
Rona menatap nanar kehangatan ayah dan anak di depannya. Dia mengusap perut yang rata, lalu mengingat perkataan Amber yang dilontarkan untuknya. "Hm... kapan aku bisa memiliki anak?"
Edward menoleh ke arah Rona, terlihat kilat kesedihan di wajah istrinya. Dia lantas meminta Ezio untuk menghibur Rona yang tengah melamun.
"Mommy... kenapa Mommy duduk di sini? Ayo temani Ezio...!" Ezio menarik lengan Rona mengajaknya untuk berkeliling toko mainan.
"Mommy... jangan sedih, kan Mommy punya Ezio," celoteh Ezio polos. Raut wajah Rona kembali ceria, senyuman kembali tersungging.
Sudah tiga jam mereka berkeliling di pusat pembelanjaan, membeli keperluan untuk Ezio. Nampak anak itu kelelahan lalu tertidur di pangkuan Rona. Wajah Edward menghangat melihat perhatian Rona pada anak hasil pernikahannya dengan Marissa.
Edward mengecup kening Rona, lanjut mengusap wajah istrinya. Seolah tahu apa yang tengah Rona rasakan saat ini. "Sabar sayang... aku pun sabar menantinya. Kita masih punya Ezio. Jangan terlalu banyak berpikir ya...."
Rona mendongak, matanya berkaca-kaca. Edward begitu memahami dirinya. Meski tidak ada satu kata pun yang meluncur dari mulutnya.
"Terima kasih, sayang...."
...***...
Satu bulan berlalu
Semua kondisi mulai stabil dan membaik. Leona yang berangsur pulih dari depresinya, bisnis Edward yang sempat merosot kini kembali merangkak naik. Namun, satu yang belum berubah, pertanyaan orang-orang bila bertemu Rona.
"Edward... apa istrimu belum hamil juga?" tanya Tante Ana, adik kandung Richard.
Edward menoleh ke arah Rona lalu menggenggam tangan istrinya. "Belum Tan, kami memang sengaja menundanya."
Ana mengerutkan keningnya. "Usia Rona juga kan, sudah tidak muda lagi, kenapa mesti ditunda-tunda sih?"
"Halah... kaya kamu tidak tahu Edward saja An, paling itu alasan dia buat menutupi kekurangan istrinya," timpal Amber yang merasa mendapat kesempatan untuk menjatuhkan harga diri menantunya.
"Maksud Mom, apa?" geram Edward yang tidak suka akan perkataan Amber.
"Mom kan sudah sering menyarankan kalian untuk memeriksakan ke dokter kandungan, siapa tahu kalau Rona mandul. Buktinya sampai sekarang dia belum hamil juga. Sedangkan mantan istrimu, sebulan menikah langsung mengandung," cerocos Amber tanpa canggung sedikit pun. Dia nampak asyik menikmati dessert yang dihidangkan untuknya.
Makan malam yang hangat menjadi hening dan dingin karena pembahasan sensitif yang muncul tiba-tiba, merusak suasana. Namun, Leona yang beranjak lalu berlari seraya menutup mulutnya, membuyarkan kediaman mereka.
__ADS_1
Rona yang melihat ada yang tidak beres dengan Leona, dia bergegas berdiri lalu menyusul adik iparnya ke kamar kecil.
"Kamu masuk angin lagi?" Rona menyodorkan beberapa helai tisu seraya memilin tengkuk Leona. Leona meraih tisu lalu mengelap bibirnya. Terlihat kini wajah yang cantik berubah pasi dan keringat dingin membulir di atas pelipis.
"A- aku hanya tidak nyaman dengan perutku, sepertinya sakit lambungku kambuh lagi," kilah Leona yang sebenarnya sudah tahu penyebab kondisinya muntah-muntah.
Amber yang turut menyusul, dia menarik kasar lengan Rona. Mencampakkan tubuhnya hingga hampir terpelenting. Namun, untung saja Edward datang dan dengan sigap menahan tubuh istrinya.
"Hati-hati sayang, biarkan Amber saja yang mengurusi Leona. Itu sudah kewajibannya!" Edward merengkuh tubuh Rona membawanya kembali ke meja makan.
"Kenapa adik kalian?" tanya Richard cemas.
"Sepertinya masuk angin Pa. Kan Papa tahu sendiri kemarin malam dia pulang dari klinik hujan-hujanan," jawab Rona meyakinkan. Richard mengangguk lalu menghabiskan makan malamnya.
Tidak berselang lama Leona keluar dari kamar mandi dengan Amber di sampingnya. Dia memegangi kepala yang pusing dan perut yang terasa mual.
"Pa, kita pulang sekarang saja yuk ... kasihan Leona sepertinya butuh istirahat." Amber pamit undur diri pada semua anggota keluarga disusul Edward dan juga Rona.
Sementara itu di perjalanan,
"Ya, sayang?" sahut Edward.
"Kenapa firasatku tidak enak ya mengenai Leona yang akhir-akhir ini sering muntah-muntah?" Rona menoleh ke arah Edward yang tengah berkonsentrasi melajukan kendaraannya.
"Maksudmu apa Rona?" Edward menimpali dengan suara yang dingin.
"A- apa kamu tidak curiga Edward?" tanya Rona lagi.
"Curiga apa?" Edward mulai tidak sabar.
"Curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Leona. Aku cemas, jangan-jangan dia hamil?"
Edward menginjak rem dalam-dalam lalu menghentikan mobilnya. Dia menatap Rona dengan raut tidak suka. Bukan karena marah akan perkataan Rona tentang adiknya, tetapi karena pikirannya tentang kondisi Leona adalah sama.
"Tolong jaga bicaramu tentang adikku, Rona!" geram Edward. Matanya memerah dan terdengar suara gemertak gigi karena menahan amarah.
__ADS_1
Tenggorokan Rona tercekat, baru kali ini dia melihat lagi wajah Edward yang nampak bengis dan menakutkan. "Ma- maaf Edward aku tidak bermaksud—"
"Karena itu jaga mulutmu, jangan seperti Amber yang suka asal bicara!" Edward memotong perkataan Rona lalu melajukan kembali kendaraannya. Dia memutar kemudi dengan kasar, menambah kecepatan dan melesat membelah jalanan. Rona hanya terdiam dengan tangan berpegangan pada handle di atas kepalanya.
...***...
Sesampainya di rumah, Edward masih bersitegang dengan Rona. Dia menarik bantal lalu tidur di atas sofa kamarnya. Rona hanya bisa menatap sendu karena sikap Edward yang dingin.
Rona tidur meringkuk, matanya sembab karena menangis. Pundaknya bergetar turun naik, Edward menatap dengan rasa bersalah.
"Hey... maafkan aku!" Edward memeluk Rona dari belakang lalu membalikan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Dia menyeka wajah Rona yang basah.
"Maafkan perkataanku tadi." Edward menarik wajah Rona. Akan tetapi, Rona memalingkan muka tidak ingin melihat wajah suaminya.
Edward yang mesum, dia tahu bagaimana cara menaklukan istrinya ketika marah. Dia mengendus-enduskan napas ke arah ceruk leher Rona lalu menyentuhnya dengan bibir yang dingin.
"Maaf..." desah Edward. Tubuh Rona meremang lalu matanya terpejam.
"Apa kamu tidak ingin memaafkanku, hm?" bisik Edward di daun telinga. Dia membelai leher Rona seraya menjilat leher belakang telinga. Rona mendesahh, napasnya mulai tidak terkendali.
"Ayo kita coba lagi malam ini sayang...!" Rona menatap manik mata suaminya yang berkabut gairah. Edward melepas satu per satu kancing piyama, lalu memindai setiap inci keindahan tubuh sang istri.
Saliva diteguk, pakaian dilepaskan. Edward membuka kait bra yang berada di depan, kini sepasang benda kenyal dan ranum terlepas dari sangkarnya. Edward memainkan benda kesukaannya dengan gemas. Tubuh Rona menggeliat karena rasa geli.
Suara desahann kembali lolos dari bibir mungil, Edward begitu menikmati wajah istrinya yang dipenuhi gairah. Bibir tipis yang digigit dan jemari yang diisap. Matanya terpejam dengan suara-suara indah menghiasi paras cantiknya.
"Enak ya sayang?" goda Edward yang membuat Rona malu. Rona memalingkan wajah memerahnya, menyembunyikan hasrat yang menggebu.
Senyum tipis terbit, jemari panjang digantikan oleh bibir dan lidah. Sedangkan jarinya kini sibuk memainkan bagian inti. Tubuh istrinya bergerak-gerak karena sentuhan di dua titik sensitif sekaligus. Edward menyeringai melihat wajah derita Rona karena menahan rasa nikmat. Bibir Rona mengatup, Edward berbisik. "Keluarkan suara indahmu lagi, jangan ditahan. Aku suka suara paraumu itu!"
...*****...
...Jangan bosan-bosan membaca ucapan terimakasih dari Senja ya......
...Terimakasih untuk semua, jangan lupa untuk terus mendukung Novel Dokter Rona and Hot Daddy. Dengan terus membaca, lalu memijit bentuk love, meninggalkan like, memberikan komentar, vote kalau ada, lalu hadiah bila berkenan dan rate bintang 5....
__ADS_1
...Berkah selalu untuk semua......