
...Tak ada lagi yang kupunya, selain deretan kata-kata tak bermakna. Lelah, demikian kekal dan memesona. Mengungkap tabir cerita lama, tentang seseorang yang pernah singgah di dalam hati yang hampa....
...Kau, yang selalu melambai dalam semu. Selalu bermain dengan kata rindu. Kemudian berlari disenyap bungkam bisumu....
...*****...
Siang ini terasa panas dan membuat darah mendidih. Masalah demi masalah sepertinya masih setia menyapa. Menggoda kesabaran yang tengah dipupuk, terlerai kembali bak buih. Terhempas karena hitamnya hati penuh bercak, menjadi benalu yang mengerat kebaikan.
"Saya akan membuatmu Drop Out dari kampus ini!" ancam Edward dengan jari telunjuk di arahkan pada mahasiswi yang dia seret dan dia lempar keluar kelas.
"Saya sudah tidak peduli, Sir... yang saya butuhkan saat ini, ayah untuk anak yang sedang saya kandung," seloroh gadis di depan Edward yang bernama Grace. Kedua mata Edward terbuka sempurna, alisnya bertautan. Dia mencerna apa yang gadis itu katakan.
"Maksudmu apa hah?" Edward mengingat memori yang terpasang di dalam benaknya, namun dia yakin tidak pernah meniduri satu pun mahasiswinya.
"Sa-saya hamil, Sir..." lirih Grace mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Lalu apa hubungannya denganku?" Edward mulai naik pitam, tanda-tanda tidak mengenakan sudah tercium olehnya.
"Sa-saya ingin Sir Edward bertanggung jawab atas anak yang saya kandung," ucap Grace ambigu.
"Perempuan gila! Aku tidak pernah sekali pun menyentuhmu apalagi berhubungan badan. Jangan bermimpi untuk mengelabuiku!" Suara Edward menggelegar, memancing perhatian orang-orang di sekitar.
"Sa-saya tidak tahu ayah dari bayi ini siapa. Saya hanya meminta belas kasihan. Bukankah memiliki istri lebih dari satu akan lebih mengenakan?" seloroh Grace tanpa malu. "Saya pasti akan memuaskan Sir Edward, saya jamin."
Edward terbahak. "Dasar perempuan murahann!"
Tidak ingin berlama-lama mendengar ocehan tidak masuk akal gadis di depannya, Edward memutuskan untuk kembali ke dalam kelas dan menutup pintu dengan kencang.
__ADS_1
Suasana hati langsung kacau, semua orang terkena sasaran amukan amarah. Beberapa mahasiswa laki-laki terkena tamparan dan tendangan saat mereka tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Edward.
Satu jam dosen yang terkenal killer meluapkan kekesalan pada semua orang di dalam kelas. Dia membutuhkan sesuatu yang meredakan kobaran api yang bergemuruh. Dia masuk ke dalam ruangan pribadinya lalu duduk dengan tangan menopang wajah.
Napasnya naik turun, tangannya mengeluarkan ponsel dari dalam laci meja. Dibukanya foto-foto Sang istri, rasa panas yang membakar hati berangsur surut.
"Hai sayang... aku merindukanmu." Seorang wanita yang bersembunyi di belakang lemari, memeluk Edward yang sedang duduk dari arah belakang. Dia mengalungkan lengannya ke leher Edward lalu meraba-raba dada bidang prianya.
Tidak cukup di situ, wanita tersebut duduk di pangkuan Edward lalu melahap begitu saja bibir yang hendak mengeluarkan cacian. Edward mendorong wanita itu, satu tamparan melayang.
"Miranda! Bukankah aku sudah memecatmu?" geram Edward yang mendapati bahwa si Perempuan penggoda masih saja ada di kampusnya.
Miranda menautkan kembali lengannya ke atas leher Edward, lalu memainkan bibirnya yang sensual. "Tidak akan ada yang berani macam-macam denganku sayang, karena semuanya sudah mencicipi tubuhku. Termasuk kamu." Miranda menjeda ucapannya, mengelus leher Edward. "Tapi bedanya hubungan terlarang kita dulu sudah menjadi rahasia umum. Sedangkan hubunganku dengan saudara-saudaramu yang lain, sangat tertutup."
Sebelum kesabarannya habis, Edward tiba-tiba berdiri. Miranda yang tidak siap, harus merelakan tubuhnya tersungkur ke atas lantai dengan kepala terpentok kaki meja yang terbuat dari besi.
"Tapi aku terlanjur mencintaimu, Edward. Meski tidak tahu sudah berapa banyak pria yang menyentuhku, tapi di hati ini hanya ada namamu!" ungkap Miranda yang masih terduduk di atas lantai.
"Ah persetan dengan perasaanmu!" Edward melepaskan kakinya dari tangan Miranda lalu mendorong kepala perempuan itu hingga tubuhnya terjungkal. Dia menarik tas tangan yang berada di atas meja lalu keluar dari dalam ruangan. Dia memutuskan untuk ke Rumah Sakit. Meski jadwal pertemuan diganti menjadi jam 5 sore. Dan masih ada waktu 5 jam lagi, tapi itu lebih baik untuknya dari pada berdiam diri di tempat yang terasa bagai neraka.
...****...
Di dalam ruangan mewah, satu tubuh yang terkulai lesu membolak-balikkan badannya. Suhu ruangan yang dingin, tidak mampu menyejukkan tubuh yang terasa gerah. Belum lagi rasa tidak enak di dalam perut, menambah perasaan gundah dan gulana.
"Ah... kenapa lemas sekali. Mungkin begini ya, rasanya hamil muda?" Rona tersenyum kecut seraya mengelus-elus perutnya yang rata.
"Baik-baik ya sayang di dalam perut Mommy!" Rona bermonolog. Senyuman tidak lepas dari kedua sudut bibirnya yang pasi. Meski dia tengah menahan rasa mual yang teramat sangat.
__ADS_1
"Mommy...!" teriak Ezio yang berlari ke arah ibunya, dia memperhatikan Rona yang sedang mengusap-usap perutnya.
"Tuhkan Ezio benar, kalau di dalam perut Mommy ada dedek bayi!" Ezio turut mengelus perut Rona lalu menciumnya. "Hai bayi... ini aku Kakak Ezio. Yang baik di dalam perut Mommy, Kakak menunggumu. Cepat besar ya, nanti kita main bola."
Rona terenyuh dengan perhatian anak sambungnya. Sepertinya sifat baik ibunya menurun pada anak laki-laki yang kini memanggilnya Mommy. "Terimakasih ya sayang. Mommy punya satu permintaan, Ezio mau mengabulkannya tidak?" Rona menarik dagu Ezio, dan menatap intens pupil mata yang mirip dengannya.
"Apa itu Mommy?" balas Ezio dengan bertanya balik.
"Jangan bilang siapa-siapa dulu kalau di perut Mommy ada adik bayi. Mommy mau memberi Daddy kejutan. Bisa kan sayang?" pinta Rona.
Kulit wajah tertarik ke atas, kepala mengangguk. "Siap Mommy, Ezio akan tutup mulut!" jawab Ezio dengan gerakan tangan mengunci benda tipisnya.
"Terimakasih sayang... kita ke bawah yuk. Mommy ingin melihat ikan-ikan di kolam." Rona turun dari atas ranjang dan menuntun tangan mungil Ezio.
Saat pintu terbuka, Rona dikejutkan sosok tampan yang bertubuh tegap. Sosok itu tersenyum tipis lalu mendekati Rona. Rona memberi jarak.
"Ada apa berdiri di depan pintu kamarku? Kamar istrimu di sebelah sana!" Rona menunjuk kamar yang berada tepat di seberang kamarnya. Roland mendekat kembali. "Stop, berhenti di situ. Cepat katakan apa kepentinganmu!"
Roland menelan ludah, rahangnya menegas. "Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kamu baik-baik saja kan, Kakak ipar?" Roland menyodorkan paper bag yang berisi buah-buahan. "Ini mungkin akan sedikit meredakan rasa mual. Ambillah!"
Rona menyorongkan tangannya. "Lebih baik berikan pada istrimu, dia yang membutuhkan perhatian. Bukan aku!"
...*****...
...Mohon maaf ya kemarin hanya bisa Up satu bab 🙏...
...Selamat berhari minggu dan berkumpul dengan keluarga....
__ADS_1
...Lope-lope sekebon, sejagat raya buat teman-teman semua......