Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Nasi Goreng


__ADS_3

Pria yang ingin menyenangkan istrinya beranjak menuju dapur dengan benda pipih terselip di tangan. Sebelum dia meninggalkan kamar, teriakan sang istri menjeda langkahnya.


"Ingat ya, harus kamu sendiri yang membuat nasi gorengnya. Jangan minta tolong sama Fiona! Karena aku sudah hapal bagaimana rasa masakan maid kita." Rona menahan tawa dengan membekap mulutnya sendiri. Sementara, Edward mengacungkan ibu jari dan menghilang di balik pintu.


Sesampainya di dapur, Edward berkacak pinggang dengan mata berputar-putar mencari apa yang dia butuhkan. Fiona yang tidak sengaja melihat tuannya tengah berada di dapur, langsung saja menghampirinya.


"Tu- Tuan... ada keperluan apa di dapur, kenapa tidak memanggil saya?" tanya Fiona tidak enak hati.


"Istri saya ingin dimasakkan nasi goreng." Edward membuka pintu lemari es lantas mengambil telur satu buah.


"Nasi goreng? Makanan seperti apa itu Tuan?" Fiona menggaruk-garuk kepalanya, keningnya berkerut.


"Makanan dari Indonesia, istriku ingin dibuatkan itu." Edward menatap layar ponselnya dan membaca resep dengn seksama. Dia mencari bahan utama membuat nasi goreng, namun sayang tidak menemukannya.


"Di rumah kita tidak ada nasikah, Fiona?" Edward mulai kelimpungan, dia memijat pangkal hidungnya.


Fiona menggelengkan kepala dengan eskpresi bingung. "Kitakan tidak pernah makan nasi, Tuan. Tapi kalau Tuan mau nanti saya bisa memintanya pada Arlo. Setahu saya dia orang Asia dan aku sering melihatnya makan nasi."


"Ya sudah, aku tunggu kalau gitu. Tolong bersigera, karena istriku sudah kelaparan." Edward merendahkan tubuhnya di atas kursi menunggu Fiona kembali dari kamar Arlo.


15 menit kemudian, Fiona datang berjalan tergopoh-gopoh dengan kotak nasi di tangannya. Dia nampak sungkan, karena majikannya nampak tertidur karena kelelahan.


"Tuan... Tuan... ini nasinya, Tuan." Fiona mengusap-usap bahu Edward dengan lembut, membangunkan pria itu dari mimpi-mimpi indahnya.

__ADS_1


Erward perlahan membuka kelopak mata, mengerjap-ngerjap membiasakan iris matanya dengan pencahayaan cahaya di ruangan tersebut.


"Ah... maaf, aku tidak sengaja tertidur." Edward menegakkan tubuhnya lantas meraih lunch box yang disodorkan asisten rumah tangganya. "Terimakasih banyak Fiona." Edward memeluk wanita tua yang telah mengurusinya sewaktu kecil, Fiona membalas pelukan Edward.


"Sama-sama, Tuan. Saya bantu ya?" Fiona menawarkan diri. Diri meraih pisau untuk mengiris onion. Namun, tangan Edward mencegahnya.


"Kamu istirahat saja Fiona, biar aku sendiri yang memasaknya." Edward menarik benda tajam dari tangan Fiona lalu mulai meracik dengan bumbu seadanya. Fiona meninggalkan Edward sendirian berjibaku dengan alat-alat dapur, lalu mengintip dari samping lemari.


Seperti seorang chef handal, tangan Edward bergerak dengan sangat cekatan. Fiona tidak sia-sia mengajarinya mengolah makanan sejak usia remaja. Dan kini satu piring nasi goreng sudah siap untuk dihidangkan. Edward menghirup aroma lezat makanan yang dia buat, membuat perutnya turut bergetar karena lapar.


Edward mencicipi masakannya pada sebuah piring kecil. Dia melahap sesendok demi sesendok dengan kepala mengangguk-angguk. "Hm... not bad!"


Edward yang menyadari kalau dia sudah terlalu lama di dapur, berlekas-lekas menata nasi goreng itu di atas piring. Kemudian dihiasi dengan beberapa irisan tomat dan tiga lembar selada. Senyumnya mengembang seiring dengan derap langkah penuh energi, menaiki undakan tangga menuju kamarnya.


Edward mengurut dada. Dia meletakkan nasi goreng yang sudah susah payah dia masak, lalu menarik tubuhnya ke atas ranjang. Dia membaringkan badan yang terasa letih dengan wajah menatap langit-langit kamar.


Rona yang sedang tertidur pulas, membalikkan badan menghadap Edward. Terlihat kini aset indahnya menyembul, kepemilikan suaminya sontak saja mengeras.


Tangan Edward menjulur hendak meraup kedua bongkahan padat milik istrinya. Namun, Rona terlebih dahulu membalikkan badan dengan posisi terlentang. Edward semakin tertantang melihat paha mulus dari balik mantel yang tersingkap. Jemarinya merayap-merayap membuat tubuh Rona menggeliat tidak sadar di tengah tidurnya.


Timbul pikiran jahil di dalam isi pikiran Edward. Dia melepas mantel milik istrinya dan menyisakan kain tipis yang menutupi bagian kewanitaannya. Dia turun dari atas kasur untuk membuka mini fridge yang berada di dalam kamar, lalu memindahkan beberapa potongan es ke dalam gelas kosong. Senyum misterius terbit di setiap sisi bibir dengan tatapan mendamba tubuh wanitanya.


Edward mengambil satu potong es batu tersebut, lalu menempelkannya ke atas ceruk leher. Kemudian turun menjelajahi benda berwarna merah muda yang kini berdiri menantang. Jemarinya berputar-putar di sekeliling puncak areola, Rona mengerang indah.

__ADS_1


Sapuan dinginnya suhu kamar dipadu dinginnya es, memaksa Rona untuk membuka matanya. Apalagi saat tangan Edward semakin turun dan menaruh es batu tersebut di atas pusar sang istri, Rona menggeliat lantas menggigit tipis bibir bawahnya.


"Kamu sedang apa Edward?" desah Rona terbangun karena permainan lelakinya. Dia merasakan benda dingin tersebut berada di atas gundukan dadanya kembali. Rona melenguh, bulu-bulu tipis di seluruh tubuhnya meremang.


Rona menahan gairah yang diciptakan sang suami dengan menggenggam erat kain seprai. "Ah... dingin sayang...."


Bibir Edward tersenyum miring lalu mencumbu bibir sang istri dengan rakus. Sementara, tangannya melepas tali tipis penutup tubuh terakhir istrinya. Punggung Rona terangkat saat sesuatu yang dingin menyentuh bagian intinya. Dia ingin menjerit namun bibirnya terkatup rapat oleh mulut suaminya. Dia hanya bisa mencengkeram punggung Edward, menikmati sensasi baru yang diberikan suaminya.


Napas Rona semakin tersengal-sengal, Edward melepas pagutannya memberi ruang untuk menghirup udara. "Apa kamu suka dengan permainanku kali ini, sayang?"


Rona mengangguk tipis menantikan kejutan apalagi yang akan diberikan oleh suaminya. Edward beranjak dari atas ranjang kemudian menanggalkan semua pakaiannya tanpa menyisakan seutas benang pun. Seluruh tubuh kekarnya terekspos sempurna, Rona menahan saliva.


"Kenapa kamu memandangiku seperti itu, sayang. Bukankah kamu sudah sering melihat tubuhku?" Punggung Edward membungkuk, dia menarik tubuh Rona dan membiarkan kedua kakinya menjuntai hingga menapaki lantai. Edward menatap sepasang mata yang meneduhkan, lantas menyunggingkan senyuman. "Aku akan membuatmu menjerit-jerit dan merintih kali ini!"


Edward mengangkat kedua kaki Rona, lanjut menekuknya. Tangannya merenggangkan kaki tersebut hingga surga dunia terlihat jelas begitu menggiurkan. Edward mengecup inci demi inci kaki ramping hingga ke pangkalnya. Wajahnya tenggelam di depan area sensitif dengan lidah yang menjulur serta bibir yang menyesap.


Benda tipisnya menari-nari di tengah sumber kenikmatan. Terdengar suara lenguhan tipis, tangan istrinya menjambak kasar rambut Edward menahan hasrat di dalam dada yang semakin bergejolak.


"Hentikan itu Edward, aku tidak tahan!" rengek Rona akan rasa geli yang menjalari seisi tubuhnya.


...*****...


...Maaf baru Up, agak down karena bab yang kemarin sore baru lulus review siang ini 😣...

__ADS_1


__ADS_2