Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Olahraga Tangan


__ADS_3

Hujan sejak tadi siang menemani hati yang dingin. Berdiam diri di tengah dinding bisu, menambah sukma semakin merana.


Tubuh semampai melangkah lesu, menatap gemercik hujan dari dalam kamar. Dia mengusap kaca jendela yang berembun, nampak pemandangan kota yang ditutupi kabut pekat. Suara helaan napas berat mewakili kejemuan. Dan perasaan rindu yang menelusup ke dalam kalbu.


"Aku bosan...."


"Jatah cuti masih lama lagi! Tapi tidak ada salahnya kalau aku ke Rumah Sakit."


Rona bergegas membersihkan dan menyiapkan dirinya. Dia mengacak-ngacak isi lemari mencari pakaian yang layak untuk dikenakan. Untungnya ada setelan blazer warna biru yang menggantung dengan rapi.


Dia menilik penampilannya dari balik cermin. memulas bibir pias dengan lipstik berwarna nude. Rambut diikat ke belakang, tidak lupa kacamata yang terselip di antara dua telinga.


...***...


Sudah setengah jam Rona berdiri di atas trotoar dengan payung berwarna biru senada dengan pakaian yang dia kenakan. Dia menunggu taksi, tetapi dalam kondisi hujan seperti ini, nampaknya dia harus lebih bersabar.


Rona mengetuk-ngetukkan sepatu, sesekali melirik jam di tangan kiri. Tubuhnya mulai kedinginan karena terpaan angin yang bertiup kencang.


Sebuah mobil hitam pekat berhenti tepat di depannya. Rona mengamati kendaraan yang asing baginya. Jendela terbuka perlahan dan terlihat kini sosok pria yang membuatnya jijik.


"Nona Rona, mari saya antar..." teriak pria itu tersamarkan suara hujan.


Rona bergeming dengan mata menatap ke arah lain. Dia ingat betul setiap bertemu dengan pria ini selalu saja ada ulahnya yang menjengkelkan.


"Ayo Nona, hujan semakin deras...!" ajaknya.


"Terimakasih Tuan Roland, tapi saya menunggu taksi saja!" jawab Rona yang dibalas senyuman.


"Aku senang karena kamu menyebut namaku...."


Rona memutar bola mata, lalu menarik bibir ke satu sudut. Dia melambaikan tangan karena ada satu taksi yang akhirnya melintas. Tanpa berkata apa pun pada pria yang menunggunya, Rona pergi begitu saja.


"Hufth... kenapa dia selalu muncul di mana-mana sih?!" Rona memijat pelipisnya.


"Kita mau kemana, Nona?" tanya driver taksi.


"Ah, ke Victoria Hospital ya...."


"Baik, Nona...."

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit, tatapan orang-orang langsung tertuju padanya. Rona sontak saja merasa risih. Namun, dia mengacuhkannya dengan memasang wajah seperti biasa. Penuh senyum ramah dan sorotan bersahabat.


"Dokter Rona?" pekik orang-orang yang mengenalinya dengan baik. Semua menghampiri lalu memeluk dan memberi selamat.


"Selamat ya, Dok...."


"Akhirnya Dokter menikah juga...."


"Saya turut berbahagia, Dok...."


"Pengantin baru kok masuk kerja. Harusnya kan gempur siang malam di atas ranjang..." goda salah satu perawat. Semua terbahak, mendengar celotehan yang membuat Rona tersipu.


Rona pamit undur diri menuju lantai 2, di mana ruang poliklinik anak berada. Dia berniat ingin menemui rekan sejawat. Akan tetapi, malaikat-malaikat kecil lebih dulu menyambutnya.


"Dokter Rona sudah datang, aku mau diperiksa sama Dokter Rona...."


"Ye... ada Dokter cantik. Aku tidak mau Dokter yang itu...."


"Mama... aku mau sama Dokter baik saja, tidak mau sama Dokter yang galak...."


Rona menyeringai, lalu menolehkan kepala ke arah Dokter Lucas rekan sesama dokter anak. Dia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan. Lucas hanya tersenyum, setidaknya hari ini dia bebas dari tugas-tugas yang melelahkan.


Akhirnya semua pasien sudah Rona tangani. Dia merasa lelah. Namun, terbayar lunas dengan senyuman manis pasien terakhirnya.


"Cieee... pengantian baru," ledek Gisella. Dia menarik kursi lalu duduk di hadapan Rona. "Ayo ceritakan, bagaimana malam pertama. Aman?"


"Ma- maksudnya aman?" tanya Rona gugup.


"Hahaha... wajah Dokter langsung pucat," ejek Gisella. "Direktur kita itu kan hot banget, Dok. Ah... aku tidak sanggup membayangkannya."


"Apaan sih..." sahut Rona malu-malu.


Gisella hanya tertawa melihat wajah atasannya yang berubah merah. Lalu berdiri dan keluar dari ruangan tanpa merasa bersalah.


...***...


Sementara di dalam apartemen, Edward gelisah dan uring-uringan. Pasalnya dia hendak memberikan Rona kejutan malah dia yang terkejut karena wanitanya tidak dia temui di mana pun.


Dia berjalan mondar-mandir dengan menggenggam ponsel yang mulai panas. "Kemana kamu sayang... apa kamu marah?"

__ADS_1


Edward menatap jam yang berdetak lalu menatap layar ponsel yang bergeming. Berkali-kali dia melakukan panggilan. Namun, Rona tidak bisa dihubungi.


Tidak berapa lama, suara smart key door berbunyi. Edward berjalan tergesa-gesa lalu berteriak tiba-tiba, membuat jantung Rona terhenyak. "Dari mana saja kamu?"


"A- aku—"


"Aku khawatir..." ungkap Edward. Suaranya memelan lebih terdengar lirih. "Apa kamu marah, hm...?" Edward menelungkup wajah istrinya.


"Aku bosan di apartemen sendirian, jadi aku ke Rumah Sakit...."


"Astaga... kenapa aku tidak ingat sama sekali ya." Edward mengecup pucuk kepala Rona lalu mendekapnya kembali. Dia menarik lembut tubuh ringkih ke atas sofa lalu beranjak untuk mengambilkan air putih. "Minumlah..." tawar Edward.


Rona menarik kedua alisnya ke atas, memasang raut curiga. "Kamu tiba-tiba baik, tidak ada rencana mengerjaiku lagi kan, Edward? Minuman ini tidak dicampur obat perangsang lagi, kan?" cecar Rona.


Edward terkikik geli sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak sayang, ini aman." Edward menyodorkan gelas berisi air putih dan Rona langsung meminumnya. Suara gelegak menggoda Edward yang turut menelan saliva dengan mata yang menyorot nakal ke leher panjang dan gundukan yang tercetak di balik kemeja biru tipis.


Rona mengusap bibir menggunakan telunjuk dan Edward mengusap bibirnya sendiri dengan lidah. "Hari ini aku belum mendapatkan ciuman..." rengek Edward.


Rona menarik rahang Edward, lantas mengecupnya sepintas. Edward menyelipkan tangan ke sela-sela rambut dan menarik tengkuk sang istri, memperdalam ciuman. Tangannya menelusup dari bawah kemeja lalu mencari kaitan yang berada di punggungnya.


Tangan Edward meremass dada yang menyembul kemudian memutar titik sensitif yang mencuat keras. Deru napas Rona mulai kasar. Pagutan liar dilepas, bibir dengan lipstik nude mengeluarkan desahann seksi.


Edward membuka kancing kemeja Rona satu per satu. Lalu melucuti kain yang menempel dan menenggelamkan wajahnya di dalam dada.


"Aku menginginkanmu, sayang..." desah Edward.


Rona menggeleng. "No... no... no... cukup pemanasan saja, itu hukuman karena kamu meninggalkan aku sendiri di kamar Hotel. Seperti kupu-kupu malam yang telah selesai melayani pelanggan!"


Edward melongo melihat istrinya beranjak lalu berjalan ke arah kamar mandi. "Sayang... bagaimana ini, aku ini..." Edward berbicara tidak jelas dengan tangan menunjuk arah selangkangann.


"Tuntaskan saja dengan tanganmu, sabun masih banyak!" teriak Rona dari balik pintu.


Edward menepuk dahi dengan kencang. Dia menyesal karena telah membuat wanitanya murka. "Masa aku harus olahraga tangan...?"


...******...


...Terimakasih untuk dukungannya, jangan lupa untuk memencet gambar love. Memijit gambar jempol, meninggalkan komentar, vote, hadiah atau pun rate 5 bintang....


...Selamat berakhir pekan....

__ADS_1


...Mohon maaf kalau Up alot, sedang mengurusi acara 🙏...


__ADS_2