Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Sertifikat


__ADS_3

...Sajak yang tak utuh dan simponi tak beralur. Datar, tak berasa. Rendah tinggi tak beratur melukiskan irama jantung. Hentak demi detak, hingga nadi tak sanggup bungkam. Beku darah, hingga terdiam. Terbalut oleh rasa sunyi dan sepi....


...*****...


Segala sesuatu bagai sebuah mata dadu. Ada saatnya keberuntungan berpihak, ada masanya kepelikan yang kita dapatkan. Alur kehidupan manusia tidak akan selalu sama. Bahkan laut pun ada pasang juga udah surut. Matahari ada masanya terbit dan bersinar dengan gagahnya di antara bentangan mega. Namun, ada kalanya dia meredup dikalahkan oleh kelamnya awan.


Di tempat parkir sebuah Rumah Sakit, nampak seorang gadis menatap nanar bangunan tersebut. Sudah lima belas menit dia berada di sana. Namun, tubuhnya seakan enggan beranjak. Meski dia telah berdamai dengan hati. Tapi dia tetaplah seorang manusia biasa. Hati yang telah terkoyak, tidak mungkin kembali utuh seperti sedia kala.


"Kita jadi turun atau putar balik saja, Claire?" tanya Feliks pada kekasihnya yang sedari tadi menatap kosong ke arah jendela.


Claire memalingkan wajahnya dari jendela ke arah Feliks, lalu mendesis pelan. "Kita turun saja. Kita sudah sampai di sini...."


"Kalau begitu, ayo turun. Nanti kita kehabisan jam berkunjung," ajak Feliks lantas melepas sabuk pengaman yang melintang di atas dadanya. Claire turut melepas sit belt kemudian menarik handle pintu dan keluar dari mobil. Dia berjalan mendekati Feliks yang mengulurkan tangan ke arahnya seraya tersenyum tipis.


Kini mereka berada di lantai 3 ruang perawatan. Tubuh Claire mematung. Kakinya tidak ingin bergerak dari tempatnya berdiri saat ini. Sementara sang paman tengah menanti kedatangannya sejak satu jam yang lalu di dalam kamar.


"Yuk!" ajak Feliks menarik lengan Claire. "Semakin cepat kita masuk, semakin cepat juga kita mengetahui maksud paman Jourdy memanggilmu untuk menemuinya," papar Feliks.


Claire mengganggukan kepala dan menghembuskan napasnya yang kian berat. Dia beserta Feliks memasuki ruangan di mana Monic mendapatkan perawatan.


"Akhirnya kamu datang juga Nak... Paman pikir kamu sudah tidak ingin bertemu dengan Paman," lirih Jourdy bersedih hati.


"Mana mungkin Claire melupakan Paman. Paman adalah pengganti ayah..." balas Claire merengkuh tubuh Jourdy. Matanya menoleh ke arah Monic yang menyalang ke arahnya.


"Tante Monic apa kabar?" tanya Claire pada wanita yang terbaring kaku di atas ranjang pasien.


"Tantemu mengalami struk berat, Nak... dia tidak bisa bicara dan kesulitan menggerakan anggota badannya," jawab Jourdy iba.

__ADS_1


Claire turut menatap iba ke arah istri pamannya itu. Namun Monic tetaplah Monic, teguran yang sempurna dari Tuhan pun tidak mampu menyadarkan dirinya. Dia tetap angkuh dan tidak ingin menerima kesalahannya. Wajahnya diliputi awan kelam kebencian meski sekujur tubuh sudah kebas tidak terasa.


"Oh iya ... ada apa Paman memanggil Claire, apa ada hal penting yang ingin disampaikan?" tanya Claire menelisik ke dalam bola mata yang dalam.


Jourdy melangkah ke arah meja lalu meraih sebuah tas hitam. Dia mengeluarkan beberapa map dan menyodorkannya ke arah sang keponakan. "Ambilah...."


"Ini apa Paman?" Kening Claire mengerut bingung.


"Bacalah dulu, nanti Paman jelaskan..." ujar Jourdy pada keponakannya.


Claire membuka map yang disodorkan Jourdy lantas membacanya satu per satu. Kerutan di keningnya semakin bertambah, dia menanti penjelasan dari pamannya itu. "Ma-maksudnya apa ini?"


"Itu sertifikat rumah, tanah pertanian, perkebunan juga peternakan. Paman kembalikan ... karena itu semua memang milik kamu, Nak..." jelas Jourdy dengan senyum penuh sahaja.


Monic yang mendengar penuturan Jourdy, sontak menggeram tidak terima. Matanya membelalak, terlihat jelas kilatan amarah. Namun, dia tidak bisa berbuat apa pun. Bibirnya yang kini miring ke kanan menghalangi mulutnya yang ingin mengeluarkan umpatan.


"Paman akan kembali ke rumah yang dulu. Dan itu tidak jauh dari rumahmu. Jadi Paman bisa sering-sering memantaunya," jelas Jourdy pada Claire. "Dan mengenai semua usaha peninggalan orang tuamu, semua keputusan ada di tanganmu. Akankah kamu kelola sendiri atauβ€”"


"Paman saja yang mengelola. Karena Claire tidak pandai mengurusi itu semua. Lagi pula Claire lebih nyaman dengan profesi Claire saat ini. Biarlah peninggalan ayah untuk Paman," jawab Claire tulus.


Jourdy tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah kalau itu maumu, Nak... semua Paman yang mengelola. Tapi untuk masalah keuangan kamu yang memegang dan mengontrol. Kamu juga sedikit demi sedikit harus belajar. Kalau Paman sudah tidak ada, siapa yang akan mengurusi itu semua? Kasihan orang-orang desa, mereka semua menumpukan kehidupannya dari hasil pertanian dan perkebunan."


Claire menghela napas, tidak pernah terpikir olehnya memiliki usaha yang bertolak belakang dengan basic pendidikannya. "Hm... nanti Claire pelan-pelan akan belajar. Untuk saat ini, Claire menyerahkan semua itu pada Paman."


"Baik, Nak. Paman akan menjaga semua titipan kamu dengan sebaik mungkin. Simpanlah semua sertifikat itu di tempat yang aman," titah Jourdy.


Monic terus saja menggeram, matanya terbuka sempurna. Dia takut semua harta yang telah dinikmati bertahun-tahun dirampas oleh keponakannya.

__ADS_1


"Diamlah Monic! Harusnya kamu bersyukur aku tidak jadi menceraikanmu karena Mami yang memintanya. Tapi kalau sikapmu masih seperti ini saja. Jangan salahkan aku bila membuangmu ke jalanan sana!" ancam Jourdy pada istrinya.


Monic seketika menghentikkan geramannya. Dan dia membuang muka, tidak ingin melihat wajah Claire yang baginya begitu menjijikkan.


"Paman... Tante... Claire pamit pulang kalau begitu. Claire ada jadwal praktek sore ini," ujar Claire pada Jourdy dan Monic.


"Iya Nak... hati-hati ya. Ingat! Simpan semua sertifikat itu di tempat yang aman," imbuh Jourdy mengingatkan. Claire menganggukan kepala lanjut keluar dari ruang perawatan dengan Feliks mengikuti dari belakang.


...***...


"Kamu baik-baik saja Claire?" Feliks menelisik wajah Claire yang tidak secerah biasanya. Dia menghentikan laju langkah sang kekasih dengan memegang kedua pundaknya. "Kalau ada yang ingin diutarakan, utarakanlah! Aku siap mendengarnya," pinta Feliks pada Claire.


"Tidak apa-apa Feliks, aku hanya merasa terkejut dengan apa yang aku dapatkan saat ini. Tuhan begitu baik padaku. Hanya saja aku yang kurang mensyukurinya," terang Claire melangkahkan kakinya kembali.


"Kita lupakan apa yang terjadi hari ini. Lebih baik kita bersenang-senang sejenak. Kamu mempunyai ide kita kencan ke mana malam ini?" tanya Feliks menuntun tangan kekasihnya.


Claire nampak berpikir. Dia lantas menjentikkan jarinya. Wajahnya berseri-seri karena satu hal muncul di pikirannya. "Kita ke night festival!"


"Night festival?" ulang Feliks. "Ah... tidak-tidak aku takut naik bianglala. Aku takut ketinggian, Claire!" rengek Feliks tidak setuju dengan ajakan kekasihnya.


"Ya terserah sih... kalau kamu ingin menikah denganku, jadilah pria yang sesungguhnya!" sindir Claire karena Feliks begitu penakut.


"Iya-iya... aku mau. Ayo!" ajak Feliks pasrah.


Claire tersenyum menang, lalu menaiki kendaraan yang pintunya telah dibuka oleh Feliks. Kemudian duduk dengan santai, menikmati jalanan kota yang mulai dihiasi oleh gemerlap lampu berwarna-warni.


...*****...

__ADS_1


...Terimakasih semuanya... mohon maaf masih belum bisa maksimal membuat cerita. Semoga teman-teman semua diberikan kesehatan selalu ya πŸ™πŸ™πŸ™...


__ADS_2