
...Debaran, merengkuh jantungku saat ini. Hitam putih, merah, biru, jua jingga. Bersatu menjadi gelembung warna. yang bertebaran di hati. Sungguh ingin kuraih gelembung warna itu dengan jari manis ini. Bermain-main dengannya meski jantung berdegup tak menentu....
...*****...
Perlahan mimpi buruk merangkak menjauh pergi. Menyisakan duka dan juga suka. Derita bagi yang bersimbah nista. Bahagia bagi yang menyemai kebaikan. Bukankah Tuhan Maha Adil, memberi balasan tergantung perbuatan?
Pagi ini udara sejuk menyapa tubuh yang terasa lelah dan lemah. Setelah semua yang terjadi secara bertubi-tubi, raga dan jiwa merapuh karena untaian kesedihan serta pengkhianatan.
"Good morning, honey..." sapa Rona yang sejak bangun tidur menatap lekat paras suaminya. Tidak tahu mengapa rasa cinta pada suaminya semakin membuncah..
"Good morning, my wife..." balas Edward. Meski telah melewati 5 bulan usia pernikahan, namun baginya setiap hari adalah sama seperti saat awal mereka menikah dulu. Hari-hari yang selalu diawali dengan rasa manis dan juga panas.
"Mana Ezio sayang?" Edward cingak-cinguk melihat putra pertamanya. Lalu melirik ke arah jam weker di atas meja. "Ah... sudah jam 9 ternyata, aku harus ke Rumah Sakit bertemu dengan dokter yang menangani papa, setelah itu ke kampus."
"Ezio sama pengasuhnya, sayang..." jawab Rona yang terdengar serak. "Ah iya, aku lupa kalau kamu banyak jadwal hari ini. Baiklah sekarang kamu cepat mandi, aku tunggu di meja makan!" Rona menarik lengan Edward lalu mendorong punggung suaminya ke kamar mandi.
Bukan Edward namanya kalau tidak menjadikannya kesempatan. Dia balik menarik lengan Rona lalu menutup pintu kamar mandi dan mendorong lembut tubuh Rona.
"Aku rindu kamu sayang..." ujar Edward. Suara parau semakin parau karena dorongan gejolak yang dia tahan selama beberapa hari.
"Nanti malam saja, kamu sudah terlambat," tolak Rona membalikan badan hendak membuka pintu. Tangan Edward menahannya.
"Ayolah sayang... apa kamu tidak kasihan melihat aku menahan penderitaan ini?" rengek Edward seraya memegangi miliknya. "Aku sudah puasa selama tiga hari tiga malam, apa kamu tega melihatku mengeluarkannya seorang diri?"
Tidak ada jawaban dari Rona, sebagai seorang istri sudah menjadi kewajiban untuknya melayani hasrat Sang suami. Rona pasrah saja saat Edward membungkuk dan menghujani ceruk lehernya dengan ciuman dan gigitan. Dia hanya bisa mendesahh, saat lidah Edward menjilati daun telinga dan pangkal pundak yang terbuka.
"Apa kamu menyukainya sayang?" Edward mengungkung tubuh Rona dengan tangan yang menempel di dinding.
__ADS_1
"Sangat... aku juga merindukan dan menginginkanmu. Puaskan aku sayang..." ucap Rona menirukan kalimat yang sering suaminya katakan.
Edward tersenyum tipis dan memiringkan kepalanya. Sapuan napas menghangatkan wajah Rona yang sudah ditutupi kabut gairah. Edward mencumbu bibir yang merekah lalu melumatt bibir bawah istrinya dengan kasar. Suara lenguhan tertahan ketika telapak tangan meraup gumpalan yang mencuat. Meremass dan menekannya kuat-kuat.
"Payudaramu semakin padat dan berisi sayang, apa kamu pompa? Pipimu... bokongmu juga lebih bulat dan gempal," ungkap Edward seraya mengerumukkan panggul istrinya. Rona mengulum senyum, dia masih merahasiakan kehamilannya. Karena menunggu hari ulang tahun Edward beberapa hari lagi.
Rona pura-pura merengut. "Kamu tidak suka ya kalau aku gemukan? Tidak seksi? Tidak menarik?" tanya Rona memasang raut sedih.
Edward merapatkan wajahnya seraya menggigit bibir bawahnya. "Malah aku suka sayang, lebih menggoda dan menggemaskan. Kamu jangan diet ya, aku benar-benar menyukai bentuk tubuhmu yang sekarang."
Rona merasa tenang, dia sempat merasa tidak percaya diri takut suaminya berpaling karena bentuk tubuhnya yang perlahan berubah.
"Terimakasih sayang..." ucap Rona. Dia merangkum wajah Edward dengan kaki berjinjit. Lalu memagut rakus bibir suaminya. Edward membalas pagutan. Lidahnya menari-nari, berputar di dalam rongga mulut. Kedua tangan bersinergi memberi rangsangan pada istrinya. Hingga tubuh sintal itu mengejang karena rasa nikmat oleh permainan jemari Edward di daerah sensitifnya.
Edward membalikkan tubuh Rona, membuat dada istrinya menyentuh dinding kamar mandi yang dingin. "Bungkukkan sedikit sayang...."
"Ah...!" teriak Rona yang merasakan geli sekaligus perih karena Edward menghentakkan kasar miliknya. Dan tanpa ampun mengobrak-abrikkan dinding rahim yang saat ini telah tumbuh benih cinta di antara keduanya.
Edward mencengkeram kuat pundak Rona untuk memperdalam penyatuannya. Rauhan serta lenguhan tercipta dari bibir merah delima. Edward menyambut puncak pelepasannya dengan mengerang serta mempercepat guncangan pinggulnya. Dia melesakkan miliknya dan membiarkan semburan benih cinta membasahi dinding uterus milik Sang istri.
"Terimakasih sayang... maaf aku selalu tidak bisa menahannya kalau sudah bersinggungan dengan kamu." Edward memutar tubuh Rona lantas mengecup kening istrinya.
"Sama-sama sayang... lagi pula sudah kewajibanku melayani dan memuaskanmu," balas Rona yang akan keluar dari kamar mandi. Namun lengan Edward melingkar di pinggang Rona.
"Mau kemana sayang...? Ayo kita mandi bersama..." ucapan Edward membuat bahu Rona bergidig. Dia sudah membayangkan adegan selanjutnya yang akan terjadi.
...***...
__ADS_1
Setelah menghabiskan separuh waktu di kamar mandi, sepasang pengantin yang sudah tak baru lagi keluar dari kamarnya. Pergumulan yang terjadi di antara mereka membuat tenaga sangat terkuras. Edward mengerjai istrinya terus-terusan hingga sari pati miliknya mengering.
"Mommy... Daddy... kenapa lama sekali? Ezio dari tadi menunggu di sini. Tadi Fiona mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada sahutan," protes Ezio yang beberapa hari ini kehilangan perhatian kedua orang tuanya.
Edward berjongkok di depan Ezio sembari mengacak-acak rambut putranya. "Maafkan Daddy ya sayang. Akhir pekan ini Daddy mau mengajak Ezio dan Mommy ke kebun binatang. Ezio mau?"
Mata bulat bersinar, raut muram berubah ceria. "Mau... mau... aku mau Dad. Benar ya, Daddy tidak berbohong kan?" Wajah Ezio kembali sendu.
"Tentu tidak sayang, Daddy sudah pesan tiket untuk kita bertiga!" seru Edward memperlihatkan tiga lembar tiket di tangannya, Ezio menariknya. Dia membaca tulisan yang tidak asing di matanya.
"Zoo." Semburat kebahagiaan terbit dari wajah anak kecil yang belum mengenal lika-liku kehidupan. Yang dia pahami, dia dikelilingi orang-orang yang menyayangi setulus hati.
"Daddy sarapan dulu ya sayang... Daddy sudah terlambat." Edward mengusap puncak kepala Ezio, Ezio merajuk.
"Gendong... Ezio mau digendong Daddy," pinta Ezio yang tengah merindukan kehangatan dekapan ayahnya. Tanpa merasa keberatan, Edward memangku tubuh Ezio dan membawanya ke meja makan. Dia mendaratkan tubuhnya di atas kursi dengan Ezio duduk di atas pangkuan.
"Ezio sama Mommy yuk..." tawar Rona. Dia merentangkan lengan menyambut putra sulungnya.
Ezio menggelengkan kepala. "Sama Daddy saja, nanti kasihan dedek bayi di perut Mommy tertekan badan Ezio," ucap Ezio polos.
Edward dan Rona bersitatap. Rona mengernyih sedangkan Edward mengiba. "Jangan dipikirkan perkataan Ezio ya sayang, dia hanya menginginkan seorang adik...."
...*****...
...Terimakasih untuk setiap dukungan dan selamat malam semuanya......
...Love You all...
__ADS_1