
Di mansion mewah milik keluarga Theo Liam, seorang anak laki-laki tengah berlarian bermain dengan pengasuhnya. Dia nampak begitu riang dengan gelak tawa yang tercipta dari bibir mungil. Hal yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak kedatangan di tempat asing.
"Ayo tangkap aku Nanny Manda," teriak Ezio berputar-putar mengelilingi meja.
Orang yang disebut sebagai nanny dengan senang hati mengejar anak majikannya. Pembantu di mansion pun turut tersenyum melihat kebahagiaan Ezio. Karena selama ini anak itu hanya bisa menangis dan menangis. Namun, hari ini dia bisa tertawa lepas lantaran sang monster sedang berada di kantor.
"Sini Manda tangkap. Kalau sudah tertangkap ... awas saja Tuan muda akan Manda kelitikin tiada ampun," sahutnya sambil berusaha mengejar Ezio.
Suasana mansion yang selalu dingin dan kaku, seketika menghangat karena keceriaan Ezio. Wajah sumringah menebarkan aura positif kepada penghuni mansion.
"Tangkap saja kalau bisa," tantang Ezio berlari kencang. Dia tidak melihat ada orang tengah berdiri di depannya. Tubuh mungil Ezio menghantam orang tersebut dengan keras. Bibir yang dihiasi gelak tawa menguncup seketika. Tergantikan oleh ringisan kesakitan karena telinga Ezio ditarik tanpa rasa kasihan.
"Ah... sakit..." lirih Ezio memegangi telinga.
"Oh... sakit ya?" tanya Roy murka. "Kalau ini bagaimana?" Roy menarik kuping Ezio kembali lanjut memelintirnya.
"Sakit... Daddy...." rengek Ezio.
"Diam!!!" sentak Roy. "Anak laki-laki itu tidak boleh cengeng! Baru dijewer segini saja sudah menangis. Makanya Daddy mendidik kamu dengan keras biar nanti menjadi anak kuat!" kilah Roy menyeret Ezio ke meja makan.
Manda hanya bisa menatap iba tanpa bisa berbuat apa pun untuk membela Ezio. Karena dia hanya seorang pengasuh yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan kuasa sang majikan.
"Daddy mau apakan Ezio?" lirihnya dengan perut menempel pada pinggiran meja. "Ezio mohon jangan sakiti Ezio lagi, Daddy...."
"Ah... tidak usah banyak bicara!" erang Roy gelap mata. "Manda! Tolong ambilkan saya cambuk di atas dinding!" titah Roy pada wanita yang berdiri gemetaran.
Manda bergeming, kakinya terlalu lemas untuk digunakan berjalan. Kelopak mata Roy terbuka sangat lebar karena Manda tidak menggubris perintahnya. Roy berbicara dengan nada tinggi, menghenyakkan jantung wanita itu. "Manda! Saya menyuruhmu untuk mengambilkan cambuk. Kenapa masih diam saja, hah...?!!"
__ADS_1
Manda terkesiap dan menjawab dengan gagu. "I-iya Tuan, maaf. Sa-saya ambilkan sekarang."
Meski berat, Manda terpaksa menuruti perintah sang majikan. Dia meraih benda yang dimaksud dan menyerahkan kepada Roy. Pria yang tidak memiliki perasaan itu menarik cambuk dari genggaman Manda. Namun, Manda tidak melepaskannya. "Kamu mau saya cambuk juga, Manda? Seperti wanita di dalam video yang saya tonton?"
Manda menggeleng cepat dan melonggarkan cengkeramannya. Roy tersenyum miring dan mengambil cambuk tersebut dengan satu kali tarikan. Manda meringis karena merasakan perih di telapak tangan. "Untung saja kamu bukan seleraku. Kalau tidak, kamu sudah kujadikan selir untuk memuaskanku setiap malam!"
Manda hanya menitikkan air mata mendengar ucapan Roy yang seakan menghina harga dirinya. Air mata semakin mengalir deras saat benda digenggaman Roy diangkat dan hendak dilayangkan pada tubuh belakang anak kecil tak berdosa. Manda menjerit dan memalingkan muka, tidak sampai hati menyaksikan adegan kekerasan di depannya. Namun, dia kembali membuka mata lantaran suara keributan yang terdengar tiba-tiba.
"Kami dari kepolisian ... angkat tangan anda, Tuan Roy!" pekik seseorang dengan mengacungkan senjata api. Roy tersentak lantas membalikkan badan. Kedua mata membelalak sebab di depannya kini berdiri beberapa orang dari pihak keamanan, pengadilan dan tentunya pria yang sangat dia benci, Edward Liam.
"Kalian mau apa, hah??" tantang Roy tanpa rasa takut sedikit pun meski sebuah pistol diarahkan ke jantungnya. Roy berani melawan karena akan menjadikan Ezio sebagai tawanan, tetapi sayang anak kecil itu sudah lebih dahulu berada di dalam pelukan Manda.
"Ah... sial!!!" umpat Roy saat memutar badan ternyata Ezio sudah tidak lagi di belakangnya.
Roy hanya bisa pasrah saat mengitarkan kaki nampak dua orang pihak yang berwajib sudah berada tepat di depannya. "Kalian mau apa, hah? Saya bukan penjahat!!!"
"Apa-apaan ini? Berikan saya waktu untuk menelepon pengacara. Saya sangat tidak terima diperlakukan semena-mena seperti ini!" sergah Roy melawan.
"Anda bisa menghubungi pengacara anda nanti, setelah sampai di kantor kami," sahut salah satu pria berseragam.
Laki-laki yang selalu nampak gagah dan kuat, tiba-tiba menundukkan kepala, terkulai lemah. Pemuda yang selalu bersikap angkuh, saat ini tak ubahnya seekor cecak. Nyali menciut, mulut pun membisu. Dia diseret kasar dan melewati seorang pria yang tengah mengeratkan telapak tangan. Dan benar saja, satu pukulan mendarat di pipi kiri Roy.
"Rasakan itu, bedebah!!" bengis Edward kepada sepupunya. "Nikmati kehidupan barumu, di dalam penjara!"
Roy tidak menyahut, dia hanya menoleh sekilas lanjut berjalan karena tubuhnya terus diseret menuju mobil tahanan. Sedangkan Edward, perhatiannya tercabang karena pekikan suara jernih dari anak kecil yang tengah berlari ke arahnya.
"Daddy...."
__ADS_1
Mata menyalang kini meredup karena tertutup butiran kebahagiaan yang mengembun di atas pupil. Tubuh tegap seketika bergetar. Edward merentangkan tangan menyambut sang buah hati ke dalam dekapan.
"Daddy rindu kamu, Nak." Edward menelungkup tubuh Ezio seraya terisak. Begitu pun juga dengan Ezio, anak kecil itu menangis pilu meluapkan segala pahit getir di dalam hati kepada sang ayah.
"Ezio juga rindu Daddy...," Ezio mendekap erat tubuh sang ayah seakan takut kalau seseorang akan menjauhkannya kembali dengan laki-laki yang dia sayangi.
"Ezio sudah aman Nak... Ezio akan pulang sama Daddy." Edward menyeka air mata yang membayang di pelupuk mata sang anak lalu mengecup seluruh wajah, mengekspresikan kerinduan.
"Benarkah itu Daddy? Ezio tidak akan tinggal lagi bersama Daddy Roy yang jahat?" tanya Ezio terharu. Edward mengangguk dan Ezio kembali memeluk sang ayah. "Terima kasih Daddy... terima kasih masih mau membawa Ezio, meski Ezio bukan anak Daddy..." isaknya dalam dekapan Edward.
Perasaan Edward terluka mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Ezio. Anak sekecil itu dipaksa harus memahami sesuatu yang sangat menyakitkan. "Sampai kapan pun, Ezio akan selalu menjadi anak Daddy. Anak sulung Daddy yang hebat dan pemberani."
"Terima kasih Daddy... terima kasih." Ezio mengecup seluruh wajah sang ayah lalu tertawa ceria. "Ayo kita pulang sekarang Daddy. Ezio tidak sabar ingin bertemu dengan Mommy, Ezio rindu..." lirih Ezio mengingat wanita yang selalu mendidiknya dengan sepenuh hati.
Edward mengangguk dan menuntun Ezio keluar dari mansion Emerald. Langkah keduanya terhenti karena seorang perempuan berdiri menghalangi jalan. "Apa Ezio tidak mau memeluk Aunty Jessy untuk terakhir kali, hm...?"
Ezio mengulum senyum dan menghampiri Jessy yang tengah membungkuk. "Terima kasih Aunty... karena Aunty selalu baik sama Ezio. Ini bukan pelukan terakhir kok, kalau Aunty mau bertemu Ezio tinggal datang saja ke sekolah Ezio. Boleh kan, Daddy?"
Ezio menoleh ke arah sang ayah meminta persetujuan. Edward mengangguk, mengizinkan Jessy untuk menemui putranya di sekolah atau di mana pun. Selama Ezio diperlakukan dengan baik.
"Aunty... Ezio pamit ya. Ezio mau ikut sama Daddy. Tidak apa-apa, kan?" tanya Ezio lantaran melihat Jessy menangis.
"Tidak apa-apa sayang... Aunty turut bahagia kalau Ezio bahagia." Jessy mengusap-usap pucuk kepala Ezio dan melepas kepergian anak itu untuk berkumpul kembali dengan orang-orang yang menyayanginya setulus hati.
...*****...
...Terima kasih untuk semua dukungan teman-teman pembaca semua. Di bulan yang penuh berkah ini semoga keberkahan tidak pernah lepas dari teman-teman semua....
__ADS_1