
Tawa riang melengking sebagai ungkapan kebahagiaan. Rasa bahagia yang tiada tara dan tidak mampu untuk diutarakan dengan kalimat apa pun. Matanya yang bulat dan jernih terpukau karena sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Dunia luar yang jarang dia pijak dan juga disinggahi.
Sepanjang hari dia hanya bertemankan dinding-dinding bisu serta binatang cicak yang merayap. Hidupnya kaku, terbatas pada gerbang tinggi yang menjulang. Pembatas antara tempat tinggalnya dan dunia asing yang tidak pernah dia kenali.
Kepalanya bergulir ke kiri dan ke kanan, disertai sinar mata takjub akan semua yang dia lihat. "Mommy itu apa?"
Rona melihat ke arah tangan Ezio menunjuk. "Itu namanya jembatan layang, sayang...."
"Kalau gedung tinggi itu?" tanya Ezio lagi.
Rona menggeserkan kepala ke arah jam dua belas. "Oh itu ... itu namanya gedung theater...."
Ezio begitu antusias bertanya hal-hal yang baru dia lihat. Dan sang ibu pun begitu sabar menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh anak sambungnya.
Mereka menikmati perjalanan ke kebun binatang, hingga waktu satu jam tidak terasa berlalu begitu saja. Kini ketiganya telah sampai di tempat yang dituju, yakni Sydney Zoo.
"Hore... akhirnya kita sampai." Ezio jingkrak-jingkrak kegirangan. Teriakan kebahagiaan terus meluncur dari bibir mungilnya. "Ye... Ezio main ke kebun binatang... hore...."
"Apa Ezio senang Daddy ajak ke kebun binatang?" tanya Edward yang merendahkan tubuhnya agar sejajar.
"Tentu saja senang, Daddy. Terimakasih...," Ezio mengecup pipi kiri dan kanan Edward bergantian.
"Sama-sama sayang...," Edward mengusap-usap pucuk kepala putranya lantas menggendongnya.
Ezio menggerak-gerakkan badannya, memberontak. "Ezio sudah besar Daddy, Ezio jalan kaki saja. Tidak mau digendong!"
Edward menurunkan Ezio dari pangkuannya dengan senyum yang tersimpul. "Anak Daddy sudah besar ternyata, sudah tidak mau digendong."
"Iyalah, sudah besar. Daddy sih bekerja terus, tahunya Ezio masih kecil," seloroh Ezio yang membuat perasaan Edward merasa bersalah.
"Kita jadi masuk atau tidak nih...?" potong Rona kesal melihat perdebatan ayah dan anak.
"I-iya masuk," sahut Edward yang takut kalau Rona sudah memperlihatkan wajah bengisnya. Tanpa sanggahan apa pun lagi Edward menuntun Ezio melewati pintu masuk dengan menyerahkan tiga lembar tiket. Dan kini mereka sudah bersiap untuk berpetualang.
"Wah... kupu-kupunya indah sekali Mommy," ungkap Ezio takjub pada binatang yang berterbangan ke sana ke mari. Matanya menangkap berbagai warna yang begitu indah.
"Ezio suka?" tanya Rona lembut.
"Sangat," jawab Ezio singkat. "Setelah ini kita mau melihat apa Mommy?" tanya Ezio yang langsung bergidig geli melihat seekor ulat berada di lengan baju ayahnya.
"Daddy... itu ada ulat di baju Daddy!" pekik Ezio pada ayahnya. Sontak saja Edward langsung berlarian, karena ulat salah satu binatang yang sangat dia benci.
"Ma- mana ulat?" Edward mencari keberadaan binatang itu di bajunya. "Ah... ulat! Tolong jauhkan ini dari pakaianku. Itu sangat menggelikan!" teriak Edward dengan wajah merah padam.
Rona berjalan mendekat lalu memetik selembar daun. Dia mencomot ulat bulu tersebut, lalu menaruhnya di atas telapak tangan. "Uh... ulat bulu, kamu lucu sekali sih...."
Edward tertawa hambar. "Lu- lucu? Ulat bulu kamu bilang lucu? Cepat buang... geli...!"
Rona terpingkal melihat sikap Edward yang nampak seperti anak kecil. "Dih... sama ulat saja takut! Malu sama badan, tahu!"
__ADS_1
"Aku bukan takut, tapi geli!" sungut Edward menutupi rasa malunya.
Perdebatan mengenai ulat bulu, membuat Edward dan Rona melupakan kalau mereka tengah bersama Ezio. Dan keduanya baru menyadari bahwa putra sulung mereka menghilang dari jangkauan.
"E-Ezio mana?" tanya Rona panik. "Ezio mana?" ulangnya dengan kepala berputar.
"Ezio mana Edward? Ezio mana?" ulang Rona gelisah.
"Tenang Rona, tenang! Kita cari Ezio bersama-sama." Edward meletakkan kedua tangan di atas pundak sang istri dengan tatapan yang menangkan. "Kalau kamu panik seperti ini, yang ada menambah masalah nantinya. Jadi... tenanglah!" ujar Edward berusaha menurunkan kekhawatiran.
"Kita cari Ezio ke arah pintu keluar, karena area butterfly tropics ini hanya ada satu jalur. Oke?" tambah Edward untuk meyakinkan. Rona menganggukkan kepala lalu mengatur napas, mengontrol emosi dirinya sendiri.
"Oke... sekarang kita bergegas mencari Ezio!" titah Rona berjalan dengan langkah panjang seraya memegangi perutnya bawahnya yang terasa nyeri karena stres.
Sementara itu,
"Aunty... lepaskan Ezio! Ezio mau sama Mommy!" bentak Ezio pada orang asing yang membawanya. "Aunty lepaskan Ezio! Atau kalau tidak Ezio teriak nih!" ancam Ezio pada orang yang tidak dia kenali.
"Bisa diam tidak anak kecil? Kalau kamu berteriak, aku pastikan kamu tidak akan bertemu lagi dengan kedua orang tuamu!" balas orang tersebut untuk menakut-nakuti.
"Aunty jahat... Aunty orang jahat!" Ezio merengek seraya memukul pundak wanita tersebut.
"Aunty cuman ingin bermain sedikit dengan Daddy-mu sayang... Aunty bukan orang jahat," kilahnya dengan senyuman licik. "Nanti juga Aunty akan mempertemukan Ezio dengan Daddy Edward," ucapnya lagi tanpa rasa malu.
"Memangnya Aunty kenal sama Daddy-ku?" tanya Ezio yang saat ini menghentikan tangisannya.
Ezio menggerak-gerakkan badannya agar terlepas dari dekapan wanita asing tersebut sembari berteriak. "Lepas Aunty! Mommy Ezio hanya Mommy Rona. Bukan Aunty jahat!"
"Diam atau aku akan mencekikmu anak kecil?" ancam orang tersebut tanpa perasaan. Dia terus membawa Ezio menuju tempat parkir.
Ezio membungkam mulutnya karena takut akan ancaman yang diberikan wanita tersebut. Dia meratap memanggil kedua orangtuanya. "Mommy... Daddy... Ezio takut. Ezio mau pulang."
"Edward... ah... perutku sakit. Aku tidak kuat lagi berjalan cepat!" keluh Rona memegangi perutnya. Dia terduduk dengan kaki menjulur ke depan di atas aspal.
"Rona!" pekik Edward yang melihat kondisi Rona pias. "Bi- biar aku gendong ya?" Edward menurunkan badannya untuk mengangkat tubuh sang istri.
Rona menggelengkan kepala dan mendorong dada suaminya. "Jangan pikirkan aku. Cepat cari Ezio dan bawa dia padaku! Aku tidak apa-apa, aku dan janinku kuat!"
Edward bimbang harus memilih yang mana, dia kelimpungan sendiri dengan situasi saat ini. Namun, belaian lembut tangan Rona meneguhkan pendiriannya.
"Bawa Ezio kembali ... aku kuat, si kembar tiga juga kuat. Jangan khawatirkan kami. Pergilah...!" titah Rona dengan raut sayu namun penuh penekanan.
Edward menarik kepalanya ke bawah lalu mengeret tubuhnya meninggalkan sang istri yang terduduk lemah. Dia berlari sekuat tenaga dengan wajah terus menoleh ke arah istrinya.
"Bawa Ezio padaku...!" teriak Rona pada suaminya. Edward mengangguk dan terus berlari mengikuti arah pikiran membawanya. Dan saat ini dia sudah berada di area tempat parkir. Edward mengedarkan kejelian ke sekeliling tempat mencari sang buah hati. Telinganya samar-samar mendengar suara mungil yang dia sayangi.
"I-ini suara anakku! Ini suara Ezio!" Edward menyeret kakinya ke arah di mana suara Ezio terdengar sengau. Semakin lama suaranya semakin jelas. Edward menemukan seorang anak yang tengah digendong seseorang seraya berlari kencang. Dia mengejar orang tersebut dan memanggil nama putranya.
"Ezio... ini Daddy!"
__ADS_1
Ezio seketika mengangkat kepalanya lalu memanggil ayahnya. Dia meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Akan tetapi, wanita yang menculiknya malah menambah kecepatan kakinya.
"Berhenti kamu!" titah Edward lantang. "Lepaskan anakku! Kamu mau uangkan? Aku akan memberikan berapa pun yang kamu minta!" pungkas Edward pada si penculik.
Wanita itu menyeringai licik kemudian memutar badannya. Dia melepas hoody jaket yang menutupi kepala dan kini nampak wajah seorang gadis yang sangat Edward kenali.
"Grace? Kamu?" Edward tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya Daddy sayang... ini aku, Grace! Mahasiswi tercintamu," sahut Grace dengan suara mendesahh. "Daddy ingin anak kesayangan Daddy kembali, kan? Mudah, asal dengan satu syarat...."
"Syarat apa?" balas Edward geram.
"Syaratnya adalah... Daddy harus mau menikahiku! Aku tidak peduli kalau pun harus dijadikan istri kedua, yang penting ... aku menjadi istrimu!" ungkap Grace mempermalukan dirinya sendiri.
"Cih, saya tidak sudi menikahi wanita gila macam kamu, Grace!" geram Edward yang bersiap untuk menghajar perempuan di hadapannya. Namun, jemari Grace kini melingkar di atas leher Ezio.
"Berani kamu mendekat dan menyakitiku, aku akan menyakiti anakmu!" ancam Grace melemahkan kekuatan Edward.
Edward merentangkan tangan ke arah Grace dan berbicara dengan suara rendah. "Tolong jangan lakukan itu, Grace. Biar saya akan membayarmu berapa pun yang kamu minta!"
"Aku tidak mau uangmu, Daddy! Aku menginginkanmu. Aku menginginkan dirimu seutuhnya menjadi milikku," ungkap Grace dengan tatapan genitnya.
Di saat perhatian Grace tertuju pada pria idamannya, anak kecil itu tiba-tiba memiliki ide. Dia menggigit cuping telinga Grace dengan sangat kencang hingga perempuan gila itu memekik kaget dan melepaskan cengkeramannya di tubuh Ezio. Grace yang naik pitam dia mengeluarkan senjata api dari dalam saku mantel dan bersiap untuk diarahkan pada pria yang berdiri di hadapannya.
Dan...
DUGGG!!!
Tubuh Grace tahu-tahu tersungkur karena hantaman benda tumpul di belakang kepalanya. Darah segar mengucur ke atas tengkuk dan pundaknya.
"Mommy?" pekik Ezio setelah menyadari siapa yang berdiri di belakang si penculik. Ezio berlari kencang untuk menghampiri sang ibu lantas memeluknya. "Ezio takut Mommy... Ezio takut kalau tidak bisa bertemu Mommy lagi...."
"Tenang sayang... kamu sudah aman. Kamu sudah bersama Mommy." Rona menghujani putra sulungnya itu dengan kecupan meski tubuhnya sendiri bergetar hebat.
Tidak berangsur lama, dua orang petugas keamanan datang dan membawa Grace untuk dimintai pertanggung jawabannya di hadapan hukum.
"Tolong amankan wanita ini dan seret dia ke kantor polisil!" geram Edward pada wanita yang tengah terlengar tidak sadarkan diri.
"Siap Mister!" jawab petugas keamanan tersebut seraya memberi hormat.
"Terimakasih banyak," sahut Edward pada kedua pria tersebut.
Edward mendekati anak dan istrinya, lalu merengkuh tubuh keduanya dengan sangat erat. "Syukurlah kita masih bisa bersama-sama. Tadi aku benar-benar takut!"
"Semuanya akan baik-baik saja kalau kita tetap bersama," jawab Rona dengan perasaan lega. Dan rasa sakit di perutnya pun mendadak hilang.
...*****...
...Terimakasih banyak dukungan teman-teman semua. Mohon maaf kalau ceritanya tidak semenarik sebelumnya 🙏...
__ADS_1