
Rona menyorongkan tangannya. "Lebih baik berikan pada istrimu, dia yang membutuhkan perhatian. Bukan aku!"
"Maaf... tidak ada maksud apapun. Tapi tolong terimalah. Leona juga mendapat porsi yang sama." Roland menyodorkan paper bag di tangannya. Rona bersikukuh tidak ingin menerima.
"Terimakasih... tapi seharusnya kamu peka kalau istrimu sering bersikap agresif itu karena dia cemburu." Rona melewati Roland dan memijak anak tangga dengan menuntun putranya.
"Aku sedang belajar mencintai Leona, tapi tidak bisa aku pungkiri kalau perasaanku terlalu besar untukmu, Rona." Roland bermaksud menyusul wanita yang menjadi kakak iparnya, akan tetapi sorotan murka terbit dari kedua bola mata istrinya dari tangga seberang.
Rona yang tidak menyadari keberadaan adik iparnya, dia berjalan dengan tenang. Biji mata Leona bergerak mengikuti arah Rona melangkah. Dia menarik kakinya membuntuti Rona. Roland tidak ambil diam.
"Sepertinya ikan di kolam bertambah banyak ya sayang?" tanya Rona yang baru saja sampai di pinggir kolam.
Ezio mengangguk. "Ezio yang minta suster Ola belikan ikan koi. Ezio suka ikan, Mommy!" ujar Ezio yang menaburkan flakes ikan.
"Lalu, uang untuk membeli ikannya dari siapa?" Kening Rona mengerut.
"Dari suster Ola," jawab Ezio polos.
"Kasihan dong suster Ola, ikan koi kan mahal sayang...!" Rona asyik bercengkerama dengan putranya. Tidak mengendus bahaya yang tengah mendekati.
Leona berjalan perlahan tanpa meninggalkan suara, tangannya sudah siap mendorong punggung Rona. Tetapi naas saat akan menyorongkan tangannya, dia menginjak lantai yang basah dan licin. Leona kehilangan keseimbangan, dia terjungkal ke dalam kolam.
"Astaga Leona...!" pekik Rona panik. Mengingat adik iparnya itu sedang mengandung sama sepertinya. Rona bersiap menolong Leona, tetapi Roland lebih dulu sigap membantu istrinya.
"Leona kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rona yang mencemaskan adik iparnya. Leona memalingkan muka, tubuhnya menggigil di dalam dekapan Roland.
Pria yang dalam hatinya masih menyimpan pergolakan batin, membawa sang istri menuju kamar. Kedua matanya sulit berpaling dari daya pikat yang terpancar dari wajah natural.
"Bawa istrimu, pastikan dia baik-baik saja," titah Rona yang dibalas kerjapan mata.
Sesampainya di kamar. Roland melepas satu persatu kain basah yang menutupi tubuh istrinya. Dia menarik selimut untuk merungkup tubuh polos Leona.
__ADS_1
"Sebentar, aku ambilkan pakaian kering." Roland beringsut dari atas ranjang, Leona membuka selimut dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya.
"Apa Kak Roland sama sekali tidak bergairah melihatku telanjang bulat seperti ini?" tanya Leona lirih. "Apa Kakak, tidak tertarik untuk menggauli istri kecilmu ini?" Leona meremass dadanya sendiri, memancing jiwa kelelakian suaminya.
"Aku tidak kalah cantik kan Kak? Aku tidak kalah seksi, kan?" Leona memainkan tubuhnya sendiri seperti cacing kepanasan. Gairah suaminya yang lama tidak mencuat, akhirnya terpancing.
Roland merangkak ke atas tubuh istrinya lalu mengecup kening yang jarang dia sentuh. "Kamu cantik ... kamu juga seksi, sayang. Aku menginginkanmu, boleh kah?" Suara parau Roland semakin membangkitkan naluri seorang istri yang menginginkan kepuasan batin. Leona mengangguk, Roland merapatkan tubuhnya.
"Aku akan bermain dengan lembut." Roland melumatt bibir cherry, lembut nan segar. Dia memberikan jeda untuk Leona mengatur napasnya.
"Jujur sama Leona Kak, sekarang yang Kakak lihat siapa, aku atau perempuan itu?" tanya Leona menelisik.
Roland menatap dalam puppy eyes milik istrinya. "Tentu saja kamu, istriku. Tiada yang lain...."
Senyum kebahagiaan merekah. "Kalau begitu, teruskan hasratmu Kak, bawa aku menuju surga dunia. Teguk maduku sepuasmu...."
Lenguhan yang menggaung dan peluh di sekujur tubuh mewarnai sore yang indah. Langit jingga menjadi saksi pergumulan tiada henti sepasang anak Adam. Mereka memasrahkan apa yang tersirat di dalam hati. Saling berbagi kepuasan, hingga puncak kenikmatan diraih. Suara erangan dan jeritan tercipta sangat sempurna ketika semburan nafsuu menyatu dengan gelombang cinta di dalam dinding rahim.
...***...
Tubuh yang semula gagah, saat ini menggantungkan hidupnya pada alat-alat medis yang tertanam di atas tubuh. Dentingan pacu jantung terdengar dari monitor yang tersimpan di sampingnya. Suara gemuruh oksigen yang terhirup paru-paru dalam tubuh serta cairan infusan menetes, mengalir melalui nadi.
"Hai suamiku... aku datang untuk menjenguk. Lihat dirimu sekarang, sungguh menyedihkan sekali! Mau aku bantu hilangkan penderitaanmu saat ini juga?" Wanita licik dan penuh siasat membelai wajah pria yang masih berstatuskan suami.
Dia mengeluarkan lembaran kertas lalu mengangkat lengan Richard. "Aku membutuhkan cap jempolmu. Setidaknya sebelum kamu mati di tanganku, akhir hidupmu berguna."
Wanita tua berhati iblis bernama Amber menekan ibu jari Richard ke tinta berwana hitam, kemudian menempelkannya ke atas kertas putih. Seringai licik tersungging dengan berkas di tangan.
"Terimakasih suamiku sayang. Sekarang jemputlah ajalmu. Akan kukirim ke akhirat tanpa rasa sakit." Amber menutup celah cairan infusan, lalu membuka masker oksigen yang menjadi penopang hidup Richard. Pria yang sedang terbaring, mengap-mengap sesak napas.
"Siapa di situ?" tanya Edward pada seseorang yang mengenakan pakaian dokter. Dia mendekat lalu bertanya kembali. "Apa kamu suruhan dokter William?" tanya Edward curiga.
__ADS_1
Edward mencengkeram tangan seseorang yang mengenakan masker, membuat berkas di tangannya terlepas. "Siapa kamu?"
"Sekali lagi saya tanya, kamu siapa?" Edward memelintir lengan Amber. Wanita itu mengatup mulutnya, menahan suara karena rasa sakit. Edward merekatkan cengkeramannya, Amber meringis. Tangan yang masih bebas bergerak, menarik pisau dari kantong jas dokter yang dia kenakan. Amber menyabet lengan Edward lalu menusuknya.
Cengkeraman Edward terlepas. Namun Edward tidak begitu saja melepaskan sosok asing yang menyerangnya. Dia menjerat leher Amber menggunakan lengannya. Amber kehabisan napas. Perhatian Edward teralihkan karena suara yang berasal dari atas ranjang. Richard kejang-kejang, darah di tangan mulai naik ke atas selang infusan sedangkan tanda di monitor menunjukkan garis horizontal.
"Papa!" teriak Edward. Karena panik melihat keadaan ayahnya, tanpa sadar Edward melepaskan cekikan lengannya. Dia bergegas ke arah Richard lalu memasang masker oksigen. Matanya menangkap cairan infusan yang tersumbat. Tangan yang gemetar memutar alat pengatur aliran. Dia berlari keluar ruangan sembari berteriak sangat kencang.
"Tolong Dokter... tolong suster. Papaku sekarat. Tolong...!"
Mendengar teriakan Edward, semua pihak terkait lekas mendatangi sumber suara. Tubuh Edward bergetar, menahan tangisan.
"Om William, selamatkan Papaku. Kumohon..." ucap Edward saat dokter William datang.
"Silakan kamu menunggu di luar," pinta dokter Willliam.
Dengan berat hati Edward keluar dari ruangan, meski ketakutan dan pikiran negatif membuncah dari dalam dirinya. Untung saja di saat kondisi panik seperti ini, otaknya tidak buntu untuk berpikir. Dia merogoh ponsel dari dalam kantong celana lantas menelepon asistennya.
...*****...
...Terimakasih untuk semuanya yang masih setia dengan karya author recehan ini 😁...
...Sehat-sehat untuk semuanya, semoga selalu bahagia....
...Selamat Beristirahat......
...Bonus Visual Ezio Liam...
...Visual Roland Brooks...
__ADS_1