Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Ada Apa dengan Video?


__ADS_3

"Pria bajingan!!!" Rona melayangkan tamparan dan Edward menyeringai lalu tergelak mentertawakan kebodohan gadis di depannya.


"Masih ingin bermain-main denganku, kucing liar?"


Rona tidak tahu pria seperti apa yang sedang dia hadapi. Licik seperti ular dan pintar seperti rubah. Pria yang penuh akal busuk dan pandai berkelit.


"Jadi maumu apa? Cepat katakan!" bentak Rona serta meremas kuat ponsel yang tengah dia genggam.


"Tadi sudah aku katakan, aku menginginkan kamu," jawab Edward santai. "Aku ingin kamu menjadi wanita simpanan selama 1 tahun!" jawabnya lagi.


Nath yang murka, dia berkali-kali melayangkan pukulan ke arah pria yang terus saja tertawa meremehkan. Sementara Rona, dia tertunduk menyembunyikan genangan airmata yang melembabkan netranya.


"Oke, saya ikuti permainanmu!" tegas Rona.


Kedua sahabatnya terkejut bukan kepalang dengan apa yang mereka dengar. Semudah itu Rona menyerah? Padahal yang mereka tahu, Rona adalah gadis yang kuat tidak mudah disetir oleh keadaan.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" sentak Claire dengan mengoyang-goyangkan tubuh sahabatnya.


"Aku sadar dan aku tidak ada pilihan lain. Aku tidak akan membiarkan pria ini mengusik orang-orang terdekatku!"


Nath yang penasaran, dia merebut ponsel dari tangan Rona. Dia tidak kalah terkejut ketika melihat adegan panas yang menampilkan wajah dirinya.


"Jaman sekarang teknologi sudah sangat canggih. Orang tidak akan mengira kalau video itu sudah diedit!" ungkap Edward.


"Benar-benar cari mati ya!" umpat Nath murka.


"Apa-apaan nih?" tegur Feliks yang baru saja datang.


"Jangan main keroyokan, kalau berani satu lawan satu!" tantang Feliks yang langsung memasang kuda-kuda. Claire menghampiri dan siap berduel dengan laki-laki asing di hadapannya.


"Sorry... aku tidak berkelahi dengan perempuan lemah!" cibir Feliks.


Duggg!!!


Wajah Feliks memutar karena sebuah tendangan keras mengayun pada wajah tampannya. Bercak-bercak darah menetes di atas kemeja birunya. Tubuh Feliks terhuyung, lalu terjatuh ke atas lantai.


"Dih, payah!!!" cibir Claire.


Claire mendekati Rona dan bertanya atas keputusan yang penuh resiko. Dia belum tahu isi video seperti apa karena sebagai wanita dia memiliki naluri yang sama. Akan merasakan pedih dan nyeri saat wanita lain mendapat perundungan. Terlebih yang menjadi korban adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Katakan padaku, alasan kamu menyetujui kesepakatan! Maksud pria bedebah menyebut teknologi, itu apa?" berang Claire yang hanya dibalas dengan senyum putus asa.


"Nath, kamu tadi sudah lihatkan videonya? Katakan apa yang kamu lihat?" tanya Claire dengan berteriak.


"Pria itu sudah merubah wajahnya dengan wajahku. Seolah divideo itu aku pelakunya!" ungkap Nath dengan mata yang memerah.


Edward dalam kondisi babak belur pun masih bisa menarik bibirnya ke salah satu sudut, pria bengis yang memiliki hati. Namun sayang, hatinya telah beku atau bahkan mati.


"Kalian pulanglah lebih dulu nanti aku menyusul!" titah Rona.


"Ta- tapi?" sergah Claire.


"Aku akan baik-baik aja Claire, karena ada kalian yang selalu ada untukku," lirih Rona sembari menggapai tubuh kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam dekapannya. Edward dengan mata menyipit melihat adegan di depannya, langsung memalingkan wajah lalu terpejam.


Claire dan Nath akhirnya meninggalkan Rona di sarang penyamun. Tapi ini penyamun yang berbeda karena yang dia rampas bukan harta kekayaan. Namun, harta yang paling berharga dari seorang wanita.


"Heh... pria tidak berguna, bangun!" bentak Rona pada laki-laki yang tengah menelungkup di atas lantai. Gadis itu menggerakan tubuh Feliks dengan ujung sepatunya.


"Engh..." erang Feliks.


"Ayo bangun!" bentak Rona tidak sabar.


Rona menyalang ke arah laki-laki yang tengah berjalan sempoyongan dengan pupil mata yang membesar. Dia merasa kesal karena Feliks menyebutnya Kakak ipar.


"Bantu Bosmu dan angkat dia ke kamar. Aku akan mengobati luka-lukanya!" titah Rona tanpa melihat ke arah Feliks maupun Edward.


"Baik benar Dokter Rona. Aku sumpahin suatu saat Bos Edward berubah menjadi bucin sebucin-bucinnya. Wanita bak permata begini disamakan dengan kupu-kupu malam. Payah memang aku punya Bos!"


...*******...


Meski pria yang tengah terbaring tidak sadarkan diri telah menginjak-injak harga dirinya sebagai wanita. Namun, jiwa kemanusiaan tidak serta merta dia kesampingkan. Sebagai seorang dokter yang telah disumpah dengan profesinya, dia berkewajiban menolong siapa pun tak peduli dia siapa.


"Pria payah, ambilkan saya lap dan air es!" titah Rona ketus.


"Sabar-sabar, mereka sepertinya memang berjodoh, sama-sama menyebalkan dan suka seenak hati," batin Feliks.


Feliks menuruti perintah gadis di depannya meski dengan memasang wajah masam dan menggerutu di dalam hati.


"Ini Dok lap sama air esnya," ucap Feliks dengan sebuah wadah di tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih..." balas Rona.


Feliks mengangguk dan keluar dari kamar, membiarkan Rona mengobati bos arogannya. Namun karena merasa penasaran dengan adegan selanjutnya, dia sedikit menyembulkan wajah dari balik daun pintu.


Tangan lembut Rona membersihkan noda darah yang sudah mengering dan mengompres bagian-bagian yang memar, terutama bagian wajahnya. Sesekali dia memandangi wajah pria yang tengah tertidur seraya menekan lembut bagian yang terluka menggunakan lap.


"Kalau sedang tidur begini, kamu seperti bayi polos!"


"Ish, apalah pikiranku ini!" batin Rona sembari menepuk-nepuk pelipisnya.


"Aku yakin semua orang itu pada dasarnya baik, namun ada hal yang menjadikan dia berubah seperti patung yang tidak memiliki perasaan iba."


"Marissa... Marissa... maafkan aku!"


"Sayang kembalilah ke dunia ini, aku merindukanmu. Sangat...."


"Maafkan aku, ku mohon ...."


Rona yang menyadari Edward tengah berhalusinasi dalam tidurnya, menepuk-nepuk pipi pria itu berusaha menyadarkan. Namun, yang ada tangannya ditarik dengan kencang. Edward merengkuh tubuh Rona dengan mata yang masih terpejam dan bibir menyunggingkan senyuman tanpa beban.


"Temani aku malam ini, aku kesepian..." gumam Edward.


Rona merebahkan tubuhnya dengan punggung tangan kiri dijadikan alas kepala. Dia mengamati air muka yang nampak damai di tengah lelapnya.


Edward menaruh tangan kanan Rona di atas pipinya dan menggenggam dengan erat. Gadis itu terkesiap atas perlakuan pria dingin yang mendadak hangat. Namun, sayangnya itu terjadi di tengah khayalan dan ketidaksadaran.


"Kamu terlihat seperti orang baik kalau sedang tidur. Karena itu lebih baik selamanya kamu tertidur dari pada hidup hanya menjadi sampah!"


Pria yang sedang memejamkan mata menarik tubuh Rona sehingga membuatnya semakin mendekat lalu membenamkan wajah gadis itu ke atas dada bidang dan hangat. Rona menggerak-gerakan badannya mencoba untuk melepas rengkuhan di tubuhnya. Namun, cengkeraman pria itu semakin kuat.


"Astaga... masih saja menyebalkan dalam kondisi lemah seperti ini!" keluh Rona.


Feliks yang masih mengintip di balik pintu hanya cekikikan dengan mulut yang ditutup, untuk meredam suara supaya tidak terdengar oleh gadis yang dijuluki kucing liar.


...*******...


...Judulnya hiatus, eh malah muncul di sini....


...Sayang ide di otak kalau tidak disalurkan, padahal efek gabut seharian hanya tidur...

__ADS_1


__ADS_2