
Sepasang mata memandang bangunan yang dia tinggalkan seminggu yang lalu dengan tangis dan haru. Matanya mengembun, kakinya membeku. Lamunannya pecah saat tangan kekar seseorang menggamit jemarinya, dengan tangan yang lain mendekap sang buah hati di pangkuannya.
"Kenapa berhenti sayang?" tegur Edward karena Rona menghentikan laju kakinya. "Ayo masuk..." ajak Edward dengan jemari tangan menyusup ke dalam jari lentik istrinya.
"Aku pikir ... aku tidak akan bisa menginjakkan kakiku lagi di mansion ini." Rona menggosok matanya yang memerah. Kepalanya berputar ke arah pria di sampingnya dengan mengulum senyuman.
"Kamu akan selalu menjadi salah satu Nyonya di mansion ini, Rona. Nyonya Edward Liam... istri dari pria paling hot dan baik hatinya sejagat raya," cerocos Edward yang membuat Rona menjulurkan lidah seakan ingin muntah.
"Kenapa kamu berubah menjijikkan seperti ini Edward?" balas Rona atas kenarsisan suaminya. Dia memilin pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening.
"Tapi semua yang kukatakan itu benar adanya, kan?" sahut Edward tetap percaya diri.
Rona mencebikkan bibirnya, mencibir perkataan Edward. "Bagaimana kamu sajalah, asal kamu senang...."
Richard yang kesal karena sikap kekanak-kanakkan pasangan suami istri di depannya, mendengus kasar lantas menerobos tautan tangan Edward, hingga genggamannya terlepas.
"Kalian mau sampai kapan berdiri di sini hah? Sampai tubuh Papa kalian ini membeku karena kedinginan?" cerocos Richard kesal. "Kalau kalian mau berdiam diri terus di situ, terserah! Tapi Papa mau masuk dan menghangatkan tubuh!" Lanjut Richard.
Richard menarik kenop pintu, dia dikejutkan oleh suara pekikan dari mulut Leona yang menyambut kedatangan kakak iparnya.
"Selamat datang kembali kakak ipar..." pekik Leona yang membuat sang ayah hampir mati berdiri karena suara cemprengnya. "Pa- Papa... ini benar-benar Papa? Papa sudah siuman, sudah sehat kembali?" Leona berbinar dengan kedua tangan memijat lembut lengan Richard.
"Iya Nak... ini Papa. Sini peluk Papa." Richard merentangkan kedua tangannya, Leona masuk ke dalam dekapan pria yang dia rindukan setiap harinya. "Kenapa menangis Nak?" tanya Richard mendengar suara isakan putrinya.
__ADS_1
"Leona rindu Papa... Leona pikir...," Leona tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dia menangis meluapkan kesedihan sekaligus kebahagiaan.
Roland mendekati tubuh istrinya dengan tangan mengusap-usap punggung yang bergetar karena isakan. "Sudah sayang... kasihan Papa baru pulang. Biarkan Papa istirahat, Papa pasti sangat lelah."
Leona menarik tubuhnya dari rengkuhan sang ayah lantas mengucek kedua mata yang menggenang. "Ma- maafkan Leona ya Pa. Saking senangnya, sampai lupa kalau Papa butuh istirahat."
Richard tersenyum bersahaja dengan tangan yang meraup wajah putrinya. "Tidak apa-apa Nak... Papa juga rindu sama putri Papa yang sangat manja ini."
Bola mata Leona beralih pada raut wajah yang dia nantikan kepulangannya. Dia berlari tipis kemudian memeluk tubuh kakak iparnya. "Kak Rona... akhirnya Kakak pulang. Jangan pergi-pergi lagi ya. Kasihan Kak Edward, sangat kelimpungan karena Kakak kabur dari rumah."
Rona membalas pelukan Leona, kepalanya tertarik ke bawah, lalu melirik ke arah suaminya. "Iya... Kakak tidak akan pergi lagi meninggalkan Kakakmu. Selama Kakakmu yang menyebalkan ini tidak mendua ataupun bermain wanita."
Leona melepas rengkuhannya kemudian menggenggam jemari Rona. "Percaya sama Kak Edward, dia sangat mencintai Kakak. Kakak tahu... pria bodoh itu seperti orang gila ke sana ke mari mencari Kakak."
Rona terkekeh, dia melirik untuk kedua kalinya ke arah netra mata yang menatap dalam. "Iya Leona... aku percaya pada Kakakmu. Dia pria baik juga setia, meski seringkali sikapnya membuatku kesal juga meragu."
Roland melingkarkan tangannya di pinggang Leona dengan dagu yang menopang di atas bahu. "Sayang... biarkan Kakak ipar dan Kakakmu itu masuk ke kamarnya. Kasihan, mereka pasti ingin bersenang-senang setelah satu minggu berpuasa."
Leona tertawa hambar mencerna perkataan suaminya lantas mengangkat tubuh Ezio yang terlelap dari dekapan Edward. "Istirahat Kak, Leona tahu kalian pasti lelah. Biar Leona yang mengantarkan Ezio ke kamarnya."
Leona beranjak meninggalkan pasangan suami istri yang saling melempar senyuman. Begitu pun juga dengan Richard, pria paruh baya itu menarik langkah menuju ruang pribadinya untuk merebahkan otot-otot punggung yang pegal.
Rona memekik kaget karena tangan kekar Edward mengangkat tubuhnya begitu saja. Dia mengalungkan kedua tangan ke leher lelakinya.
__ADS_1
"Aku bisa jalan sendiri, Edward." Rona merajuk manja. Edward tidak menjawab, isi kepalanya sibuk dengan angan-angan malam yang panas.
Dia membawa Rona ke dalam kamar, kemudian menurunkan tubuh sang istri di atas ranjang dengan hati-hati. "Istirahat ya sayang... aku mau membersihkan tubuhku yang lengket karena keringat."
Rona mengangguk kepalanya berputar mengikuti arah Edward berjalan. Nampak lelakinya masuk ke dalam bilik dengan handuk di genggaman. Seperti pengantin baru, Rona menunggu dengan perasaan yang tidak tenang. Matanya terus menatap pintu yang tertutup dengan rapat. Telinganya menangkap suara aktifitas sang suami di dalam kamar mandi. Suara percikan air dan gumaman yang berasal dari suara baritonnya.
Sudah tiga puluh menit, Rona menunggu dengan hati yang dag-dig-dug. Jantungnya berdebar dengan keringat dingin menjalari seluruh tubuh. Tubuhnya terperanjat karena suara handle pintu ditarik. Rona pura-pura tertidur dengan memejamkan matanya. Namun aroma tubuh sang suami menggelitik indera penciumannya. Menggoda mata indahnya mengintip dari balik bulu lentiknya.
Nampak di iris matanya, tubuh atlestis sang suami tengah berdiri membelakanginya dengan handuk kecil melilit di atas pinggang. Surai hitam yang basah, dengan tetesan air di atas punggung membuat Rona harus menenggak saliva berkali-kali. Pikirannya mulai melambung mengkhayalkan pemilik otot-otot kekar itu menindih dan menaiki tubuhnya.
Sementara Edward yang mengetahui dari balik cermin kalau Rona tengah memperhatikannya, dia tersenyum licik dengan kepala bergoyang-goyang mengibaskan rambutnya yang basah. Dia melepaskan handuk dari pinggangnya memamerkan bokongnya yang bulat. Sementara tangannya sibuk mengelap kejantanannya yang berdiri tegak mencari pusaran kenikmatan.
Rona susah payah menelan ludah, saat ini nafsuu birahi mengalir di dalam darah. Dia memejamkan mata bercengkerama dengan fantasi-fantasi liarnya tentang tubuh lelakinya. Bibirnya tiba-tiba saja mengeluarkan desahaan karena jari telunjuk sang suami tengah mengobrak-abrik titik inti senggamanya.
Kelopak mata mengembang sempurna, saat menyadari imajinasinya menjadi nyata. Membayang kini di sepasang pupil mata, tubuh seksi Edward menelungkup tanpa sehelai benang pun yang menempel.
Tidak tahu mengapa, perhatian Rona langsung tertuju pada milik suaminya yang mengeras di balik kain putih. Dia menyapu bibirnya menginginkan benda itu berada di dalam rongga mulutnya.
Lagi-lagi Rona harus meneguk saliva, tangannya mencoba menggapai mainan yang mulai dia sukai. Akan tetapi Edward mempercepat gerakan jarinya di dalam tubuh inti lantas menghunjam tanpa jeda. Rauhan juga lenguhan tercipta merdu dari bibir wanita yang ingin dipuaskan batinnya. Cairan yang sudah lama membeku, kini mencair menggapai rasa nikmat.
...*****...
...Lanjut besok ya Kak, edisi kangen-kangenannya......
__ADS_1
...Terimakasih untuk semua yang masih setia mendukung dan memberi semangat, Senja sayang kalian......
...Muah... muah... muah......