
Edward berjalan beberapa langkah, dia tiba-tiba mematung sebab berpapasan dengan laki-laki yang sangat dia benci.
Kedua tangan mengepal erat. Urat-urat di sekujur tubuh menegang dengan sorotan mata siap menyerang pemuda di hadapannya. Roy memalingkan muka, dia tidak mempedulikan pria yang menatapnya dengan segenap kebencian. Dia terus berjalan dan melewati sepupunya itu tanpa menoleh sedikit pun. Akan tetapi, telapak tangan Edward menahan dadanya.
"Kamu berhutang penjelasan padaku, Roy!" geram Edward yang masih penasaran kenapa bisa sepupunya itu mengklaim bahwa dia adalah ayah kandung Ezio.
"Penjelasan yang mana?" sarkas Roy tanpa menoleh.
Seorang perawat berjalan tergesa-gesa sembari membawa 3 labu darah menuju ruang operasi. Biji mata Edward mengikuti ke mana darah itu akan dibawa. Dan tentunya ke ruang di mana sang buah hati tengah terbaring tidak berdaya.
"Penjelasan soal donor darahmu buat anakku." Edward menunjuk ke arah darah yang dibawa oleh perawat tersebut menggunakan dagunya.
Roy tersenyum tipis dan melihat ke arah Edward menggunakan sudut matanya. "Bukankah sudah jelas dengan perkataanku, kalau aku adalah ayah dari anakmu. Aku ayah biologis Ezio!"
BUGGG!!!
Edward menghantam wajah Roy menggunakan kepalan tangannya. Pemuda itu membalas dengan perlakuan yang sama. Keduanya terlibat baku hantam, darah menetes dari dalam hidung dan dari sudut bibir mereka. Teriakan histeris Rona tidak diindahkan oleh Edward. Pria beristri itu memukuli Roy membabi buta.
"Edward... kumohon sudah!" pekik Rona geram. "Kalian berhentilah! Didalam ruangan itu ada seorang anak yang tengah berperang dengan maut!! raung Rona sembari melempari dua laki-laki itu dengan sebuah pot bunga.
Kedua pria yang tengah bertikai tersebut menghentikan pertengkarannya. Lantaran pot bunga tersebut mengenai pelipis mereka.
"Apa kalian berdua sudah gila, hah?" Rona mendorong dada Edward lalu menhentak kasar dada Roy. "Apa tidak bisa dibicarakan dengan cara baik-baik?" sentak Rona kesal.
Edward menghapus darah yang menetes dari balik bibirnya lantas berjalan mundur dan menyandarkan punggungnya ke sebuah pilar. Namun, matanya tetap menyoroti wajah pria bajingan yang amat dia benci. Dadanya kembang kempis dengan napas yang memburu cepat.
__ADS_1
Roy melakukan hal yang sama, dia berjalan mundur dan menopangkan tubuhnya ke atas dinding. Manik mata membalas sorotan tatapan Edward tidak kalah tajam.
"Jelaskan padaku semuanya. Tentang Ezio dan mengenai hubunganmu dengan Marissa!" titah Edward dengan suara tersengal-sengal.
"Apa kamu yakin, Edward?" tanya Roy sinis. "Apa kamu siap terluka mendengar kenyataan yang akan aku ungkap?" Roy menyilangkan tangan di atas dada, menahan rasa sakit akibat pukulan yang diberikan Edward.
"Jangan terlalu banyak basa-basi, cepat katakan!!" perintah Edward tidak sabar. Dia ingin bersigera mengetahui kebenaran yang Marissa sembunyikan darinya bertahun-tahun lamanya.
Roy menghela napas. Sebelum dia mengutarakan fakta yang terpendam, dia mengucapkan kata maaf sebagai bentuk penyesalan. "Aku memerkosa Marissa. Aku memaksanya untuk memuaskan nafsuu liarku. Dia yang sangat cantik dan memiliki tubuh yang sempurna. Menjadikan akal warasku menghitam, mataku menggelap!"
"Dasar iblis kau Roy!!" Rahang Edward menegang, bola matanya terbuka dengan sempurna. Tangan sudah diangkat kembali, bersiap untuk menghajar sepupunya yang kurang ajar. Namun, sahutan Roy menggagalkan langkahnya
"Sabarlah dulu, aku belum selesai bercerita! Kalau aku sudah selesai, terserah kamu mau melakukan apa." Roy menyesap sebatang rokok untuk menenangkan dirinya. Tangannya gemetaran, terlihat dia tidak kalah frustrasi saat ini. "Tunggu satu menit!" Pemuda itu menghisap lintingan nikotin itu sesaat kemudian memadamkan apinya dan melemparkan ke dalam tong sampah.
"Selepas kejadian itu... pada akhirnya Marissa sendiri lah yang datang padaku. Dia menyerahkan tubuhnya dengan suka rela untuk aku nikmati." Roy tersenyum membayangkan momen-momen indah dengan istri sepupunya.
Edward memekik kencang, dia tidak ingin memercayai selorohan pemuda gila di hadapannya. "Bedebah kau Roy! Tega sekali memfitnah mendiang istriku. Dia sudah meninggal, jangan lagi kamu sakiti!"
"Justru karena dia sudah mati, jadi aku tidak mungkin berbicara mengada-ada tentang istri pertamamu itu, Edward!" berang Roy tersulut emosi. "Dia datang padaku untuk mencari kesenangan dan kepuasan, yang tidak dia dapatkan dari suaminya. Dia menikmati setiap permainan yang aku berikan. Dia semakin ketagihan akan rasa nikmat yang aku suguhkan. Dan kamu tidak bisa memberikan itu semua pada Marissa!" teriak Roy pada Edward.
Edward tersenyum miris lantas terkekeh dengan kepala yang berdiri tegak. "Ayo lanjutkan lagi dan selesaikan ceritamu, Roy! Aku ingin tahu."
Roy menelan saliva, sudah sejauh ini dia berkata. Setidaknya Edward harus tau di balik alasan mengapa Marissa sampai mengkhianatinya. "Dia mengaku kalau dia kesepian. Kamu tidak pernah ada untuknya. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu. Kamu terlalu gila kerja, sampai melupakan kewajibanmu sebagai seorang suami. Jadi bidadari cantik itu, mencariku. Menuntaskan hasrat yang menyiksa batinnya bersamaku."
Kepala yang semula berdiri tegak, kini menciut. Menunduk dengan posisi kepala serendah-rendahnya. Dia menangis. Namun, dalam waktu yang bersamaan dia juga tertawa. Terlihat menyedihkan dan juga terdengar mengiris hati.
__ADS_1
Rona mendekap tubuh suaminya untuk menguatkan. Akan tetapi, Edward terlalu lemah untuk bangkit kali ini. Tangisnya pecah, mengoyak perasaan siapa pun yang mendengarnya. Pundak pria itu naik turun, air mata berderai lara di dalam rangkulan sang istri tercinta.
"Sabar sayang... kamu bisa melewati ini semua! Kamu kuat, kamu—"
"Aku rapuh, Rona. Aku rapuh...."
Roy melengos, dia merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya dahulu. Pada Edward juga pada Rona. Dia memiliki dosa besar di masa lalu pada pasangan suami istri tersebut. Melihat Edward begitu terpukul, dia semakin merasa bersalah.
Tidak sanggup melihat Edward yang terus merintih dan meratap. Roy memilih pergi dari hadapan Edward untuk sementara.
"Dengarkan aku baik-baik Roy! Meski secara biologis, Ezio adalah anakmu. Namun, berdasarkan status dia adalah putraku! Jadi jangan pernah bermimpi untuk merampasnya dari tanganku!!" imbuh Edward pada sepupunya. Roy tidak menjawab, dia melangkahkan kaki sejauh mungkin untuk menenangkan diri.
...***...
Selain Edward, saat ini Roland tidak kalah panik dan cemas. Dia mondar-mandir di depan ruang bersalin menunggu kabar mengenai istri kecilnya.
"Tabah ya Nak...," Richard mengusap-usap punggung menantu lelakinya, memberi sokongan. "Istrimu wanita yang kuat, Papa yakin dia akan mampu bertahan," ujar Richard menepuk-nepuk bahu Roland.
Melihat Maria yang duduk merenung, Richard turut duduk di samping wanita yang kini menjadi istrinya lalu menggenggam erat jemarinya. Dia menghapus titik-titik air mata yang bergelayutan di atas kelopak mata. "Maafkan untuk semua kekacauan ini, Maria... karena tidak pernah terpikir olehku bahwa semua ini akan terjadi."
"Tidak usah meminta maaf, Richard. Ini bukan kesalahanmu. Kita hadapi semua bersama-sama. Saling menguatkan dan saling memberi dorongan semangat." Maria menepuk-nepuk punggung tangan Richard, memperlihatkan raut penuh keyakinan.
...******...
...Terimakasih banyak untuk yang masih berkenan membaca. Memberi dukungan pada author. Terimakasih untuk yang sudah memberikan VOTE dan GIFT, semoga rezekinya semakin lancar dan mengalir penuh keberkahan. 🙏...
__ADS_1