Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Pembalasan Dendam (2)


__ADS_3

Tersisa satu hari lagi, hari bahagia yang dinanti akan bersemi. Esok malam akan menjadi saksi bersatunya cinta dalam sebuah ikatan suci. Ikatan yang tidak akan mudah terkoyak, meski badai ujian datang menguji.


Kali ini dua raga yang sudah terbiasa bersama, harus berpisah untuk sementara. Dan bertemu kembali, di depan altar untuk mengucapkan janji setia.


"Apa kamu bahagia akan menikah denganku, Rona?" Edward menoleh ke arah gadis yang tengah menikmati ice cream cokelat.


"Menurutmu?" Rona menoleh ke arah Edward sekilas, lalu kembali melumatt ice cream yang mulai mencair.


"Mana aku tahu, aku kan bukan paranormal!" Edward membuang napas gusar. Satu hari menuju pernikahan, ntah mengapa dia tiba-tiba merasa ragu. Ragu akan perasaan Rona terhadapnya.


"Kamu benar mencintaiku?" Edward kembali bertanya lalu menepikan kendaraannya. Dia tiba-tiba terdiam dengan tatapan yang kosong.


"Edward... hey Edward..." panggil Rona sembari memiringkan kepalanya. "Is there something wrong?"


Edward menggelengkan kepala, menoleh ke arah Rona sekilas lalu kembali ke posisi semula. Matanya terpejam dengan tarikan napas yang teratur.


"Ayolah Edward ... besok kita akan menikah, jangan membuat perasaanku terombang-ambing seperti ini. Kamu tahu betul kalau aku mencintaimu...."


"Ntahlah Rona, aku tiba-tiba teringat dosa yang kuperbuat, rasa-rasanya aku terlalu beruntung. Apa karena Tuhan sayang? Ah tidak, mana mungkin Tuhan menyayangi pendosa sepertiku!"


"Kepalamu habis kepentok kukira, tiba-tiba meracau tidak jelas!" cibir Rona.


Edward terkekeh, "Kenapa kamu lucu sekali, Sayang?"


"Aku bukan badut!" rengek Rona. Dia melipat bibirnya dan menekuk wajah hingga muncul lipatan di lehernya.


Edward mencondongkan tubuhnya seraya menarik senyuman. Rona sudah membayangkan adegan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, dia salah terka karena ternyata Edward terbahak sambil menatapnya.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Lihat ini!" Edward menarik sun visor yang terdapat cermin di dalamnya. Rona mendekatkan wajah, terlihat olehnya lelehan es krim yang berceceran di sekitar bibir.


"Oh My God... Edward tolong ambilkan aku tisu!" tunjuk Rona pada benda yang berada di atas dashboard.


Rona masih memperhatikan wajahnya dari depan cermin dan Edward masih saja bergeming. "Tolong ambilkan aku tisu Edward, ini sungguh memalukan!"


Edward menarik rahang Rona lalu melumatt bibir kekasihnya, memagut dengan sempurna. "Em... manis. Tuh sudah bersih sekarang!"


Mulut Rona terbuka lebar dengan mata yang mengerjap cepat. Dia menelan saliva kasar, tingkah Edward selalu saja membuatnya terkejut. "Tak bisakah kamu bersikap wajar, Edward?"


"Yups... tidak bisa. Karenamu aku semakin gila...."


"Huh... semakin lama, kamu semakin menggelikan Edward!" cerca Rona seraya mengerlingkan mata.


"Uh... my wife merajuk," goda Edward. Dia memutar kunci dan menyalakan mobilnya kembali.


...***...

__ADS_1


Malam ini angin begitu dingin menusuk tulang. Pikiran-pikiran buruk seolah mengaduk-aduk perasaan. Disertai hati yang diselimuti ketakutan. Rasa bahagia bercampur padu dengan kekhawatiran, melebur menjadi satu.


"Edward... ayolah buka central lock-nya, aku mau keluar. Aku mengantuk, aku ingin tidur!" rengek Rona.


"Iya maaf sayang... mungkin karena beberapa bulan ini kita satu atap, satu ranjang. Jadi terasa berat kalau harus berjauhan meskipun hanya satu malam..." ujar Edward seraya membuka kunci pintu mobil.


"Kamu terlalu berlebihan, Edward!" timpal Rona yang melepas seat belt lalu keluar dari mobil.


"Kamu hati-hati ya, istirahat yang cukup..." tambah Rona. Dia melambaikan tangan lalu masuk ke dalam apartemen. Sedangkan Edward menginjak pedal gas, memajukan kembali kendaraannya.


Sebuah mobil hitam yang tengah mengintai sedari tadi mulai membuntuti Edward dengan memberi jarak.


xxx


Lapor Bos, target sudah terkunci!


yyy


Lakukan semua sesuai dengan rencana!


xxx


Siap, Bos


yyy


xxx


Beres Bos!


"Satu persatu rencanaku berjalan dengan sempurna, tinggal tahap terakhir dari pembalasan dendam yang sungguh sepadan!"


...***...


"Sepertinya mobil itu mengikutiku!" Edward memperhatikan mobil di belakangnya dari balik spion. Namun, dia berusaha melajukan mobil dengan tetap tenang sembari menikmati dentuman suara musik.


Seorang pria mengenakan penutup wajah menyembul dari balik jendela sembari memegang senapan. Edward sontak memajukan mobil dengan kecepatan maksimal untuk menghindari serangan dari kendaraan yang tengah mengikutinya. Mobil di belakangnya turut melaju dengan cepat. Dan akhirnya terjadi aksi kejar-kejaran.


Beberapa kali tembakan diluncurkan, tapi untungnya meleset. Edward menambah kecepatan, dia terus berusaha menghindar dari tembakan yang diarahkan kepadanya.


Edward menyalip, menyisip dan melewati kendaraan-kendaraan di depannya. Suara klakson tidak luput menghiasi aksi kejar-kejaran. Dengan lihai, dia memainkan tuas rem dan gas mengelabui pengendara misterius. Namun naas, karena terlalu fokus dengan kendaraan yang membuntuti, Edward tidak memperhatikan truk tronton yang melaju kencang ke arahnya di persimpangan jalan.


Mobil Edward dihantam keras tanpa bisa sedikit pun menghindar. Mobil pria itu terseret jauh dan terjungkal lalu berguling-guling ke dasar jurang. Tidak berapa lama, boom. Mobil yang dikendarai Edward meledak sangat dahsyat.


Api yang membara dan kepulan asap hitam diabadikan dalam bentuk video, para penguntit tertawa puas karena pekerjaan mereka bisa diselesaikan dengan cepat tanpa hambatan berarti.


xxx

__ADS_1


Lapor Bos, target terjun ke jurang


yyy


Sudah dipastikan dia mati?


xxx


Mobil meledak dan jurang sangat dalam, saya pastikan dia sudah mati


Saya kirimkan video mobil target yang hangus


yyy


Bagus!


Saya puas dengan hasil kerjamu!


...***...


"Surprise...!" Claire dan Nath menyambut kepulangan Rona ke apartemen. Mereka telah mempersiapkan Bridal Shower untuk sahabatnya.


"Wow... ini indah sekali!" Rona menatap ke sekeliling yang dihiasai pernak-pernak dan ornamen yang didominasi warna merah muda. Matanya berkaca-kaca karena rasa bahagia dan penuh haru.


"Besok kamu akan menjadi Nyonya Edward Liam," ujar Claire yang menyematkan mahkota kecil di kepala Rona.


Rona tertawa. "Terimakasih sayangku...."


"Dan ini untukmu." Nath menyodorkan tumpukan kotak hadiah.


"Sebanyak ini?" tanya Rona yang kewalahan memegangi pemberian Nath dan akhirnya sebagian kotak harus terjatuh. Rona menyimpan hadiah-hadiah tersebut di atas meja, dan tiba-tiba...


Claire menyorongkan satu buah cake ke wajah Rona. Sahabat-sahabatnya terpingkal sedangkan Rona merengut.


"Kamu usil sekali Claire!" cibir Rona. Claire masih saja tertawa karena wajah Rona terlihat sangat konyol.


"Semoga kamu bahagia ya Rona!" Nath memeluk Rona. "Meski jujur saja aku sampai saat ini tidak rela kamu akan menikah dengan pria bajingan itu ... tapi melihat kamu bahagia, aku turut bahagia."


Rona membalas pelukan Nath. "Ah.... so sweet, kalian memang sahabat terbaikku." Claire turut memeluk kedua sahabatnya dengan hangat.


Claire berdiri lalu meraih tiga sloki minuman. Rona melipat bibirnya tidak suka. "Ayolah Claire aku tidak suka minuman itu."


"Satu kali ini saja, satu gelas. Ok?" pinta Claire seraya menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol. Rona menarik gelas yang disodorkan padanya. Namun, tangannya tiba-tiba bergetar. Gelas yang belum sempat Rona genggam, pecah berserakan.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak?"


...******...

__ADS_1


...Mohon maaf kemarin hanya Up satu bab. Bab yang ini seharusnya buat kemarin malam. Cuman karena sedikit kesalahan, jadi semuanya terhapus dan tidak ada salinannya. Jadi harus berpikir dan mengetik ulang 🙏...


__ADS_2