
...Apa jadinya kalau kepercayaan yang sudah ditanam dan dipupuk, dihancurkan begitu saja? Bak gelas kaca yang terlerai hingga berkeping-keping. Tidak akan bisa kembali utuh dan tidak akan mungkin bisa disatukan kembali....
...*****...
"Kamu berkhianat dariku, Edward?!" Rona bermonolog. Dia maju selangkah demi selangkah, menatap dingin ke arah pasangan yang tengah berdiri berpelukan.
Edward terkejut, tangannya mendorong kasar wanita yang berpakaian serba hitam. "Sa-sayang... ka-kamu ada di sini?"
"Seperti yang kamu lihat," jawab Rona setenang mungkin. "Dia siapa?" Rona menunjuk menggunakan sudut matanya.
"Di-dia... dia...."
Wanita yang mengenakan blouse merah mendekati Edward kemudian melingkarkan lengannya dengan kepala yang bersandar di atas bahu. "Aku Natalie, Louisa Natalie."
Rona melirik ke arah jemari yang bergelayutan manja di lengan lelakinya. "Bisa lepaskan tanganmu dari suamiku?"
Natalie terkekeh, "Edward sayang... apa kamu tidak mau mengenalkanku pada istrimu yang pencemburu itu?"
Rona merotasi kedua biji matanya. "Kalau mau selingkuh ... carilah wanita yang lebih berkualitas dariku, Edward. Jangan modelan kucing kejepit seperti ini!"
Edward melipat mulutnya menahan tawa, Natalie merajuk. "Sayang... kenapa kamu diam saja. Ayo beri pelajaran istri kurang ajarmu itu. Dia sudah menghinaku!"
"Aku tidak kuat Natalie, aku ingin tertawa." Edward terbahak. "Aku bukan pria yang pandai bermain peran, maafkan!" Edward kembali tertawa dan kini lebih kencang.
Rona menatap Edward dan Natalie dengan wajah bingung. "Bisa jelaskan padaku ada apa ini, Edward?"
Edward menarik lengan Rona mengajaknya untuk duduk, namun Rona mencampakkan tangan Edward. "Jangan menyentuhku! Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku!"
"Dengarkan aku dulu, Rona." Edward merangkul pundak istrinya, Rona mengerdikan bahunya.
"Jangan pegang-pegang. Apa telingamu tuli?" hardik Rona emosi.
Edward melenguh pelan. "Natalie ini sepupuku, sepupu dari mamaku lebih tepatnya. Tolong jangan salah paham lagi ya...."
"Haruskah semudah itu aku percaya, Edward? Aku melihat dengan mataku sendiri kalau kalian berpelukan. Belum lagi parfum wanita itu selalu melekat di balik jas milikmu, apa seperti itu seorang sepupu?" cerca Rona curiga.
Bukan salah Rona bila dia kembali tidak memercayai suaminya. Itu karena perilaku Edward sendiri yang sering membuatnya bingung.
__ADS_1
"Kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah, tidak enak di sini karena banyak orang. Aku antar kamu pulang ya...," Edward menuntun tangan Rona, Rona menepis tangannya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Kamu selesaikan saja urusanmu dengan sepupu seksimu itu!" Rona menyalang ke arah Natalie yang nampak masa bodoh dengan memainkan ponsel di tangannya.
Rona berjalan setengah berlari keluar dari restoran dengan Edward mengejarnya di belakang. "Apa kamu tidak ingin memercayaiku lagi, Rona?"
Rona menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh dia menjawab pertanyaan Edward. "Apa aku harus memercayaimu lagi, Edward? Apa kamu patut untuk aku percaya?"
Rona melanjutkan gerak kakinya meninggalkan Edward yang terus berteriak memanggilnya. Akan tetapi langkahnya kembali terhenti karena pelukan hangat seseorang mendekap tubuhnya.
"Percaya padaku, Rona. Kumohon...."
"Lepaskan aku Edward, aku malu semua orang memperhatikan kita," rengek Rona sembari menarik paksa tangan Edward dari pinggangnya. Namun Edward semakin merekatkan pelukannya.
"Aku tidak akan melepaskannya sampai kamu mengatakan kalau kamu memercayaiku!" Edward merebahkan kepalanya di atas bahu Rona.
"Iya-iya aku percaya," sahut Rona malas.
Edward melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Rona hingga berhadap-hadapan dengannya. Tangan kekar Edward meraup wajah sang istri dengan mata yang berbinar. "Benarkah itu?"
"Tapi Rona, Natalie memang sepupuku!" tukas Edward frustasi.
Rona melambai-lambaikan tangannya isyarat tidak ingin mendengar penjelasan dari mulut suaminya. "Aku lelah Edward... aku butuh waktu. Please... jangan mengikuti aku lagi!"
Rona membalikkan tubuhnya meninggalkan Edward yang berdiri membeku. Lelakinya hanya bisa memandang punggung Rona dengan tatapan nanar dan raut putus asa.
...***...
Tidak seperti malam-malam biasanya, Edward tidak menemukan wajah ayu menawan yang biasa menunggunya hingga tertidur di atas sofa. Dia menaiki anak tangga dengan semangat dan membuka pintu kamarnya yang ternyata gelap gulita. Kemudian mencari kontak saklar untuk menyalakan lampu utama. Namun lagi-lagi dia tidak menemukan sosok yang dia cari.
"Rona kemana kamu sayang...?" Edward menarik rambutnya kasar dengan tangan sebelah berkacak pinggang.
Dia berlari ke arah kamar Ezio, berharap sang istri tidur di kamar putranya. Akan tetapi kedua belahan jiwanya tidak ada di sana. Suasana mansion yang damai tiba-tiba ramai karena teriakan Edward membangunkan seisi mansion.
"Fiona!"
"Leona!"
__ADS_1
"Roland!"
"Ola!"
"Arlo!"
Edward berlari ke sana kemari memanggil satu per satu penghuni mansion. Semua orang keluar dengan wajah sayu seraya menguap karena rasa kantuk.
"Ada apa sih Kak, mengganggu ketentraman saja?!" protes Leona yang merasa terusik waktu istirahatnya.
"Iya nih, Kakak ipar tidak lihat jam apa. Ini itu pukul 00.45, waktunya tidur bukan teriak-teriak seperti orang yang kesetanan!" timpal Roland kesal.
"Istriku mana? Anakku mana? Kenapa mereka tidak ada di dalam kamarnya, hah?" bentak Edward membuat semua orang tersentak karena suaranya bak petir yang menggelegar.
Semua orang saling beradu pandang kemudian menggelengkan kepala. Roland menarik kedua alisnya ke arah Leona, Leona menarik pundaknya ke atas.
"Fiona!" Edward menyebut nama maid-nya. "Kamu sebagai kepala pembantu di mansion ini, pasti kamu tahu kemana anak dan istriku pergi?"
Fiona menggelengkan kepala untuk kedua kalinya. "Ma-maaf Tuan muda, saya tidak tahu nona dan tuan Ezio kemana. Terakhir tadi waktu makan malam, mereka masih ada di meja makan."
"Lalu mereka kemana? Mana mungkin bisa hilang dari mansion ini begitu saja?" geram Edward bimbang.
"Kakak sudah mencoba menghubungi nomor kak Rona?" Leona mencoba mengingatkan.
"Kakak tidak tolol Leona. Tentu saja Kakak sudah menelepon kakak iparmu itu!" sentak Edward karena jawaban Leona hanya menambah kekesalan.
Semua orang terdiam dengan kepala yang tertunduk. Terlebih saat Edward menendang dan membantingkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
"Kemana kamu Rona, kenapa kamu tidak bisa memercayaiku?" pekik Edward berjalan ke sana kemari memikirkan tentang keberadaan istrinya. Wajahnya seketika mendongak dengan jari yang menjentik. "Aku tahu, kamu kemana!"
Pria yang tengah dirundung kebimbangan, menarik kakinya kembali ke arah garasi dan melajukan kendaraannya. Dia yakin bahwa sang istri tengah berada di apartemennya. Karena itu tempat satu-satunya yang dimiliki Rona di negara ini. Berhubung dia tidak memiliki seorang pun saudara atau kerabat.
...*****...
...Terimakasih atas dukungan teman-teman semua ya... 🙏...
...Hihihi... Senja tidak sanggup kalau harus membuat konflik berat-berat nih. Konflik salah paham saja sudah lebih dari cukup sepertinya... 🙈...
__ADS_1