
...Aku mencintai senja bagai seorang kekasih yang tak sempat kuraih, dia pergi membawa lara dan meninggalkan kerinduan yang tak berbalas....
...******...
Hari semakin terik, sinar mentari menusuk kulit. Memanjakan tubuh bermandikan keringat. Menghapus rasa dingin yang menyergap.
"Claire, ayo kita kembali. Kita sudah terlalu jauh berjalan!" ungkap Feliks. Namun, gadis itu tidak mengindahkan perkataannya.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja sana! Kenapa mesti ribet sih!" geram Claire yang terus berjalan. Dia tidak memperhatikan kalau ada seekor kepiting di bawah kakinya yang siap menjepit dengan sepasang capit.
"Aw..." jerit Claire. Dia mengaduh rasa sakit yang teramat sangat di ujung jarinya.
"Astaga Claire... kakimu berdarah. Kan, aku sudah bilang ayo kita pulang," gerutu Feliks seraya memapah Claire.
"Apa mulutmu tidak bisa diam Feliks? Dasar bawel!" sungut Claire yang berjalan dengan pincang. Feliks tanpa bicara sepatah kata pun dia merundukkan tubuhnya lalu merungguh.
"Ayo naik ke punggungku!" titah Feliks, tetapi Claire bergeming dari tempat berdirinya.
"Ayo! Kalau kamu berjalan, tidak akan kuat. Lokasi ini sangat jauh dari cottage. Lagi pula kaki kamu harus segera diobati kalau tidak nanti infeksi," cerocos Feliks dalam satu kali tarikan napas.
"Ish... cerewet amat ya, pantas saja sampai sekarang kamu tidak laku!" Claire melingkarkan tangan ke leher Feliks. Pria itu berdiri lalu mengapit kedua kaki Claire dengan lengannya seraya menggerutu di dalam hati.
"Kalau bukan karena kamu sahabatnya Rona, sudah aku tinggalkan di sini!"
...***...
"Sayang... bosan," rengek Rona yang memperhatikan Edward tengah tenggelam dengan dunianya. Mata lelakinya asyik dengan layar komputer dengan jemari sibuk menekan huruf-huruf.
"Aku mau berenang ya, gerah nih?" tanya Rona yang melingkarkan tangan lalu membelai lembut dada Edward.
__ADS_1
"Hm..." sahut Edward tanpa menoleh sedikit pun.
Rona yang merasa diacuhkan, akhirnya memilih untuk tidak berbicara lagi. Dia berjalan ke arah wardrob dan menemukan swimsuit two pieces berwarna hitam.
"Seksi sekali," gumam Rona seraya menempelkan pakaian renang ke tubuhnya. "Tapi tidak apa-apalah, karena tidak ada siapa-siapa di sini. Edward juga sedang sibuk."
Rona melepas pakaiannya lalu mengganti dengan baju renang two pieces, memperlihatkan tubuh padat berisi dengan abs di perutnya. Dia mengoleskan sun block ke seluruh tubuh. Setelah itu, berlenggak-lenggok ke arah swimming pool kemudian menceburkan dirinya dengan gerakan yang indah.
Seseorang tengah memperhatikan Rona dari kejauhan dengan menggunakan teropong. Dia menyunggingkan senyuman penuh arti, menatap tubuh Rona meliuk-liuk di dalam air. "Wanita yang menarik."
Sementara Edward yang mendengar suara air berkecipak, dia menoleh ke arah jendela dan mendapati Rona seolah tengah menggodanya. "Astaga... Rona... Rona, jadi bangun, kan?!"
Rona yang tidak menyadari tengah diperhatikan oleh Edward dan satu orang misterius, dia menikmati sapuan air sejuk pada tubuh gersangnya. Sesekali tenggelam, sesekali menyembulkan diri. Dimulai dari gaya bebas, gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya punggung hingga gaya batu. Tubuhnya terlihat sangat sensual dengan rambut yang basah.
"Kenapa tidak mengajakku sayang?" Suara berat lelakinya menyapu gendang telinga Rona. Tubuh Rona meremang, bagai tertiup angin.
"Tadi kamu sibuk sekali sampai-sampai aku bicara, tidak kamu hiraukan," protes Rona. Edward meluruskan tangan untuk menopang tubuh ke dinding kolam, sehingga menangkup tubuh kekasihnya.
Suasana damai kini terganti dengan lenguhan dan desahann, terlebih saat Edward menyentuh titik-titik yang membuat Rona menggelinjang. Bibir mungil itu terus mengeluarkan suara yang membangkitkan gairah. Namun, lagi-lagi kegiatan panas mereka harus terputus karena suara teriakan yang mengganggu.
"Rona... Rona..." teriak Feliks dari dalam ruangan. Dia mencari gadis itu ke setiap sudut dan mendapatinya tengah bercumbu dengan Edward.
"Ups... sorry. Tapi ini urgent Rona. Claire... Claire..." ucap Feliks panik dengan tangan menunjuk ke dalam cottage. Rona menarik tubuhnya dari dalam kolam, lalu menautkan bathrobe untuk menutupi kulit mulus yang terekspos.
"Kenapa Claire?" tanya Rona tidak kalah panik menghampiri Feliks.
"Tadi kakinya dicapit kepiting, dia terluka!" jawab Feliks seraya terengah-engah. Keduanya masuk ke dalam ruangan dengan bersigera. Sementara Edward dia menepuk air dengan keras karena rasa kesal.
"Sial! Gagal terus. Mana aku sudah tidak tahan lagi. Masa harus aku keluarkan sendiri!" gerutu Edward sembari memijit pelipis dan berkacak pinggang.
__ADS_1
...***...
Rona mengikuti Feliks berjalan di belakang, nampak Claire sedang meringis dan memegangi kakinya yang terluka. Rona meminta Claire menunggu sejenak karena dia harus mengambil kotak obat yang selalu dia bawa kemana pun.
"Ini kakinya sudah dibersihkan dengan air mengalir, Feliks?" tanya Rona yang dibalas dengan gelengan kepala. Rona beranjak ke arah dapur untuk mengambil air bersih dan gayung. Lalu membasuh luka Claire menggunakan air yang dicampur dengan cairan saline, secara perlahan.
"Tahan sedikit, Claire. Mungkin ini akan terasa perih!" ujar Rona.
"Aw..." keluh Claire. Tangannya menggenggam handle kursi menahan rasa sakit.
Sementara Nath yang baru saja datang mendengar teriakan Claire, dia menerobos tubuh Feliks dan Rona.
"Kamu kenapa Claire?" Nath terlihat sangat cemas. Tubuhnya terpaksa harus menyingkir, karena Rona mendorongnya.
"Aku sedang mengobati Claire, kamu minggir Nath!" bentak Rona. Nath memundurkan tubuhnya dengan netra menyorot bola mata Feliks.
Rona melanjutkan mengobati luka Claire dengan mengoleskan antibiotik lalu menutup luka capitan menggunakan kasa yang steril. Terakhir dia memberikan obat pereda nyeri kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Kamu sekarang istirahat saja Claire, rebahan di kamar...," Rona menarik lengan Claire hendak memapahnya. Namun, Nath lebih dahulu mengangkat tubuh Claire ke dalam kamar.
"Terima kasih, Nath..." ucap Rona. Nath menoleh sekilas lalu menganggukan kepala. Rona hendak kembali ke kolam renang menghampiri Edward, akan tetapi tangan kekar seseorang mencekalnya.
"Kenapa Feliks?" Rona menangkap ada sesuatu yang berbeda dari cara Feliks menatapnya. "Bisa lepaskan tanganku?" pinta Rona sopan. Namun, cengkeraman Feliks semakin mengencang. Rona memutar lengan berusaha melepaskan cekalan Feliks, tapi pria di hadapannya menarik kasar lengan Rona dan membawanya ke dalam pelukan.
"Bisa tidak jangan membuatku cemburu, sekali... saja?" geram Feliks. Rona menganga dan menatap tidak percaya.
"Lepaskan aku Feliks. Kalau Edward lihat dia bisa salah paham." Feliks masih saja bergeming, dengan terpaksa Rona menggigit tangan Feliks, hingga cengkeramannya terlepas. "Jangan pernah menodai kepercayaan seseorang terhadapmu, Feliks!"
Rona meninggalkan Feliks yang berdiri membisu, isi otaknya berubah beku karena mencerna apa yang diucapkan oleh Rona.
__ADS_1
...*****...
...Senja ucapkan terimakasih untuk yang masih berkenan membaca karya ini. Semoga selalu bahagia dan diberi kesehatan....