Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Donor Mata


__ADS_3

...Seakan angin, kau ada tetapi hanya bisa dirasa. Setiap tetesan hujan, dawaimu bersenandung. Seakan bernada. Namun, tak bersuara. Buih-buih wajahmu larut diterjang pikiran. Yang terbuntu kaku dalam hati yang beku. Dan ternyata, kamu hanya semu....


...(Senja Merona)...


...*****...


Langkah kaki panjang menuruni deretan tangga. Setapak demi setapak tapi pasti, dia meninggalkan Rumah Sakit yang telah membesarkan namanya. Sungguh berat baginya, akan tetapi untuk mempertahankan akan jauh lebih beresiko.


"Huh... pria laknat. Bisa-bisanya memanfaatkan keadaan?!" Rona menggebrag kemudi melampiaskan kekesalan. Dia menatap bangunan yang banyak menyimpan kenangan, tidak terasa air mata menitik membasahi pipi. Namun, Rona tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan. Dia memutar kunci lalu menyalakan mesin mobil, melaju tanpa arah tujuan.


"Masih pagi... aku ke mana ya?" Rona menatap jam yang menunjukkan pukul sepuluh. "Kalau aku pulang sekarang, kasihan Edward dia pasti bertanya-tanya dan aku hanya akan menambah beban pikiran!"


Akhirnya Rona membawa kendaraannya ke suatu tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi. Dia menepikan kendaraan roda empat di depan gerbang tinggi. Lalu memasuki istana rumah masa depan, tempat berpulang dari segala kesunyian.


Di depan sebuah pusara seseorang yang tak pernah dia temui, Rona merundukkan tubuhnya. "Hai... apa kabar? Maaf aku baru sempat menemuimu lagi. Apa kamu bahagia di surga sana?"


Rona membelai pusara tanpa nama tersebut. "Aku sampai saat ini tidak tahu siapa kamu, siapa namamu. Namun, kedua mata indahmu ini selalu menemani setiap langkah dalam hidupku. Terima kasih karenamu aku bisa melihat dunia kembali. Bahagialah di sana, di tempat terindah...."


Seseorang berdiri bersandar ke batang pohon, memperhatikan seorang wanita yang tengah berbicara seorang diri.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Seseorang itu bertanya dengan serius saat Rona melintas. Rona memutar kepala dan mendapati Maria yang tengah menuntun Ezio.


"Mama? Ezio? Kalian juga ada di sini?" Rona balik bertanya.


Maria mendekat lalu meraba wajah Rona, dia terisak kemudian mendekap. "Apa kamu tahu itu makam siapa?"


Rona menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu Ma, yang aku tahu wanita yang bersemayam di dalam sana adalah seorang malaikat," jawab Rona bingung dengan sikap Maria.


"Itu makam putriku, Nak... makam Marissa!" ungkap Maria tersedu. "Jadi mata yang kamu miliki saat ini adalah mata Marissa. Pantas saja saat pertama melihatmu, Mama langsung merasa dekat."


Rona mengeratkan pelukannya. Betapa Tuhan memiliki rencana-rencana indah untuknya.


"Sebelum putriku mengalami tragedi mengenaskan itu, dia pernah berpesan kalau suatu saat dia meninggal, ingin mendonorkan matanya pada wanita yang pernah menolongnya, hingga wanita itu mengalami kebutaan. Dan itu ternyata kamu Nak...!" Tangis Maria semakin kencang, dia meraung-raung di dalam pelukan Rona.


"Apa pun yang kamu inginkan, Mama akan memberikannya..." sambung Maria.


Air mata wanita muda itu turut berlinang, segala yang terjadi dalam hidup bagai sebuah rangkaian. Saling bertaut dan saling berhubungan.


Ezio hanya menatap polos pada dua wanita dewasa yang berpelukan dengan berbagi isakan. Usianya belum cukup untuk memahami apa yang telah terjadi. Yang dia mengerti, dia hanya ingin seperti teman-temannya yang lain memiliki keluarga yang utuh.

__ADS_1


"Mama titip Ezio ya... Mama sudah tenang sekarang kalau suatu saat Tuhan memanggil Mama. Karena meninggalkan Ezio dengan wanita baik sepertimu." Maria membelai wajah Rona lalu memberikan berkat.


"Jangan bicara seperti itu Ma... kita akan bersama-sama membesarkan Ezio...."


...***...


Edward berjalan ke sana kemari menunggu kepulangan sang istri. Setelah dia mendapati kabar dari orang kepercayaan bahwa istrinya sejak pagi meninggalkan Rumah Sakit, dia sangat gusar dan tidak tenang.


"Kemana kamu sayang...?"


Matanya terperangah, ketika handle ditarik lalu daun pintu terbuka. Dia mendapati sang istri yang tengah memangku anak lelakinya.


"Sayang... Ezio... kalian...?" Edward memeluk keduanya dengan penuh haru.


"Ba- bagaimana Ezio bisa denganmu? Mama mana?" Edward keluar kamar mencari keberadaan Maria.


"Mama memberikan Ezio pada kita, Edward...."


"Ma- maksud memberikan?" Mata Edward membulat.


"Iya... mama memberikan hak asuh Ezio pada kita," ucap Rona sumringah.


Rona menurunkan tubuh Ezio lalu menarik tangan suaminya. Kemudian diarahkan ke kelopak mata yang tertutup. "Kamu mengenali mata ini, kan?"


Edward mengangguk. "Matamu sama persis dengan mata mendiang Marissa. Lalu apa hubungannya?"


Rona membuka matanya kemudian menatap pupil mata yang membesar. "Ini mata Marissa... mata yang bersarang di wajahku, adalah mata Marissa...."


Edward bimbang haruskah bahagia atau sebaliknya mendengar kenyataan ini. Namun, Rona menyodorkan sebuah surat yang di dalamnya bertuliskan tangan Marissa. Berisi pesan mengenai keinginan untuk mendonorkan mata.


"Jadi kamu wanita yang sering disebutkan istriku... dia selalu memintaku untuk menikahi wanita yang sudah menolongnya. Namun, aku anggap permintaan Marissa bagai angin lalu. Dan ternyata Tuhan mentakdirkan kita bersama." Edward merengkuh istrinya, tubuhnya bergetar.


"Tuhan Maha Baik Rona... di saat kita tengah terpuruk, Dia memberikan kasih sayang-Nya melalui cara yang lain...."


"Mommy, Daddy... kenapa menangis? Kata oma, yang suka nangis itu namanya anak kecil!" celoteh Ezio membuat keduanya tertawa. Edward mengangkat tubuh Ezio lalu membawanya ke atas ranjang. Dia menggelitik tubuh Ezio disertai hujan kecupan. Ezio tergelak, Edward terpingkal.


Amber yang sedari tadi menguping, dia merusak suasana kebahagiaan keluarga kecil dengan menerobos masuk ke dalam kamar tanpa dipersilakan. "Eh, ada cucu Oma yang tampan. Sini sama Oma!"


Ezio menatap Edward lalu beralih menoleh ke arah Rona. Dia bersembunyi di belakang tubuh Edward karena merasa takut melihat wajah Amber.

__ADS_1


"Daddy, kenapa dia bilang dia Omaku? Omaku kan, cuman oma Maria!" Ezio memegang celana Edward dengan rekat.


"Rona... jangan menodai pikiran anak kecil dengan mulut busukmu itu! Saya tahu, Ezio takut pada saya karena dipengaruhi oleh otak jahatmu!"


Edward mendengus jengah. "Mom... berhenti menghina istriku! Atau—"


"Atau apa?" Amber memotong perkataan Edward.


"Atau aku bongkar semua kebusukanmu, Amber!" ancam Edward tidak main-main. Amber berteriak lalu keluar dari kamar Edward seraya mencerna apa yang dikatakan anak tirinya.


"Apa yang Edward ketahui tentangku?"


...***...


"Claire ini aku, buka pintunya!" Feliks mengetuk-ngetuk pintu apartemen. Namun, Claire mengacuhkannya.


Feliks terus berteriak dan mengganggu kenyamanan penghuni flat, hingga pada akhirnya dia terpaksa membukakan pintu. Karena yang mengetuk pintu dan memanggil namanya, semua orang yang tinggal berdampingan dengannya.


"Ma-maaf sudah mengganggu. Terima kasih atas perhatiannya...!" Claire membungkukkan badan berkali-kali kepada semua orang karena kelakuan laki-laki yang menyeringai bak tanpa dosa.


"Mau apa sih?" tanya Claire malas. Dia mendaratkan tubuhnya di atas sofa dengan hembusan napas yang kasar.


"Aku rindu..." lirih Feliks. Wajahnya yang tampan berubah menjadi cute.


Claire menggerluh. "Cepat katakan ada apa, jangan mengalihkan pembicaraan. Sebentar lagi aku mau berangkat ke Rumah Sakit!"


"Rumah Sakit milik Edward, sudah berpindah tangan. Sekarang Rumah Sakit itu milik Roland Brooks!" ungkap Feliks langsung pada intinya.


"Hah, apa? Tapi bagaimana bisa?" Claire menarik rambutnya kasar. "Siapa tadi katamu, Roland? Roland... laki-laki menyebalkan yang menemui kita waktu di cottage?" tanya Claire memastikan.


"Iya, laki-laki itu..." jawab Feliks apa adanya.


"Astaga... nasibmu Rona, ada saja yang mengusik kebahagiaan...."


...*****...


...Satu persatu rahasia terkuak ya... semoga rahasia Amber juga cepat terbuka lebar....


...Terimakasih untuk semua yang selalu setia dengan novelku ini....

__ADS_1


...Semoga selalu diberkahi dengan kesehatan dan kebahagiaan....


__ADS_2