
Edward mengacungkan telunjuk dan digerakkan ke kiri ke kanan. "Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu."
Saliva ditenggak dengan kasar diiringi mata mengerjap cepat. Wajah Rona pias, dan Edward menyeringai.
"Ta- tapi—"
"Edward mengatup bibir Rona dengan jari telunjuk lalu mendekatkan wajahnya ke telinga. "Stttt... aku menginginkanmu malam ini...."
Semua orang turut mencondongkan wajahnya penasaran dengan apa yang dibisikkan Edward pada kekasihnya. Namun, yang ada mereka menyesal dan menelan saliva bersamaan. Pikiran kosong langsung terisi dengan adegan-adegan yang sering mereka lihat dari balik layar komputer.
Edward yang tahu orang-orang tengah memperhatikannya, dia sengaja memanas-manasi dengan melumatt liar bibir Rona.
"Kenapa masih berdiam di sini?" sentak Edward. Claire dan lainnya terhenyak karena pikiran yang melanglang buana, kemudian menatap nanar kedua pasangan yang kembali berciuman.
"Astaga...!" ucap Claire jengah. Edward menarik bibirnya ke satu sudut lalu membawa Rona ke dalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
"Pasti sepanjang malam kita akan disuguhkan dengan suara misterius!" seloroh Feliks. Claire menoyor kening lelaki di sampingnya lalu masuk ke dalam kamar. Tinggal Nath dan Feliks yang masih menatap pintu ruangan yang tertutup.
"Kasihan Rona..." ucap Feliks.
"Kenapa?" tanya Nath tidak mengerti.
"Bos Edward laki-laki jantan, aku dulu sering menyaksikan dia di dalam mobil. Tidak tega jadinya...."
"Me- memangnya kenapa?" tanya Nath lagi.
"Kamu bayangkan saja!" jawab Feliks.
"Bayangkan apa?" sahut Nath penasaran.
Tanpa menjawab pertanyaan Nath, Feliks lebih dulu masuk ke dalam kamar lalu disusul laki-laki di belakangnya.
...***...
Dunia bagai milik berdua saat ini, bagai tidak ada jarak di antara kedua pasangan yang dimabuk cinta. Saling menatap dan saling beradu pandang. Si pria mendekat namun si wanita menjauh. Bagai bermain kucing-kucingan, yang satu berlari dan yang satunya mengejar.
"Kenapa tegang sekali sayang...?" Edward terus berjalan mendekat sementara Rona berjalan mundur untuk menghindar. Hingga tidak terasa punggungnya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin, Rona terpojok.
Edward mengungkung tubuh Rona dengan kedua tangan bersangga pada dinding. Tatapannya mengunci mata Rona, kemudian dia membungkuk lalu menyapu sekilas bibir kekasihnya dengan lembut.
"A-aku tidak tegang, biasa saja...."
__ADS_1
"Benarkah?" desahh Edward. "Tapi napasmu terdengar semakin kencang?"
"A- aku cuma—"
Tanpa menunggu jawaban dari Rona, Edward menyambar bibir sang kekasih lalu menarik tengkuk untuk memperdalam cumbuannya. Hasrat keduanya semakin memanas, saat French kiss berganti menjadi Earlobe kiss. Bibir Edward kini beralih mengecup telinga wanitanya dengan jemari membelai puncak leher. Rona menggigit bibir menahan suara dan Edward memainkan lidahnya.
"Jangan ditahan, keluarkan lenguhan indahmu. Aku suka!" ucap Edward parau.
Bibir hangat Edward beralih menciumi ceruk leher dengan jemari berputar-putar di atas dada, suara merdu yang sedari tadi Rona tahan akhirnya lolos dari bibir tipisnya.
Edward berbisik di telinga Rona, "Aku menginginkanmu malam ini, bolehkah aku—?"
Pupil mata bergerak-gerak dengan jemari yang meremass ujung kain, Rona menjawab dengan suara serak menahan gejolak. "Na- nanti ya, aku belum siap...."
"Kita sudah melakukannya tiga kali, kenapa masih belum siap. Apa kamu malu?" timpal Edward.
"Iya itu salah satunya, ditambah kemarin-kemarin kamu melakukannya sepihak, a-aku—"
"Aku akan menunggu sampai kamu siap dan memintanya sendiri...."
"Eh?" sahut Rona.
"Tapi aku tidak membawa pakaian ganti," jawab Rona bingung.
"Di dalam waredrobe ada pakaian punya Marissa, kamu tinggal pilih sendiri," ucap Edward. "Tenang saja semuanya masih baru, belum sempat terpakai," tambahnya dengan suara yang seperti terselak.
Mendengar nama Marissa disebut, ada rasa cemburu yang menyerang ke dalam hati. Bagaimana pun juga kenangan Marissa akan selalu tersimpan di dalam sanubari Edward Liam.
...***...
Saat hati patah, hanya diri sendiri yang mampu menguatkan. Berusaha menerima kegagalan, lagi dan lagi. Selama hidupnya dia beberapa kali jatuh cinta. Namun, sialnya tak sekali pun berbalas.
Malam semakin larut, angin laut meniup, dedaunan melambai. Deburan ombak semakin ganas beserta hati yang semakin memanas.
Seorang laki-laki tengah menyesap anggur di tangan, sesekali matanya menoleh ke arah jendela kamar lalu membayangkan jantung hatinya tengah bercinta dengan lelaki pujaan. Perasaan remuk redam. Namun, dia hanya bisa diam.
"Kenapa belum tidur?" sapa Claire yang merasa gerah di dalam kamar, lalu berniat mencari udara segar dan mendapati Feliks tengah menenggak minuman seorang diri.
"Mataku sulit terpejam," jawab Feliks.
"Sedang ada masalah?" tanya Claire yang menyandarkan punggungnya ke atas pagar.
__ADS_1
Feliks menggelengkan kepala lalu memasukkan lintingan nikotin ke dalam mulutnya. Claire memantik benda digenggaman, api biru mencuat membakar barang yang akan Feliks sesap.
"Terima kasih..." jawab Feliks.
Claire mengangguk dan membalikkan tubuhnya, kini dia turut menatap ke arah deburan ombak yang menari-nari.
"Kamu mencintai Rona?" Pertanyaan ini tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Claire.
Feliks menoleh ke arah wanita di sampingnya sekilas lalu tersenyum miris. "Mencintai wanita yang sudah dimiliki seseorang, sakitnya tidak dapat diungkapan!"
"Tapi mereka belum menikah, masih ada kesempatan!" ucap Claire memancing.
Feliks tergelak lalu melempar sisa batang rokok dan memutar tubuhnya ke arah Claire. "Aku tidak akan berkhianat pada Edward, kecuali...."
"Kecuali...?" ulang Claire penasaran.
"Kecuali kalau suatu saat Edward menyakiti Rona dan dia masih saja bermain api dengan wanita lain ... aku pastikan akan merebutnya dari tangan Edward!" Feliks kembali meneguk wine di tangan dengan pancaran mata yang memperlihatkan keseriusan.
Sementara Edward yang menguping perkataan Feliks, dia merekatkan kepalan tangan disertai mata yang menyala-nyala. "Dan akan aku pastikan ... aku tidak akan pernah melepaskan Rona, apapun keadaannya!"
Edward masuk kembali ke dalam kamar dan mendapati Rona yang sudah terlelap. Wanitanya mengenakan lingerie berwarna hitam dengan model bagian dada sangat terbuka. Lingerie yang dibelikan Edward khusus untuk Marissa. Namun, sayangnya tidak sempat terpakai karena takdir berkata lain. Kecelakaan lebih dulu merenggut nyawa sang istri.
Edward mendekat dengan menahan gairah lalu menarik kain lembut untuk menyelimuti tubuh mulus Rona yang tereskpos. Dia merebahkan badan kemudian memiringkan tubuhnya menghadap kekasihnya.
Satu kecupan mendarat di kening Rona. Edward menyingkapkan anak rambut lalu memandangi wajah kekasihnya. Menatap mata yang terpejam dengan bibir natural tanpa polesan, menganga tipis. Mengaduk-aduk perasaan yang sedari tadi dia tahan.
"Kamu sedang tidur atau tidak, sama-sama menggoda," batin Edward. Tatapannya kini beralih pada pemandangan yang indah di atas dada, Edward mengusap wajahnya dengan kasar lalu memilih berbaring memunggungi Rona.
"Bagaimana aku bisa kuat, kalau segala yang ada dalam dirimu membuatku mabuk?!"
"Ah...!" teriak Edward. Namun, tanpa suara. Dia menarik kencang rambutnya lalu berbalik menghadap Rona kembali. Tangan Edward melingkar di pinggang Rona dengan tubuh melungsur dibuat sejajar.
"Good night my future wife...."
...******...
...Sabar... sabar... sabar... pemirsa....
...Adegan dipending 🤭...
...Terimakasih untuk semua yang masih berkenan menikmati karyaku ini, semoga terhibur dan.... (Isi sendiri, hihihihi)...
__ADS_1