
...Hari senin, yang mempunyai VOTE Senja tunggu ya di Novel Dokter Rona and Hot Daddy... hehehehe...
...Terimakasih Sebelumnya....
...********...
"Edward ingin berbicara dengan Mama, tolong beri Edward kesempatan, kali ini... saja."
Maria menghela napas dan akhirnya mengizinkan mantan menantunya masuk ke dalam rumah, meski tanpa mempersilakannya untuk duduk.
Edward berjalan beberapa langkah, lalu dia menurunkan tubuhnya di depan Maria, berlutut. Rona terkejut dengan yang dilakukan Edward, sedangkan Maria, dia nampak masa bodoh.
"Cepat katakan kamu mau bicara apa, saya tidak punya banyak waktu!" geram Maria yang mulai curiga dengan maksud kedatangan Edward ke rumahnya.
"Edward mau minta izin Ma... Edward akan menikah lagi...."
Mendengar penuturan mantan menantunya, membuat Maria naik pitam. Dia ingat betul janji yang diucapkan Edward sebelum putrinya meninggal.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Satu minggu lagi Ma...."
"Satu minggu lagi? Semudah itu kamu mengkhianati Marissa, apa kamu lupa dengan janjimu, Edward Liam?"
Edward berjalan ke arah Maria menggunakan lututnya. Dia tidak akan bisa menikah dengan tenang tanpa izin dari Maria. Karena baginya Maria adalah orang tua kedua.
"Anakku mati karenamu, kamu yang sudah membunuhnya Edward!"
Rona terhenyak dengan perkataan Maria. Pantas saja Edward selalu merasa bersalah, itu karena beban di hatinya terlalu berat. Tapi takdir Tuhan siapa yang bisa menentang?
Edward semakin mendekat, dia merundukkan kepala lalu bersyujud di kaki Maria. Maria membuang muka. Bibirnya melipat, menahan tangis yang tidak ingin dia diperlihatkan.
"Edward sampai kapan pun tidak akan mungkin bisa melupakan Marissa karena dia cinta pertama Edward. Tapi untuk kali ini tolong berikan Edward restu untuk melanjutkan hidup...."
Maria mulai menangis, dia paham betul kalau semuanya sudah menjadi suratan takdir. Tapi kematian tragis yang menimpa putrinya, harus ada pihak yang dipersalahkan. Maria bungkam dan terus memalingkan muka.
Rona turut membungkukkan tubuh, kepalanya menyentuh kaki Maria. Tangis Maria semakin berlinang. "Maaf... karena saya yang sudah membuat Edward berpaling dari putrimu dan melupakan janji-janjinya. Janji untuk tidak mencintai wanita lain dan janji tidak akan menikah lagi."
Rona menjeda perkataannya, menelan saliva. "Tapi kami mohon, restui kami. Tanpa restu dari Ibu, kami tidak akan menikah...."
Kedua kelopak mata Edward terbuka dengan lebar, sedangkan Maria ketika dipanggil ibu oleh Rona, hatinya tergetar. Jiwanya tersentuh.
"Baik, saya restui kalian. Tapi... Ezio tetap bersama saya. Karena saya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."
Maria tersedu, tubuhnya bergetar naik turun. Airmata berderai membasahi wajah. Rona memeluk wanita di hadapannya dan sekali lagi memanggilnya ibu.
"Terimakasih sudah merestui kami, Ibu...."
__ADS_1
Maria tak sanggup membalas, dia hanya mengangguk. Lalu membalas pelukan gadis yang dia kenal sebagai dokter sang cucu. Tidak tahu mengapa Maria merasa sangat dekat dengan Rona.
"Matamu Nak, sama persis dengan mata putriku...," Maria membelai wajah Rona dan menatapnya dengan intens.
"Bahagia selalu ya, Nak...."
Rona mengangguk. "Terimakasih, Ibu...."
"Dokter cantik..." teriak anak laki-laki dari arah kamar. Dia mendekap erat tubuh Rona erat dan Rona membalasnya.
"Hai, Ezio... Dokter rindu sama Ezio." Rona menaruh kedua tangannya di atas pundak Ezio.
"Ezio juga rindu sama Dokter cantik," balas Ezio.
"Ezio tidak mau memeluk Daddy?" Edward merentangkan kedua tangan, tapi Ezio bergeming.
"Tidak ah, Ezio ingin sama Dokter cantik saja!" Edward menggaruk-garuk kepala dan Rona tertawa renyah. Maria yang melihat kedekatan Ezio dan Rona, turut tersenyum meski di dalam hatin terbesit kekhawatiran. Dia takut kalau cucu kesayangannya direbut oleh Rona.
"Dokter tidak bisa berlama-lama di sini, tapi dokter janji akan sering-sering menemui Ezio ke sini."
"Janji?"
"Janji!" Rona melingkarkan jari kelingkingnya ke dalam jari kelingking Ezio. Wajah yang ditekuk, tersenyum seketika.
"Bu... kami pamit pulang ya. Kalau Ibu mengizinkan, kami akan sering-sering mengunjungi Ibu dan Ezio." Rona mengecup kening Maria, hati seorang ibu berdesir.
...***...
Suasana di dalam mobil sangat hening. Edward tahu pasti perasaan Rona terluka saat dirinya mengatakan sampai kapan pun tidak akan bisa melupakan mendiang istrinya. Karena Marissa memiliki tempat tersendiri di hatinya.
"Edward?" Rona membuka suara.
"Ya sayang?" sahut Edward.
"Apa maksudmu kita akan menikah satu minggu lagi?"
Kerongkongan Edward terasa tercekat. Diam-diam sebenarnya dia sudah menyiapkan segala sesuatu. Menyiapkan pernikahan impian keduanya. Edward menepikan kendaraan, dia menghela napas. Lalu memposisikan tubuh menghadap arah Rona.
"Aku ingin secepatnya menikah Rona, maaf. Mungkin semuanya begitu mendadak dan terlalu cepat. Dan maaf juga aku merahasiakannya darimu, aku hanya ingin—"
"Stttt...," Rona mengatup bibir Edward dengan jari telunjuk. "Tidak perlu minta maaf. Aku anggap ini bentuk keseriusan kamu, meskipun ya... jujur saja aku terkejut. Karena aku pikir masih ada waktu satu bulan atau dua bulan atau bahkan satu tahun untuk bertahan dengan status lajangku!"
Edward menarik tangan Rona dan menggenggamnya di atas dada. Terasa degup jantung yang menghentak-hentak. "Kamu kan sekarang sedang datang bulan berarti seminggu ke depan, masa subur ya?"
Rona mengerdip-ngerdipkan matanya dengan mulut yang bergerak tanpa suara. Dia pikir Edward akan mengatakan sesuatu yang romantis atau menciumnya seperti biasa, tapi ternyata dugaannya salah.
Dengan malu-malu Rona menjawab, "I- iya memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Kita gempur tiap waktu ya, biar kamu cepat mengandung. Kalau bisa setiap jam!" ujar Edward sembari mengelus perut Rona.
Rona tertawa lebar tanpa ekpresi mendengar celotehan Edward yang menggelikan. "Bisa-bisa sebelum mengandung aku sudah mati!"
Edward mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Kenapa?" ulang Rona. "Bermain satu kali saja kamu membuatku kewalahan Edward. Persendian sakit, bagian intiku pedih. Belum lagi tanda merah di sekujur tubuh!"
Edward terpingkal mendengar ucapan Rona. Dia memang menggempur gadisnya habis-habisan setelah tahu wanita yang tiduri masih tersegel dengan rapat.
"Maaf... nanti aku minum obat kuat deh, biar semakin perkasa!"
Rona melotot lalu memukul pelan dada Edward. Edward tertawa dan menarik tubuh Rona ke dalam pelukan. "I love you, Dokter Rona...."
...***...
Seorang laki-laki keluar dari balik pintu kamar mandi dengan wajah ditekuk dan raut wajah memelas. Bagaimana tidak, wajahnya yang cute semakin menggemaskan karna t-shirt yang dia kenakan. Dia berdiri di depan cermin lalu berputar-putar, seperti seorang ballerina. Lalu menghembuskan napas dengan tubuh membungkuk.
"Kamu tampan sekali Feliks!" cibir Claire.
"Kamu tampan sekali Feliks!" ulang Feliks seraya mencebikkan bibirnya karena jengkel, sementara Claire dengan susah payah menahan tawa.
"Sana pulang!" usir Claire. Dia mendorong punggung Feliks keluar dari kamarnya.
"Aku lapar, dari kemarin belum makan!" rengek Feliks. Dia melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja, langsung saja mendaratkan tubuh tanpa diminta.
"Spaghetti? Wow kebetulan nih!" Feliks hendak melahap makanan yang tertata di atas piring. Namun, kuku tajam menancap di kupingnya.
"Itu punyaku Tuan Feliks, kalau kamu lapar bisa makan di Cafe atau di street food!" Claire menarik kasar lengan Feliks lalu menyeretnya keluar dari apartemen. Nampak Nath sedang mondar-mandir di depan flat milik Claire.
"Kenapa kamu masih di sini?"
...*****...
...Alhamdulillah Novel Dokter Rona sudah menginjak Bab ke- 50. Terimakasih Senja ucapkan untuk semua dukungan teman-teman. Doaku untuk semua, semoga selalu dalam keberkahan dan selalu dalam kebahagiaan....
...Sekali lagi terimakasih......
...Untuk teman-teman yang berkenan, Senja tunggu VOTE-nya ya sebagai penyemangat. Hehehe.. Yang mau memberi hadiah, favorite, like dan comment, juga ditunggu sekali :D...
...Mohon maaf tidak terscreen shoot semua,...
__ADS_1