Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Kucing Jantan


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan yang temaram. Seorang wanita paruh baya, dengan dress mininya menyesap sebatang rokok dan menggenggam gelas sloki berisikan Penfolds Grange.


Dia menatap ke sekeliling, mencari kucing jantan untuk menjadi peliharaan. Dan pandangannya mengunci seorang pria muda yang tengah menikmati minuman seorang diri. Dia memanggil manajer klub malam, lalu membisikkan sesuatu. Pria itu tersenyum miring kemudian menghampiri pemuda yang menjadi incaran wanita tersebut.


"Ada yang mengincarmu!"


"Siapa?"


Manajer klub malam menunjuk wanita yang tengah menatap genit ke arahnya seraya mengedipkan mata. "Dia Nyonya Amber Liam...."


"Amber Liam? Berarti dia ini...."


"Yups... dia ibu tiri dari Edward Liam, musuhmu!"


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Satu tepuk, tiga lalat mati!" ujar pemuda tersebut menyapu bibirnya menggoda Amber. "Bisnis kesayangannya, adik tirinya dan sekarang ibu tirinya. Bukankah ini sangat menyenangkan?"


"Hahaha... kamu rakus juga!" ucap manajer klub seraya menepuk pundak.


"Lumayanlah, keperawanan anaknya sudah aku rampas sekarang ibunya. Sudah tua sih, tapi tubuhnya masih mengkal."


"Maklum orang kaya, sering perawatan! Baiklah aku mau memberitahu dia kalau kamu setuju menjadi simpanannya."


Pria yang mengenakan jas hitam, mendekati Amber seraya mengacungkan ibu jari. Amber yang sudah mendapat lampu hijau, penuh semangat menarik tubuh ke arah pemuda idamannya. Dia duduk begitu saja di atas pangkuan tanpa merasa risih.


"Kamu tampan sekali sayang...!" ungkap Amber yang menyambar bibir laki-laki itu dan melumattnya tanpa ampun. "Nama kamu siapa sayang?" tanya Amber. Dia menggigit telinga si kucing jantan lalu menghembuskan napasnya tipis. Tubuh pemuda tersebut menggelinjang.


"Orang-orang di klub ini memanggilku dengan sebutan 'Josh Eagle'..." jawab pemuda tersebut dengan suara berat karena birahinya mulai merangkak.


"Aku Amber..." timpal Amber yang menggelitik telinga Josh menggunakan lidahnya. "Kita habiskan malam ini di Hotel ya...!"


Amber beranjak dari pangkuan lalu menarik Josh menuju halaman parkir. Tanpa rasa malu sedikit pun Amber bergelayutan di lengan Josh, seraya menyandarkan kepalanya ke atas bahu datar.


Sesampainya di tempat parkir, Amber mendorong tubuh Josh ke atas kursi penumpang. Dia sudah tidak sabar ingin mencicipi tubuh pemuda yang membuatnya terpedaya.


"Arlo antarkan aku ke Royal Hotel!" titah Amber pada sopir pribadinya. "Dan ini uang tutup mata dan tutup mulut!" Amber menyodorkan segepok uang kertas.


"Si- siap Nyonya. Terimakasih...."


Tidak ada lagi sahutan karena kini Amber tengah memberi Josh service pertama, hal yang sering dia lakukan dulu kepada tamu diskoteknya.


"Se- seharusnya aku yang melayanimu Nyonya," ujar Josh menahan gairah karena miliknya tengah disesap kuat oleh Amber. Tanpa menunggu lama, dia mendapatkan puncaknya di dalam mulut Amber.

__ADS_1


"Punyamu payah, baru juga segitu sudah kalah!" gerutu Amber yang sudah membayangkan kalau pemuda itu lemah di atas ranjang.


Josh yang merasa terhina, dia mengeratkan kedua telapak tangan dengan rahang yang menegang. Dia menarik tubuh Amber. Lalu membalas perkataan Amber dengan membuatnya merintih karena berkali-kali mendapatkan pelepasan.


"Rasakan itu wanita tua!" sungut Josh yang melihat Amber kewalahan. Sementara Arlo yang mencuri pandang dari balik kaca spion hanya bergidig dengan kelakuan dua manusia yang lupa akan Tuhan.


"Kalau bukan karena membutuhkan uang, tidak mau aku terseret affair yang dilakukan Nyonya Amber!"


...***...


"Selamat malam Pa..." sapa Edward yang baru saja pulang bersama Rona. Edward menatap ke sekeliling rumah. "Mana Mom?" tanya Edward. Dia menarik kursi makan untuk Rona lalu untuk dirinya sendiri.


"Biasalah, dia hang out dengan teman-temannya," jawab Richard santai. Dia mengangkat piring yang berisikan Barramundi dan Edward menariknya.


Rona hendak melayani sang suami. Namun, Edward yang lebih dahulu memanjakan istrinya. "Biar aku saja," ujar Edward lembut.


"Terimakasih sayang..." sahut Rona.


Richard tersenyum bahagia melihat putra kesayangannya begitu perhatian pada pasangannya.


"Oh iya Pa, Leona mana?" tanya Rona yang menyadari ketidakhadiran adik iparnya di meja makan.


Fiona dari arah dapur membawa nampan berisikan nasi cokelat, sup miso dan mie udang. Namun, langkahnya terhenti oleh suara teguran seseorang.


"Fiona, biar aku saja yang mengantarkan makan malam untuk Leona!" Rona menghampiri Fiona lalu menarik nampan dari tangan wanita tersebut.


"Tapi Nona..." ucap Fiona merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu..." titah Rona sopan. Fiona mengangguk lalu kembali ke arah dapur.


Rona menaiki tangga yang berseberangan dengan kamar Edward. Lalu mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat.


"Leona... ini aku Rona. Bolehkah aku masuk?" Rona menyimpan nampan di atas meja lalu mengetuk kembali pintu kamar Leona.


"Leona... apa kamu sedang tidur?" teriak Rona yang masih saja tidak ada sahutan.


Perasaan Rona mendadak tidak enak, dia lalu meminta Edward untuk mendobrak pintu. Dengan langkah lebar Edward menuju kamar adiknya. Dia mencari kunci cadangan yang tersimpan di dalam laci depan kamar Leona. Tangannya bergetar, berkali-kali memasukkan kunci, tetapi gagal.


"Biar aku saja..." imbuh Rona yang menarik kunci dari tangan Edward. Dia memutar kunci lalu menarik handle pintu. Matanya terbelalak saat mendapati Leona yang terlentang dengan bibir berbusa.


"Leona!" pekik Rona. Dia berlari sekuat tenaga begitu pun juga dengan Edward. Richard memegangi dada seraya bersandar ke daun pintu, terkejut melihat kondisi putrinya yang memilukan.

__ADS_1


Edward langsung mengangkat Leona dan berjalan tergopoh-gopoh. Sementara Rona yang melihat kondisi Richard, dia memapah mertuanya. "Hati-hati Pa... Papa harus kuat demi Leona."


Richard mengangguk lemah dan berjalan perlahan. Sementara Edward yang terlampau panik dia meninggalkan Rona dan Richard, lalu melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.


"Edward... tunggu!" pekik Richard dengan suara parau.


"Tunggu sebentar Pa, Rona ambil kunci dan tas di atas meja."


Richard mengangguk dan tidak perlu menunggu lama, kini mobil Rona melesat tidak kalah cepat menuju Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit


Edward berlari membawa tubuh adiknya di pangkuan. Rona menyusul di belakang seraya memapah Richard. Tenaga medis yang melihat, dengan sigap membawa Leona ke dalam ruang emergency sedangkan Richard didorong menggunakan kursi roda.


"Claire... tolong selamatkan adikku!" Edward menelungkupan tangan ke arah dokter yang menangani Leona.


"Claire..." ucap Rona lirih.


"Bantu aku dengan doa," ucap Claire lalu masuk ke dalam ruang emergency.


Semua orang menunggu dengan perasaan cemas. Edward berjalan mondar-mandir, sedangkan Rona berusaha menenangkan perasaan Richard. "Tarik napas perlahan Pa, hembuskan sedikit demi sedikit. Yakin tidak akan terjadi sesuatu pada Leona."


Richard mengangguk, detak jantungnya berangsur normal. Dia memanggil anak sulungnya. "Edward...."


Edward menghampiri Richard lalu duduk berjongkok. "Kenapa Pa, Papa perlu apa?"


"Tolong telepon Amber, suruh dia pulang sekarang juga! Katakan kalau anaknya sedang sekarat!" geram Richard yang kesal karena di saat kondisi seperti ini Amber malah bersenang-senang dengan teman-temannya.


Sementara di kamar Hotel,


"Oh, baby... aku sudah tidak kuat. Aku lelah!" racau Amber yang kewalahan dengan permainan pria yang tengah menindihnya.


Suara panggilan telepon tersamarkan oleh jeritan dan erangan. Amber menikmati surga dunia yang sudah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.


**Penfolds Grange adalah minuman khas Australia yang terbuat dari anggur merah.


...*****...


...Siapa dalang dari semua kekacauan yang terjadi? Sebentar lagi akan terungkap, tunggu saja ya......


...Terimakasih untuk semua dukungan teman-teman. Selamat istirahat, semoga hari esok lebih baik dari hari ini....

__ADS_1


__ADS_2