Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Sisi Lain Edward


__ADS_3

Edward memasukkan flashdisk ke dalam USB port laptopnya dan memutar video rekaman CCTV, nampak sangat jelas wajah Si pengendara berikut nomor plat kendaraan, urat di wajah Edward menegang dengan rahang yang mengeras. Dia menggebrag meja seraya berteriak, "Ah... wanita sialan. Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran!"


Edward merogoh ponsel di dalam saku jasnya, lalu menghubungi seseorang.


Edward


Saya ada tugas buat kamu!


Xxx


Apa itu bos?


Edward


Seret wanita yang saya kirim fotonya, dan bawa ke hadapan saya!


Xxx


Bayarannya bagaimana bos?


Edward


Aman!


Xxx


Siap, perintah dilaksanakan!


Edward menutup teleponnya lalu mengangkat kedua kaki ke atas meja, sembari menikmati nikotin yang tengah dia sesap dengan asap putih yang mengepul. Tidak lupa satu botol minuman keras tersimpan di sampingnya, untuk dia tenggak saat melepaskan rasa dahaga.


Bayangan wajah wanita yang akan dia beri pelajaran berkelebatan di depan mata. Dia memikirkan hukuman apa yang pantas untuk seseorang yang telah berupaya mencelakai gadisnya.


"Arabella, Si ular licik kamu telah salah mencari musuh. Aku akan sedikit bermain-main denganmu...."


____

__ADS_1


Seorang gadis seksi nan glamor tengah menghambur-hamburkan kekayaan milik orang tuanya, dengan bermain judi di sebuah klub malam. Dia berkali-kali kalah dalam taruhan namun tidak ada rasa jera. Bibir ranumnya menyesap lintingan yang berisi nikotin, dengan tangan kiri menggenggam gelas sloki.


Umpatan demi umpatan lolos dari bibir bergincu, merutuk karena nasib sial yang menyapanya malam ini. Black card yang dimilikinya dia gunakan tanpa batasan, ntah sudah berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk hal yang tidak berguna.


"Damn! Benar-benar sial!" Arabella melempar gelas berisi minuman ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


"Aku menyerah! Aku sudah menghabiskan ratusan ribu dollar, sial!" rutuknya seraya bangkit dari kursi panasnya. Semua orang tersenyum meremehkan gadis kaya raya tapi isi otaknya kopong.


Arabella berjalan sedikit sempoyongan, karena malam ini dia menenggak minuman keras lebih banyak dari biasanya, melampiaskan kekesalan pada cairan memabukkan.


Dia menuju tempat parkir dan masuk ke dalam mobil sport mewah keluaran terbaru yang hanya ada 5 unit di dunia. Arabella mulai melajukan kendaraannya ditemani dentuman suara musik yang memekikkan telinga. Dia menyetir seraya menggoyang-goyangkan badannya, diselingi teriakan dan pekikan menirukan lirik lagu.


Kepalanya manggut-manggut dengan mata yang sedikit teler, dia tidak menyadari kalau saat ini tengah dibuntuti sebuah mobil sejak bertolak dari klub malam. Dia asyik menikmati hentakkan musik, hingga di jalanan yang sepi mobil yang mengikutinya menghadang mobilnya. Arabella menghentikan laju kendaraannya seketika, dia bersungut-sungut kemudian keluar dari mobil seraya menggenggam stik bisbol.


"Siapa kalian hah?" bentak Arabella pada beberapa pria yang mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah berwarna senada. Dia melayangkan benda keras di tangannya ke sembarang arah dan berhasil mengenai badan dua pria yang menghadangnya.


"Ayo sini kalau berani!" tantang Arabella. Ketika tiga pria tengah mengalihkan perhatiannya, satu pria menikung dari balik punggung lalu membekap mulut Bella dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dalam hitungan detik, gadis itu hilang kesadaran dan tubuhnya dibopong para penculik.


____


Seorang pria menyeringai di antara pencahayaan yang remang-remang. Lampu gantung berderit bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Terlihat Si tawanan masih dalam pengaruh obat bius.


"Siram wanita ini dengan air es!" titah Edward. Seorang pesuruh membawa air dingin di dalam ember lalu menyiramkannya ke arah Arabella. Gadis itu terbangun namun masih dalam kondisi setengah tersadar.


Hemp... hemp... suara teriakan dari balik sumpalan di mulutnya. Arabella yang kesadarannnya berangsur pulih mulai meronta-ronta dan menendang-nendangkan kedua kakinya, namun hanya rasa lelah yang dia dapatkan.


"Buka sumpalan mulutnya!" titah Edward. Arabella mencoba mengenali suara pria yang tidak asing di telinga.


"Edward?" terka gadis yang tengah disekap. "Lepaskan aku bajingann!" raung Bella. Edward mendekat seraya membuka kain penutup mata.


Mata Bella mengerjap lalu menyipit, membiasakan indera penglihatannya dengan cahaya lampu yang menyoroti dirinya dan Edward bergantian.


"Kenapa menculikku Edward?" Suara Bella merendah. Dia memasang wajah genit selayaknya seorang wanita murahan.


"Kamu tidak perlu membawaku diam-diam seperti ini. Kalau kamu menginginkanku, dengan senang hati aku akan menyerahkan diri," tambah Bella yang berusaha menggoda.

__ADS_1


Edward menodongkan sebuah belati ke leher Arabella dan memaksa gadis itu untuk mendongak. Sorotan membunuh dari mata Edward menciutkan nyalinya.


"Kenapa bungkam sayang, bukankah tadi sangat semangat menggodaku?" cibir Edward. Dia memainkan belatinya ke pipi mulus Arabella, dan tubuh gadis itu mulai bergetar.


"Ka-kamu mau apa?" tanya Arabella. Terlihat bola matanya kini berkaca-kaca.


"Aku ingin sedikit bermain-main denganmu, gadis nakal!" jawab Edward. Dia mengoyak dress milik Arabella membuat tubuh indahnya terekspos sangat jelas. Binatang-binatang peliharaan Edward menahan saliva dan barang mereka yang kontan saja menegang.


Edward menarik rambut Arabella membuat wajah gadis di hadapannya mendangak. Arabella mengeluh kesakitan, namun cengkeraman Erward di rambutnya semakin mengencang. "Kenapa kamu mau menabrak Rona hah? Dan apa kamu pikir aku tidak akan tahu?"


Arabella menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia mulai meraung-raung saat belati yang digenggam Edward kini menancap di atas kaki kanannya. "Ampun... tolong lepaskan aku Edward. Ini sakit sekali...."


"Sakit? Wanita iblis sepertimu masih bisa merasakan sakit? Ah aku tidak yakin!" Edward menarik belati itu, lalu menghunuskannya ke kaki kiri Arabella sebanyak dua kali. Darah segar kini mengucur dari kedua kakinya.


"Ahrgh...!" pekik Arabella kesakitan. Airmata berlinang di wajahnya karena menahan rasa pedih pada lukanya. Belum sampai di situ, Edward menggerakan jari telunjuknya, dan salah seorang pria berotot memberikan satu plastik garam. Edward menaburkannya sejumput demi sejumput ke atas luka, Arabella menjerit suara paraunya terdengar sangat menyayat hati.


"Ini pelajaran karena kamu berani mengusik wanitaku!" geram Edward. Arabella tidak menjawab, yang terdengar dari bibirnya hanya isakan. Tubuhnya kini melemah dengan wajah pucat pudar bagaikan mayat.


"Panggil dokter Leo, suruh dia obati dulu luka gadis ini. Aku masih ingin bermain-main dengannya!" titah Edward pada salah satu orang suruhannya.


Salah satu anak buah Edward memanggil orang yang dimaksud, sedangkan dua orang lagi memindahkan tubuh Arabella ke atas ranjang. Mereka bergidig melihat luka di atas paha Arabella, namun ketika mata keduanya melihat gundukan yang terpampang jelas, jiwa kelelakian tiba-tiba mencuat. Tangan kasar mereka meremass benda kenyal yang menggoda hasrat sembari clengak-clinguk karena khawatir Si bos akan melihatnya.


"Sabarlah sebentar, wanita ini nanti akan menjadi mainan kalian," cakap Edward yang tiba-tiba muncul sembari tersenyum licik.


Bersambung...


...*****...


...Ditunggu kritik dan saran yang membangun ya readers.....


...Plus like, comment, hadiah, favorite, vote dan rate 5 stars....


...Terimakasih...


...I lup you full...

__ADS_1


__ADS_2