Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Hiportemia


__ADS_3

Seorang gadis menanti kekasihnya dengan perasaan cemas dan tidak sabar. Pasalnya cuaca malam ini mendadak sangat ekstrim, dia berkali-kali menarik lengan kirinya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai lobby Rumah Sakit.


"Feliks, kamu di mana sih?" Perasaan semakin gundah gulana karena lampu Rumah Sakit tiba-tiba padam, sementara rekan-rekan yang lain sudah lebih dulu pulang dan meninggalkannya seorang diri.


"Ya Tuhan... ada apa lagi ini?" Claire mulai terisak, karena dia akan mengalami phobia bila berada di tempat yang gelap. Tangannya bergetar sembari merogoh ponsel di dalam tas selempang. Kemudian menyalakan aplikasi lampu senter untuk menerangi tempatnya berdiri.


"Feliks, kamu di mana?" Claire hendak menghubungi kekasihnya akan tetapi jaringan telepon selular mengalami gangguan.


"Ah... mana baterai tinggal 10 persen lagi. Ayolah Feliks, datang segera. Aku takut...."


Sementara itu pria yang sedang ditunggu batang hidungnya tengah mendorong kendaraan roda dua miliknya. Kondisi jalanan yang tidak kondusif membuatnya harus bergerak lebih esktra hati-hati.


"Tinggal 500 meter lagi. Ayo Feliks, kamu pasti bisa. Semangat...!"


Setelah melewati berbagai aral melintang, akhirnya Feliks sampai di Rumah Sakit tempat kekasihnya bekerja. Dia menyalakan lampu besar, untuk menerangi tempat yang dia pijak, mencari tubuh seseorang. Namun dia tidak menemui siapa pun.


"Claire... kamu di mana, Claire...?" teriak Feliks memutar stang stir motornya. Terdengar suara tangis seseorang, bulu kuduknya meremang.


"Si- siapa di situ, manusia atau makhluk astral?" Feliks tidak menemukan siapa pun. Dia mematikan lampu motor menggantinya dengan aplikasi lampu senter yang terdapat di ponselnya, lalu berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit.


"Claire... ini aku kekasih tampanmu." Feliks menyoroti setiap sudut, arah lampu senter terfokus pada seorang gadis yang duduk meringkuk dengan kepala terbenam ke dalam sela-sela lututnya.


"Claire...?" pekik Feliks. Claire mengangkat wajahnya, kemudian berdiri dan langsung memeluk lelakinya.


"Kenapa kamu lama sekali Feliks? A- aku takut," ungkap Claire sembari terisak. "Ka- kamu tahu, aku itu takut gelap." Tangis Claire pecah di dalam dekapan sang kekasih.


"Maafkan aku Claire... jalanan dipenuhi salju, aku kesulitan membawa kendaraan. Jadi aku dorong motorku sampai ke sini." Feliks menyeka air mata yang menggenang lalu mengecup bibir Claire sekilas. "Kita pulang sekarang, karena cuaca semakin tidak bisa diprediksi." Feliks merangkul tubuh Claire kemudian membawanya ke tempat di mana kendaraannya terparkir. Feliks mengangkat tubuh Claire lantas mendaratkannya di atas jok motor.

__ADS_1


"A- aku ikut berjalan saja," tolak Claire karena tidak ingin merepotkan.


"Kamu duduk saja, biar aku yang mendorong motor ini sendirian." Feliks mengusap kepala Claire, membersihkan butiran salju yang hinggap di atas kepalanya. "Kamu tidak bawa payung, Claire?"


"Payung? Iya aku lupa membawanya," sahut Claire dengan bibir yang mengerucut. Feliks tertawa renyah lantas menarik hoddie jaket Claire untuk menutupi kepalanya.


"Seperti ini saja biar aman." Tatapan Feliks berubah dalam, dia mengusap bibir Claire yang mulai kebiruan. "Kamu kedinginan Claire. Boleh aku menghangatkannya?" Feliks bertanya dengan netra dalamnya. Netra yang selalu menghanyutkan Claire pada gelora cinta yang sudah tidak bisa lagi terbendung.


Claire tidak menjawab, namun dia sangat menginginkan penyatuan dua bibir untuk berbagi kehangatan. Dan Feliks bisa membaca keinginan kekasihnya dari sorotan yang berubah sayu.


Feliks memiringkan wajahnya, jemarinya menarik dagu lancip milik Claire. Hembusan hangat napas menyapu bibir mungil yang kesukaannya. Dia mengecup bibir Claire, Claire membalasnya.


"Berikan aku kehangatan, Feliks!" Claire memagut bibir kekasihnya dengan rakus. Tangannya merayap ke belakang kepala lantas mendorongnya untuk memperdalam ciuman.


Udara dingin, angin kencang yang menerpa serta butiran salju yang menutupi tubuh, tidak mereka pedulikan. Keduanya asyik menikmati pergerakan lincah dari sepasang lidah yang menari-nari di dalam rongga mulut.


Drrrrttt... drrrtttt...


"Feliks itu handphone-mu berbunyi terus." Tunjuk Claire ke arah kantong celana kekasihnya.


"Biar saja, paling si Bos songong yang menelepon. Ayo kita pulang, terlalu lama di sini bisa mati berdiri kita." Feliks mendorong sepeda motor dengan Calire yang duduk di atasnya. Sementara Edward, menunggu dengan gelisah. Dia berkali-kali menghubungi Feliks, namun tidak ada jawaban.


"Ke mana asisten gila itu? Di saat kondisi seperti malah tidak bisa diandalkan!" Edward mengusap-usap lengannya, rasa dingin merasuk kulitnya. Dia menarik langkah lalu masuk ke dalam mobil untuk menghindari tiupan angin kencang serta salju yang turun semakin deras.


Edward mencoba menelepon Feliks kembali, namun nihil. Karena pemuda itu tengah asyik memadu kasih dengan wanitanya. Suhu tubuhnya menurun, hipotermia mulai menyerang.


...***...

__ADS_1


"Kamu kenapa Rona?" Roland yang sedari tadi memperhatikan kakak iparnya mondar-mandir di depan teras, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Ti- tidak apa-apa Roland. Aku hanya mengkhawatirkan Edward, karena dia belum pulang juga." Rona berjalan ke sana ke mari dengan ponsel di genggaman.


"Kamu sudah menghubunginya?" tanya Roland mengingatkan.


"Sudah Roland, bahkan berkali-kali. Aku menelepon asistennya pun sama, tidak ada jawaban," lirih Rona, suaranya sengau. "Roland, kamu bisa menolongku, kan?" tanya Rona pada adik iparnya. Dia menatap penuh harap pada lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Tentu, apa itu?" balas Roland menggenggam jemari Rona. Rona menarik tangannya. "Ma- maaf... aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin memberimu dukungan," kilah Roland atas sikapnya yang tidak sopan.


Rona tidak ingin membahasnya lebih lanjut, karena saat ini dia membutuhkan bantuan pria yang berdiri tegap ke arahnya. "Tolong antarkan aku ke tempat di mana aku meninggalkan Edward terakhir kali. Sebab aku yakin kalau dia masih berada di tempat yang sama. Bisa, kan?"


"Ta- tapi kondisi saat ini sangat berbahaya untuk kita menghadang jalanan, Rona. Lagi pula mungkin saja sekarang suamimu sudah berada di tempat yang lebih aman," imbuh Roland merasa keberatan karena mengkhawatirkan keselamatan wanita di depannya.


"Baiklah... kalau begitu aku berangkat sendiri." Rona meraih mantel tebal dari atas kursi lalu menautkan ke atas punggung dengan kunci mobil di tangan. Dia melangkah melewati Roland, pria itu mencekal tangannya.


"Berikan kunci mobilmu, biar aku yang menyetirnya." Roland merebut benda dari genggaman Rona kemudian berjalan ke arah kendaraan yang terparkir di samping mobilnya. Keduanya masuk ke dalam kendaraan beroda empat tersebut, bersiap untuk membelah jalanan.


"Terimakasih sebelumnya Roland." Rona menoleh ke arah adik iparnya. Roland mengangguk, dia meraih tangan Rona, lantas mengecup punggung tangan lembutnya.


Rona menarik tangannya dari genggaman Roland. "Jangan seperti itu, aku tidak mau Leona kembali salah paham dan memusuhiku. Karena itu sangat tidak mengenakan, Roland! Tolong jaga batasanmu!"


"Maafkan aku Rona ... sudah sekuat hati aku melepaskan perasaan terhadapmu. Namun, ketika berdua seperti ini sangat sulit untukku mengendalikan diri."


"Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu Roland. Suamiku sedang membutuhkanku ... kumohon, bergeraklah cepat!" lirih Rona tidak tenang. Pikirannya hanya tertuju pada lelakinya. Firasatnya mengatakan bahwa saat ini Edward tengah berada dalam kondisi bahaya.


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih Kakak semua, terimakasih masih setia dengan novel Dokter Rona and Hot Daddy....


...Di mana pun berada semoga selalu sehat dan tetap menjaga kesehatan....


__ADS_2