Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Leona and Roland's Wedding


__ADS_3

Malam ini sebuah status akan berubah, hidup yang dilalui seorang diri akan berjalan beriringan. Kebahagiaan datang, kesedihan berlalu pergi. Menggapai mahligai rumah tangga, sehidup semati.


"Kamu cantik sekali sayang..." puji Amber menatap anak gadisnya yang berbalut gaun pengantin berwarna putih. Begitu indah dan sakral.


"Aku nervous Mom...!" Leona menggenggam erat jemari Amber, tangannya terasa dingin dan basah.


"Rileks saja sayang... sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Brooks. Hidupmu akan bahagia karena bergelimangan harta." Amber mengusap rambut Leona lalu mengecup pucuk kepala .


"Aku tidak berharap itu semua Mom, yang aku inginkan hanya kebahagiaan," sergah Leona yang bosan mendengar kata harta dari mulut ibunya.


Richard mengintip dari balik pintu, dia menyadari kalau selama ini yang Amber pikirkan hanyalah harta dan harta. Dia tidak pernah tulus mencintainya juga anak-anaknya.


Acara pemberkatan akan segera dimulai, Leona keluar dari kamar lalu disambut hangat oleh Richard. Dia melingkarkan tangan ke dalam lengan ayahnya.


Malam ini Leona bak putri kerajaan, paras cantik dan kulit yang berkilau membuat takjub semua orang. Hanya sepasang mata yang tidak tertarik untuk melihatnya, dia lebih menikmati wajah sederhana yang sudah mencuri hatinya.


"Apa kalian berjanji akan setia sehidup semati?"


"Iya, kami berjanji!"


"Apa kalian berjanji akan saling mencintai?"


"Iya, kami berjanji!"


"Atas nama Tuhan, kalian kini menjadi suami istri."


Tangis haru dan senyum bahagia tersimpul dari wajah Leona. Dia akhirnya bisa menikah dengan pria idamannya tanpa hambatan apa pun.


"I love you my husband..." ucap Leona antusias.


"I love you too..." jawab Roland.


Leona mendekat untuk menyambut ciuman pertamanya. Roland tersenyum menatap gadis yang sudah menjadi istrinya. Dia mengusap bibir mungil dan perlahan memiringkan wajah. Dia mengecup bibir Leona lalu menikmati ciumannya. Namun, kedua netra menatap ke arah wanita lain.

__ADS_1


Acara resepsi pernikahan diadakan di gedung utama hotel. Semua dipersiapkan semewah mungkin. Para tamu undangan dari kedua mempelai berdatangan silih berganti memberi ucapan selamat dan juga untaian doa kebaikan.


"Selamat ya sayang..." ucap Rona tulus untuk adik iparnya.


"Terima kasih banyak Kak... maaf Leona banyak menyusahkan!" Leona memeluk erat tubuh Rona.


"Selamat...!" Rona mengulurkan tangan ke arah laki-laki yang kini menjadi iparnya. Roland membalas uluran tangan Rona dan menjabatnya dengan tatapan mendamba.


Edward yang tidak senang dengan sikap Roland, dia berbisik di telinga iparnya. "Jaga matamu. Kalau tidak mau saya congkel dari tempatnya!"


Roland tersenyum sinis seolah meremehkan, Edward memilih untuk tidak menggubrisnya. Dia lebih senang memperlihatkan kemesraan dengan Rona di depan Roland karena hanya itu yang bisa membuat sang ipar kelojotan.


Roland terus menatap ke arah Edward yang melingkarkan tangan ke pinggang Rona seraya memangku Ezio. Matanya terus mengikuti kemana arah langkah keduanya berjalan, sementara Leona yang sedari tadi memanggil, dia acuhkan.


"Kak Roland... Kak?! Kakak lihat apa sih?" Leona menggoyang-goyangkan lengan Roland.


"Apa sih, mengganggu saja!" Roland meninggalkan Leona seorang diri di atas pelaminan. Dia memilih bercengkerama dengan teman-temannya seraya menikmati minuman beralkohol. Tetapi lagi-lagi pandangannya tidak bisa dia alihkan, manik mata mengunci wajah Rona yang nampak bahagia.


"Pesonamu selalu mengganggu hidupku, Rona!"


"Boleh saya duduk di sini, Kakak ipar?" Tanpa menunggu persetujuan, Roland menarik kursi kosong lalu duduk berhadapan dengan Rona. Dia menopang kedua wajah menggunakan tangan, dengan sengaja menatap intens wanita yang sudah bersuami.


"Pelayan!" panggil Rona. Dia meraih satu gelas minuman lalu mengguyur kepala pria yang menatap tidak sopan ke arahnya. Tentu saja aksinya ini menjadi perhatian orang-orang terlebih adik iparnya.


Leona yang melihat kejadian di depannya langsung berjalan terburu-buru. "Kak Rona kenapa menyiram suamiku?"


"Maaf, aku tidak sengaja Leona..." kilah Rona.


"Kakak tidak perlu beralasan, Leona melihat dengan mata dan kepala sendiri, kalau Kak Rona menyiram suamiku dengan sengaja!" sentak Leona.


"Sudah jangan ribut, malu sama tamu undangan!" tegur Roland pada istrinya. Dia menarik tangan Leona dan mengajak ke kamar mandi untuk membersihkan pakaiannya.


Rona menatap sendu ke arah Edward. "Maaf, aku sud—" Perkataan Rona terpotong karena Edward menempelkan jari telunjuknya di atas bibir Rona.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang... barusan aku malah akan menghajar mukanya, tapi kamu sudah mendahuluiku!" kekeh Edward yang menggenggam tangan Rona. "Lebih baik kita istirahat lebih dulu, Ezio juga sudah kelelahan."


Rona mengangguk dan beranjak dari tempatnya. Dia berjalan berdampingan dengan Edward. Namun, tangan seseorang mencekal dengan kasar.


"Dasar wanita tidak tahu diri!" Amber mengangkat tangan, sebuah tamparan hampir saja mengenai pipi Rona. Tapi Richard menggagalkan aksi tidak terpuji Amber. Dia menyeret istrinya itu membawa ke tempat sepi.


"Apa-apaan kamu Amber? Kamu mau mempermalukan keluarga Liam?" bentak Richard kesal.


"Apa Papa tidak melihat, menantu kesayangan Papa mengguyur menantuku di hadapan orang-orang?" sergah Amber tidak mau kalah.


"Aku lihat semuanya Amber dan Roland pantas mendapatkannya!" Richard memutar badan lalu meninggalkan Amber yang masih bersungut-sungut mengucapkan sumpah serapah.


Acara resepsi pernikahan telah selesai, semua menempati kamar masing-masing untuk beristirahat terutama pasangan pengantin baru. Roland mengangkat tubuh Leona ala bridal style dari atas pelaminan menuju kamar pengantin. Orang-orang bersorak sorai melihat sweet couple yang memperlihatkan kemesraan.


Dibantu seorang bell boy, Roland masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu menggunakan kakinya. Leona yang merasa bahagia, senyuman terus saja terlukis. Namun, senyum itu sirna saat Roland melempar Leona dengan kasar ke atas ranjang.


"Aw... pelan Kak. Leona kan, sedang hamil!" protes Leona seraya memegangi pinggangnya.


Mendengar perkataan Leona, hati Roland sedikit tersentuh. "Maafkan Kakak ya, Kakak tidak sengaja." Roland mengusap-usap punggung Leona.


Melihat wanita cantik di depan mata, keinginan bercinta mulai menjalari tubuh. Tangan Roland yang semula mengusap lembut kini menarik resleting gaun pengantin. Punggung mulus terekspos dengan bagian dada yang masih tertutup karena Leona menahannya.


"Lepas tanganmu sayang... bukankah tubuhmu telah menjadi milikku?" Roland menarik tangan Leona, pakaian pengantin terlepas begitu saja. Keindahan yang pertama kali dia lihat, membuat Roland meneguk saliva dengan kasar.


"Aku ingin mencicipi tubuhmu, Leona..." bisik Roland di telinga istrinya. Dia mengendus ceruk leher, Leona mendongak.


"Kamu suka main kasar atau lembut sayang..." tanya Roland menggoda.


"Aku tidak tau Kak, aku baru melakukannya sekali. Itu pun karena Leona diperkosa!"


Roland mengangguk. "Aku akan melakukannya dengan lembut kalau begitu...."


Roland melucuti pakaiannya, gairah nafsuu membayang di dalam manik mata. Perlahan namun pasti, sebuah penyatuan di malam pertama dia berikan untuk gadis polos yang belum memahami, bahwa cinta suaminya bukan untuknya.

__ADS_1


...*****...


...Terimakasih untuk semua yang masih setia membaca karyaku. Semoga terus bisa dinikmati dan semoga tidak pernah bosan. Aamiin......


__ADS_2