
Ketika kita berpikir bahwa semuanya akan terlihat mudah. Kita tidak tahu badai tengah menanti untuk menerjang. Ketika kita percaya bahwa semua akan baik-baik saja, kita tidak pernah tahu ada rintangan telah bersiap untuk menghadang. Seperti halnya yang akan terjadi pada gadis malang bernama Rona.
Rona bersama sahabatnya, Nath keluar dari kantor Polisi dengan wajah sumringah. Harapan besar akan menyeret si pelaku dengan hukuman setimpal, seakan telah terwujud di depan mata. Hanya menunggu satu hari, semuanya akan terbalaskan.
Namun kebahagiaan itu mendadak sirna ketika gadis yang sedang bersemangat, mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Nomor siapa?" gumam Rona. Dia menimbang-nimbang untuk menerima telepon tersebut atau tidak.
"Angkat jangan ya?" bisik Rona.
"Angkat saja Ron, barangkali penting!" usul Nath yang masih mendengar suara bisikan Rona dengan jelas.
Rona
Ya, hallo!
xxxx
Masih ingat suaraku?
Tubuh Rona bergetar, lututnya tiba-tiba terasa lemas. Dia sangat mengenali suara laki-laki yang tengah meneleponnya itu.
Rona
Kamu?
xxxx
Hahaha... sepertinya suaraku sangat berkesan, sampai-sampai kamu masih mengingatnya
Rona
Cepat katakan, tujuanmu apa meneleponku?
xxxx
Aku suka semangatmu kucing liar
Aku punya penawaran untukmu!
Rona
Penawaran apa, cepat katakan!
xxxx
Datanglah ke apartemenku, tempat kita memadu kasih malam itu
Aku pastikan kamu akan menyesal kalau tidak datang!
____
Sebelum Rona menjawab, telepon sudah lebih dulu diakhiri.
"Hallo... hallo...! Ah... brengsekk!"
"Kenapa Rona?" tanya pria di sampingnya.
"Bedebah itu meneleponku!" jawab Rona.
"Bedebah? Maksudmu pria itu?" tanya Nath tercengang.
Rona mengangguk dan pikirannya seketika kacau. "Dia memintaku mendatangi apartemennya."
__ADS_1
"Tapi untuk apa?" tanya Nath memastikan.
"Aku tidak tahu Nath. Tapi firasatku mengatakan ada sangkut pautnya dengan kedatangan kita ke sini."
"Biar aku temani. Aku beritahu Claire juga, kalau ada apa-apa setidaknya dia bisa membantu," tawar Nath.
Rona mengangguk, dengan pikiran yang mengambang. Dia yakin pria bajingan itu pasti merencanakan sesuatu yang sangat merugikan dirinya. Pria yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Rona!" sentak Nath yang mengacaukan lamunan Rona.
"Eh, iya Nath. Apa?" sahut Rona.
"Kamu melamun," ungkap Nath. "Jangan terlalu dipikirkan, semua akan baik-baik saja!" tukas Nath yang memperhatikan wajah pucat sahabatnya.
"Aku tidak yakin, Nath..." balas Rona putus asa.
Nath menghela napas, sejujurnya dia sendiri mengkhawatirkan sesuatu, tapi ntah apa. "Kita makan siang dulu saja ya," saran Nath.
"Aku tidak lapar Nath. Semua ini membuatku stress!" ungkap Rona seraya memegangi ulu hatinya.
"Sakit lambungmu kambuh ya?" tanya Nath.
Rona mengangguk sembari meringis menahan rasa sakit yang menusuk. Semua yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini, sangat menyita pikiran yang berefek pada kesehatannya.
"Kamu bawa obat?" tanya Nath cemas.
Rona menggeleng dengan terus meringis. Nath kelimpungan melihat kondisi sahabatnya. "Aku belikan dulu obat ya?" tawar Nath.
"Tidak usah, nanti juga hilang sakitnya. Lebih baik kita segera menemui pria itu, sebelum dia melakukan sesuatu yang bisa menambah runyam keadaan," ujar Rona.
Nath mengangguk dan melajukan kendaraan dengan sangat cepat. Darahnya mendidih, dia sudah tidak sabar ingin menghajar pria yang sudah mengusik kehidupan sahabatnya. "Akhirnya aku mempunyai kesempatan untuk menghajarmu brengsekk!"
...*******...
Apartemen Blue Kingdom
Rona
Aku tidak ingat kamarmu nomor berapa!
Xxxx
Wow... kamu sangat bersemangat nampaknya
Rona
Cepat katakan! Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi!
Xxxx
Baiklah, kamarku nomor B- 13, lantai 17
Aku tunggu sayang, aku sudah tidak sabar
Rona
Cih!
Kamar B- 13
Gadis yang kini berdiri di depan pintu, benar-benar harus menyiapkan mentalnya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Bayang-bayang kenangan suram sedikit melemahkan dirinya. Terlebih saat ini dia akan menginjakkan kaki kembali ke dalam kamar yang meninggalkan nestapa.
"Kamu siap Rona?" tanya Nath yang meremass lembut bahu sahabatnya.
__ADS_1
"Aku siap Nath!" lirih Rona.
Nath mengangkat tangan hendak memencet bel. Namun, pintu sudah lebih dahulu dibuka. Rona mematung saat beradu pandang dengan pria yang telah memerkosanya dengan tangan yang mengepal.
"Kamu bawa monyet penjaga?" tanya pria yang berdiri dengan raut meremehkan.
"Apa kamu bilang?" geram Nath seraya menarik kerah pria tersebut, sementara tangan satunya siap melayangkan pukulan.
"Sabarlah sedikit, simpan energimu anak muda!" tegur pria yang berdiri di depan pintu dengan tangan menurunkan kepalan Nath.
"Kalian mau di sini terus-menerus atau mau masuk?" tanya pria tersebut dengan wajah angkuh.
Menyadari kalau gadis di depannya terus saja mematung. Pria yang tak lain adalah Edward, menarik lembut lengan Rona dan menuntun gadis itu untuk memasuki kamarnya.
"Duduklah..." tawar Edward.
"Tidak perlu, cukup berdiri saja. Cepat katakan apa yang kamu inginkan?" tanya Rona dengan suara lantang.
"Aku menginginkan kamu!" ungkap Edward dengan menjimpit dagu Rona.
Kembali kedua pasang mata bersitatap, dengan pikiran dan prasangkanya masing-masing. Menatap dengan dalam, dipenuhi rasa amarah dan kenangan lama. Namun, sebuah tamparan membuyarkan segalanya.
"Jangan sentuh saya lagi. Tangan itu terlalu kotor untuk menyentuh saya!" geram Rona.
"Tangan ini kotor? Tapi tangan ini yang sudah memberimu kenikmatan dunia," cerca Edward.
Nath yang sedari tadi menahan amarah, akhirnya melepaskan sebuah pukulan tepat di wajah Edward yang tengah tersenyum menggoda. Dia benar-benar tidak terima akan perlakuan pria itu pada sahabatnya.
"Sialan!!!" umpat Nath. Pukulan kedua hampir meluncur kembali. Namun, perkataan Edward mencegahnya.
"Sekali lagi kamu berani memukulku, aku pastikan video ini akan tersebar secepat angin!" ancam Edward dengan mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Video... video apa?" tanya Rona cemas.
"Video malam panas kita sayang..." ucap Edward di samping telinga Rona.
Rona kembali menegang, dengan mata yang semakin memanas. Dia tidak pernah mengira sebelumnya kalau pria bajingan ini akan merekam malam kelam itu.
Nath kembali menghantam wajah Edward dengan kepalan tangan. Edward hendak membalas pukulan laki-laki yang menyerangnya. Namun, tiba-tiba sebuah tendangan menikung dari balik punggung. Edward terjerembab dan darah segar menetes dari hidungnya.
"Claire!" pekik Rona.
"Aku datang tepat waktu kan?" tanya Claire semangat.
"Sangat tepat waktu," jawab Rona antusias.
"Mau kita apakan pria pengecut ini?" tanya Nath dengan menendang kaki Edward.
Rona sejenak berpikir, dia ingin memberi pelajaran pada laki-laki yang terbujur menelungkup.
"Kita ikat saja di kursi, terserah kamu mau apakan dia, Nath. Aku hanya butuh video yang ada di ponselnya," ujar Rona berapi-api.
Claire menarik kursi makan yang berada di sampingnya. Sementara Nath mengambil tali yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dia menaruh tali itu di lorong apartemen.
Kini tubuh Edward terpaku oleh seutas tali, dengan wajah dipenuhi luka lebam. Rona merampas ponsel dari tangan Edward, hendak menghapus rekaman video yang dimaksud. Namun, dia terkejut dengan video yang dia lihat.
"Pria bajingan!!!" Rona melayangkan tamparan dan Edward menyeringai. Lalu tergelak mentertawakan kebodohan gadis di depannya.
"Masih ingin bermain-main denganku, kucing liar?"
...*******...
...Terimakasih untuk dukungannya, mohon maaf komentar dari teman-teman semua belum senja balas. Semoga besok kondisi membaik....
__ADS_1
...Jangan lupa untuk meninggalkan favorite, vote, like, comment dan rate 5 stars....
...Selamat malam...