
"Minumlah..." tawar Natalie.
"Ingat Feliks, sepupuku ini sudah punya suami. Kamu jangan mau kalau wanita genit di sampingmu mengajak berselingkuh. Bisa-bisa tendangan maut Claire menghajar mukamu yang paspasan itu!" Tunjuk Edward ke arah muka Feliks.
Feliks tertawa datar, kemudian berlalu dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Natalie menghempaskan tubuhnya kasar ke atas kursi menatap dengan sudut mata. Dia merasa iri akan kemesraan yang diperlihatkan Edward dan istrinya.
"Ayolah Edward jangan melarangku untuk mendekati Feliks. Kamu tahu pasti aku ini wanita kesepian. James hanya pulang sesekali, dan dia tidak pernah menyentuhku," lirih Natalie dengan tangis sesegukan.
"Berhenti merengek Natalie, ruangan sudah mulai ramai!" Edward berdiri mengajak Rona kembali ke ruang direksi seraya menyeret sepupunya yang tiba-tiba menangis.
Semua orang berangsur kembali ke tempatnya menunggu giliran. Raut harap dan cemas mewarnai wajah semua orang, kecuali Brian. Wajahnya sangat tenang, dengan gestur tubuh tidak memperlihatkan nervous sedikit pun.
Natalie yang sudah mulai tenang, dia mengeringkan air mata di wajahnya kemudian memulas make up yang lumayan tebal untuk menutupi wajah yang sembab. Dia berdiri di depan pintu kemudian memanggil pelamar berikutnya.
"Brian Cale!" Natalie mengedarkan pandangan, matanya memindai seorang pria gagah yang berdiri tegak lantas berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Br- Brian Cale?" ulang Natalie. Matanya tak berkedip karena terpana akan suguhan pemandangan indah di depannya.
"Iya, saya Brian Cale," jawabnya dengan suara berat. Dia melewati Natalie masuk ke dalam ruangan. Natalie memejamkan mata, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria yang pertama kali ditemuinya. Tubuhnya berputar 180 derajat, dengan tatapan menginginkan.
"Silakan duduk." Rona menunjuk dengan merentangkan lima jarinya. Brian mengangguk dan mendaratkan panggulnya di atas kursi yang Rona tunjuk.
"Brian Cale?" tanya Rona dengan sikap formal. Dia membuka helai per helai berkas mengenai pria di hadapannya kemudian duduk tegap dengan kepala menghadap lurus. Matanya memindai netra mata pria di depannya, Brian membalas tatapan Rona.
"Iya, saya Brian Cale," jawabnya cepat.
"Anda lulusan University of Cambr*dge, Inggris?" tanya Rona kembali.
"Iya, benar sekali Nona." Brian meletakkan kedua tangan di atas meja, matanya menatap dalam. Namun Rona tidak sedikit pun terpengaruh, dia membalas menatap lebih dalam. Brian menundukkan pandangan, dengan mata mengerjap cepat.
"Kenapa anda ingin bekerja di Rumah Sakit ini, apa yang menjadi motivasi anda?" Rona melontarkan pertanyaan umum yang biasa diberikan pada seorang pelamar. Brian menjawab dengan singkat dan padat.
Sepuluh pertanyaan sudah Rona berikan, kepalanya manggut-manggut dengan mengulum senyuman.
"Satu rangkaian test lagi ya, test tertulis dengan saudara Edward." Rona menunjuk ke arah meja panjang, Brian mengangguk.
Dia berdiri dan melangkah menuju tempat test kedua, namun sebelum itu mengatakan sesuatu pada Rona.
"Semoga saya bisa diterima di Rumah Sakit ini, agar bisa bertemu dengan wanita cantik seperti anda setiap harinya." Bibir Brian tertarik ke salah satu sudut dengan sebelah mata yang mengerdip.
"Pria ini memiliki kompetensi yang sangat baik, tapi sikapnya...."
...*****...
...Mohon maaf terlambat Up, ide masih tersendat dan seharian ada aktifitas 🙏...
...Terimakasih banyak untuk semua yang masih setia menunggu......
__ADS_1
...I Love You all...