Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Love You Too


__ADS_3

Di tengah kesedihan dan duka lara, ada juga yang tengah merangkai kisah bahagia agar utuh dan sempurna. Meski dipertemukan dengan cara yang tak biasa, namun itulah yang menjadi awal terbukanya pintu hati. Perlahan menerima cinta, pelan-pelan mengobati luka yang tak mampu tersentuh.


"Kamu cantik... matamu indah. Lemah lembut tapi aslinya seperti tukang pukul. Garang!!" Feliks membuka pembicaraan dengan selorohannya yang jenaka.


Hati yang berbunga seketika berguguran. Sama halnya seperti musim kali ini. "Kamu kebiasaan, memuji lebih dulu ... menghina kemudian," sungut Claire sebal.


Feliks terkekeh, "Kamu kalau cemberut seperti ini bertambah cantik, aku suka."


Claire memutar bola matanya. "Dasar tukang rayu. Mana sini minumanku, lama sekali! Bisa-bisa semua pelanggan kabur, kalau pelayanannya lelet begini!" protes Claire karena Feliks terus saja menggodanya.


Feliks membawa nampan yang berisikan coctail dari balik meja bar, kemudian duduk di hadapan Claire. "Silakan diminum pelanggan terakhirku di malam ini."


Kedua sudut bibir ditarik lalu menyesap minuman yang disuguhkan untuknya. Kepalanya manggut-manggut menikmati aroma rasa coctail hasil racikan lelakinya.


"Rasanya luar biasa, Feliks. Kamu benar-benar berbakat. Kalau boleh aku tahu, kamu mencampurkan apa ke minumannya?" tanya Claire antusias.


"Aku mencampurkan obat perangsang," balas Feliks datar.


Claire tersedak dan menyemburkan minuman yang ada di mulutnya. "What, apa tadi kamu bilang, obat perangsang? Gila kamu Feliks, kamu mau memerkosaku, hah?!" umpat Claire yang dengan polosnya memercayai perkataan Feliks.


Feliks tertawa renyah. "Aku bercanda Claire, mana mungkin aku sejahat itu!" Feliks menghembuskan napas lembut, menjeda perkataannya. "Kamu setelah ini mau kemana, ada acara?"


Claire menggeleng kepalanya. "Aku paling langsung pulang. Kenapa memangnya, mau mengajakku kencan?"


"Em... kita habiskan malam ini di taman kota, akan ada Festival Lampion di sana. Ya anggap saja kencan pertama kita. Kamu mau kan?" ajak Feliks penuh harap. Claire nampak berpikir. Dan satu anggukan kepala dari gadisnya cukup membuat hati Feliks bahagia.


"Yess!" Feliks menarik kedua lengannya ke bawah. "Baiklah kalau begitu tunggu aku sebentar, aku selesaikan dulu pekerjaanku!" Feliks bergegas meninggalkan Claire yang kembali menikmati minumannya.


20 menit kemudian,


"Yuk...!" ajak Feliks pada Claire yang sedang memainkan ponselnya. Claire mendongak, dia terkesiap dengan ketampanan wajah pria di hadapannya. Pria yang mengenakan kemeja berwarna biru dengan lengan baju yang dilinting. Claire menatap tanpa berkedip, mengagumi karya indah yang Tuhan ciptakan.


"Hello... hello...!" Feliks mengibas-ngibaskan tangannya, tapi Claire masih bergeming. Feliks terkekeh lalu mengecup pipi gadis yang menatapnya dengan intens. "Aku memang tampan, Claire...."


Claire mengerjapkan mata, kesadarannya mulai pulih. Dia menetuk-netukkan kepala dan mengumpat dirinya sendiri. "Claire bodoh... bodoh... bodoh...!"


Feliks terbahak. "Kamu memang bodoh, Claire. Dan itu yang membuatku suka!" Feliks menuntun tangan Claire membawanya keluar dari cafe.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mereka menikmati sapuan dingin angin malam. Sesekali menatap langit, sesekali tertunduk.


"Kamu lelah Claire?" tanya Feliks yang melihat Claire meringis. Claire menggeleng dan berusaha berjalan seperti biasa. Feliks yang peka kalau Claire sedang tidak baik-baik saja, dia menurunkan tubuhnya dan berjongkok memunggungi Claire.


"Ayo naik...!" titah Feliks.


"Aku masih kuat berjalan," tolak Claire.


"Kakimu lecet, kamu biasa pakai sneaker ini tumben sekali pakai heels," balas Feliks.


Claire yang malas mendengar ocehan Feliks, terpaksa harus menuruti perintah pria yang masih berjongkok di depannya. Dia merendahkan tubuhnya kemudian melingkarkan tangan ke leher lelakinya. Feliks berdiri seraya mengapit kedua kaki Claire menggunakan tangannya.


Sesampainya di tujuan, Feliks menurunkan tubuh wanitanya di atas bangku taman. Feliks turut duduk di samping Claire dan menarik kaki gadisnya itu ke atas pangkuan.


Feliks membuka sepatu yang menyiksa kaki mulus Claire kemudian meniup jemari yang terasa perih karena luka lecet. Feliks memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan satu lembar plester kini di tangannya.


"Masih sakit?" Feliks bertanya dengan lembut.


Claire menggelengkan kepala. "Sudah tidak sakit, terimakasih...."


Feliks mengangguk lalu mengarahkan jari telunjuk ke atas langit. "Lihat itu Claire, pesta lampionnya sudah dimulai. Kamu mau ikut menerbangkan lampion di sana?"


Feliks menepuk paha Claire. "Tunggu sebentar kalau begitu ya." Feliks berlari ke arah penjual lampion. Claire hanya menatapnya hingga tubuh tegap itu menghilang tertelan oleh ramainya orang berdatangan.


Beberapa menit kemudian, Feliks datang dengan lampion dan pematik di tangannya. "Kita terbangkan saja di sini." Feliks menyalakan sumbu lalu menyodorkan lampion ke arah gadisnya. "Kita terbangkan sama-sama ya...."


Claire memegang ujung lampion dan Feliks menggenggam tangan Claire. Keduanya mengangkat lampion bersama-sama kemudian melepasnya membiarkan terbang ke udara.


Mata indah berbinar menatap lampion yang terbang semakin tinggi menyentuh langit kelam. Claire tersenyum riang lalu menyandarkan kepalanya ke atas pundak Sang kekasih hati. Feliks menggenggam jemari Claire.


"Feliks...?"


"Hm...?"


"Sampai kapan kita akan seperti ini?"


"Maksudnya...?"

__ADS_1


"Bertahan dengan hubungan tanpa status. Kita sudah sedekat ini apa tidak ada perasaan sedikit pun untukku?" Claire memutar wajahnya.


Feliks terbungkam dan tidak berani membalas tatapan Claire, dirinya terlalu pengecut untuk mengungkapkan apa yang tersirat di dalam hati.


"Aku bingung Feliks... aku bingung dengan perasaanmu. Aku bingung dengan hubungan kita. Aku perempuan yang tidak butuh sekedar harapan . Aku juga membutuhkan kepastian. Aku lelah, aku butuh kejelasan...."


Feliks memutar tubuhnya. Claire mengangkat kepalanya. Sepasang tangan kokoh merengkuh bahu Claire dan menatapnya dalam. Kerongkongan naik turun dengan pupil mata mengecil.


"Kita jalani saja semua ini, Claire..." ucap Feliks ambigu.


"Jalani? Jalani apa?" Claire membutuhkan ketegasan dari mulut lelakinya.


"Aku pria yang tidak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa mengungkapkannya melalui sikapku!"


"Claire..." ucap Feliks tepat di depan wajah gadisnya hingga hembusan napas terasa hangat menyapu wajah. Claire bisa melihat sesuatu yang menyala di dalam netra berwarna hitam. Api gairah, api asmara.


Feliks menghembuskan napasnya kembali di wajah Claire. Gadis itu semakin sulit mengendalikan perasaannya. Dia memejamkan mata dan menunggu tindakan selanjutnya dari pria di hadapannya.


Feliks menyeringai, memperhatikan setiap inci paras wanita yang sudah mencuri hatinya. Dia merapatkan wajah dan berbisik di samping daun telinga. "I love you, Claire...."


Claire membuka kelopak mata, Feliks langsung saja mencumbu bibir mungil kesukaannya. Claire membelalak dan menatap manik mata yang semula bersinar kini mulai meredup.


Di temani lampion yang mengelilingi di atas langit. Keduanya saling memberi kehangatan dalam decakan ciuman panas, ekspresi dari gairah yang mendesak. Feliks mendorong tengkuk Claire untuk memperdalam ciumannya.


"Bagaimana perasaanmu padaku Claire? Jawablah...."


Wajah penuh binar mengucapkan kalimat tanpa mengeluarkan suara. "I love you too."


"Aku tidak bisa mendengarnya Claire. Bicara yang jelas!" teriak Feliks.


"I love you too...!" ulang Claire namun tetap tanpa suara.


Feliks mendengus lalu mengangkat kaki Claire. Claire yang kaget tidak sengaja memekik mengucapkan kalimat yang sangat dinanti-nati.


"I love you too, Feliks...."


...*****...

__ADS_1


...Maaf ya kalau bab kali ini hambar. Ide di kepala masih macet 🙏...


...Terimakasih untuk semua yang masih setia dengan novel ini. Terimakasih banyak....


__ADS_2