
"Selamat siang Tuan Brian, saya mau memberikan laporan har—"
"Apa kamu tidak memiliki sopan santun, Natalie?" Brian menggebrak meja, beberapa barang di atasnya terjatuh karena guncangan keras oleh hantaman tangannya. Rahangnya mengeras, kedua mata menyalang seperti seekor anjing pembunuh.
"Ma- maaf Tuan Brian, ta- tadi pintunya terbuka jadi saya...."
"Siapa yang menyuruhmu berbicara, Natalie?" bentak Brian bak petir menggelegar. Natalie terhenyak, dia hampir menangis karena baru kali ini dibentak sedemikian rupa oleh seorang laki-laki.
Brian berdiri lalu berjalan beberapa langkah, setelah itu mendaratkan tubuhnya di pinggir meja. Dia menjulurkan tangannya dengan telapak yang terbuka.
"Mana laporannya?" pinta Brian tidak ramah.
"I-ini Tuan." Natalie menyerahkan map plastik berwarna merah, Brian menariknya kasar.
"Mau ke mana kamu? Siapa yang menyuruhmu keluar?" bentak Brian, ketika Natalie hendak menarik langkahnya.
"Ma-maaf Tuan... saya masih banyak pekerjaan. Kalau ada keperluan dengan saya, Tuan bisa memanggil saya lagi," ucap Natalie gemetar.
"Diam di situ, saya sedang memeriksa laporan yang kamu buat!" sentak Brian memperlihatkan raut bengis.
Kedua bola mata Brian sibuk bergulir ke kiri dan ke kanan dengan kedua alis mengernyit kesal, dia melempar map tersebut ke arah muka sekretarisnya.
"Apa-apaan ini? Dasar tidak becus!!" teriak Brian lantang. "Perbaiki laporan itu sekarang juga, saya tunggu 15 menit. Kalau masih acak-acakan seperti itu, kamu tanggung akibatnya!" Tunjuk Brian ke arah wajah Natalie.
"Ba- baik Tuan Brian," jawab Natalie ketakutan.
"Tunggu apalagi, ayo keluar!" bentak Brian dengan kaki menendang meja.
Tubuh Natalie tersentak karena kaget, dia sesegera mungkin keluar dari ruangan kepala Rumah Sakit sambil berlari. Tangannya sibuk menghapus lelehan air mata yang saat ini terus menitik. Dia tidak memperhatikan jalan yang sedang dia lewati, dan akhirnya menghantam tubuh seseorang.
"Ma- maaf saya tidak sengaja," ucap Natalie tanpa melihat siapa yang dia tabrak.
__ADS_1
"Jalan dengan lebih hati-hati, Natalie," tegur seseorang tersebut yang suaranya tidak asing di gendang telinga Natalie. Natalie mendongakkan wajahnya memperlihatkan kedua mata yang sembab, ditutupi senyuman simpul.
"Saya barusan terburu-buru. Maaf sudah menabrakmu, Feliks!" Natalie berlalu begitu saja dari hadapan Feliks, tidak seperti kebiasaan dia sebelumnya yang sering menggoda pemuda itu.
Feliks melanjutkan langkahnya dengan sesekali menoleh ke arah wanita yang tengah berlarian. Dia masuk ke dalam ruang kepala Rumah Sakit, lantas menutup pintunya.
"Kenapa dengan Natalie?" tanya Feliks dengan ibu jari menghadap pintu.
"Bukan urusanmu!" sahut Brian ketus. "Nyonya Edward Liam, mana?" tanya Brian pada asisten sahabatnya.
"Bukan urusanmu!" balas Feliks dengan mengikuti perkataan Brian. Dia melempar map berwarna biru ke atas meja dengan menjulurkan jari telunjuk. "Itu berkas yang dititipkan Nyonya Edward Liam pada saya. Dia hari ini tidak bisa datang, mungkin besok atau lusa dia standby di Rumah Sakit!" Feliks membalikkan badannya keluar dari ruangan meninggalkan Brian yang penasaran.
Brian berdecak kesal lalu membuka laptopnya, dia menatap wajah seorang wanita yang memenuhi ruang penyimpanan.
"Hm... Rona... Rona. Kenapa kamu begitu memesona sayang?" Brian memperbesar tampilan gambarnya, lantas mengusap-usap bagian wajah yang berwarna merah muda.
"Bibir tipis ini, apakah akan semanis madu bila kukecup?" Senyuman liar terukir dari bibir yang tengah menyesap sebatang rokok. Pikirannya berkelana mengkhayalkan wanita pujaan berada dalam pelukannya.
"Bagaimana kondisimu, anak nakal?" tanya Richard seraya memukul kepala putranya. Dia masih gemas mengingat perilaku absurd anak lelakinya itu yang tidak tahu malu.
"Baik, Pa... kondisi Edward sudah lebih baik. Karena ada istri cantik yang selalu menemani." Edward melirik ke arah Rona sambil meremass jemari lentiknya.
Richard mendengus kasar lalu melandaikan tubuhnya di atas kursi kosong yang sudah disiapkan untuknya. Dia mengatur napas, dan mulai berbicara kembali. "Kamu harus belajar mengendalikan hasratmu, Edward. Jangan berulah seperti seorang gigolo, bercinta tidak pandang tempat! Kelakuanmu itu benar-benar memalukan!"
Rona tertawa kecil, Edward menoleh ke arah Rona menggunakan ekor matanya kemudian menatap Richard. "Kan seperti pepatah Pa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya...."
"Maksudmu apa, Edward?" sentak Richard akan jawaban ambigu Edward. Dia terdiam sejenak mencoba menelaah serta menerka di dalam pikirannya mengenai ucapan putranya.
"Papa kira aku tidak tahu kelakuan Papa dulu? Papa seringkali bercinta tidak melihat tempat, seperti seekor kucing jalanan!" Edward tersenyum miris. "Di ruang tamu, di dapur, di atas tangga, di kolam renang, di kamar mandi bahkan di pelataran depan rumah. Edward hanya mengikuti jejak Papa sebagai seorang pejantan tangguh!" ungkap Edward yang membuat muka Richard merah padam.
Semua orang menutupi mulutnya menahan tawa, karena tidak ingin terkena amukan pria tua yang kebiasaannya suka memukul kepala.
__ADS_1
"Ka- kamu sudah pulih, kan? Kemasi barang-barangmu sekarang, kita pulang bersama-sama," titah Richard menahan malu. Dia beringsut dan cepat-cepat keluar ruangan, menyembunyikan wajahnya yang terlihat seperti udang rebus.
Sementara, anak menantunya tengah menertawakan dan terbahak-bahak selepas Richard menutup pintu ruang perawatan.
"Pantas saja kamu begitu nakal, sayang..." cibir Rona menjimpit hidung suaminya. "Tapi jujur, aku menyukai petualangan sek-s yang kamu suguhkan." Rona melumatt bibir Edward, Leona memekik kaget.
"Wow... wow... wow... pantas saja kalian berjodoh, karena sama-sama maniak!" seloroh Leona dengan kemesraan yang tersaji di depan matanya. Dia dikejutkan oleh sesuatu yang meremass bokongnya, nampak tangan Roland berada tepat di atas panggulnya. Leona membulatkan bola matanya.
"Kalau mereka saja bisa, kenapa kita tidak?" Roland menarik ulur kedua alisnya, menarik bibir ke salah satu sudut. "Ayo kita turut berpetualang." Roland menyesap tengkuk Leona, tubuh istrinya menggelinjang.
"Ah... Kak. Please... stop it!" desah Leona. "Nanti di rumah saja... Leona malu," lirih Leona.
"Tidak perlu malu sayang... Kakakmu saja bisa mengerjai istrinya sesuka hati. Kenapa aku tidak?" Tangan Roland menelusup ke dalam rok istrinya lanjut meremass gemas bongkahan bulat padat.
Edward melempar kotak tisu ke arah Roland dan mengenai wajah tampan adik iparnya. Laki-laki itu berdecak sebal lantas membalas dengan melempar balik kotak tisu tersebut ke arah Edward, namun Edward berhasil mengelak.
"Payah! Lemparanmu meleset Roland!" cibir Edward dengan tangan bersiap melontarkan benda keras di tangannya. Akan tetapi teriakan Rona mencegahnya.
"Ya ampun... kalian ini seperti kucing dan anjing saja. Berhentilah bersikap seperti anak kecil!" Rona meradang.
Rona memberikan isyarat pada Leona, Leona mengangguk cepat. Kedua pria tersebut mengerang, karena sebuah cubitan pedas bersarang di atas pinggangnya. Mereka memohon ampun ketika kulit pinggangnya dipelintir sangat kencang. Mereka merauh kesakitan atas apa yang dilakukan wanitanya.
"A- ampun sayang, tolong lepaskan tanganmu," rengek Edward menelungkupkan kedua tangan.
"I- iya sayang, tolong lepaskan juga jarimu dari pinggangku, itu sakit sekali," timpal Roland merajuk.
Rona dan Leona terkekeh karena sudah memberi pelajaran serta mengerjai masing-masing suaminya yang kerap kali bertingkah melebihi anak kecil.
...*****...
...Selamat akhir pekan teman-teman, jangan lupa jaga kondisi kesehatan. Cuaca sedang tidak bersahabat......
__ADS_1