Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Papa Akan Menikah


__ADS_3

Sepasang bola mata jernih berkedip-kedip karena pantulan sinar mentari yang samar-samar mengintip dari balik kain tipis. Dia duduk terbangun dengan jemari mungil menggosok-gosok kedua mata yang masih terasa kering. Kemudian memperhatikan seisi kamar yang tentunya berbeda dengan kamarnya.


"Inikan kamar Daddy...."


Dia menoleh ke arah kanan kemudian ke arah kiri. Kepalanya berputar mencari dua sosok yang ingin dia temui. Namun, dia tidak menemukannya di sudut mana pun.


"Hm... Daddy sama Mommy pasti sudah pergi bekerja. Ezio ditinggal lagi," gumam Ezio kecewa.


"Siapa yang meninggalkan Ezio, sini Mommy tarik kupingnya?!" Rona yang sedari tadi sembunyi, mengejutkan putra sulungnya. Ezio memekik riang, lantas memeluk erat sang ibu.


"Ezio rindu Mommy... Mommy bekerja terus. Sampai Ezio dilupakan!" protes Ezio seraya tiba-tiba menangis kencang.


"Sama Mommy saja nih rindunya, sama Daddy tidak?" Kini Edward yang keluar dari tempat persembunyiannya, lantas mendekap dua tubuh yang sangat dia cintai.


Ezio memutar badannya kemudian memeluk tubuh sang ayah. "Daddy? Daddy juga masih di rumah? Daddy tidak pergi ke kampus? Daddy tidak bekerja?" Ezio memberondong Edward dengan pertanyaan-pertanyaan karena merasa heran pria matang itu masih berada di rumah.


"Em... ini kan hari Minggu, sayang... Daddy mau mengajak Ezio jalan-jalan ke Sidney Zoo!" ungkap Edward antusias.


Ezio menekuk wajah seraya tangan bersidekap. Matanya menyipit dan melirik menggunakan sudut matanya. "Sudah basi Daddy! Daddy mengajak Ezio pergi ke kebun binatang sudah dari 3 bulan yang lalu. Ezio marah, Ezio kecewa sama Daddy!" balas Ezio cemberut.


"Jadi, Ezio tidak mau ke kebun binatang nih?" goda Rona dengan suara halusnya. "Ya... kalau Ezio tidak mau, Mommy sama Daddy mau berangkat kerja saja kalau begitu," tambah Rona bercanda.


Ezio mendengus kesal, dia melungsurkan kedua tangan dengan punggung yang membungkuk lemas. "Iya deh, Ezio mau pergi ke Sidney Zoo kalau begitu...."


"Sekarang... Ezio mandi dulu Mommy, lanjut sarapan pagi, oke?" Rona menuntun tangan Ezio untuk turun dari atas ranjang menuju ke kamarnya.


"Mommy tidak mengajak Daddy mandi bareng juga nih?" sahut Edward melipat bibir bawahnya seperti anak kecil.


Rona merotasi kedua matanya malas lantas menjawab dengan suara yang ditekan. " Sayang... Ezio memperhatikan obrolan kita. Jadi tolong jaga bicaramu...!"


Edward cekikikan dengan tangan menggaruk-garuk kepala, dia menoleh ke arah Ezio yang tengah menatapnya dengan raut tanda tanya.


"Daddy kan sudah tua, kenapa minta dimandikan Mommy juga?" seloroh Ezio polos.


Rona menahan tawa dengan membekap mulutnya sendiri, sementara Edward langsung melihat wajahnya ke cermin yang berada tepat di belakangnya. "Da- Daddy belum tua kok, Daddy masih tampan. Di wajah Daddy juga belum ada kerutan."


Ezio menarik bahunya ke atas lalu menarik lengan sang ibu. "Ayo Mommy... kita ke kamar Ezio saja. Biarkan Daddy lenggak-lenggok di depan cermin."


Lagi-lagi selorohan putra sulungnya membuat Rona menahan tawa. Padahal ingin sekali rasanya dia tergelak terpingkal-pingkal. "Ayo sayang... nanti keburu siang. Mommy juga harus membantu Fiona menyiapkan sarapan pagi."

__ADS_1


Rona menarik handle, nampak Fiona tengah mengangkat tangan hendak mengetuk pintu kamarnya.


"Fiona? Kamu mencari siapa?" tanya Rona pada asisten rumah tangganya.


Fiona menjawab dengan membungkukkan badan terlebih dahulu. "Maaf Nona, saya mencari Nona sama Tuan muda."


"Ada apa mencariku, Fiona?" sahut Edward yang muncul dari balik punggung istrinya.


"Anu Tuan... Tuan Richard meminta saya untuk memanggil Tuan muda dan juga Nona Rona," jawab Fiona dengan ibu jari diarahkan ke posisi majikannya.


"Ada apa Papa memanggil kami?" tanya Edward lagi.


"Saya tidak tahu, Tuan. Mohon maaf... saya hanya ditugaskan untuk memanggil Tuan dan Nona untuk segera turun. Karena Tuan Richard sudah menunggu di meja makan," jawab Fiona.


Edward bersitatap dengan istrinya, mereka sama-sama berpikir ada masalah apalagi yang menyerang keluarga Liam. Karena kalau Richard sudah memanggil sepagi ini, pasti akan ada hal besar yang akan pria tua itu sampaikan.


"Baiklah Fiona, 15 menit lagi kami akan turun menemui Papa. Terimakasih sudah memberitahu kami," imbuh Edward pada wanita di hadapannya.


"Silakan Tuan, saya pamit menghadap Tuan Richard kalau begitu." Fiona undur diri dari hadapan Edward dan Rona setelah mereka mempersilakannya kembali.


"Ada apa ya? Perasaanku jadi tidak enak." Rona menatap kosong ke arah punggung Fiona yang menuruni anak tangga.


Rona menarik tubuhnya seraya menuntun Ezio ke kamar samping. Sedangkan Edward, dia masuk kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuh.


...***...


Semua penghuni mansion, sudah berkumpul di ruang makan. Mereka saling melempar tatap dan bertanya dari mata ke mata. Menantikan hal apa yang akan disampaikan oleh ayah mereka.


"Akhirnya semua orang sudah berkumpul di sini," ucap Richard berat.


"Ada apa Pa mengumpulkan kami semua? Apa ada masalah besar?" tanya Leona dengan wajah tegangnya.


Richard menatap satu per satu wajah anak dan menantunya, dia nampak menyimpan suatu hal yang sangat berat. Mulutnya terkatup rapat seraya memainkan jari-jarinya.


Sudah 15 menit berlalu, namun Richard masih diam tak bersuara. Sementara anak-anaknya sudah diliputi rasa penasaran dan cemas hati.


"Kalau tidak ada yang ingin Papa katakan, Edward dan Rona pamit. Karena kami sudah berencana mengajak Ezio ke kebun binatang hari ini," ucap Edward membelah kesunyian. Dia bangkit dari tempat duduk lalu menuntun putranya. Hingga suara berat Richard menghentikan niatnya.


"Papa akan menikah!" ungkap Richard bergetar.

__ADS_1


Semua terbelalak kaget karena mendengar ucapan Richard yang secara tiba-tiba mengumumkan kalau dia akan menikah.


"Papa akan menikah? Kapan dan dengan siapa?" tanya Edward bimbang.


"Papa belum memastikan kapan, karena Papa ingin mendengar jawaban kalian dulu sebagai anak Papa. Setuju atau tidak dengan keputusan Papa untuk menikah lagi." Richard meneguk air minum untuk menawarkan kerongkongan yang seakan mengering.


"Tentu saja kami setuju, bukankah kami yang mengusulkan Papa untuk menikah lagi?" jawab Leona berbinar senang.


"Apa pun demi kebahagiaan Papa, Edward akan selalu mendukung," tambah Edward yakin akan keputusannya. "Tapi kalau Edward boleh tahu, dengan siapa Papa akan menikah?"


Richard menarik napas lalu membuangnya. Dia melakukan itu berkali-kali untuk meredakan resah di dalam dada.


"Masuklah...!" titah Richard pada seseorang yang berdiri di ruang tamu.


Seorang wanita paruh baya dengan raut bersahaja melangkah dengan sangat perlahan. Wajahnya diarahkan ke atas lantai karena belum siap melihat ekspresi dari semua orang kalau tahu yang akan dinikahi Richard adalah dirinya. Dan betul saja kehadiran dia di tengah-tengah keluarga Liam mengejutkan semua orang. Terlebih Edward dan juga Rona.


Richard berdiri lalu berjalan menyambut wanita pujaannya. Dia mengulurkan tangan dan wanita itu membalasnya. "Mari...."


Wanita itu mengangguk dan menunduk malu, kini dia berdiri tepat di hadapan calon anak dan menantunya.


"Wanita yang Papa pilih untuk menjadi pendamping Papa, adalah Maria." Richard berbicara tegas di depan semua orang yang memandangnya dengan heran. Meski hatinya mulai tidak yakin karena sorotan anak-anaknya begitu tajam dan membuat tidak nyaman.


"Jadi Mama Maria yang akan menjadi istri baru Papa?" tanya Edward tidak ramah.


"Oh... wanita ini yang akan menjadi Mama baru Leona dan menggeser posisi Mom?" timpal Leona sinis.


Richard mengangguk pelan dengan tangan yang tidak lepas dari merangkul pundak Maria. Terlebih melihat akan penolakan yang tersirat dari tatapan anak-anaknya, dia mempererat rengkuhannya.


"Iya... Maria yang menjadi pilihan Papa untuk menemani Papa di masa tua ini. Papa harap kalian bisa menerimanya di rumah ini." Richard membungkukkan badan, mata semua orang membola. Terlebih calon istrinya.


Edward beringsut untuk menghampiri Richard, dia mendekap tubuh sang ayah dengan hangat. "Papa tidak perlu membungkukkan badan seperti ini, karena kami akan selalu mendukung apa pun keputusan Papa."


"Iya Pa... Leona juga akan selalu mendukung Papa, selama itu membuat Papa bahagia." Leona turut memeluk pria yang menjadi cinta pertamanya seerat mungkin.


Richard menangis terharu dan memeluk kedua anaknya. "Terimakasih, Nak... terimakasih...."


Rona turut tenggelam di dalam euforia kebahagiaan keluarga yang kini terasa lebih lengkap dengan kehadiran Maria. "Selamat ya Ma...."


...****...

__ADS_1


__ADS_2