Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kejutan


__ADS_3

"Feliks mau apa sih? Laki-laki ini kadang waras ... kadang ada gila-gilanya!" batin Claire di dalam hati.


Setelah melewati jalanan panjang dengan kebisuan. Akhirnya, dua sejoli telah tiba di suatu tempat. Tempat yang asing. Namun, penuh akan kejutan.


Feliks keluar dari kendaraan terlebih dahulu. Dia lalu berjalan mengitar menuju pintu lain di mana kekasihnya menunggu. "Silakan keluar Tuan putri...."


Claire masih bersidekap dan mematung di atas kursi. Tidak sedikit pun menoleh ke arah Feliks lantaran dia masih kesal kepada kekasihnya itu.


"Ayo sayang..." ajak Feliks lembut. Dia melepaskan sabuk pengaman yang melintang di atas dada gadisnya. "Yuk..." ajaknya lagi. Namun, Claire bergeming.


Feliks membungkuk, merapatkan wajahnya lalu menghembuskan napas hangat. "Bibirmu manis sekali Claire. Boleh, aku mencumbunya?"


Gadis yang tengah merengut, sontak mendorong tubuh Feliks dan keluar dari mobil. Namun, hampir saja dia terjatuh karena lantai yang dia pijak adalah sebuah tangga. Feliks sigap menahan tubuh kekasihnya dan mencuri kesempatan untuk memeluk Claire dari balik punggung.


"Hati-hati sayang... sini aku bantu berjalan." Feliks menggenggam tangan Claire lantas menuntunnya.


"Sayang ... sayang. Geli tahu aku mendengarnya!" sungut Claire yang tidak terbiasa akan sebutan itu. "Kita ini mau ke mana sih? Sok misterius sekali kamu!" oceh Claire berjalan merayap.


Kini mereka telah masuk ke dalam sebuah bangunan mewah yang sejuk dan beraromakan lavender. Namun, di dalam bangunan tersebut begitu sunyi dan senyap.


Feliks menuntun Claire hingga ke tengah-tengah ruangan kemudian melepas genggaman tangannya. Claire dilanda ketakutan dan kebimbangan, tangannya merayap-rayap mencari keberadaan sang kekasih.


"Fe-Feliks ... kamu di mana?" lirih Claire. "Feliks, aku jangan ditinggal sendiri. Aku takut gelap," rengek Claire cemas.


Claire yang baru tersadar akan kain hitam menutupi mata, sontak menarik dan melepasnya. Kelopak mata mekar sempurna, saat dia melihat orang-orang mengelilingi dirinya. "Rona, Paman ... kalian ada di sini?"


Belum habis rasa heran, dia semakin dibuat bingung oleh Feliks yang berlutut di depannya sembari menyodorkan sebuah cincin yang lebih mewah dan berkilauan, dibandingkan cincin yang pertama kali Feliks berikan untuknya.


"A-apa lagi ini?" tanya Claire melihat ke sana ke mari.


Feliks tersenyum dan menjawab, "Aku ingin melamarmu untuk kedua kalinya, Claire. Di hadapan semua orang, di depan orang-orang yang kamu sayangi...."


Sekuat apa pun seorang wanita, tetap saja ia memiliki perasaan yang amat halus. Hati akan mudah tersentuh dengan kejutan manis yang diberikan seseorang untuknya.

__ADS_1


Claire tidak kuasa menahan gejolak rasa bahagia yang terlukis dengan deraian tangis. Kebahagiaan kali ini terasa lebih sempurna karena dia bisa membagi itu semua dengan orang-orang terdekatnya.


"Sekali lagi aku bertanya. Maukah kamu menikah denganku, Claire...?" Feliks menatap ke arah sang kekasih menanti jawaban darinya.


Claire memutar indera penglihatan ke arah semua orang. Dan orang-orang yang dia tatap, menganggukkan kepala. Claire turut menarik kepala ke bawah dan menjawab dengan suara sengau. "Mau... tentu saja aku mau menikah denganmu, Feliks. Karena itu yang aku impikan selama ini."


Feliks memekik senang. Dia berdiri lanjut memeluk tubuh kekasihnya. Satu kecupan mendarat di atas kening. Dia mengucap terima kasih berkali-kali.


"Mana tanganmu?" goda Feliks lantaran Claire menyembunyikan lengannya ke belakang badan.


Claire mengulurkan tangan malu-malu, Feliks menarik kakinya ke belakang lalu kembali bersimpuh di depan gadisnya. Dia mengecup punggung tangan Claire kemudian menyematkan cincin ke dalam jari manis sebelah kanan. Semua orang bertepuk tangan, turut merasakan kebahagiaan pasangan yang tengah dimabuk cinta.


Feliks menarik tubuhnya untuk kembali berdiri, dia bertepuk tangan dan sebuah mesin otomatis berjalan ke arah semua orang. Di mana di atas mesin tersebut berdiri sebuah maneken dengan tiara dan gaun pengantin yang sangat cantik.


"Ini gaun pengantin siapa, Feliks?" Claire bertanya kepada kekasihnya. Belum habis Feliks membuat Claire berdiri termangu.


"Gaun pengantin ini untukmu, Claire ... untuk pernikahan kita. Apa kamu menyukainya?" sahut Feliks yang kini berdiri di samping maneken.


"Kamu tidak menyukainya?" tanya Feliks kembali.


"Ti-tidak ... maksudku, aku sangat menyukainya. Tapi ini terlalu mewah untuk gadis sepertiku," jawab Claire merasa rendah diri.


"Kamu berhak mendapatkan ini semua, Claire. Kamu berhak bahagia," ucap Rona mendekap pundak Claire yang berdiri di sampingnya. "Kamu gadis yang baik, semua orang menyayangimu...."


Claire menggosok mata, mengeringkan tetesan-tetesan kebahagiaan. Baginya semua ini seperti khayalan. Khayalan yang menjadi nyata, bukan sekedar fartamorgana.


"Satu minggu lagi kita akan menikah," ungkap Feliks membuat Claire semakin terkejut. "Aku sudah menyiapkan pernikahan kita dari dua bulan yang lalu...."


Claire tertawa hambar, perkataan Feliks terdengar seperti sebuah lelucon di telinganya. Menikah satu minggu lagi? Itu tidak mungkin. Tapi ucapan Feliks bukan bualan semata. Karena dia memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya, hingga ke hal-hal kecil.


"Kamu sedang mengerjaiku, kan?" tuduh Claire tidak percaya. "Kamu hanya ingin membuatku bahagia untuk sesaat, kan?" tanyanya lagi diakhiri isakan.


Feliks berjalan mendekat lantas mendekap tubuh kekasihnya. Membiarkan gadis itu menumpahkan rasa yang berkecambuk di dalam dada. "Menangislah sepuasmu, setelah itu berikan aku senyuman terbaikmu."

__ADS_1


Tangis Claire semakin pecah. Dia turut memeluk lelakinya tidak kalah erat. Seumur hidup selalu mendapat perlakuan tidak adil dari orang-orang di sekitarnya. Namun kini, dia mengecap manisnya kehidupan. Tuhan itu Maha Baik dan Maha Adil, bukan?


"Maaf... aku sudah membuatmu bersedih, Claire...."


"Aku pikir, kamu akan bahagia, tapβ€”"


"Tapi pada faktanya, aku bahagia. Sangat... bahagia," potong Claire seraya menangkup kedua pipi sang kekasih. Claire berjinjit, dia menarik wajah Feliks hingga beradu dengan wajahnya. Kecupan kilat dia suguhkan untuk laki-laki terkasih dan berarti di dalam hidup.


"Wow... impresif!" pekik Rona. "Lagi Claire... lagi!!" teriak Rona memanas-manasi sahabatnya. Satu colekan di pinggang langsung membungkam mulut Rona. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Edward, si pria dengan warna-warni sifatnya.


"Senang sekali sepertinya kamu sayang? Andai saja kamu yang agresif seperti itu!" Edward menunjuk ke arah Claire menggunakan dagunya.


Rona menyahut perkataan Edward dengan suara berbisik-bisik. "Aku selama ini kurang agresif bagaimana, hm...? Apa service-ku masih kurang?"


Edward terkekeh dan melingkarkan tangan ke atas pinggang istrinya. Tidak ingin wanita cantik yang tengah berbadan dua, murka oleh gurauannya. Karena bisa-bisa malam ini dia tidak mendapatkan jatah.


Semua orang secara bergantian mengucapkan selamat dan memeluk Claire juga Feliks, terlebih sang paman yang turut merasakan kegembiraan yang tidak bisa diukirkan melalui kata-kata.


"Selamat ya Nak... akhirnya hari yang ditunggu-tunggu sebentar lagi akan tiba." Jourdy merengkuh sang keponakan. "Setelah kamu menikah, Paman beserta Tante Monic akan kembali ke desa."


Claire menoleh, lantas merendahkan tubuhnya di depan seorang wanita yang duduk di atas kursi roda. Wanita itu membuang muka, seolah tidak ingin melihat wajah keponakannya. "Claire... mohon restu untuk kedua kali pada Tante. Semoga kali ini Tante Monic berkenan memberikan restu."


Monic memutar kepala dan menatap hangat sang keponakan. Dia berusaha untuk mengangkat tangannya yang lumpuh. Telapak tangan itu kini berada tepat di atas pucuk kepala Claire.


Terdengar isakan dari arah Monic dengan bibir yang bergerak-gerak. Namun sayang, sulit untuk memahami apa yang ingin Monic sampaikan. Tapi yang pasti, wanita tua itu telah memberi restu kepada Claire melalui tangannya. Claire langsung memeluk erat Monic dan kembali menangis. Karena akhirnya sang tante bisa menerima dirinya.


"Terima kasih, Tan... terima kasih...."


...*****...


...Mohon maaf ya semalam tidak Up lagi. Karena kondisi badan yang drop ditambah padam listrik πŸ˜‚πŸ™...


...Terima kasih untuk semua yang masih berkenan membaca novel ini. Semoga selalu diberikan kesehatan, di mana pun berada....

__ADS_1


__ADS_2